Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Kematian Jihu


__ADS_3

Pukulan Zhaoling berhasil ditangkis oleh salah satu pria yang mendarat tepat dihadapannya.


"Beraninya kau menyerang Guru Luo!" gertak pria itu.


Zhaoling menatap sinis kepada pria yang baru saja datang tersebut. "Lujing. Jangan ikut campur urusanku dengannya! Kalau tidak, maka kau akan tahu akibatnya!" ancam Zhaoling.


Pria yang bernama Lujing itu terkekeh mendengar ancaman Zhaoling. Dia bahkan mengatakan kalimat ejekan untuknya agar memancing emosi pria itu. Namun, Zhaoling tak sedikitpun terprovokasi oleh ucapan Lujing. Dia hanya fokus untuk membunuh Guru Luo saja, tanpa memperdulikan Lujing.


Tapi, Lujing tak membiarkan itu terjadi. Dia dan beberapa orang lainnya segera menyerang Zhaoling agar tidak menyentuh Guru Luo.


"Xin'er!" panggil Zhaoling memberikan isyarat agar istrinya itu berdiri di sampingnya.


Tanpa berkata, Xin'er pun berlari kearah suaminya karena tak mau membuat Zhaoling khawatir.


Tatapan Qianfeng, Liu Wei, dan Yu Xuan sangat tajam ketika pria itu membuka tudung yang dikenakannya. Melihat dari ekspresi wajah keempat pria disampingnya, bahwa mereka yang dibawa Lujing bukan orang sembarangan.


Kelima pria itu tersenyum mengejek kearah Zhaoling dan yang lainnya. "Lama tidak berjumpa, murid Perguruan Naga Bayang!" sapa mereka.


Mata keempat pria yang ada di samping Xin'er membeliak. Mereka mencemooh sapaan kelima pria dihadapannya itu, "ternyata murid Perguruan Bangau Putih sesantai ini. Bisa datang kemari untuk ikut campur urusan orang lain," ejek mereka.


Lujing dan teman-temannya tertawa. "Aku harus ikut campur, karena ini menyangkut nyawa kakekku!" tegas Lujing membuat semua orang terkejut.


Pantas saja Guru Luo mudah memasuki perguruan Bangau Putih, karena ternyata cucunya Lujing berada disana. Dia juga yang membocorkan jurus rahasia perguruan yang ada dalam gulungan. Sayangnya, Guru Lon Thong tidak pernah tahu apa yang dilakukan Guru Luo di perguruan, karena dia jarang di tempat.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu! Jangan salahkan kami jika kalian harus ikut terbunuh di medan perang ini!" gertak Qianfeng menimpali.


"Cih. Kita buktikan, siapa yang akan terbunuh di medan perang ini! Kami atau kalian," ejek Lujing dan kawan-kawannya sembari tertawa.


Pertarungan pun tak terhindarkan. Mereka saling menyerang satu sama lain dengan kekuatan yang dimiliki masing-masing. Semua jurus dikeluarkan demi menaklukan musuh hingga tewas. Tapi, sepertinya mereka sangat kuat, sehingga tak ada dari keduanya kalah dalam pertarungan ini.


Walaupun pasukan dibawah pimpinan Zhaohan telah habis dibantai pasukan Xili dan Xiang, namun pemimpin mereka belum mati. Maka dari itu, tugas membunuh para pemimpin musuh diambil alih oleh pemimpin mereka juga.


Zhaoling melawan Guru Luo dan Lujing sekaligus. Qianfeng melawan dua pria kawan Lujing dan dua lagi melawan Liu Wei. Sedangkan Yu Xuan dan Xin'er melawan Zhaohan, Zhaokang, Jihu, dan sisa Jendral mereka.


Pertarungan sengit mereka belum terlihat ada yang akan kalah, karena keduanya memiliki kemampuan baik dalam ilmu bela diri. Zhaohan dan adiknya sengaja melawan Xin'er karena, menganggap wanita itu lebih lemah dari yang lain. Dia berharap bisa menaklukan wanita itu dan mengancam Zhaoling untuk menyerahkan tahta Kekaisaran juga padanya. Andai saja itu terjadi, Zhaohan pun akan memaksa Xin'er menjadi Permaisurinya kelak.


Binar bahagia terlihat dimatanya ketika Xin'er kewalahan menghadapinya. Dia tertawa kegirangan karena sebentar lagi rencananya akan terwujud, memiliki Xin'er menjadi istrinya dan juga tahta Kekaisaran.


Awalnya, Zhaohan hanya ingin menggertak saja dengan mengarahkan pedang kepada Xin'er agar wanita itu menyerah. Namun, karena terlalu bersemangat, sehingga pergerakannya terlalu kuat sampai tubuhnya terhuyung ke depan. Tapi siapa sangka, ketika Zhaohan akan memukul kalah Xin'er, tiba-tiba Jihu menghadang serangannya. Sehingga, pedang Zhaohan menusuk perut Jihu.


Zhaohan yang melihat Jihu menghadang serangannya hanya bisa mencibir. "Dasar bodoh!" namun dihatinya ia senang karena bukan Xin'er yang terluka, melainkan Jihu. Orang yang dianggap teman, sekaligus musuhnya.


"Kakak!" teriak Xin'er saat tubuh Jihu ambruk tepat dihadapannya. "Apa yang kau lakukan, kak?" wajahnya menjadi berubah panik, ketika mendapati Jihu yang bersimbah darah. "Aling. Tolongin Kak Jihu," teriaknya memanggil Zhaoling namun lekas dihentikan Jihu.


"Yoona. Maafkan aku!" lirih Jihu berusaha berbicara walaupun kesulitan. "Aku sangat bersalah padamu, Adikku!" lanjutnya kemudian.


Xin'er menggelengkan kepalanya. "Jangan banyak bicara dulu, Kak! Biarkan aku membawamu ke Tabib untuk segera mengobati lukamu," ujarnya dengan derai air mata.

__ADS_1


Tangan Jihu mengusap pipi mulus yang telah dialiri air mata. "Tabib tidak bisa menolongku, Yoona. Hanya kau yang bisa menolongku," ucapnya seraya tersenyum.


Walaupun tidak mengerti ucapan kakaknya, Xin'er tetap mengangguk sambil menggenggam tangan Jihu. "Katakan, Kak! Apa yang harus aku lakukan agar bisa mengobati lukamu?"


Senyum Jihu mengembang ketika mendapatkan anggukan adiknya. "Peluk aku! Aku hanya ingin pergi dengan damai tanpa ada beban lagi," pintanya memohon.


Tanpa berkata, Xin'er memeluk erat tubuh yang sudah lemah karena kehabisan darah itu. Dia berusaha menghentikan aliran darah, namun Jihu menggenggam tangan Xin'er agar tak menekan bagian lukanya. Sepertinya, dia sudah pasrah untuk pergi selamanya.


"Aku bahagia bisa mati di pangkuanmu, Yoona." lirih Jihu seraya tersenyum damai. Tak lama kemudian, matanya tertutup sempurna menandakan bahwa ia sudah pergi untuk selamanya.


Karena tak ada pergerakan dari kakaknya, Xin'er pun menundukkan wajah untuk memastikan. Dia terkejut ketika Jihu sudah tak bernafas, "Kakak ... bangun! Jangan buat aku takut! Ayo bangun, Kak!" Xin'er mengguncangkan tubuh Jihu namun tak ada respon dari si pemilik tubuh. "Kakaaaaaaaaakk,"


Tangis Xin'er pun pecah setelah Jihu benar-benar pergi untuk selamanya. Dia sangat sedih melihat kepergian Jihu dalam keadaan menjadi musuh mereka. Andai waktu bisa diputar kembali, mungkin Xin'er akan memilih untuk mencari Jihu ketika di hutan larangan waktu itu. Namun apalah daya, hidupnya saja dulu dalam bahaya. Jika saja Zhaoling dan kedua pengawal bayangannya tak menemukan Xin'er, mungkin nyawanya tak kan tertolong.


Xin'er mengangkat wajahnya, menatap tajam kearah Zhaohan yang sedari tadi menyaksikan kematian Jihu akibat ulahnya. Dia menggenggam erat pedang ditangannya, kemudian bangkit setelah meletakan tubuh Jihu di tanah. Tangannya menunjuk kearah Zhaohan sambil berteriak dengan keras.


"Zhaohan. Kau takkan selamat hari ini," Xin'er berlari menyerang pria itu dengan begitu ganas. Zhaohan yang mendapat serangan dari Xin'er bertubi-tubi itu menjadi kewalahan. Pasalnya, kekuatan Xin'er meningkat dua kali lipat setelah menyaksikan kakak angkatnya tewas oleh pedangnya.


Trang ... trang ... crash ...


Pedang keduanya saling membentur, kemudian menggores salah satu penggunanya hingga meneteskan darah. Tak cukup sampai di sana, keduanya juga melanjutkan pertarungan lagi hingga salah satunya tersungkur ke tanah dengan pedang yang menebas dadanya.


"Argh," ringisan keluar dari mulut orang yang kalah dengan darah segar menetes dari lukanya.

__ADS_1


"Xin'er!"


Bersambung ...


__ADS_2