
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan di pintu terdengar nyaring, hingga mengejutkan penghuni rumah. Namun, karena tak di bukakan, ketukan itu kini berubah menjadi sebuah dobrakan yang cukup kencang di susul oleh teriakan seseorang dari luar.
Brak ... brak ... brak ...
"Tuan ... Tuan!" panggil seseorang dari luar rumah tersebut.
Si pemilik rumah terbangun karena mendengar teriakan serta gedoran di pintu rumahnya yang cukup keras. Dengan langkah malas ia beranjak dari tidurnya, kemudian berjalan menuju pintu rumah untuk melihat siapa yang datang.
Masih dengan mata yang sedikit terpejam, ia menguap lebar. "Siapa sih yang berani mengganggu tidurku malam ini? Mau cari mati, ya!" gerutunya seraya menggaruk kepala.
"Tuan Tong Sheng. Ada kabar buruk, Tuan." ucap orang yang tadi mengetuk pintu dengan tak sabaran itu.
"Kabar buruk apa?" tanya Tong Sheng masih dengan mata terpejam menahan kantuk, karena dia tidur terlalu larut.
Orang itu segera menyampaikan kabar buruk pada Tuan Tong perihal yang diketahuinya. Tak ada yang dikurangi atau dilebihkan, karena kabar yang ia bawa itu sangat penting dan juga menyangkut hidup dan matinya semua orang.
"Apa?" mata Tong Sheng terbuka sempurna. Dia bahkan segera menyentuh kedua pundak orang tersebut. "Apa benar yang kau katakan itu? Jika benar, maka kita dalam bahaya!" ucapnya lagi memastikan.
Orang tersebut segera mengangguk yakin sambil menunjuk kearah Dermaga desa tersebut. "Aku melihatnya di sana, Tuan. Mereka sangat banyak, bahkan kapal besar itu masih berdatangan dan menurunkan ratusan prajurit bersenjata lengkap." jelasnya dengan ekspresi yang sulit digambarkan.
Tuan Tong Sheng terdiam sejenak sambil memikirkan kemungkinan apa yang sekiranya membuat pasukan kerajaan datang kemari dengan sebanyak itu? Apa bisnis yang mereka jalani selama ini sudah tercium oleh kerajaan, sehingga pasukan militer mendatanginya malam-malam begini? Kalau seperti itu, mereka dalam bahaya.
"Kau yakin bahwa mereka kemari untuk menangkap kita? Tapi, darimana mereka tahu bahwa kita berbisnis barang haram itu?!" ujar Tong Sheng bertanya dengan penasaran.
Orang yang membawa kabar itu lekas menggelengkan kepalanya. Dia pun menjelaskan bahwa kedatangan pasukan bukan untuk menangkap mereka karena bisnis yang selama ini dijalani. Tapi, kedatangan tiba-tiba pasukan kerajaan di tengah malam buta seperti ini yaitu, untuk menangkap sekelompok perampok bertopeng yang melarikan diri ke desa mereka.
__ADS_1
Barang siapa yang memberikan mereka perlindungan atau menyembunyikan mereka dari pasukan kerajaan, maka akan dihukum mati dihadapan seluruh rakyat.
Pembawa kabar itupun menyebutkan bahwa Pangeran Zhaohan mencari orang yang bernama Tong Sheng, karena salah satu dari perampok bertopeng menyebutkan namanya saat hendak ditangkap. Namun, mereka meloloskan diri dengan bantuan Panglima Xili yang berkhianat pada kerajaannya.
Sungguh, mendengar hal itu membuat Tong marah. Bagaimana tidak marah, jika namanya terseret oleh perampok bertopeng? Kenal dengan salah satunya saja tidak, apalagi berkomplot dengan mereka!
Ingin sekali Tong Sheng mencakar mulut orang yang menyebutkan namanya kepada Pangeran Xili itu. Gara-gara orang itu, hidupnya kini dalam bahaya. Pasukan militer kerajaan pasti mengira dirinya ikut dalam komplotan perampok buronan itu. Huh, harus bagaimana dia sekarang?
"Tuan. Apa Anda tidak mencurigai sekelompok orang yang menyewa rumah Anda itu? Bagaimana kalau yang dicari pasukan kerajaan itu ternyata mereka?" tanya si pembawa kabar.
Tong Sheng baru tersadar. Beberapa jam yang lalu, ia menyewakan rumah kepada seseorang yang membawa rombongannya. Bahkan, orang itu berani membayar mahal demi bisa menyewa rumahnya. Diantara orang-orang tersebut juga terdapat satu orang yang terluka, dan beberapa orang lainnya berwajah tegang. Tong Sheng kira mereka itu orang biasa pada umumnya, sehingga dia mau menyewakan rumahnya begitu saja.
"Kurang ajar," geramnya seraya melangkah pergi diikuti orang tadi. Keduanya berjalan dengan langkah yang lebar menuju rumah Tong yang disewakan pada Zhaoling, tepatnya berada di ujung jalan desa.
"Hei kalian, keluarlah!" teriaknya setelah menggedor pintu rumah dengan keras. "Cepat, buka pintunya!" teriaknya lagi geram, karena pintu tak kunjung terbuka. "Wah, mereka menguji kesabaran ku. Dasar, sampah!" ditendangnya pintu rumah itu hingga terbuka lebar. Ternyata, pintu rumah itu tak dikunci dan itu membuat Tong Sheng jatuh tersungkur dilantai rumahnya.
Tong Sheng menepis keras tangan si pembawa kabar dengan keras, dan ia lekas berdiri kemudian melangkah memeriksa seluruh ruangan yang ada dirumahnya ini. Matanya membelalak sempurna setelah mendapati bahwa orang-orang yang di curigai sebagai buronan itu ternyata sudah tak ada di sana. Bahkan, hanya ada barang-barang mereka yang sepertinya sengaja ditinggal karena tak sempat terbawa. Atau mungkin, sengaja ditinggalkan.
Hal ini membuatnya semakin yakin bahwa mereka adalah orang yang dicari pasukan kerajaan. "Brengsek," sebuah meja tak bisa menghindari amukan Tong Sheng yang kesal karena dibodohi oleh perampok bertopeng. Dia meluapkan kekesalan dengan membanting barang yang terlihat dimatanya.
Tangannya terkepal menampakan guratan hijau saking kuatnya ia menggenggam. Hatinya seperti akan meledak saat mengetahui bahwa dirinya telah menyelamatkan perampok yang selalu meneror para Bangsawan dan Saudagar seperti dirinya.
Perampok bertopeng bukan hanya sering menjarah harta benda mereka, tapi komplotan itu tak segan membunuh mangsanya yang melawan. Sehingga, para Bangsawan serta Saudagar sangat membenci dan memusuhi mereka. Tapi, mereka tak tahu cara untuk membunuh perampok bertopeng itu.
Drap ... drap ...
Langkah suara kaki pasukan terdengar nyaring ketika mereka bergerak bersamaan. Pasukan itu terdiri dari dua ratus prajurit dengan persenjataan lengkap. Mereka dipimpin oleh Pangeran Zhaohan dan Jendral Jun.
__ADS_1
"Kita harus segera pergi!" ujar Tong pada bawahannya itu.
"Terlambat!" seru seseorang yang kini sedang berdiri diambang pintu.
Kedua orang yang berada di dalam pun lekas menoleh kearah sumber suara. Mereka terkejut mendapati bahwa orang itu adalah Pangeran Pertama Xili, Zhu Zhaohan.
"Kalian ingin kabur? Heh, mimpi!" ejek Zhaohan dengan menyeringai. Dia mendekati kedua orang yang tengah gugup itu sambil mengarahkan pedangnya. "Katakan, dimana mereka?" tanya Zhaohan dengan nada tinggi.
"Ha-hamba tidak tahu, Pangeran!" sahut Tong ketakutan.
"bohong! Kau pasti tahu dimana mereka, karena Jihu mengatakan bahwa dirinya mengenalmu. Cepat katakan atau ku penggal kepalamu!" ancam Jendral Jun seraya mengarahkan pedangnya juga kepada kedua pria yang kini sangat ketakutan.
"Be-benar, Pangeran. Kami tidak bohong," ucap keduanya gugup.
Dengan ketakutan, Tong Sheng menceritakan semuanya tanpa terlewatkan. Dari mulai kedatangan beberapa orang dengan pakaian sama, serta seorang pria tampan yang menyewa rumahnya dengan harga mahal.
Zhaohan melirik keatas sebuah bangku yang terdapat sebuah kantong mirip seperti yang dibawa para perampok bertopeng itu. "Apa kau melihat bagaimana rupa wanita yang ikut dalam rombongan itu?" tanya Zhaohan tiba-tiba.
Awalnnya Tong Sheng menggelengkan kepala, namun setelah mendapat tatapan tajam dari Zhaohan, ia pun mengangguk.
Dengan segera, seorang ahli lukis menggambar wajah Yoona sesuai yang disebutkan Tong Sheng. Mata Zhaohan melebar melihat wajah yang tak asing dan juga sangat dirindukan olehnya.
"Xin'er?" ucap Zhaohan tak percaya. "Kau yakin ini wajah wanita itu?" bertanya lagi untuk memastikan dan diangguki Tong. Zhaohan pun menyeringai seraya bergumam, "ternyata Xin'er pandai bersembunyi."
Setelah itu, ia menoleh kearah Tong Sheng dan bawahannya, kemudian mengangkat pedangnya yang langsung di tebaskan ke leher keduanya hingga kepalanya mereka lepas dari tempatnya.
Darah mengucur dari leher keduanya menetes di lantai rumah, serta memenuhi pedang Zhaohan. "Itulah akibatnya jika kau menjadi orang bodoh," ucapnya kemudian keluar dari rumah Tong Sheng, meninggalkan dua jasad yang telah mati tanpa kepala.
__ADS_1
...Bersambung ... ...