
Perasaan Ilona di situasi ini sangatlah bercampur aduk. Ilona tidak pernah membayangkan bahwa ia akan bertemu dengan anaknya bersamaan dengan pertemuan nya bersama Arthur.
Ilona takut Arhur akan memberitaukan Afmar bahwa wanita yang ada di handapannya sekarang adalah bunda yang selama ini ia cari dan ia rindukan.
Ilona memberikan isyarat kepada Arthur lewat gelengan kepala yang bertujuan untuk tidak memberitaukan kepada Afmar bahwa ia adalah bundanya. Namun Arthur memilih jalan nya sendiri dan menghiraukan isyarat Ilona.
Di sisi lain Afmar sangatlah marah kepada Arthur, karena ia berani-beraninya malah berduaan dengan wanita lain sedangkan bundanya tak pernah ia cari.
"Papah, jawab aku siapa wanita itu?, aku tak peduli papah mau memarahiku di rumah karena tidak sopan, tapi aku tidak suka papah berduaan dengan wanita lain! bagaimana kalo bunda tau? dia pasti marah pah!" ujar Afmar yang terus berbicara dengan nada suara tinggi.
"Dia adalah pendesain museum papah Afmar." jawab Arthur dengan tujuan untuk mempermainkan Ilona.
"Iyah Afmar betul, tante ini adalah seorang pendesain bangunan papahmu, jadi jangan marah yah." ujar Ilona yang beranjak dari sofa.
"Afmar gak percaya! apa buktinya." teriak Afmar di hadapan Ilona dengan air mata yang dibendung nya.
Saat Ilona melihat wajah Afmar untuk pertama kalinya tiba tiba ia merasa canggung dan merasa sangat bersalah sudah menjadi sosok ibu yang sangat buruk bagi Afmar, ia sudah membiarkan anaknya tumbuh besar tanpa ada sedikitpun kasih sayang dari seorang ibu di sisinya, namun Afmar tetap membelanya di hadapan Arthur.
Ilona mngusap kelapa Afmar, lalu mengatakan, "Afmar, sangat sayang bunda Afmar yah?"
Saat Ilona memegang kepala Afmar dengan penuh kasih sayang, dan cinta Arthur merasa bahwa memang sudah waktunya Ilona kembali ke dalam pelukan nya.
"Iyah tante, afmar sangat menyayangi bunda, jadi tante ga akan rebut papah dari bunda kan?" tanya Afmar dengan polos.
Ilona sangat terharu dengan apa yang di katakan oleh Afmar, sampai-sampai Ilona pun ikut menangis, "Umm... tante jadi sedih."
"Tante jangan nangis, Afmar percaya kok sama tante, hihi..." ujar Afmar yang ingin menghibur balik Ilona.
"Iyah Afmar, tante ga nangis kok."
Afmar melihat jepit rambut yang Ilona pakai persis di sebelah kanan, ia pun kembali merasa sedih karena teringat dengan ciri-ciri bundanya.
"Hua... kenapa tante ini begitu cantik, dan kenapa harus sangat mirip dengan ciri-ciri penampilan bunda yang pernah papah ceritakan." tangis Afmar yang tersedu-sedu.
Ilona berbicara di dalam hatinya, "Afmar, itukah namamu sayang?, ini bunda sayang, bunda yang kamu cari sayang."
Ilona terus mengusap kepala Afmar, dan sesekali ia memeluk Afmar. Arthur berfikir bahwa ini adalah kesempatan yang tepat untuk segera memberitaukan Afmar bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah bundanya yang selama ini ia cari-cari.
"Afmar berhenti menangis!" seru Arthur.
"T... tapi papah aku sangat rindu bunda!." seru balik Afmar.
__ADS_1
"Kemarilah duduk di pangkuan papah, akan papah ceritakan semua tentang bundamu sekarang."
"Apa papah serius?"
"Iyah, kemarilah."
Afmar sangatlah senang karena pada akhirnya Arthur mau menceritakan seluruh dari kisah bundanya, ia pun bergegas berlari ke hadapan Arthur dan duduk di pangkuan nya.
"Ayo papah ceritakanlah." seru Afmar yang seketika sangat bersemangat.
"Kamu lihat tante yang ada di sebelah sana?"
Ilona mulai cemas dengan sikap Arthur yang sepertinya akan memberitaukan Afmar bahwa ia adalah bundanya.
"Tante pendesain?" tanya Afmar dengan wajah memelas.
"Coba Afmar amati baik-baik matanya, rambutnya, jepit rambutnya, pakaiannya, dan sikapnya terhadapmu tadi, coba kamu amati baik-baik." ujar Arthur yang menyebutkan kembali ciri-ciri Ilona.
"Pak direktur, bukankah mengamati orang tanpa izin itu melanggar hukum?" ucap Ilona yang ingin mengalihkan.
"Aku tidak melanggar hukum karena yang mengamatinya adalah Afmar bukan aku nyonya, Afmar coba kamu izin terlebih dahulu."
"Baiklah. Tante tolong berikan izin." ujar Afmar yang lagi-lagi menunjukkan muka memelasnya.
Afmar mendekat ke hadapan Ilona dan memintanya untuk duduk di sofa.
"Papah... tante ini sangat cantik, matanya sangat indah, rambutnya hitam panjang, pakaiannya tertutup, dan sikapnya terhadap Afmar sangat-sangat baik, itu hasil pengamatan Afmar." ucap Afmar yang menjelaskan.
"Pintar sekali anak papah, sekarang apakah kamu ingat dengan seseorang yang sama persis ciri-cirinya seperti tante?"
"Bunda!?" teriak Afmar.
Hati Ilona bergetar saat mendengar Afmar mengatakan bunda di hadapannya, seperti gambaran baginya bahwa ia akan segera di panggil bunda oleh Afmar.
"Kalo papah boleh tau, nama bundamu itu siapa?" tanya Arthur kepada Afmar yang semakin menyudutkan Ilona.
"Nama bunda Afmar itu Ilona, masa sih papah lupa sama nama bunda."
"Papah tidak akan pernah lupa hanya saja papah memastikan Afmar ingat. Oh ya Afmar, coba tanyakan kepada tante pendesain siapa namanya." ujar Arthur yang semakin menyudutkan Ilona.
Ilona hanya bisa terdiam melihat suaminya yang berusaha memberitaukan Afmar bahwa ia adalah bundanya. Ilona hanya berharap ketika nanti Afmar mengetahui bahwa ternyata ia adalah bundanya Afmar tidak akan pernah membecinya.
__ADS_1
"Tante namamu siapa? ayo kita berkenalan." ujar Afmar sambil menyodorkan tangannya.
"Nama tante..." ucap Ilona dengan gugup.
"Iyah nama tante siapa?, jadi nantinya Afmar engga panggil lagi tante..." Afmar belum selesai berbicara, namun secara tiba-tiba Ilona menyela.
"Ilona..." ucap Ilona dengan jantungnya yang terus berdetak dengan kencang.
"Apa! nama tante juga Ilona?, papah kau temukan tante Ilona ini dimana?. Ciri-cirinya mirip dengan bunda dan sekarang di tambah lagi dengan namanya yang juga mirip, hahaha kebetulan sekali." ujar Afmar yang masih menyangka bahwa Ilona itu adalah orang lain.
"Afmar..." panggil Arthur.
"Ya papah, lalu apa lagi yang mau di tanyakan?, kalo sudah cepat ceritakan soal bunda, please." ujar Afmar yang sedikit merengek.
"Tanyakan saja sendiri pada bundamu."
"Papah! kau..." Arthur menyela Afmar berbicara.
"Tante Ilona adalah bundamu. Tanyakan saja apa yang kamu ingin tau tentang bunda, kalau kamu butuh bukti nanti papah tunjukan fotonya."
Afmar Berbalik ke arah Ilona, "Bunda?, apa tante adalah bunda?, bunda Afmar?"
Ilona tidak bisa lagi menahan tangisnya, ia pun membuka tangan nya lebar-lebar untuk memeluk Afmar. Afmar dengan sergap nya langsung memeluk Ilona dengan sangat erat sambil terus menangis.
"Hua... Bunda kemana saja?, Afmar sangat merindukan bunda, kenapa bunda tidak pernah menjenguk Afmar dan papah?, apa bunda pergi? huhuhu..." tanya Afmar terus menerus tanpa ada jeda sedikitpun.
"Maafkan bunda sayang, bunda juga sangat merindukan Afmar dan satu lagi, bunda pun baru tau nama kamu itu Afmar tadi." jawab Ilona dengan sama polosnya.
Arthur ikut memeluk mereka berdua, lalu berkata. "Akhirnya aku dapat merasakan keluarga yang sangat utuh Ilona, kembalilah..."
ð»ð»ð»
...â¥Bersambung..... lanjut baca Bab 11 yah, makin kepo nih. Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.â¥...
ã¥ï¿£ ³ ̄)ã¥
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yahâ€
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1