Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Pingsan


__ADS_3

Zhaoling pulang kembali ke Xili setelah menemui kakek Lon Thong. Hatinya sedikit lega kala mendengar nasihat kakek.


"Emosi akan membawa jiwamu kedalam kehancuran. Atasi semua masalah dengan kepala dingin, dan jangan biarkan siapapun mempengaruhi pikiranmu! Ingat, Aling! Seorang pria akan selalu mengutamakan kebahagiaan orang yang kita sayangi." nasihat kakek terus terngiang dipikirannya saat ini.


Saat ini, ia memutuskan untuk pulang dan menjemput Xin'er. Bagaimanapun, masalah dengan Ibu Suri dan Zhaohan akan dipikirkan nanti setelah dia membawa kembali istrinya.


Zhaoling yakin, istrinya saat ini terluka oleh sikap kasarnya tempo hari. Pasti tak mudah bagi Xin'er untuk memaafkan kesalahan besarnya itu. Tapi, Zhaoling sudah siap dengan kemarahan istrinya dan dia berjanji akan membawa pulang lagi Xin'er ke Istana.


Perjalanan jauh dan melelahkan tak dirasa olehnya. Yang penting baginya saat ini ialah menemui Xin'er dan mendapatkan maaf dari istrinya. Tapi, apakah Xin'er akan memaafkannya? Mengingat perlakuan kasarnya waktu itu, rasanya sulit bagi istrinya untuk memberi maaf. Namun, Zhaoling tetap harus mencoba dan berusaha mendapatkan maafnya.


Senyum di bibir terukir indah saat kakinya menapak di Kota Yongsheon. Dengan hati yang senang, Zhaoling segera mendatangi rumah kediaman Perdana Mentri Yun untuk menjemput istrinya tersebut.


Namun pada saat sampai di sana, ternyata Xin'er sedang keluar bersama kedua pelayannya untuk pergi ke Pekan Raya. Hanya ada Nyonya Muning dan Mingna di rumah tersebut. Kedua wanita itu terkejut dengan kedatangan Panglima Xili ke kediamannya ini.


"Tuan Panglima. Apa Anda kemari karena mengantarkan surat perceraian untuk di tanda tangani Xin'er? Kalau begitu, biar saya saja yang tanda tangan. Saya tak tega jika Anda menunggu Xin'er terlalu lama. Pasti, pekerjaan Anda terhambat gara-gara gadis bodoh itu." celoteh Mingna dengan nada merendahkan.


"Iya, Tuan Panglima. Saya sebagai ibunya sangat malu memiliki putri seperti dia. Setiap hari kerjanya keluyuran tak jelas, padahal dia sudah punya suami. Kami yakin, dia di usir oleh Pangeran Ketiga karena sering kelayapan seperti ini dan mencari pria lain. Walaupun Pangeran Ketiga buruk rupa, tapi seharusnya Xin'er tak melakukan itu!" timpal Muning menjelekkan. "Oh iya, Tuan Panglima. Apa Anda sudah memiliki pasangan? Kalau belum, putriku Mingna ini sangat cocok lho menjadi istri Anda. Dia gadis baik-baik dan berpendidikan. Tidak seperti Xin'er, yang bodoh dan keras kepala itu. Mingna gadis yang penurut," lanjutnya kemudian seraya melirik putrinya di samping yang sedang tersenyum manis.


Zhaoling menatap keduanya secara bergantian, kemudian berdiri dan mengeluarkan pedang serta mengarahkan pada mereka. "Sudah puas menghina orang lain? Atau kalian masih ingin bercerita hal yang lain lagi?" tanya Zhaoling dingin. "Jika seperti itu, kalian bisa saling mengobrol di neraka setelah aku menebas leher kalian berdua!" tegasnya lagi.


Mata kedua ibu dan anak itu langsung membulat sempurna. Pria dihadapan mereka itu seperti iblis yang berkedok pria tampan. Dari auranya saja sudah tercium hawa pembunuh tingkat ahli. Mereka gelagapan sambil menatap ujung pedang yang berkilau karena ketajamannya. Bagi mereka, saat ini keadaan lagi genting sampai membuat tenggorokan sulit untuk menelan walau hanya saliva saja.

__ADS_1


"Mmm-maaf, Tu-tuan Panglima! Ka-kami ..." mereka gugup sampai tak bisa mengatakan apapun saat ini.


Zhaoling menatap tajam kearah keduanya. "Kalian hanya perlu mengatakan keberadaan Xin'er saja. Untuk masalah lainnya, kalian tidak perlu ikut campur! Jika tidak, terpaksa aku akan membuat kalian merasakan sentuhan lembut pedangku!" ancamnya kemudian.


Mingna dan ibunya membelalakkan mata mendengar perkataan Zhaoling barusan. Sentuhan lembut pedang? Seperti apa itu? Selembut-lembutnya pedang menyentuh kulit akan tetap meninggalkan luka sampai mengeluarkan darah. Keduanya saling mencubit satu sama lain karena takut salah bicara. Mereka terlalu takut untuk merasakan kelembutan pedang Zhaoling.


"Tu-tuan Panglima. Ka-kami berkata jujur. Xin'er saat ini sedang bermain keluar bersama Mengshu dan Yuelie sejak pagi. Tapi, kami tidak tahu mereka pergi kemana!" jawab Mingna dengan ketakutan.


"Jika kalian berbohong, maka aku ..." Zhaoling menggerakkan pedangnya lagi untuk mengancam mereka, sampai mereka berteriak dan mundur.


"Aaa, Tuan Panglima. Maafkan kami! Xin'er sedang berada di pekan raya yang ada di Pusat Kota," sahutnya dengan cepat.


Selepas kepergian Zhaoling, Muning dan Mingna menghela nafas lega. Keduanya merasa nyawanya hampir melayang akibat ulah Panglima dingin tadi. "Sialan si gadis bodoh itu. Gara-gara kelakuannya, kita yang harus menanggung masalah. Awas kau, Xin'er!" umpat keduanya geram.


Sedangkan Zhaoling pergi mencari istrinya ke pekan raya sesuai perkataan Mingna tadi. Namun saat sampai, dia tak menemukan Xin'er ataupun kedua pelayannya. Mungkin, gadis itu sudah pulang, karena hari sudah mulai senja.


Dengan langkah kaki yang cepat, Zhaoling segera berlari memotong jalan pulang menuju rumah Perdana Mentri. Saat di pertengahan jalan, dia mendengar samar-samar suara para gadis sedang mengobrol sambil bercanda.


Zhaoling yakin, jika itu suara istrinya dan juga kedua pelayan pribadinya. Mengshu dan Yuelie. Dia pun memanggil nama Xin'er namun tak ada yang mendengarnya. Dengan cepat, ia berlari dan menarik tangan Xin'er sampai gadis itu berbalik menghadapnya.


Mata Zhaoling berkaca saat melihat wajah cantik gadis yang selalu dirindukannya. "Aku merindukanmu!" namun, kata itu tak keluar dari mulutnya. Ia ingin sekali langsung memeluk tubuh istrinya dan menghirup aroma wangi yang selalu menjadi candu baginya. Tapi, saat ini tidak mungkin baginya untuk melakukan itu. Maka, kata yang keluar dari mulutnya yaitu ... "Ayo, kita pulang!"

__ADS_1


Xin'er terkejut sampai menghempaskan tangannya dengan kasar. Gadis itu sepertinya sangat marah karena disentuh dan dikejutkan Zhaoling secara tiba-tiba.


Melihat kemarahan Xin'er saat ini, Zhaoling yakin bahwa istrinya itu akan bersikap sama kepadanya saat menjadi Pangeran Ketiga. Wajah Zhaoling menunduk lesu seraya mengucapkan kata, "Maaf!"


Tanpa berkata apapun, Xin'er dan kedua pelayannya pergi meninggalkan Zhaoling yang masih tertunduk sedih. Walaupun mereka penasaran dengan sikap tiba-tiba Zhaoling yang seperti sedang menanggung penyesalan berat, namun mereka tetap tak mempercayainya. Bagaimana pun, pria itu adalah pria dingin dan sombongnya minta ampun. Lalu, kenapa dia meminta maaf pada Xin'er dengan nada sedih?


Melihat Xin'er yang pergi tanpa menghiraukannya, Zhaoling merasa sangat terpukul. Dia merasa pantas diperlakukan seperti itu. Bagaimanapun juga, sikap kasarnya pasti membuat Xin'er marah.


Kepala Zhaoling mulai sakit, seiring pandangan yang mulai kabur. Tubuh letihnya tak bisa bertahan sampai dia pun terjatuh ditanah dengan cukup keras.


Bruk


Mendengar sesuatu yang terjatuh, ketiga gadis itu menoleh kebelakang. Betapa terkejutnya mereka saat melihat Zhaoling terbaring ditanah tak sadarkan diri. Mereka segera berbalik dan menghampiri lagi Zhaoling yang sudah lemah tak berdaya.


"Panglima. Hei, Tuan Zhaoling!" mereka berusaha menepuk pipinya agar sadar, namun itu tak membuahkan hasil.


"Aling. Kamu kenapa?" Xin'er terlihat khawatir melihat wajah pucat pria sombong dihadapannya itu. "Ashu, Yuelie. Ayo, kita bawa dia!" titah Xin'er kepada kedua pelayannya.


Bersambung ...


...Bab Selanjutnya diperkirakan update tiga hari lagi. Othor sibuk dulu ngurus anak sekolah ya, gaess! 😁😁😁...

__ADS_1


__ADS_2