
Xin'er termenung dengan tatapan kosong. Dia tak menyadari jika seseorang sudah masuk dan duduk dihadapannya saat ini. Kedua pelayannya akan menegur Xin'er, namun dilarang oleh orang tersebut.
Dengan hanya gerakan tangan, dia mengisyaratkan supaya kedua pelayan keluar dari ruangan tersebut dan memberikan kesempatan baginya untuk berbicara bersama Xin'er.
Tangannya terulur menyentuh pundak Xin'er pelan. Namun, Xin'er belum menunjukan reaksi apapun sebagai penolakan, sampai orang tersebut memberanikan diri berjongkok dihadapannya seraya menggenggam erat tangan Xin'er. "Apa ada orang yang membuatmu terluka, sampai-sampai kau tidak mendengar seruanku?" tanya Pangeran.
Mendengar suara suaminya, Xin'er tersadar kemudian menatap dengan terkejut. "Oh, Pangeran. Maaf! Aku tak mendengar kedatangan mu!" ucapnya seraya berdiri.
Namun, Pangeran Ketiga menahan tangan Xin'er untuk membiarkannya duduk dan dia tetap berjongkok dibawah. "Putri. Jangan sembunyikan apapun dariku! Jika ada yang menyakitimu, katakanlah! Aku sangat sedih melihat dirimu menjadi pendiam seperti ini. Aku takut ..."
Ucapan Pangeran segera disela oleh Xin'er dengan cepat. "Tidak, Pangeran! Tidak ada yang berani menindas ku disini. Kau ini terlalu berlebihan memperhatikanku!" kekehnya berkilah.
"Apa kamu benar-benar sedang tidak menyembunyikan sesuatu?" selidik Pangeran lagi membuat kening Xin'er mengerut.
"Maksudmu?" tanya Xin'er tak mengerti.
Pangeran mengulurkan tangan dan mengusap pipi Xin'er dengan lembut. Jarinya kemudian berhenti disudut bibir istrinya. "Siapa yang melakukannya?" tanya Pangeran dengan dingin.
Menyadari itu, Xin'er segera menepis pelan tangan suaminya dan memalingkan wajah kesamping sambil tertawa hambar. "Hahaha. I-itu hanya kecelakaan kecil. Tadi aku jatuh dan pipiku kepentok ujung meja sampai bibirku terluka. Ya, seperti itu!" alibinya.
Zhaoling tahu jika istrinya sedang berbohong. Namun, ia pura-pura percaya akan cerita palsu yang Xin'er katakan. Dia pun berucap dengan lembut. "Berhati-hatilah kalau mengerjakan sesuatu. Aku tak mau kamu terluka," cetusnya dengan nada khawatir.
Xin'er tersenyum sambil menggenggam tangan suaminya. "Jangan khawatir, Pangeran! Kedepannya, aku akan berhati-hati. Aku janji," cetusnya terkekeh.
Pangeran pun tersenyum karena perkataan Xin'er kini terdengar tak formal lagi. Mungkin, dia sudah menganggap suaminya itu teman.
"Oh iya. Aku sebenarnya mau bertanya ini tapi selalu saja lupa." kata Xin'er membuat suaminya menoleh. "Tapi, maaf sebelumnya. Pertanyaan ku ini mungkin sedikit menyinggung mu." ucapnya tak enak.
"Katakan!" singkat Pangeran.
__ADS_1
Dengan ragu, Xin'er segera mengutarakannya. "Umm, kamu itu kan mengalami insiden kebakaran waktu kecil. Kata semua orang, tubuhmu terluka cukup parah dan hampir sembilan puluh persen. Tapi ... tapi aku penasaran, kenapa tanganmu halus?" tanya Xin'er sedikit menjeda ucapannya. Lidahnya sampai digigit sedikit karena takut suaminya marah.
Pangeran terkekeh sambil menunjukan seluruh tangannya kearah Xin'er. "Jadi, ini yang selalu kau pikirkan sampai membuatmu setiap malam tak tidur?" Xin'er membulatkan matanya.
Dia sangat malu. Bagaimana suaminya tahu jika dirinya sering memikirkan hal itu, bahkan berusaha mengintip wajah Zhaoling diam-diam. Tapi, karena kewaspadaan Zhaoling membuat Xin'er tak bisa membuka cadar yang selalu dikenakannya.
Setiap malam, Xin'er menunggu suaminya untuk tidur lebih dulu. Dia ingin memastikan sesuatu yang mengganjal dipikirannya. Pertama, tangan mereka yang selalu bersentuhan secara tak sengaja. Tangan itu halus tanpa cacat sedikitpun.
Memang, dia tak pernah melihat tangan Zhaoling secara langsung karena selalu tertutupi pakaian yang mirip seperti jubah. Untuk wajahnya, jangan ditanya! Xin'er penasaran karena ia pernah bermimpi bahwa wajah Pangeran Ketiga sebenarnya sangat mulus, putih, bersih, dan yang pasti tampan. Padahal, itu bukan mimpi. Xin'er pernah melihat wajah suaminya secara langsung saat mabuk di malam pertama, bahkan sampai mencium bibir suaminya tanpa sadar.
Melihat wajah istrinya bersemu, Pangeran semakin gencar menggoda. "Tanganku mulus, bukan?" Xin'er hanya mengangguk seperti orang bodoh. "Aku mendapatkan obat mujarab yang bisa menyembuhkan kulit seperti semula. Namun, itu hanya menyembuhkan sebagian luka saja. Tapi, tidak untuk luka dalam!" ungkap Pangeran sedih.
Sebenarnya, maksud dari perkataan Zhaoling dengan luka dalam yaitu pengkhianatan yang dilakukan seseorang untuk mencelakai dirinya dan juga kakaknya. Dia tak kan pernah memaafkan orang itu, yang dengan tega mencelakai anak berusia delapan tahun. Beruntung dirinya diselamatkan Kakek Lon Thong yang mempunyai ilmu kanuragan tinggi. Sedangkan kakaknya dulu tak ada yang menyelamatkan, sehingga mati secara tragis di usia yang sama dengan Zhaoling saat itu. Delapan tahun.
Tapi, Xin'er menangkap perkataan Zhaoling dengan maksud lain. Dia mengira jika obat mujarab itu hanya bisa menyembuhkan luka di seluruh tubuh kecuali wajah dan alat tempurnya. Mungkin, bagian itu sulit disembuhkan. "Sabar ya, Pangeran! Aku akan tetap bersamamu walau apapun yang terjadi," cetusnya penuh simpati.
Deg
Wajah Xin'er berubah pucat. Dia memang bisa menerima Pangeran menjadi suaminya dan menganggap sebagai temannya. Tapi sungguh, saat ini ia belum siap melihat hal yang mengerikan dihadapannya. Lebih tepatnya, tubuh lemah Xin'er ini sangat pengecut dibanding Yoona yang selalu menyaksikan kengerian dari hasil pertempuran.
"Dulu, aku biasa melihat semua wajah yang lebih mengerikan dibanding luka bakar. Tapi sekarang, aku sangat tak siap untuk melihat hal yang sepele ini. Apa karena pemilik tubuh asli ini seorang gadis lemah yang pengecut?" monolognya dalam hati.
Melihat istrinya yang terdiam dengan wajah berkeringat serta bergetar, Zhaoling semakin senang menggodanya. Dia yakin, Xin'er saat ini tak berani menatapnya. Maka dari itu, dia sengaja membuka cadar hitam miliknya secara perlahan untuk membuat istrinya takut.
"Inilah wajah asliku sebenarnya," ucap Zhaoling membuka cadar secara perlahan.
Sesuai dugaan. Saat cadar yang menutupi wajah tampan Zhaoling terbuka sempurna, Xin'er segera memalingkan wajahnya ke samping tanpa melihat pemandangan indah tersebut. Bodohnya dia ini.
Xin'er melipat bibirnya kedalam, serta meremat jari tangannya dengan kuat. Matanya pun tertutup rapat tanpa berniat membuka sedikitpun. "Aa-aku ta-tahu, Pangeran. Tutup kembali wajahmu! A-aku tak perduli seberapa buruk wajahmu, tetap kamu seorang suami bagiku." ucapnya gugup.
__ADS_1
Zhaoling terkekeh melihat tingkah istrinya tersebut. Maksud hati ingin jujur pada istrinya perihal ini dan ingin agar Xin'er juga menyembunyikan identitasnya dari orang lain. Dia tak ingin berbohong pada istrinya, karena melihat Xin'er yang tulus menerima apa adanya. Namun, Xin'er malah bereaksi seperti itu.
Ya sudah! Dia tak salah, bukan!
"Kenapa kamu memalingkan wajah sambil menutup matamu? Apa kamu takut melihat wajah buruk rupa suamimu ini?" tanya Zhaoling dengan nada sedih.
Xin'er segera membuka matanya langsung sambil kembali menatap. "Tidak! Bukan begitu, Pangeran! Aku hanya ... hanya belum siap untuk ..." Dia sampai tak kuasa mengatakannya karena takut menyinggung perasaan suaminya, bahwa sejujurnya dirinya takut.
Zhaoling tersenyum pelik. Wajahnya sudah tertutup kembali oleh cadar sebelum Xin'er memalingkan kembali wajahnya. "Maaf, membuatmu takut!" cetusnya penuh sesal.
"Tidak! Kamu tak perlu minta maaf! Aku yang salah karena ..." Lagi-lagi Zhaoling memotong ucapan istrinya.
"Oh iya. Aku ada hadiah untukmu," kata Zhaoling seraya mengeluarkan sesuatu. Sebuah gulungan diserahkan pada istrinya sambil berkata, "Buka lah!"
Xin'er menerima gulungan tersebut dan membukanya. Lukisan seorang wanita cantik sedang duduk memangku putri kecilnya dengan tersenyum ceria. Xin'er menutup mulutnya tak percaya sambil melirik kearah suaminya. Air mata meluncur begitu saja tanpa diminta siempunya. "Ibu? Bagaimana kamu bisa ...?"
"Aku hanya melihatnya sekali saat di kamarmu." ucapnya dengan lembut. "Aku tahu, selama ini kamu diam-diam menangis karena rindu dengan ibumu. Jadi, ku pikir untuk membuatnya supaya kamu tak merasa kesepian." tutur Zhaoling menjelaskan.
"Jadi, selama ini kamu sibuk bekerja hanya untuk melukis wajah ibuku?" Zhaoling mengangguk kecil dengan pertanyaan istrinya. "Ini bagus sekali, Pangeran. Aku suka, sangat suka!" ucapnya dengan senang.
"Nyonya Xinwa sangat cantik. Makanya, hasilnya pun bagus." puji Zhaoling. "Aku senang kalau kamu suka," lanjutnya kemudian.
Tanpa sadar, Xin'er memeluk suaminya dengan perasaan senang. "Terima kasih, Pangeran. Kamu suami terbaik yang aku miliki. Aku senang, karena kamu yang menjadi suamiku!" ungkapnya jujur.
Zhaoling terkejut karena istrinya tiba-tiba memeluk tubuhnya tanpa diminta. Bibirnya melengkung mengukir senyum indah seraya membalas pelukan Xin'er. "Aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia, Xin'er. Jadi, jangan pernah tinggalkan aku!"
Dikecupnya kening Xin'er penuh sayang, serta mengelus kepalanya dengan lembut. Perasaan Zhaoling saat ini berbunga-bunga karena Xin'er berinisiatif memeluknya walaupun tahu dirinya buruk rupa. "Terima kasih atas ketulusan mu padaku, Xin'er!"
...Bersambung, gaess .....
__ADS_1