Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Hadiah


__ADS_3

Hari-hari Xin'er didalam Istana hanya dihabiskan dengan membaca buku, berkeliling taman, dan duduk mengobrol bersama Pangeran atau Permaisuri.


Sungguh. Dirinya sangat bosan jika terus-menerus seperti ini. Tak ada kegiatan apapun seperti seorang pengangguran. Hah, sangat menyiksa batin ketimbang berperang melawan musuh.


Wajahnya menelungkup di meja dengan tangan sebagai tumpuan. Kakinya terus berayun kesana-kemari tak mau diam. Kedua pelayan setianya hanya bisa saling pandang, kemudian menegurnya pelan.


"Umm, Nona. Apakah Anda saat ini merasa bosan? Kalau begitu, mari kita berkeliling taman. Siapa tahu ada sesuatu yang menarik!" usul Mengshu sedikit ragu.


Xin'er masih menyangga wajah dengan kedua tangan bertumpu di meja. "Ashu, Yuelie. Kenapa aku seperti burung yang terkurung di sangkar emas? Aku ini manusia yang ingin bebas berkelana entah kemana. Tapi, karena Pangeran sialan itu aku jadi terkurung. Haaaaaa, sangat membosankan!" gerutunya kesal seraya menendang udara.


"Hush, Nona. Kecilkan suaramu!" peringat Yuelie. Kita ini didalam Istana. Jangan sampai ada cicak putih yang mendengar ucapan Anda barusan. Disini, dinding saja memiliki telinga yang tajam!" lanjut Yuelie lagi supaya Xin'er mengerti.


Wajah Xin'er terkejut mendengar perkataan Yuelie. "Apa ada dinding seperti itu? Waah, aku harus punya satu untuk ku gunakan sebagai alat menguping di kamar Ibu Suri." ucapnya dengan polos. "Kalian tahu. Ibu Suri selalu men'jelek-jelekkan Pangeran kepada orang lain. Sayangnya, Pangeran terlalu baik dan tak tahu jika Ibu Suri itu membencinya. Dia selalu menjunjung tinggi nenek tua itu dan tak percaya pada ucapanku. Huh, aku harus membuktikan padanya jika aku tidak membual!" lanjutnya kemudian dengan emosi.


Yuelie menepuk keningnya pelan, sedangkan Mengshu berantusias seperti Xin'er. Dasar, gadis bodoh! Batin Yuelie dalam hati. "Maksudnya, disini banyak mata-mata, Nona. Apapun yang diucapkan atau dilakukan Anda, pasti sampai pada orang lain secara berlebihan. Mereka akan melebih-lebihkan supaya bisa membuat Anda dibenci orang lain!" tutur Yuelie menjelaskan lagi.


Xin'er dan Mengshu hanya membulatkan mulutnya bersamaan. "Oooh!" serunya kompak. "Eh tunggu! Aku punya ide untuk membuat dinding yang bisa bicara, dan dia akan melaporkan semuanya padaku." cetus Xin'er membuat Yuelie melongo seketika.


"Maksudnya?" Yuelie tak mengerti lagi bagaimana cara berbicara dengan Nona-nya ini. Sudah dijelaskan, tetap saja tak mengerti. Hadeuh!


"Bukankah kata kamu, dinding berbicara itu sama dengan mata-mata?" Yuelie mengangguk dengan perkataan Xin'er. "Ya sudah. Kita cari mata-mata yang setia pada kita. Mungkin, jika diberi bayaran cukup besar, mereka akan memberitahukan informasi penting hanya padaku. Tapi, dimana kita mendapatkan mata-mata yang sesuai!"


Mereka tampak berpikir keras. Namun, tetap saja tak mendapatkan ide apapun. "Hah, aku mulai pusing. Yuk, kita jalan-jalan ke area gerbang utara! Aku akan mati muda jika hanya berdiam diri." gerutu Xin'er kesal.


Mereka bertiga keluar dari Istana Zhoseng dan berjalan menuju area gerbang utara. Tempat yang Xin'er pernah kunjungi dulu, saat dirinya akan kabur dari acara pemilihan Selir. Namun, ditengah perjalanan, netra mutiara itu melirik kearah kamp militer yang tak jauh dari gerbang utara.


Langkahnya dipercepat saat mendengar suara orang-orang yang sedang berlatih diarea tersebut. "Haaaaaa ... Hiiyaaatt,"


Mengshu dan Yuelie berjalan terseok-seok mengikuti langkah kaki Xin'er yang sangat cepat sampai keduanya kewalahan dan berteriak. "Nona, tunggu!"


Xin'er yang tak memperdulikan kedua pelayannya yang berjalan seperti dikejar setan, hanya menyahuti dengan teriakan juga. "Cepat! Aku ingin melihat mereka berlatih,"


Sesampainya di depan kamp, matanya benar-benar berbinar. Dia menatap kagum akan pemandangan didepan matanya. Para prajurit yang sedang berlatih adalah obyek pengobat bagi kejenuhan hati Xin'er.


Dia terus menatap dengan senyum mengembang dan berjalan ke depan tanpa sadar. Saking fokusnya, Xin'er tak memperhatikan pria yang sedari tadi menatapnya dengan dingin.

__ADS_1


"Sedang apa kau disini?" Suara dingin dan datar menyapa dirinya, membuat Xin'er segera menoleh. "Kenapa kau berkeliaran ke tempat ini? Siapa yang mengizinkanmu bebas masuk ke kamp militer?" tanya pria tersebut memberondong.


Xin'er menatap tajam pria dingin dihadapannya itu, kemudian bersikap cuek seolah tak melihatnya. "Aku hanya ingin melihat mereka berlatih," sahutnya santai sambil melewati pria dingin tersebut.


Tentu, sikap Xin'er membuat pria itu geram. Ditariknya tangan Xin'er sampai tubuh gadis itu menghadap sepenuhnya. "Aku tidak mengizinkanmu ke tempat ini! Jadi, kamu harus segera pergi dari sini! Kalau tidak, ..."


Xin'er segera memotong ucapan pria dingin itu dengan nada tinggi. "Kalau tidak, kenapa? Kau tidak tahu siapa aku? Aku bebas kemanapun yang aku mau. Kau itu cuma bawahan saja, tapi begitu sombong!" ejeknya seraya menepis tangan pria itu.


"Aku tahu. Kau penghuni baru Istana Zhoseng. Tapi, ku peringatkan kau bahwa ini wilayah kekuasaan ku. Jadi, sebaiknya kau segera pergi!" ucapnya setelah menjentikkan jari.


Mendapat perlakuan buruk dari pria itu, Xin'er menjadi kesal. "Aling. Kenapa kau begitu arogan, sampai tak memandang siapa aku? Ku peringatkan sama kamu ya. Aku istri dari Pangeran Ketiga, dan kau cuma seorang prajurit biasa. Berani benar kau berbuat itu padaku? Kau tidak takut jika aku melaporkan tingkah kasar mu itu pada suamiku!" ancam Xin'er.


"Aku tahu kau istri dari Pangeran Ketiga. Tapi, aku tak perduli!" sahutnya dengan cuek. "Oh iya, panggil namaku dengan benar. Kau tidak boleh memanggilku dengan sebutan tadi, karena kita tidak sedekat itu!" ucapnya melengos pergi.


Kemudian, pria itu berteriak. "Ciu ban, Dan lie, tegakkan tubuhmu dan tebas pedangmu dengan kuat. Arahkan ke depan dengan fokus!"


Dia masih bisa memperhatikan pergerakkan anak buahnya yang diam-diam memperhatikan mereka. Bahkan, para pria itu berbisik karena kagum akan kecantikan gadis itu. Tapi, justru itu yang membuatnya marah.


Xin'er menggertakan giginya, sambil menghentakkan kaki dengan kesal. "Pria dingin itu sangat menyebalkan!" gerutunya.


"Ternyata pelayanmu lebih pintar dari pada Nona-nya." ejek pria dingin itu yang telah berada tepat dibelakang Xin'er.


Xin'er segera berbalik karena terkejut. "Whooaa. Apa kau itu terbiasa mengejutkan seseorang sampai jantungan? Bukankah tadi kau pergi kesana? Kenapa tiba-tiba ada disini? Apa kau hantu?"


Pria itu memicingkan senyum mendengar pertanyaan bodoh Xin'er. "Pergilah!" usirnya. Kemudian, ia berteriak memanggil anak buahnya. "Liu Wei!" orang yang dipanggil segera datang. "Antar mereka kembali ke tempat seharusnya. Pastikan dia tak keluyuran ke tempat yang tidak seharusnya!" peringatnya dengan menekankan setiap kata.


"Siap, Tuan Panglima!" ucap Liu Wei dengan membungkuk. "Mari, Yang Mulia Putri!" tangannya terulur ke depan.


Xin'er yang sedari tadi memandang kesal pada pria itu tak mendengar panggilan Liu Wei kepada si pria arogan tersebut. "Cih. Kau itu menyebalkan. Ashu, Yuelie, ayo pergi! Kita tidak perlu diantar siapapun." kata Xin'er menarik tangan kedua pelayannya.


"Maaf mengganggu Anda, Tuan Panglima!" ucap Mengshu dan Yuelie sopan yang hanya dijawab sebuah anggukan.


Ketiganya pergi dari tempat itu tanpa diantar Liu Wei sesuai perintah atasannya. Hati Xin'er menjadi dongkol karena diusir secara tidak terhormat, menurutnya.


"Si pria sombong itu menyebalkan. Kenapa aku harus bertemu lagi dengan pria dingin yang sombong itu? Tidak bisakah aku bersantai dan menikmati waktu siang ku dengan nyaman tanpa gangguan? Apa salahnya jika aku ingin melihat prajurit berlatih?" gerutu kesal Xin'er.

__ADS_1


Mengshu dan Yuelie segera menimpali. "Pria sombong yang mana, Nona? Apa Tuan Panglima? Dia memang terkenal dingin dan galak. Tapi, dia tampan!" seru keduanya memuji.


"Panglima? Siapa? Zhaoling?" tanya Xin'er tak percaya.


"Iya. Tuan Zhaoling kan Panglima besar Kerajaan ini. Apa Nona tidak tahu?" tanya kedua pelayannya tak percaya.


"Jadi, pria dingin itu seorang Panglima? Pantas saja dia begitu sombong dan kasar, ternyata seorang Panglima besar!" batin Xin'er bermonolog.


Saat baru sampai di kediamannya, seorang pria sudah berdiri menyambutnya di halaman depan. "Darimana saja kamu, Putri?"


Sontak ketiganya mendongak. Mereka terkejut karena Pangeran tengah berada di sana tanpa diketahui. Ketiganya langsung menunduk hormat, kemudian hanya Xin'er yang mendekat.


"Maafkan aku, Pangeran. Aku tadi jalan-jalan sebentar keluar karena bosan." jawab Xin'er jujur. "Apa kamu sudah lama menungguku?" ucapnya mengalihkan perhatian, takut Pangeran bertanya kemana mereka pergi.


Pangeran mengulurkan tangan meminta Xin'er menyambutnya. "Tidak! Hanya lima belas menit yang lalu," sahutnya dengan nada santai. Tapi, itu membuat Xin'er dan kedua pelayannya menjadi tak enak. "Kemari lah! Aku ada hadiah untukmu!" ajaknya seraya menarik tangan istrinya untuk duduk.


Dikeluarkannya sebuah kotak kayu persegi panjang, lalu memberikannya pada Xin'er.


Xin'er membuka kotak tersebut sambil tersenyum kearah Pangeran. Saat dibuka, dia sangat terkejut dibuatnya. Sebuah jepit rambut berbentuk seperti tusuk konde dengan ukiran bunga matahari dibagian atasnya yang terbuat dari emas murni, ditambah berlian ditengahnya.


"Kenapa setiap pria selalu menghadiahkan wanitanya perhiasan? Padahal, aku berharap dia menghadiahkan aku senjata seperti pistol, belati, atau pedang perak lipat juga tidak apa-apa. Dengan senang hati aku akan menerimanya." batin Xin'er kecewa.


"Saat di Ibu Kota, aku melihat toko perhiasan yang cukup ramai didatangi orang. Ternyata, barang di sana sangat bagus dan aku tertarik dengan jepit rambut bunga matahari ini. Jadi, ku belikan untukmu. Lihat, bagus tidak?" tanya Pangeran antusias sambil mengeluarkan barang tersebut.


Mengshu dan Yuelie terpesona dengan kecantikan jepit rambut itu, tapi tidak dengan Xin'er. Dia tersenyum canggung sambil mengangguk dan pura-pura bahagia. "Terima kasih, Pangeran!"


...Bersambung ......


•••


Aku kasih visual buat pasangan pengantin baru basi, Zhaoling dan Xin'er ya😜. Ini sih sesuai gambaran ku aja. Jika kalian punya gambaran lain tentang Xin'er dan Zhaoling, monggo hayalkan sendiri😁. Si aku mah gak pernah maksakeun kehendak😅.


Gambarnya aku kasih full wajah Zhaoling ya. Sengaja gak aku kasih yang pake topeng sebelah, dan Xin'er yang elegan bukan yang sedang pegang pedang. Semoga suka visualnya.😘


__ADS_1



__ADS_2