
Zhaoling terpaku di tempatnya. Se'perdetik kemudian, barulah dia sadar bahwa Yoona sudah mengerjai dirinya. Langkah kakinya melebar mengejar istrinya supaya bisa membalas apa yang dilakukan Yoona padanya.
"Hei, dasar nakal!" hardik Zhaoling kesal tapi dalam hati senang, karena Yoona yang berinisiatif terlebih dulu.
Melihat suaminya berlari mengejar, tentu Yoona tak mau tertangkap dan mendapat hukuman. Maka dari itu, ia terus berlari kembali ke kediaman Paman Mo Len agar Zhaoling tak menghukumnya karena di sana banyak orang.
"Hei, tunggu kau nakal!" teriakan Zhaoling hanya ditanggapi dengan juluran lidah oleh Yoona, "wleeekkk!"
Namun, sesaat kemudian langkah kaki Yoona terhenti ketika melihat orang yang sedang berdiri dengan menatapnya tajam. "Permaisuri,"
Zhaoling yang belum menyadari jika ibunya saat ini berada disana, hanya tersenyum ketika menangkap Yoona. "Kena kau, gadis nakal! Setelah ini, bersiaplah untuk menerima hukuman dariku!" ancamnya kemudian.
Melihat ekspresi terkejut Yoona yang hanya menatap lurus ke depan, Zhaoling pun mengikuti arah pandang istrinya. Ia pun sangat terkejut ketika melihat sosok wanita yang melahirkannya tersebut, sedang menatapnya penuh arti. "Ibu," gumamnya lirih.
Setelah itu, ia langsung berbalik sambil menarik tangan Yoona untuk pergi dari sana. Rasa sayang terhadap Ibu dan Neneknya kini telah berganti dengan rasa benci, setelah kedua wanita yang paling ia hormati itu tega mengkhianati kepercayaannya.
Zhaoling sudah sangat patuh dan menghormati apapun keputusan para orang tuanya, namun pada akhirnya kepercayaannya itu di rusak dengan cara menjauhkan istrinya dari kehidupan Zhaoling. Sungguh, ia tak menyangka jika kedua wanita yang ia sayangi itu tega melakukan perbuatan keji terhadapnya. Seharusnya, kedua wanita itu mendukung serta membimbingnya dalam berumah tangga. Seharusnya mereka mengajarkan bagaimana cara menghormati dan menghargai seorang istri, serta cara membahagiakannya.
Tapi, justru itu tak mereka lakukan. Keduanya malah ingin membuat Zhaoling meninggalkan istrinya dan menyuruhnya menikahi banyak wanita untuk pendamping hidup agar nyawanya selamat. Kejadian di masa lalu membuat Ibu Suri maupun Permaisuri salah dalam melangkah. Mengambil keputusan tanpa berunding dengan yang bersangkutan, untuk menentukan jalan hidup yang akan di tempuh Zhaoling. Namun pada akhirnya hanya menyengsarakan hidup Zhaoling saja.
"Zhaozu!" panggilan Permaisuri membuat putranya itu menghentikan langkah, namun dengan wajah masih menghadap ke depan. "Apa kau tak merindukan ibumu, Nak?" perkataan Permaisuri terdengar menyedihkan. Wajar saja, jika seorang ibu sedih karena putranya bersikap acuh kepadanya di saat pertemuan kembali mereka, setelah beberapa bulan tidak bertemu.
Rasa rindunya semakin meluap ketika melihat wajah sang putra berada tepat dihadapannya. "Tidak bisakah ibumu ini memandang wajahmu walau hanya sekejap saja!" terdengar jelas bahwa ini adalah suatu permintaan, lebih tepatnya permohonan agar putranya itu datang padanya.
__ADS_1
Tapi, lagi dan lagi Zhaoling mengabaikannya. "Aku tak suka basa-basi. Sekarang, katakan tujuan utama Yang Mulia Permaisuri datang jauh-jauh kemari?" tanya Zhaoling tanpa memanggil Permaisuri dengan sebutan ibu. "Apakah ingin memastikan kebenaran tentang Xin'er? Atau ... ada rencana tersembunyi lagi untuk memisahkan aku dari istriku?" tanya Zhaoling tanpa menoleh.
Permaisuri bergegas menghampiri sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nak! Bukan itu," tangannya menyentuh lengan Zhaoling namun segera ditepis si pemilik lengan tersebut. Melihat sikap dingin putranya, Permaisuri Jian hanya bisa tersenyum pahit sambil melirik Yoona yang ada di samping Zhaoling. "Ibu ... hanya ingin kau kemba ..."
"Aku tak kan kembali ke Istana!" pungkas Zhaoling yang sudah tahu maksud perkataan ibunya. Kini, wajah tampan nan dingin itu menghadap sepenuhnya menatap wajah ibunya. "Sampai kapanpun aku tak kan pernah kembali lagi ke tempat itu," ucapnya menegaskan. Setelah itu, ia kembali melangkah sambil terus menggenggam tangan Yoona untuk segera pergi dari sana.
Yoona hanya bisa pasrah saat suaminya mengajaknya pergi, tanpa berniat protes sedikitpun. Dia tahu bahwa saat ini Zhaoling sedang bersedih dan membutuhkan ketenangan hati. Yoona pun sudah mengetahui jelas tentang permasalahan mereka di masa lalu. Kesalahpahaman yang sengaja dibuat oleh Permaisuri hingga keadaan menjadi seperti saat ini.
"Zhaozu!" panggil Permaisuri mengiba dan hanya diabaikan oleh putranya. "Xin'er!" kini panggilannya beralih pada sang menantu.
Yoona yang namanya disebut pun langsung menoleh seraya menghentikan langkah. Netra mutiara itu menyiratkan tatapan penuh iba. "Biarkan dia tenang dulu, Yang Mulia. Sebaiknya Anda segera kembali ke Istana, karena diluar sangat berbahaya!" ucap Yoona dan ia pun kembali berjalan mengikuti langkah Zhaoling setelah menunduk hormat.
Permaisuri Jian merasa hatinya begitu sakit atas penolakan dari putranya itu. Beliau menundukkan wajah dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. Tepukan di bahu membuatnya menoleh ke belakang, yang ternyata dilakukan oleh Ibu Suri.
"Aku sudah gagal menjadi seorang ibu," ucapnya sendu.
Ibu Suri pun mengajak Permaisuri kembali ke Istana sebelum Kaisar menyadari kepergian mereka. Entah apa yang terjadi, jika Kaisar sampai tahu bahwa Penguasa Istana Harem keluar Istana hanya untuk membujuk putranya kembali. Kaisar Zhihu mempercayakan semua keputusan kepada putra-putranya. "Mereka sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri" ungkap Kaisar jika sedang membicarakan masalah semua putranya.
Namun, bagi Permaisuri tidak lah sama. Dirinya sekarang hanya memiliki satu putra dan itu Zhaozu seorang. Jika terjadi sesuatu kepada putra semata wayangnya itu, maka dirinya akan menyesal seumur hidup. Tapi, karena sikap posesifnya lah yang membuat dirinya harus dijauhi oleh putranya sendiri.
Dengan terpaksa, Permaisuri mengiyakan ajakan Ibu Suri untuk kembali ke Istana tanpa Zhaozu. Beliau begitu sedih karena tak berhasil membawa putranya kembali pulang bersama dengan dirinya.
•
__ADS_1
Di tempat Zhaoling dan Yoona berada.
Pria dingin itu menghentikan langkah ketika sampai di taman bunga dekat danau. Genggaman tangannya terlepas dan ia pun duduk di tanah beralaskan rumput hijau. Yoona yang melihat kesedihan di wajah suaminya pun menjadi tak tega. Dia ikut duduk di samping Zhaoling dan menatapnya dari samping.
"Jika kau ingin menangis, menangis lah!" ucap Yoona kemudian seraya menghadapkan wajahnya kembali ke depan.
Zhaoling mengernyitkan kening mendengar ucapan istrinya, kemudian menoleh untuk bertanya. "Maksudmu? Kau pikir aku anak kecil yang suka menangis jika mendapatkan masalah! Cih," wajahnya kembali berpaling dengan tangan tangan memungut batu kecil, kemudian melemparnya ke tengah danau. "Aku tak ingin pulang sebab ..."
Ucapannya tak tersampaikan karena Yoona tiba-tiba kembali mengecup pipinya, membuat Zhaoling terdiam. "Terima kasih, telah memberikanku keadilan!"
Pria dingin itu sempat terkejut, namun segera tersenyum dengan sikap Yoona yang menurutnya sangat manis. Di saat hatinya sedang bersedih, istrinya mampu membuatnya tersenyum bahagia. "Apa kebiasaan mu sekarang telah berubah, menjadi seorang pencuri ciuman?" cibir Zhaoling yang hanya diacuhkan oleh Yoona.
Wanita itu berpura-pura tak mendengarkan perkataan Zhaoling. "Cuacanya masih sangat dingin ya, walaupun salju sudah mulai mencair!" cetusnya mengalihkan pembicaraan.
Bibir Zhaoling melengkungkan senyum melihat tingkah Yoona yang selalu membuatnya bahagia. Dengan gerakan lambat, tangannya melingkar di punggung Yoona dan menarik bahu itu kearahnya, hingga siempunya menoleh. Saat itulah Zhaoling melancarkan aksinya dengan mengecup bibir manis Yoona. "Manis," desisnya menggoda.
"Hei!" pekik Yoona seraya melayangkan pukulan, namun segera ditahan oleh Zhaoling.
Tangan pria itu pun menahan tengkuk Yoona saat bibirnya kembali mendarat di bibir istrinya. Kali ini tidak hanya mengecup, namun ia memperdalam dengan lidah menerobos masuk setelah menggigit bibir istrinya pelan agar terbuka lebar. Semakin lama ciuman itu semakin panas membuat junior kembali berontak ingin segera ber-kultivasi di dalam sangkarnya.
Bibirnya perlahan turun menuju ceruk, kemudian memberikan sentuhan sensual yang bisa membangkitkan gairah istrinya. Sedikit menghisap untuk meninggalkan jejak kepemilikan, namun membuat Yoona mengeluarkan suara indah dibarengi tangan yang menjambak rambutnya. "Hmmpph,"
Zhaoling semakin tak bisa mengontrol gairahnya ketika tiba-tiba Yoona menjilat cuping telinganya. Nafasnya memburu dengan diliputi kabur gairah. "Kau mulai nakal," kekehnya sambil menatap wajah cantik istrinya. "Jangan salahkan aku jika kau ku makan di tempat ini!" ucapnya kemudian.
__ADS_1
Yoona tersadar dan segera mendorong tubuh Zhaoling sedikit menjauh. "Tidaaaaaaakkk!"
Bersambung ....