
Semua orang tengah kebingungan atas kedatangan pasukan Kerajaan yang di pimpin oleh Pangeran Zhaohan. Sedangkan Jihu dan kelompoknya merasa gugup takut ketahuan dan mereka semua ditangkap. Jika sampai itu terjadi, bukan cuma tidak akan berangkat ke perbatasan, tapi mereka bahkan akan dibunuh oleh pasukan Zhaohan tersebut.
"Tuan Muda. Bagaimana ini?" tanya salah seorang dengan ketakutan diikuti anggota yang lainnya. Mereka sudah berjanji pada keluarganya akan bertemu di perbatasan.
Jihu berusaha meyakinkan semua anggotanya, jika mereka pasti selamat. Asalkan, semua orang diam dan tidak mengundang kecurigaan pasukan Xili. Namun, tetap saja mereka tak bisa tenang saat melihat pasukan Xili mulai memeriksa semua orang satu persatu.
Mereka diperintahkan turun kembali ke daratan agar memudahkan untuk pemeriksaan. Tak lupa, seluruh barang bawaan pun ikut di geledah mereka dan itu membuat semua anggota Jihu kebingungan.
Bagaimana tidak bingung? Semua topeng berada dalam kantong mereka masing-masing, walaupun diatasnya sudah tertutupi tanaman herbal untuk menyembunyikannya. Tapi tetap saja akan ketahuan, karena semua barang bawaan dikeluarkan dari dalam kantong mereka.
Semua orang berjajar dan satu persatu maju ke hadapan Zhaohan untuk mulai diperiksa. Setelah dinyatakan lolos, mereka pun bisa menaiki perahu dan melanjutkan kembali perjalanannya.
Sudah sebagian penumpang menaiki kembali perahu tersebut. Kini, tinggal beberapa orang lagi yang akan diperiksa oleh Zhaohan, sebelum tiba giliran anggota Jihu.
"Kakak Pertama. Bagaimana ini? Kita pasti tidak akan lolos," bisik salah satunya.
"Benar, Kakak. Mereka sangat teliti memeriksa semua orang beserta barang bawaannya. Kali ini sepertinya kita tidak akan tamat," timpal yang lainnya.
"Kita harus mencari cara agar terlepas dari pasukan Kerajaan. Kalau tidak, maka kita semua akan mati konyol jika melawan. Lihat, prajuritnya bertambah banyak!" seru orang itu seraya menunjuk kearah Bukit dengan dagunya.
Drap ... drap ... drap ...
Langkah kaki terdengar nyaring dari pasukan yang banyak itu, saat mereka menuruni bukit untuk sampai di Dermaga ini.
Mereka semua segera mengalihkan pandangan kearah yang ditunjuk orang tersebut. Betapa terkejutnya mereka, saat melihat banyak pasukan Kerajaan yang datang kemari. Baju zirah dengan senjata lengkap, membuat mereka yakin bahwa itu adalah pasukan Kerajaan Xili.
"Astaga," gumam semuanya dengan lirih.
Perasaannya menjadi gugup dengan tubuh yang gemetaran. Mereka semua takut ditangkap dan dijebloskan ke penjara, kemungkinan bertemu dengan keluarga akan sangat sulit. Tapi, bagaimana jika langsung dibunuh saat itu juga? Bukan cuma akan sulit, tapi tidak akan pernah bertemu lagi untuk selamanya.
"Ayo, cepat jalan! Kalian lambat sekali," teriak Jendral Jun dengan nada cibiran.
__ADS_1
Jihu dan Yoona berpikir lebih keras untuk bisa membuat semuanya selamat. Namun, tak ada satupun jalan keluar yang terpikirkan saat ini oleh mereka. Apakah harus menyerahkan diri pada pasukan Kerajaan? Atau melawan? Tapi, dengan jumlah prajurit sebanyak itu, tak mungkin bagi mereka melawan. Apalagi, mereka tersisa hanya tiga belas orang saja.
"Kak," lirih Yoona saat giliran Jihu maju ke depan. Jihu hanya mengangguk sambil tersenyum, pertanda bahwa mereka harus bersikap tenang. Tapi tetap saja, bagi mereka itu sebuah kekhawatiran yang besar. Bagaimana kalau ketahuan?
Zhaohan yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik mereka, mulai merasa curiga. Ditambah, gaya berpakaian mereka yang aneh dengan menutupi bagian kepala sampai kaki. Seperti bukan rakyat biasa.
"Siapa namamu dan apa pekerjaanmu?" tanya Zhaohan pada Jihu.
"Nama saya Jihu, Pangeran. Saya seorang pedagang obat herbal," sahutnya dengan tenang.
Zhaohan mengangkat sebelah alisnya sambil terus memperhatikan pria di hadapannya, kemudian melirik orang-orang dibelakang Jihu dengan pakaian yang sama persis. "Apa mereka rombongan mu?" Jihu mengangguk sebagai jawaban. "Lalu, kalian mau pergi kemana?" bertanya lagi seraya melirik barang bawaannya.
"Kami akan pergi ke Desa Khuthang untuk mengantarkan pesanan seseorang, Pangeran!" jawab Jihu santai.
"Siapa?" tanya Zhaohan lagi dengan penasaran. Sejujurnya dia hanya menguji kesabaran dan ketenangan Jihu dalam menjawab pertanyaannya. Karena sebetulnya, dia sudah mulai mencurigai mereka dengan pakaian yang sama, juga profesi mereka.
"Tuan Tong sheng, Pangeran. Beliau saudagar terkenal di Desa Khuthang," jawab Jihu menjelaskan. Padahal, sesungguhnya dia hanya menjawab asal supaya terlihat natural. 'Semoga dia tak curiga!' pikir Jihu.
Perasaan mereka menjadi cemas, ketika kantong barang bawaan Jihu digeledah. Tapi anehnya, prajurit itu segera mengembalikan kantong bawaan Jihu karena tak menemukan apapun yang mencurigakan.
"Lekas pergi dari sini! Perahu itu akan membawa kalian menuju perbatasan," ujar Zhaohan setelah melihat prajurit mengembalikan kantong bawaan Jihu.
Mereka terkejut melihat Jihu lolos begitu saja. Mungkin, mereka juga sama halnya seperti Jihu yang lolos dengan mudah. Tapi, kenapa Jihu bisa lolos? Bukankah dalam kantong yang Jihu bawa ada topeng miliknya? Lalu, kenapa prajurit itu meloloskannya begitu saja?
Banyak sekali pertanyaan dalam pikiran semua anggotanya, termasuk Jihu sendiri. Namun, ia segera mengangguk dan bergeser ke samping guna memberikan kesempatan bagi yang lain untuk diperiksa.
Kini, giliran Akyong yang maju untuk diperiksa dan ternyata dia pun langsung lolos seperti Jihu. Mereka senang dengan kenyataan tersebut dan semuanya menjadi tenang kembali. Tapi, sekarang adalah giliran Yoona untuk maju. Sebetulnya ia sangat ragu untuk maju. Karena bagaimana pun, dihadapannya itu adalah Zhaohan, Pangeran Pertama Xili yang selalu mendambakannya untuk menjadi Selir di Istana Haremnya.
Melihat seorang wanita dengan memakai cadar yang menutupi wajahnya, Zhaohan menjadi penasaran. Dia segera menggeser tubuh Akyong dengan kasar, supaya wanita itu segera datang ke hadapannya.
"Siapa namamu?" tanya Jendral Jun kepada Yoona.
__ADS_1
"Nama saya Shin Yoona, Jendral!" sahutnya cepat.
Mendengar suara yang tak asing ditelinganya, seketika membuat Zhaohan menajamkan tatapannya. "Buka cadarmu!" titahnya tiba-tiba.
Yoona yang menyadari bahwa Zhaohan pasti mengenali suaranya, membuat dirinya menjadi sangat gugup begitupun dengan Jihu dan yang lainnya. Mengingat bahwa Yoona dulu adalah seorang yang berasal dari Istana, membuat mereka khawatir seketika.
Ya. Yoona menceritakan kepada mereka bahwa ia pernah tinggal di Istana, namun ia tak menjelaskan statusnya saat di dalam Istana.
"Bagaimana ini? Apa Pangeran Zhaohan mengenali Yoona?" gumam mereka.
"Cepat, buka cadar penutup wajahmu itu!" titah Zhaohan dengan berteriak, karena Yoona hanya diam tanpa melakukan apa yang ia perintahkan.
Dengan ragu, Yoona mengangkat cadar penutup wajahnya perlahan hingga terbuka. Zhaohan pun tak mengalihkan pandangannya dari Yoona untuk memastikan bahwa dia tak salah menebak, lebih tepatnya dia yakin bahwa wanita di hadapannya itu adalah Xin'er.
Perlahan, cadar penutup wajah Yoona terangkat keatas mulai dari memperlihatkan leher, dagu, bibir, hidung. Dan pada saat bagian mata akan terbuka, tiba-tiba sebuah ledakan terjadi.
Duaaarrrr ....
Ledakan itu cukup besar dan mengakibatkan pasukan Kerajaan itu berjatuhan di tanah.
"Aaaaakkkkkkkkhhh," pekik para prajurit yang terkena ledakan tersebut.
Bukan hanya menjatuhkan prajurit, ledakan itu juga membuat semua orang tak dapat melihat keadaan sekitar karena asap putih yang tebal.
"Lindungi Pangeran!" teriak Jendral Jun.
Mereka semua berusaha menghilangkan kepulan asap itu, namun sangat sulit menghilangkannya hingga memakan waktu lima belas menit.
"Mereka kabur!" teriak salah satu prajurit saat pandangannya sedikit cerah. Dia melihat sebuah perahu bergerak menuju lautan, ditumpangi beberapa orang tadi.
"Kurang ajar!" teriak Zhaohan kesal. "Kejar!" titahnya sambil menunjuk perahu tersebut.
__ADS_1
...Bersambung ......