Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Dendam Guru Luo


__ADS_3

Masih ditempat tersebut. Zhaoling yang tengah bertarung melawan mantan guru besarnya tak mau mengalah sedikit pun, begitu juga Guru Luo. Keduanya saling menyerang dengan kekuatan dan jurus-jurus yang mereka miliki masing-masing.


Daaaaaammmm


Sebuah ledakan terdengar ketika Guru Luo dan Zhaoling sama-sama jatuh ke tanah secara bersamaan. Sehingga, tanah yang tertimpa tubuh mereka pun berhamburan menutupi area sekitar, membuktikan bahwa mereka jauh sangat keras.


"Aling," teriak Xin'er dan yang lainnya. Mereka ingin menghampiri namun dihentikan oleh musuh yang sedang melawannya.


Tak ada pilihan lain selain menyelesaikan pertarungan mereka masing-masing, agar segera dapat membantu Zhaoling. Tapi, sepertinya musuh mereka sengaja mempersulit agar Xin'er dan yang lainnya tak membantu Zhaoling.


Susah payah Zhaoling bangkit dengan menahan luka di sekujur tubuhnya. Begitupun dengan Guru Luo yang sama-sama mendapatkan luka berat di tubuhnya. Keduanya berdiri seraya menatap sengit sambil memegang dada yang terluka dalam akibat pukulan.


"Ternyata kau memang sangat hebat, Nak!" puji Guru Luo yang kemudian melanjutkan ucapannya kembali. "Pantas saja si tua Lon menyayangimu lebih dari murid yang lain,"


Zhaoling tak sedikitpun tersentuh akan pujian Guru Luo. Dia justru merasa jijik karena, nada ucapan gurunya tersebut seolah merendahkan dirinya. "Jangan banyak basa-basi, Pak Tua! Kita lekas akhiri pertarungan kali ini," ucapnya dingin.


Senyum miring terlihat dari bibir Guru Luo. Ia bahkan menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah Zhaoling yang sangat mirip dengan orang yang dibencinya selama ini. "Kau memang mirip seperti kakek mu, Zhu Zhihuan. Dia orang yang paling sombong dan kejam yang pernah ku temui. Namun, ia begitu naif, sehingga mudah dibodohi orang."


"Jangan bawa-bawa kakekku dalam pertarungan kita ini! Karena, Beliau tak ada yang bisa menandinginya." pungkas Zhaoling kesal.


Guru Luo kembali tertawa sambil terbatuk, bahkan darah keluar dari mulutnya. Dia menceritakan bagaimana awal mulanya mengenal Kaisar Zhihuan, sampai berteman baik dengannya. Ada sedikit senyum di bibir Guru Luo saat menceritakan kisahnya dulu bersama Kaisar Kelima Dinasti Zhu tersebut. Namun, tak lama kemudian senyuman di wajah Guru Luo menghilang ketika menceritakan kisah mengenai peralihan kekuasaan.

__ADS_1


Kekecewaan yang terlukis jelas di wajah serta nada bicaranya membuat Zhaoling menatap Guru Luo. Pria tua itu menggertakan giginya ketika menyebutkan satu nama yang membuatnya jadi seperti sekarang ini, si tua Lon Thong.


Jadi, Zhihuan, Lon Thong, dan Luo Khut, dahulu ketiganya adalah teman dekat. Mereka mendirikan sebuah perguruan kungfu untuk melatih anak-anak di wilayah mereka. Ketiganya selalu melakukan apapun bersama-sama, bahkan saat mencari jurus baru untuk dipelajari pun mereka bekerja sama.


Hingga suatu hari, Zhihuan dipanggil ke Istana untuk menerima jabatan sebagai Kaisar Xili, yang langsung diserahkan ayahnya. Sedangkan Lon Thong dan Luo Khut tetap meneruskan cita-cita mereka untuk membangun perguruan yang hebat dan besar.


Sepeninggalan Zhihuan ke Istana, Lon Thong dan Luo Khut banyak murid yang bergabung dengan perguruan yang mereka pimpin. Seiring waktu berlalu, perguruan itu semakin besar dan banyak merekrut guru untuk mengajarkan ilmu bela diri. Beberapa tahun kemudian, Lon Thong pergi berpetualang dan menyerahkan perguruan kepada Luo.


Walaupun Luo yang memimpin perguruan, tetapi Lon Thong yang diangkat Guru Tertinggi oleh semua muridnya, karena dia yang banyak mengajarkan jurus-jurus baru untuk semua murid. Dia juga berhasil mendapatkan barang langka yang bisa meningkatkan kekuatan jika memakannya.


Ya. Pil Dewa yang hanya Lon Thong sendiri lah yang membuatnya dan bisa mendapatkannya dari tempat yang jauh serta berbahaya. Setiap kepulangannya, Lon Thong selalu membawa sesuatu untuk murid-muridnya, sehingga dia disayang dan dihormati mereka. Tapi, dia tak bermaksud membuat Luo tersingkirkan. Yang ada dipikirannya ialah bisa memajukan dan mensejahterakan perguruan yang mereka pimpin.


Namun, berbeda dengan Lon Thong, justru Luo sangat geram dan iri kepada temannya itu. Padahal, mereka bersama-sama membangun semua dari awal, tapi Lon Thong yang menjadi pemimpin tertinggi. Karena rasa iri dengki itulah yang menyebabkan Luo lupa akan segalanya.


Dendam semakin membara. Luo ingin menghancurkan Zhihuan dengan berbagai cara, salah satunya membunuh satu persatu anak yang lahir dari rahim istrinya. Karena keadaan tersebut membuat para petinggi Istana memaksanya untuk memiliki Selir agar diberikan keturunan. Mereka menganggap bahwa istri Kaisar dikutuk dan membawa sial bagi kerajaan, dan memintanya untuk mengusir Permaisuri. Tapi, Kaisar Zhihuan tetap tak mau memilih Selir dengan alasan tak bisa membagi rasa cinta kepada wanita lain selain istrinya.


Apa jadinya sebuah kerajaan tanpa generasi penerus tahta?


Para petinggi sangat marah akan keputusan Zhihuan, tapi beruntung Permaisuri Lan Mei melahirkan seorang putra yang sebelumnya disembunyikan dari semua orang. Demi menjaga putranya dari bahaya, Zhihuan menyembunyikan kebenaran agar Zhihu bisa selamat.


Setelah kelahiran Zhihu, amarah para petinggi Istana pun mereda. Mereka tak memaksa Kaisar untuk mengusir Permaisuri Lan Mei lagi, namun tetap ingin Kaisar memilih putri mereka untuk dijadikan Selir. Hati Kaisar sekeras batu, teguh pada pendiriannya. Dia tetap tak ingin menduakan istrinya dengan alasan yang sama, persis seperti cucunya, Zhaoling.

__ADS_1


Hingga suatu hari, sebuah insiden terjadi. Kaisar Zhihuan dibunuh oleh para penjabat yang merasa terhina akibat penolakan Kaisar kepada putrinya. Tapi, dibalik itu semua ada campur tangan Luo. Dia terus memprovokasi para pejabat untuk memaksa Kaisar menerima putrinya, kalau ditolak maka bunuh Kaisar.


Bukan hanya itu saja, insiden demi insiden yang terjadi di Istana, semua itu tak luput dari campur tangan seorang Luo yang memiliki dendam kepada Kaisar Zhihuan. Walaupun Zhihuan telah wafat, namun dendam Luo seperti tak pernah padam. Dia tidak puas jika belum menghabisi seluruh garis keturunan Zhihuan.


Sampai suatu saat, dia mengetahui fakta bahwa cucu dari Zhihuan berada di perguruan yang ia pimpin, karena diselamatkan oleh Lon Thong. Ternyata, Dewa berbaik hati padanya dengan mengirim langsung mangsa kepadanya tanpa harus repot-repot untuk ke Istana yang dijaga ketat prajurit.


Berbagai cara telah dia lakukan untuk menyingkirkan Zhaoling, namun tak ada satupun rencananya yang berhasil. Ditambah lagi, Zhaoling mempelajari jurus rahasia perguruan dengan sangat baik dan juga cepat. Sehingga, kesempatan untuk membunuhnya sangat sulit.


Tak ada cara lain selain membuat mereka semua menderita. Maka dari itu, Luo menciptakan kekacauan di Istana sampai saat ini. Korbannya adalah semua orang yang disayangi Zhaoling, terutama istrinya Xin'er.


"Jadi, kau yang ada dibalik semua ini?" Zhaoling menggertakan gigi karena geram dengan perbuatan Guru Luo.


Sedangkan pria tua itu tertawa sangat keras. "Hahaha. Apa yang akan kau lakukan setelah kau tahu semua ini? Membunuhku? Silahkan kalau kau mampu!" ejeknya menyeringai.


Tangan Zhaoling terkepal sempurna membentuk tinju, dengan rahang yang mengeras. "Kau pikir aku tak mampu melawan pria tua jahat sepertimu!"


Kemudian, Zhaoling berlari secepat kilat untuk mendaratkan pukulan kearah Guru Luo. "Hiyaaaaaaaaa,"


Sebelum pukulannya mendarat di tubuh Guru Luo, tiba-tiba muncul beberapa pria menggunakan pakaian serba hitam. Mereka melayang di udara, kemudian mendarat tepat di hadapan Zhaoling.


Plaaaakkk ...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2