Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Kalah strategi


__ADS_3

Yoona termenung sekejap untuk mencerna apa yang diceritakan Zhaoling padanya. Semenit kemudian, air matanya luruh begitu saja diikuti gerakkan tangan memukul dada bidang Zhaoling.


Bugh


"Ka-kau me-memaksakan diri untuk berbuat itu padaku?!" sentak Yoona dengan terisak.


Zhaoling masih menunduk tak berani mengangkat wajahnya. "Maaf!" ucapnya singkat.


"Ta-tapi ..."


"Tidak ada pilihan lain selain melakukan itu, Xin'er!" pungkas Zhaoling ketika Yoona akan melanjutkan ucapannya. "Sungguh. Tak ada maksud lain selain hanya untuk menyelamatkan nyawamu. Percayalah!" lanjutnya lagi sambil menggenggam erat tangan Yoona.


Yoona segera menepis tangan Zhaoling dengan keras. Ia bahkan menangis tersedu dengan menutupi wajahnya menggunakan telapak tangan. "Hiks ... hiks. Seharusnya kau biarkan aku mati saja," cetusnya tiba-tiba.


Rahang Zhaoling mengeras karena Yoona mengatakan kematian. Tangannya menarik tangan istrinya yang menutupi wajah, "Apa kau bilang? Kau ingin mati? Apa kau tidak perduli terhadap perasaanku?!" bentak Zhaoling. "Kau tahu, selama tiga tahun hidupku terasa mati karena kabar kematian mu. Dan kini saat aku tahu kau masih hidup, haruskah aku membiarkanmu mati? Xin'er. Kau kejam sekali padaku!" lanjutnya dengan nada bergetar.


Zhaoling berdiri dengan tangan terkepal. Wajahnya memerah menahan emosi yang meluap, namun ia tak bisa marah pada istrinya. Karena bagaimana pun, ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada istrinya selama ini.


Melihat Zhaoling yang marah, ada sedikit ketakutan dalam hati Yoona. Namun, egonya yang tinggi mengalahkan Gunung Fuji. Yoona segera berdiri dan berteriak, "Siapa yang selama ini lebih kejam? Aku atau kau?" mengarahkan telunjuk kearah Zhaoling. "Saat aku dituduh melukai Permaisuri, apakah kau membelaku? Tidak! Saat aku diusir dari Istana, apa kau datang menemui ku? Tak pernah! Dan disaat nyawaku dalam bahaya karena serangan Serigala itu, kau pun tak pernah muncul." paparnya dengan nada bergetar.


Zhaoling kembali menatap wajah istrinya yang sudah berlinang air mata. "Bagaimana rasanya melihat ayah dan kakakmu mati di hadapanmu dengan mengenaskan?" pria itu hanya diam tak membalas apapun perkataan Yoona, sehingga dia kembali melanjutkan ucapannya. "Bahkan sampai saat ini, bayangan kematian itu masih jelas terlihat di mataku!"


Selama ini, Zhaoling hanya melihat sikap tegar dan tegasnya Yoona. Selama menjadi suaminya, tak pernah istrinya menangis seperti saat ini. Bahkan, Yoona selalu bersikap judes dan galak jika bersamanya, walaupun terkadang sedikit lembut. Tapi saat ini, istrinya itu menunjukan sisi kerapuhan yang tak pernah dilihat Zhaoling selama bersamanya.


Tangan Zhaoling segera menarik tubuh Yoona kedalam pelukannya. Ia mendekapnya begitu erat, sambil mengecup kepalanya berulang kali. "Maafkan aku, Xin'er! Tolong, beri aku kesempatan satu kali lagi. Aku akan membuktikan bahwa aku pantas untuk kau maafkan," ucapnya memohon dengan mengiba.


Yoona meronta dari pelukan Zhaoling, namun tak sedikitpun pria itu mengurainya. Dia malah ikut menangis sambil mengeratkan pelukannya. "Kau boleh memukul atau membunuhku. Tapi, tolong berikan maaf mu untukku, Xin'er!" pintanya terus menerus.

__ADS_1


Pasrah dengan keadaan, karena tenaga Zhaoling tak bisa dilawan. Yoona pun berkata dengan lirih, "Apa kau pantas untuk dimaafkan? Sedangkan kesalahanmu sangat banyak,"


"Ya. Kesalahanku kepadamu memang sangat banyak. Tapi, berikan aku kesempatan sekali lagi, Xin'er. Aku mohon," pinta Zhaoling terus menerus membuat Yoona jengah.


"Lepaskan aku, Zhaoling!" pria itu tetap memeluknya begitu erat sambil menggelengkan kepala. Karena permintaannya tak dituruti, Yoona pun meninju perut Zhaoling dengan begitu keras, sehingga pelukannya terurai. "Ku bilang lepas ya lepaskan," bentaknya seraya memukul perut suaminya itu.


Bugh


"Argh," sedikit kesakitan karena Yoona memakai kekuatan penuh. Tapi, Zhaoling hanya menggertak kan gigi dengan mulut terantup menahan pukulan istrinya.


Yoona berhasil melepaskan diri. Dia menatap tajam kearah Zhaoling dengan penuh rasa benci, "Tuan Panglima Zhaoling. Oh, maaf! Pangeran Ketiga, Zhu Zhaozu." Yoona segera meralat panggilannya. "Terima kasih telah menyelamatkan nyawa saya yang tak berharga ini. Suatu saat, saya akan membalas kebaikan Anda," ucapnya seraya mengatupkan kedua tangan seperti memberi hormat.


Setelah berbicara, Yoona melangkah pergi meninggalkan Zhaoling yang masih termenung dengan panggilan istrinya tadi. Dia sadar, ini resiko yang harus diterima ketika istrinya tahu identitas yang sesungguhnya.


"Xin'er ... Xin'er!" panggil Zhaoling ketika istrinya itu menuju pintu keluar Goa. "Xin'er, berhenti!" namun, seruannya diabaikan begitu saja.


Melihat Liu Wei dan Yu Xuan berbalik badan, Yoona pun mengerutkan keningnya. Wajahnya menunduk dan menyadari jika pakaian yang dikenakannya adalah pakaian dalam pria, yaitu milik Zhaoling. Bergegas ia berbalik badan dengan menyilang kan kedua tangan di dada serta memunggungi keduanya setelah berteriak. "Argh, ka-kalian tetap di posisi seperti itu!" titahnya yang di angguki keduanya.


Kedua pengawal bayangan Zhaoling itu terkekeh, "galak tapi lucu!" bisik keduanya.


"Kalian menertawakan ku!" sentak Yoona yang dijawab "tidak" oleh keduanya secara bersamaan. Kemudian, mata Yoona melirik Zhaoling yang sedari tadi diam ditempatnya berpura-pura tak melihatnya. Karena masih marah, dia pun tak mau menghampiri Zhaoling. "Psstt ... pssttt!" panggilnya hanya berdesis.


Zhaoling masih tetap berpura-pura tak melihat dan tak mendengar, membuat Yoona kesal. "Ish, suami macam apa sih dia. Masa istrinya disuruh keluar memakai pakaian dalam saja! Huh, mana longgar lagi." ia menatap penampilannya yang seperti orang-orangan sawah.


Ingin sekali Zhaoling dan kedua pengawal bayangannya itu tertawa terbahak-bahak, namun mereka menahannya karena takut Yoona tersinggung.


Menyerah? Sudahlah! Yoona harus menurunkan ego demi bisa pergi dari tempat ini. Kakinya melangkah kembali menuju Zhaoling, "Umm, apa kamu punya pakaian lain selain ini?" wajah imutnya persis seperti kucing manis saat memperlihatkan puppy eyes.

__ADS_1


Sungguh, tingkah Yoona membuat Zhaoling tak tahan. Ingin sekali dirinya menerkam wanita yang ada dihadapannya itu. Namun, demi mendapatkan apa yang diinginkannya, dia pun terpaksa melakukan sesuatu.


"Bukankah kau masih marah padaku?" Zhaoling kembali menjadi pria dingin dengan nada bicara yang datar.


Haish, membalas ceritanya.


Mulut Yoona mencebik kesal dengan menghentakkan kedua kaki di tanah. Ingin rasanya dia memukul wajah dinginnya itu, padahal baru beberapa menit dirinya marah kepada lelaki itu. Tapi sekarang, dia harus memohon. Ini kondisi yang tak menguntungkan baginya. 'Huh, sabar Yoona. Saat ini kau butuh bantuannya!' gumamnya dalam hati. Setelah membuang nafas dengan kasar, Yoona tersenyum sambil menyentuh lengan Zhaoling. "Aling. Aku malu memakai pakaian seperti ini!" ucapnya dengan manja.


Seketika, kedua pengawal bayangan Zhaoling saling menatap terkejut. Begitupun dengan Zhaoling sendiri, yang menatap wajah istrinya dengan tidak percaya. Selama ini, Yoona tak pernah bersikap lemah lembut, apalagi manja. Tapi kini ...


"Aling. Ayolah, carikan aku pakaian ganti!" rengek Yoona lagi.


Gunung es saja bisa mencair setelah terkena sinar Matahari, apalagi Zhaoling yang hanya manusia biasa. Jika Yoona selalu bersikap manis dan manja seperti ini, bisa-bisa Zhaoling berubah dari Panglima Perang menjadi Suami Penyayang.


Helaan nafas panjang terdengar. Tanpa berkata, Zhaoling berjalan menghampiri Liu Wei dan Yu Xuan. Lalu, mengambil pakaian yang ada di tangan mereka. Setelah itu, ia menyuruh keduanya keluar dari Goa, karena Yoona harus berganti pakaian.


"Ini, pakailah!" ucapnya seraya memberikan pakaian yang disambut wajah sumringah Yoona. "Aku menghentikan mu pergi karena ingin mengatakan, bahwa kau belum memakai pakaian lengkap. Tapi, kau mengabaikan ku!"


Yoona merutuki kebodohannya karena mengabaikan seruan Zhaoling. Andai saja tadi dia sadar jika belum memakai pakaian lengkap, mungkin Zhaoling yang akan berusaha memintanya untuk memakai pakaian dan dia tak perlu bersikap manja pada pria itu.


Haish, kalah strategi akhirnya.


Wanita itu mengambil baju dari tangan Zhaoling sambil cemberut. Dia bergegas mengenakannya sambil membelakangi Zhaoling. "Jangan ngintip!" ketusnya membuat Zhaoling terkekeh.


Pria itu tersenyum simpul sambil memeluk Yoona dari belakang. "Bagian mana yang belum ku lihat, sayang!" bisiknya tepat ditelinga Yoona membuat bulu kuduknya meremang.


Suaranya begitu seksi, batin Yoona tergoda.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2