Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Perjalanan ke Kuil Dewa Angin


__ADS_3

"Usir dia ... usir dia!" teriakan para rakyat Xili menggema di seluruh area Istana.


Semua orang saat ini meneriaki gadis yang tengah bersimpuh di tanah dan memohon untuk bisa memberikan penjelasan. Gadis malang itu bahkan berkali-kali berdiri, namun tubuhnya segera diinjak oleh prajurit wanita yang berada di sisi kiri dan kanannya.


Seluruh orang menatapnya dengan jijik, bahkan ada yang sampai meludah ke tanah karena menganggap dirinya hina. Mereka terus mencemooh gadis tersebut tanpa tahu yang sebenarnya terjadi.


Seluruh anggota keluarga kerajaan saat ini berkumpul dan berjejer rapi, serta hanya bisa melihat kejadian ini tanpa bisa melakukan apapun. Bahkan para Mentri dan Kasim pun hanya tertunduk tak berani berkomentar apapun lagi.


Keputusan Kaisar bersifat mutlak. Bagi siapa yang menentang, hukum mati taruhannya. Maka dari itu, semua orang tak berani melawan keputusan Sang Penguasa Dinasti Xili tersebut.


"Yang Mulia, Hamba mohon! Berikan kesempatan untuk Putri Xin'er membela diri," ujar Permaisuri memohon seraya menyentuh lengan Kaisar.


"Kau tak pantas memohon untuk pengkhianat yang mencoba membunuhmu, Permaisuri!" hardik Kaisar.


Walau bagaimana pun Permaisuri mengiba, tetap saja tak bisa meruntuhkan hati Kaisar Zhihu. Saat ini, dimata Kaisar hanya ada amarah dan kebencian. Setelah bukti-bukti didapatkan pihak kepolisian kerajaan, dan sidang berlangsung tiga hari. Maka, Hakim memutuskan untuk memberikan hukuman mati.


Namun, mengingat Putri Xin'er adalah istri dari Pangeran Ketiga, juga adalah putri dari Perdana Mentri, Kaisar memutuskan untuk mengusirnya keluar Istana. Bahkan, dia harus diasingkan ke Wilayah perbatasan dan menjadi Biarawati di salah satu Kuil untuk menebus semua kesalahannya.


"Yang Mulia. Hamba mohon, berikan kesempatan untuk membuktikan bahwa Hamba tidak salah!" pinta Xin'er dengan mengatupkan kedua tangan.


"Tidak bersalah?" bentak Kaisar. "Semua bukti kejahatanmu sudah terkuak di muka umum. Kau tidak bisa mengelak lagi, Putri Xin'er!" tegas Kaisar kemudian.


"Tapi, itu semua tidak benar, Yang Mulia. Hamba tidak mungkin melukai Permaisuri," sanggah Xin'er. Memang ia merasa tidak melakukan kejahatan tersebut. Tapi, semua orang tak ada yang percaya saat ini. Apalagi, semua bukti mengarah padanya.


"Cukup, Xin'er! Dengan kau terus mengelak, kau menambah hukuman-mu. Pengawal, seret pengkhianat ini keluar Istana. Pastikan dia pergi dari Negara ini," titah Kaisar kepada para pengawalnya.


"Tidak! Ku mohon Yang Mulia! Berikan kesempatan untuk aku membuktikan bahwa diriku tidak bersalah," pinta Xin'er terus memohon.


Namun, Kaisar tetap pada pendiriannya dan tidak memperdulikan rengekan Xin'er. Tak ada rasa simpati ataupun empati darinya lagi. Kini, hanya ada kebencian dan amarah yang sudah memuncak dalam diri Kaisar.

__ADS_1


Kepolisian kerajaan mendapatkan bukti jika Xin'er yang membeli racun penghisap jiwa kepada pedagang pasar gelap. Dia pun di tuding membayar pembunuh untuk berpura-pura menyelinap ke Istana Zhoseng dan melukai Permaisuri disaat Pangeran Ketiga tidak berada di kediamannya. Tujuannya hanya satu, yaitu menjadi Penguasa.


Lagipula, siapa yang akan percaya jika para penyusup mudah masuk kedalam Istana dan menerobos penjagaan ketat prajurit saat berpatroli, jika tidak ada koneksi orang dalam. Mereka yakin, jika Xin'er yang memudahkan jalan bagi para penyusup untuk memasuki Istana.


Saat ini, Xin'er terkena pasal berlapis dengan dituding melakukan kudeta penyerangan terhadap kubu Ibu Suri dan Selir Wang Xiumeng. Padahal, dia tak melakukan apapun yang dituduhkan oleh kepolisian kerajaan.


Bukan hanya Xin'er yang terkena hukuman, tetapi keluarganya juga. Tuan Yun Xiaoyu di copot jabatannya dari Perdana Mentri menjadi rakyat biasa. Xiaolang yang menjabat sebagai Bupati pun segera di lengserkan. Mereka semua di usir secara tidak hormat dari Kerajaan Xili.


Seluruh harta kekayaan Keluarga Yun disita pihak pengadilan sebagai kompensasi ganti rugi. Itupun termasuk sebagian dari hukuman yang harus diterima mereka. Dengan hidup sebagai rakyat jelata, Kerajaan memberikan contoh kepada para penduduk balasan untuk orang yang berkhianat.


Hancur. Sungguh sangat hancur perasaan Xin'er sekarang ini. Disaat dirinya membutuhkan dukungan dari suaminya, ternyata Pangeran Ketiga tak berada di sampingnya. Bahkan, sudah seminggu Pangeran Ketiga tak menampakkan diri di hadapannya.


Benar-benar sakit. Hati Xin'er dipenuhi dengan kebencian. Orang-orang hanya bisa percaya dengan bukti yang terlihat, tanpa tahu fakta yang sesungguhnya. Selama dia tidak bisa membuktikan kebenarannya, maka semua orang akan terus menganggapnya sebagai pengkhianat Negara.


Percobaan pembunuhan terhadap Permaisuri bukan perkara sepele. Itu sama saja melakukan kejahatan yang sangat berat. Permaisuri adalah wanita penguasa Istana, dan wanita nomor satu di kerajaan. Jika ada yang berani mengusiknya, apalagi mencoba membunuhnya, maka dapat dipastikan hukuman yang didapat jauh lebih berat daripada kematian. Yaitu, diusir secara tidak hormat dan mendapat kebencian dari semua rakyat Xili.


Sungguh malang. Jika bukan karena menganggap bahwa Xin'er adalah menantu kerajaan, mungkin dia akan dibuang ke Pulau terpencil yang jauh dari Wilayah perbatasan. Tapi tetap saja, hukuman diasingkan ke Kuil untuk menjadi Biarawati pun sungguh menyiksa mereka. Dengan menjadi Biarawati, maka dia harus terbiasa hidup tanpa memikirkan hal duniawi, termasuk percintaan dan sebagainya.


Tuan Yun Xiaoyu dan kedua anaknya, yaitu Xiaolang dan Xin'er. Mereka dibawa ke daerah perbatasan menuju Kuil Dewa Angin menggunakan kereta untuk para tahanan, agar mereka tak dapat melarikan diri. Para prajurit yang menjaga mereka pun cukup banyak.


Sedangkan Muning dan kedua anaknya, yaitu Moheng dan Mingna. Setelah mengetahui jika Xin'er terbukti bersalah, mereka lekas melarikan diri dan memutuskan tali hubungan antara mereka dan Tuan Xiaoyu beserta kedua anaknya. Mereka tidak mau terlibat dalam masalah Xin'er dan tak bisa hidup bebas seperti biasanya. Barang berharga seperti uang dan perhiasan, segera mereka curi dari berangkas Tuan Xiaoyu.


Kini, mereka kembali hidup bertiga seperti sebelumnya, saat ditinggal mendiang istri Tuan Xiaoyu, yaitu Nyonya Xinwa. Diatas kereta tahanan, ketiganya saling menguatkan dengan saling menggenggam tangan dan juga berpelukan. Sungguh sangat miris hidup mereka saat ini.


Xin'er menatap Istana yang terlihat mengecil dari kejauhan. Bayangan kenangan bersama Pangeran Zhaozu serta Panglima Zhaoling menari di pelupuk matanya. Andai saja dulu ia berontak dan tak mau dinikahi Pangeran Ketiga, mungkin hidupnya takkan seperti ini.


Benar kata ayahnya, jika hidup sebagai anggota kerajaan itu sungguh tidak enak dan menyiksa diri kita. Xin'er bersimpuh dipangkuan ayahnya sebagai tanda permohonan maaf padanya. Dia menangis tersedu saat tangan ayahnya mengusap lembut kepalanya.


Walaupun Tuan Xiaoyu tak mengatakan apapun, tapi Xin'er tahu bahwa ayahnya sedang menyemangati dirinya. Xiaolang pun mengusap kepala adiknya itu seraya memeluknya dari samping. Pemandangan menyedihkan itu hanya ditatap sinis oleh para prajurit yang mengawal perjalanan mereka menuju perbatasan.

__ADS_1


"Keluarga Kerajaan. Aku akan mengingat penghinaan ini sampai kapanpun. Jika suatu saat nanti aku kembali, akan kupastikan untuk menghancurkan Dinasti Xili sampai keturunan ke Sembilan. Selama aku masih bernafas, selama itupun dendamku akan terus membara." Xin'er mengepalkan tangan dan bertekad dalam hati.


Dia termenung sesaat mengingat sosok pria yang telah mendampinginya selama ini. Namun, disaat dirinya terpuruk, pria itu malah tak ada disampingnya, bahkan tak menemuinya sampai dirinya dibawa keluar Istana. Rasa yang tumbuh dihati sebelumnya, kini telah sirna dan berubah menjadi kebencian.


"Zhaozu. Kau sangat baik, bahkan terlalu baik, sampai-sampai kau tak datang menyelamatkanku dan keluargaku. Kau tak berusaha untuk membelaku dihadapan semua orang, bahkan kau menghilang begitu saja. Terima kasih atas cintamu itu, Zhaozu! Akan kupastikan membalasnya suatu saat nanti, dengan kematian yang menyakitkan. Kau akan mati ditanganku, Zhaozu. Tunggu aku datang untuk menghancurkan kalian!"


...💫💫💫💫...


Hari mulai senja dengan ditandai langit yang berwarna jingga. Suara binatang hutan mulai terdengar mengiringi perjalan mereka saat ini. Kereta tahanan tersebut terus ditarik kuda melewati hutan belantara, dengan kewaspadaan para prajurit.


Aauuuuuuuuuuu,


Lolongan Anjing hutan terdengar nyaring dari arah hutan dalam, membuat mereka terkejut bukan kepalang. Para prajurit saling pandang dengan ketakutan. Bagaimana jika sekelompok Anjing Hutan tiba-tiba menyergap mereka ditengah-tengah jalan? Bukan hanya tidak akan bisa lewat, tapi mereka juga tidak akan selamat.


Tapi, tugas ini harus mereka selesaikan dengan memastikan mengirim para tahanan ke perbatasan sampai ke Kuil Dewa Angin. Jika mereka tak melaksanakan tugas yang diberikan Kaisar, maka mereka pasti mendapatkan hukuman berat.


Dengan langkah yang hati-hati, mereka menggerakan kereta kuda tahanan tersebut supaya tak mengundang perhatian para Binatang Hutan. Apalagi, lolongan Anjing Hutan masih terdengar, bahkan saling bersahutan.


Perjalanan melelahkan ini ditempuh dengan menghabiskan waktu sepuluh jam, dan itu belum sampai ke tempat tujuan. Masih harus memerlukan tiga puluh dua jam lagi untuk sampai ke perbatasan.


Wajah lelah terlihat dari semua orang tak terkecuali ketiga tahanan yang berada diatas kereta tahanan tersebut. Jangankan makanan, mereka bertiga tak diberikan air minum setetespun oleh para prajurit itu. Kondisi Tuan Xiaoyu bahkan terlihat lemah karena usia tuanya.


Xin'er dan Xialong terus menggenggam tangan ayahnya dengan perasaan yang sulit diartikan. Bukan mereka tak mau memberi, tapi mereka sudah berusaha meminta sedikit air minum hanya untuk ayahnya saja. Tapi, para prajurit itu berhati batu dan tak memperdulikan kondisi mereka saat ini.


"Ayah, bertahanlah!" lirih Xin'er dan Xiaolang dengan mata berkaca. Keduanya tak kuasa melihat kondisi ayahnya saat ini, yang harus menahan lapar dan dahaga di usia setua ini.


Akhir-akhir ini, Tuan Xiaoyu sering sakit-sakitan. Kondisinya yang lemah membuat dirinya tak bisa menahan lebih lama. Helaan nafas berat mulai terdengar dari mulut Tuan Xiaoyu. Baik Xin'er ataupun Xiaolang sangat mengkhawatirkan kondisi ayahnya saat ini.


"Ya Dewa. Berikan pertolongan pada kami!" gumam keduanya dalam hati.

__ADS_1


...Bersambung, gaess ......


__ADS_2