Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Kedatangan Kakek Lon Thong


__ADS_3

Tubuh Zhaoling mendadak lemas seketika, mendapati Xin'er yang mati di pangkuannya. Rasanya, seluruh Dunia ini hancur begitu saja. Sepertinya Bumi berhenti berputar, Matahari tak bersinar, Angin tak berhembus, Siang menjadi malam. Itulah gambaran perasaan Zhaoling saat ini, hampa dan gelap.


Air mata mengalir deras di pipinya, ia menangis dalam diam. Perlahan, tubuh Xin'er diurai setelah ia mendekap cukup lama. "Aku suami yang bodoh. Seharusnya aku tak membiarkanmu sendirian," sesalnya kemudian.


Zhaoling mengangkat tubuh istrinya dan berjalan kearah kudanya dengan santai. Semua orang yang sedang bertarung menghentikan pertarungannya, kemudian menghampiri Zhaoling yang tengah menggendong tubuh Xin'er.


Ketiga temannya terkejut bukan main, ketika mendapati Xin'er yang sudah tak bernafas. "Apa yang terjadi padanya, Aling?" serempak mereka bertanya.


Namun, Zhaoling tak menjawab pertanyaan ketiga temannya. Dia berkata tanpa menoleh, "bereskan kekacauan ini!" titahnya kemudian.


Ketiganya saling menatap, kemudian mengangguk mengiyakan perintah Zhaoling. Setelah kepergian Zhaoling, ketiganya pun bergegas membasmi para pengkhianat dengan menyerangnya secara membabi buta.


Tak ada ampun bagi mereka yang berkhianat pada Negara. Apalagi, para musuh itu dengan sengaja menantang mereka terlebih dahulu. Semua mati ditangan Qianfeng, Liu Wei, dan Yu Xuan.


Setelah selesai membereskan kekacauan akibat ulah Zhaohan, ketiganya pergi menyusul Zhaoling yang telah lebih dulu membawa tubuh istrinya.


Zhaoling menghentak kudanya sangat cepat menuju Istana Xili. Setelah penjaga membukakan pintu gerbang utama, bergegas ia turun menggendong Xin'er menuju kediamannya. Dia berharap jika Xin'er menemui putranya, jiwanya akan kembali.


Seluruh penghuni Istana dibuat terkejut atas kedatangan Pangerannya itu dengan menggendong tubuh istrinya yang bersimbah darah. Kaisar dan Permaisuri bergegas memanggil tabib untuk segera mengobati luka ditubuh Xin'er. Para pelayan di sibukkan dengan ramuan yang harus direbus dan diolah dengan benar, agar bisa menjadi obat untuk luka Tuan Putri mereka.


Yuelie yang menggendong Zhaolie pun merasa cemas akan kondisi Xin'er saat ini. Dia dan Mengshu segera datang ke Istana Zhoseng untuk memastikan bahwa Xin'er baik-baik saja. Namun, para Tabib yang sedang merawat luka Xin'er tak mengizinkan siapapun masuk kecuali suaminya.


Dengan terpaksa, kedua temannya itu hanya bisa pasrah menunggu di ruang baca Istana Zhoseng bersama yang lainnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ketiga teman Zhaoling pun datang dengan wajah cemasnya. Mereka mempertanyakan kondisi Xin'er kepada orang-orang yang ada disana. Tapi, semua yang menunggu di luar tidak tahu kondisi Xin'er dengan jelas.


Sejenak Qianfeng terdiam. Dia mengingat cerita Zhaoling tentang penyembuhan ajaib dari Kakek Lon Thong untuknya dimasa lalu. Tanpa berkata, Qianfeng pergi keluar Istana dengan membawa kudanya.


Pikiran Qianfeng hanya fokus kepada satu orang, dan itu adalah Kakek Lon Thong, Guru tertinggi Perguruan Naga Bayang. Kudanya di hentak dengan cepat menuju arah Kuil Dewa Kuno, berharap bahwa Guru Tertinggi mereka itu sedang berada di sana. Walaupun sejujurnya Qianfeng tak tahu pasti, bahwa gurunya itu berada dimana saat ini, karena Kakek Lon Thong seorang pengembara. Tapi, dengan keyakinan tinggi, Qianfeng akan menemukan gurunya tersebut.


Harapan Qianfeng sangat besar. "Semoga kakek ada di Kuil Dewa Kuno,"




Sementara di Istana. Tak ada yang bisa dilakukan para Tabib untuk menyelamatkan nyawa Xin'er, walaupun berbagai cara sudah dilakukannya. Tapi, sepertinya mereka menyerah dengan kondisi Xin'er yang terbilang sangat parah.


Luka akibat pukulan tenaga dalam dari Zhaohan mengakibatkan organ dalamnya rusak, ditambah tusukan belati yang ternyata mengandung racun mematikan. Bisa dipastikan, bahwa kondisi Xin'er benar-benar sangat buruk.


Semua Tabib telah keluar satu persatu dengan menundukkan kepalanya. Mereka tak bisa berbuat apapun untuk menyembuhkan luka dalam Xin'er dan membawanya hidup kembali. Sebelum keluar dari kamar, mereka semua meminta maaf kepada Zhaoling dan keluarga kerajaan karena, keahlian yang dimiliki ternyata tak bisa menyembuhkan Xin'er.


Tangan yang sudah mulai dingin itu digenggam erat oleh Zhaoling sambil mengecupnya berulang kali. Rasa penyesalan yang semakin memuncak karena sebelumnya telah meninggalkan Xin'er dalam keadaan hamil besar, dan dia tak menepati janjinya untuk pulang ketika putranya dilahirkan. Penyesalan kembali menyerang Zhaoling saat mengingat ada yang aneh dari surat balasan yang dikirim Xin'er untuknya. Dirinya tak langsung pulang kepada istrinya ketika sudah menyadari suatu kejanggalan.


Namun, bukan tanpa sebab Zhaoling melakukan itu. Kondisi di Istana yang benar-benar sangat membutuhkan dirinya, ditambah sakitnya Ibu Suri sampai beliau wafat. Kini, Zhaoling menangis tersedu dihadapan Xin'er yang sudah terbujur kaku.


"Xin'er, bangunlah! Apa kau tak kasihan kepada putra kita? Lihat, dia bahkan sedari tadi menangis terus ingin digendong ibunya!" lirih Zhaoling sembari menyentuhkan tangan putranya diwajah Xin'er. "Jika kau masih marah kepadaku, kau boleh memukul atau menendang ku. Tapi, ku mohon bangunlah demi putra kita! Kasihanilah dia," pintanya memelas.

__ADS_1


Tak ada respon apapun dari Xin'er walau sebanyak apapun Zhaoling memohon dan menangis. Nyatanya, hidupnya sudah berakhir.


Saat sedang bersedih, tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar. Liu Wei masuk tanpa mengetuk pintu kamar Zhaoling. Nafasnya terengah, "Beliau datang!" ucapnya lirih.


Zhaoling yang melihat pintu kamar dibuka paksa Liu Wei sangat marah, karena dirinya kini sedang membutuhkan privasi bersama istri dan putranya. Namun, mendengar ucapan Liu Wei barusan membuatnya mengerutkan kening. "Siapa yang kau maksud?"


"Kakek," sahut Liu Wei yang disambut antusias Zhaoling.


Pria itu bahkan langsung berdiri sambil menggendong putranya. "Kakek? Dimana?"


Bukan Liu Wei yang menjawab, namun Kakek Lon thong sendiri yang kini sudah masuk kedalam kamar Xin'er, diikuti Qianfeng dan Yu Xuan dibelakang. "Aku disini,"


Bagaikan mendapat angin segar di padang pasir, senyum Zhaoling mengembang setelah menyeka air matanya. "Kakek, untung kau datang. Tolong istriku, Kek!" pintanya memohon.


Kakek Lon Thong segera mendekat kearah Xin'er yang sudah terbujur kaku di tempat tidurnya. Walaupun luka di perutnya sudah ditutupi ramuan dari Tabib, tapi luka itu masih mengeluarkan darah. Tubuhnya sudah dingin dengan wajah yang pucat pasi, persis seperti mayat.


Kakek Lon Thong menyentuh leher Xin'er untuk mendeteksi detak jantungnya yang ternyata masih ada walaupun sangat lemah. Mungkin, hanya satu persen saja jiwanya masih tertinggal. Tak ada harapan lagi untuk Xin'er kembali hidup. Tapi, Kakek tak mau mengecewakan cucunya walaupun itu seperti memberikan harapan semu. Mungkin saja, ada sesuatu yang ingin Xin'er katakan untuk terakhir kalinya kepada Zhaoling.


Kakek Lon Thong hanya ingin membantu mewujudkan harapan terakhir Xin'er, walaupun itu harus membutuhkan tenaga dalam yang banyak untuk dikeluarkan.


Beliau bukanlah Dewa yang bisa membangkitkan makhluk hidup yang sudah mati. Namun, Kakek bisa membantu menarik jiwa seseorang agar bertahan hidup demi mewujudkan harapan terakhirnya. Dengan kekuatan yang Beliau miliki, tubuh Xin'er bergetar setelah di totok di bagian tertentu.


Tap ... tap ... tap ..

__ADS_1


"Haaaaaaahhhh,"


Bersambung ...


__ADS_2