Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Awal datangnya bantuan


__ADS_3

Xia Lan mondar-mandir di depan pintu seraya menoleh keluar. Dia tampak gelisah ketika mendengar obrolan antara dua orang pria di dalam ruangan tersebut. Obrolan kedua pria tersebut tercuri dengar olehnya, "kita harus bunuh Zhaoling saat dia lengah!"


Xia Lan terkejut mendengar ucapan Zhaohan yang mengatakan akan membunuh Zhaoling, pria yang diidamkan olehnya itu. Wanita itu tak menyangka jika kedua pria yang ada didalam ruangan tersebut tengah membicarakan rencana penyerangan terhadap kerajaannya sendiri. Ya, kerajaan sendiri karena Zhaohan berasa dari Xili, namun dia mengatakan akan menyerang Xili.


Sebenarnya, apa yang terjadi?


Namun Xia Lan tak berani bertanya. Dia memilih diam dan terus menguping pembicaraan mereka yang sedang menyusun sebuah rencana besar untuk meruntuhkan Kekaisaran Dinasti Zhu.


Mereka pun membicarakan kekalahan pasti Zhaoling karena kedua pengawal bayangannya berada di tahanan kota ini, dan sekutu dari pihak Zhaoling yang tangguh sudah banyak yang tewas akibat fitnah yang mereka sebarkan.


Dalam hati Xia Lan menjadi tak tega terhadap Zhaoling. Bagaimana pun, rasa cinta terhadap pria itu mampu mengalahkan egonya yang tinggi. Berpikir sejenak untuk menetralkan pikiran, ia bergegas lari kearah bangunan yang menjadi tempat ditahannya Xin'er dan yang lainnya.


Sejujurnya, ini adalah kesempatan Xia Lan untuk menyingkirkan Xin'er dan putranya agar Zhaoling tak kembali pada mereka. Namun, karena dia telah mendengar sendiri bahwa Zhaohan ingin membunuh Zhaoling sebab dia hanya seorang diri, membuat Xia Lan yakin untuk membebaskan Xin'er dan yang lainnya.


Sesungguhnya bukan Xia Lan yang mengurung mereka, melainkan Jihu yang meminjam kekuasaan Ayah Xia Lan untuk menahan mereka di sini dengan alasan tak masuk akal. Semua itu pun tak luput dari titah Pangeran Pertama Xili, Zhaohan.


Xia Lan juga begitu kesal kepada pria yang bernama Zhaohan itu, selain sombong pria itu juga sering mempermainkan hidup Xia Lan dan membuatnya menderita. Seperti yang kemarin dilakukannya, yaitu menggauli Xia Lan layaknya seorang pasangan. Padahal, Xia Lan tak pernah memiliki hubungan apapun dengannya, hanya saja Zhaohan tertarik dengan tubuh seksi wanita itu.


Langkah kakinya dipercepat guna menghindari segala kemungkinan yang ada, takut kedua pria itu akan menyadarinya. Dia bergegas mendekati jeruji besi sambil memperhatikan sekeliling. Kedatangan wanita itu mengundang pertanyaan penghuni tahanan. Namun, sebelum mereka melayangkan pertanyaan, Xia Lan segera melemparkan kunci kearah Liu Wei sambil berbisik.

__ADS_1


Penjaga yang melihat Nona Mudanya datang tentu tak menghentikannya. Justru mereka keluar untuk memberikan ruang bagi Xia Lan tanpa berniat mencari tahu. Beruntung, kunci yang dilemparkan Xia Lan tak terlihat oleh para penjaga, sehingga mereka tak curiga.


Walaupun kebingungan dengan sikap wanita yang tiba-tiba saja datang menghampiri, tapi mereka tetap mengangguk tanpa bertanya. Mereka tidak mengetahui jika Xia Lan bagian dari para penjahat yang mengurung mereka di sana. Wanita itu juga mengatakan sesuatu kepada Liu Wei dengan suara yang lirih tanpa didengar siapapun, setelah itu ia pergi begitu saja.


Beberapa orang lainnya menatap Liu We bermaksud mempertanyakan apa yang dibisikkan wanita itu, namun Liu Wei hanya diam tanpa berniat menjawab. Bukan maksud Liu Wei menyembunyikan itu dari yang lainnya, tapi itu semua demi keselamatan mereka. Itulah yang dikatakan Xia Lan padanya.


Antara percaya atau tidak, patut dicoba.


Liu Wei tetap diam tanpa berniat menjawab pertanyaan teman-teman dan juga istrinya. Dia membiarkan semuanya marah demi membuktikan perkataan wanita tadi. Setelah mendengar suara gaduh di luar, Liu Wei menyuruh mereka diam dan berpura-pura tidur. Beruntung kedua Bayi tampan yang mereka bawa tidak menangis dan terlelap dalam tidur, sehingga mereka tak kesulitan untuk melakukan aksinya.


Seperti yang dikatakan wanita tadi pada Liu Wei, bahwa akan ada dua pria memakai topeng yang datang kemari. Kedua pria itu hanya ingin memastikan keadaan mereka di dalam penjara. Dengan begitu, yang perlu mereka lakukan hanya berpura-pura tidur seperti biasa dan tak mengundang kecurigaan keduanya.


Keduanya berbincang dengan suara yang lirih bahkan seperti berbisik, supaya tak mengusik tidur para penghuni tahanan. Namun, tanpa sepengetahuan keduanya, justru mereka tengah mendengarkan pembicaraan keduanya.


Selepas mereka memastikan bahwa kondisi semuanya aman, bergegas kedua pria itu meninggalkan tahanan kembali menuju tempat tujuan mereka untuk melaksanakan rencana yang telah tersusun matang.


"Bukankah itu suara kak Jihu dan Pangeran Zhaohan?" batin Xin'er terusik untuk melihat kedua pria tersebut, namun ia pendam rasa penasaran itu agar tak mengacaukan rencana yang telah disusun mereka.


Sepeninggalan keduanya, semua penghuni tahanan segera bangun dan merencanakan cara keluar dari tempat ini. Dengan bantuan kunci cadangan dari Xia Lan, Liu Wei dengan mudahnya membuka gembok jeruji besi itu. Namun, ia tetap berhati-hati agar tak mengundang perhatian para penjaga yang berjaga di depan.

__ADS_1


Dengan perlahan, Yu Xuan menyingkirkan rantai yang mengikat pintu besi agar tak menimbulkan suara gaduh, sampai rantai itu terlepas sepenuhnya dari pintu. Setelah itu, mereka mengangguk kepada tiga wanita yang ada dibelakang mereka agar bersiap untuk pergi dari tempat ini.


Setelah saling memandang dan mengangguk satu sama lain, Yu Xuan dan Liu Wei mendorong pintu besi tersebut untuk bisa keluar dari tempat ini. Namun ternyata, pintu besi itu berdecit keras, sehingga mengundang para penjaga untuk datang menghampiri.


"Hei, kalian mau kabur!" teriak para penjaga langsung menghadang langkah mereka.


Tentu mereka tak tinggal diam melihat para penjaga datang menghalau. Bergegas mereka melawan para penjaga tersebut agar bisa pergi dari tempat ini. Beruntung, Zhaohan dan Jihu sudah pergi cukup lama, sehingga mereka berdua tak mendengar keributan yang terjadi di penjara bawah tanah itu.


Sangat mudah bagi Liu Wei dan Yu Xuan mengalahkan para penjaga, walaupun jumlah mereka cukup banyak. Setelah mengalahkan para penjaga, mereka bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut untuk segera menuju Xili.


Di perjalanan, Liu Wei menceritakan tentang apa yang dibisikkan wanita yang bernama Xia Lan itu kepada dirinya, bahwa Zhaohan dan Jihu berencana membunuh Zhaoling di wilayah bagian Utara, perbatasan Dong.


Mendengar suaminya akan di celakai, Xin'er menjadi marah besar. Dia ingin pergi lebih dulu agar bisa membantu Zhaoling dalam perang besar kali ini. Dia takut terjadi sesuatu pada suaminya itu, sebab orang-orang kepercayaan Zhaoling di Istana sudah banyak yang tewas akibat kejadian dulu, ditambah Liu Wei dan Yu Xuan yang berada di sini. Jadi, tak ada siapapun yang bisa membantu Zhaoling mengalahkan mereka. Walaupun Xin'er tahu jika suaminya tak selemah itu, tapi apabila musuh bersatu dan menyerang secara bersamaan, maka Zhaoling bisa saja kalah.


Liu Wei dan Yu Xuan tak membiarkan Xin'er pergi sendirian. Bagaimana pun keduanya telah diberikan kepercayaan Zhaoling untuk menjaga istri serta anaknya. Jadi, sekeras apapun Xin'er ngotot ingin pergi terlebih dulu, keduanya tetap tak membiarkannya pergi dengan alasan takut terjadi sesuatu padanya di perjalanan. Apalagi, perjalan yang mereka lalui itu memakan waktu selama sebelas hari, waktu yang cukup lama karena jaraknya pun sangat jauh.


Liu Wei mengirim pesan kepada Qianfeng, Panglima Kerajaan Xiang, sekaligus teman mereka untuk membantu Zhaoling. Namun, Qianfeng mendapatkan pesan tersebut setelah tiga hari berikutnya, dikarenakan dirinya baru kembali dari peperangan melawan Kerajaan lain.


Tak mendapatkan balasan dari Qianfeng, membuat Liu Wei bergegas menuju Kerajaan Xiang untuk meminta bantuan kepada temannya itu. Namun, bukan hanya Qianfeng yang bersedia membantu Zhaoling, melainkan Kaisar Choi pun mengirim pasukan militernya untuk ikut bersama mereka ke medan perang.

__ADS_1


Memang, Kerajaan Xiang dan Kerajaan Xili memiliki hubungan baik, selain itu juga karena Kaisar Choi adalah salah satu murid dari Perguruan Naga Bayang juga. Jadi, Beliau menganggap itu sudah sepatutnya untuk membantu sesama murid dari Guru Tertinggi Lon Thong.


Bersambung ...


__ADS_2