
Sepanjang perjalanan, Jerry tak sedikitpun melepaskan tangan Yoona. Hal itu justru membuat jantung gadis itu semakin berdegup kencang. Pasalnya, wajah Jerry yang mirip dengan Zhaoling itu terus tersenyum manis kearahnya.
Ah, sungguh sial! Bahkan Yoona tak bisa mengontrol emosi yang meletup di dalam dada, bagaikan kembang api di malam pergantian tahun.
Ya, Tuhan. Sabar ... sabar! Gumamnya dalam hati.
Padahal, mereka hanya berjalan beriringan, namun hati dan jantung Yoona seakan tak baik-baik saja. "Mau kemana kita?" tanya Yoona lirih ketika mereka masih berjalan.
Jerry menoleh sekilas, kemudian menunjuk salah satu bangunan di sebrang jalan yang tak jauh dari posisi mereka saat ini. Dengan hati-hati, pria itu menyebrangi jalan yang ramai akan kendaraan.
Yoona mengernyitkan keningnya ketika pria itu justru mengajaknya masuk kedalam sebuah toko kue yang berada tepat di samping toko buku. "Lah, ku kira kamu mau ngajak aku masuk toko buku!" serunya seraya melirik sekilas.
Pria itu justru tersenyum karena ternyata Yoona sedang menebak apa yang akan dilakukannya. Tanpa menimpali perkataan Yoona, pria itu malah memanggil pelayan toko dan bertanya padanya. "Nenek Huo ada?"
Pelayan itu segera mendongak saat mendengar suara barito pria yang ada dihadapannya. Matanya tak berkedip ketika melihat wajah tampan yang sedang menatapnya dingin.
Ya. Walaupun pria itu dingin dan datar pada semua orang, tapi tetap saja pesonanya selalu memikat para kaum hawa untuk menatapnya lekat.
Ah, sungguh sial. Ingin sekali Yoona mencongkel kedua mata pelayan wanita itu karena telah berani menatap pria yang sedang menggandeng tangannya tersebut.
Eh, memangnya dia siapa?
Seketika Yoona tersadar kalau mereka bukan sepasang kekasih ataupun suami-istri. Kenal juga baru kemarin-kemarin. Tapi rasanya ia tidak terima jika ada yang menatap pria itu lebih lama. Apa lagi dengan tatapan memuja.
"Cih," Yoona berdecih sebal karena pelayan itu tetap memandang Jerry. "Pak Dokter, untuk apa kita kemari?" tanya Yoona agar pria itu meliriknya.
Benar saja. Pria tampan tersebut segera memalingkan wajah kearah gadis di sampingnya dengan tatapan datar. "Bukankah kau ingin mencari sesuatu yang tak ada di perpustakaan kota?" tanya balik Jerry.
Helaan nafas lebih terdengar mendesah. Yoona menarik tangan yang sedari tadi digenggam pria tampan itu. Dia memundurkan langkah dan kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di pojok ruangan. "Kebiasaan," keluhnya sebelum berlalu.
__ADS_1
Jerry yang tersentak karena Yoona menghempaskan tangannya pun tersadar, bahwa dirinya sedari tadi tidak melepaskan genggaman tangannya. Namun, dia kembali bersikap biasa dan mengalihkan pandangannya lagi kearah pelayan. "Jika kau tak mau menjawab pertanyaan ku, maka ...."
Ucapan Jerry segera di pangkas oleh pelayan itu. "Nyonya Besar sedang istirahat di kantornya." jawabnya cepat. Wanita itu terlihat menggigit bibir bawahnya, "aduh!"
Seharusnya dia tak memberitahu siapapun jika Nyonya pemilik sedang beristirahat di kantornya saat ini. Itu melanggar aturan yang berlaku di toko tersebut.
Temannya segera menepuk pundaknya karena kesal dengan kecerobohan temannya. "Kenapa kau mengatakannya? Kan sudah dibilang, jika Nyonya sedang istirahat tidak boleh ada yang mengganggu!" peringat nya dengan berbisik lirih.
"Maaf! Aku keceplosan," lirihnya menyesal.
Jerry yang melihat gelagat keduanya tampak mengangkat sebelah alisnya. Alih-alih bertanya, dia malah berucap seperti mengetahui situasi keduanya saat ini. "Bilang kepada Nyonya kalian, Dokter Jerry ada di sini."
Kedua pelayan itu saling menatap, kemudian mengangguk ragu. Lalu, salah satunya pergi kearah kantor pemilik toko untuk menyampaikan pesan yang Jerry katakan.
Sedangkan Yoona. Gadis itu hanya memainkan benda pipih ditangannya. Dia mendapatkan pesan dari ibunya agar pulang lebih cepat, karena dirumahnya sedang kedatangan tamu. Tak membalas pesan ibunya, gadis itu justru langsung menelpon.
"Tidak tahu, Nak! Dia bilang kalau dia mengenalmu. Umm, teman lama katanya." sahut ibunya dari sebrang.
Yoona nampak berpikir. Siapa teman lama yang dikatakan ibunya itu? Apakah rekan di Batalion? Mungkin juga!
Gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Dokter Jerry. "Pak Dosen, eh pak Dokter! Ibuku menelpon, katanya ada tamu yang mencari ku. Jadi, maaf ya! Aku tak bisa menunggumu disini," gadis itu mengatupkan kedua tangan di dada dan meminta maaf dengan tulus.
"Bisakah kau menunggu sebentar saja! Ini sangat penting," pinta Jerry pada Yoona.
"Tapi ...." Yoona tampak ragu mengiyakan permintaan Jerry. Pasalnya, ibunya terus berkata harus segera pulang, karena tamu itu ingin mengatakan sesuatu yang penting.
"Bagaimana ini?"
Melihat Yoona kebingungan, Jerry pun berkata. "Baiklah! Lain kali kau bisa kesini lagi. Pulanglah!" ujarnya dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
Yoona jadi merasa tak enak pada Jerry. Dia meminta maaf terus menerus sebelum pergi. Lalu, gadis itu keluar dari toko kue tersebut untuk pulang ke rumahnya.
Tak lama kemudian, Nyonya Besar yang dimaksud pelayan tadi akhirnya keluar dari kantornya menuju kearah Jerry. "Lho, Dokter! Kenapa kau tak langsung masuk saja?"
Kedua pelayan itu lantas saling memandang satu sama lain. Mereka tak menyangka jika Nyonya Besarnya ternyata mengenal tamu tampan ini. Siapakah dia? Batin keduanya.
Nenek Huo menoleh kearah pintu dan melihat seorang gadis keluar. Dia terkejut melihat wajah gadis tersebut, "Xin'er!" gumamnya lirih.
Kemudian, wajahnya menoleh kembali kearah Jerry dengan tatapan sulit diartikan. Sebuah pertanyaan tersirat dari tatapan wajah penuh arti itu. Mungkin, dia ingin bertanya pada Jerry tentang siapakah gadis tadi? Namun, wanita tua itu tak menanyakan hal tersebut. Dia justru menyuruh Jerry untuk duduk dan berbicara santai dengannya. Namun, matanya tetap memperhatikan Yoona yang masih terlihat di jendela kacanya.
"Itu Xin'er! Tapi .... "
"Nek, sebetulnya aku kemari tidak sendiri. Tadi ada seorang gadis bersamaku kemari. Namun, dia harus pergi karena ibunya mendadak memintanya pulang!" tutur Jerry.
Nenek Huo tak mendengar jelas dengan apa yang diucapkan Jerry. Dia masih sibuk menatap kepergian Yoona yang perlahan menjauh dan hilang setelah masuk kedalam mobil taksi. "Wajahnya mirip Xin'er!" gumamnya.
Melihat nenek Huo tak merespon ucapannya, Jerry lekas menoleh ke belakang namun tak mendapati apapun. "Ada apa, Nek? Sepertinya Anda sedang memperhatikan seseorang!" tebak Jerry.
Nenek Huo baru tersadar setelah mendengar pertanyaan Jerry yang sedikit keras. Dia langsung berkata," Aku menemukannya!"
Jerry mengernyitkan keningnya. "Siapa yang Nenek maksud?"
"Xin'er. Yun Xin'er," sahut nenek Huo dengan wajah ceria. "Dia ada di sini dan aku menemukannya," lanjutnya kemudian.
Jerry masih tak mengerti. "Yun Xin'er itu siapa nya Nenek? Apa dia cucu Nenek?" tanya Jerry kebingungan.
Dengan senyum mengembang, Nenek Huo menjawab. "Dia cucu menantuku,"
Bersambung ...
__ADS_1