
"Okey Afmar, jika kamu lebih memilih untuk bersama papah dan bundamu itu baiklah, jangan salahkan bibi jika nantinya kamu akan menyesal." ujar Novita, secara terang-terangan.
Afmar, pun berlari menuju ke arah Ilona dan langsung memeluknya. "Afmar, tidak akan mungkin menyesalinya bibi, karena Afmar adalah putra satu-satunya mereka, yang paling mereka cintai."
Novita, memalingkan wajahnya dan kembali fokus ke meja makan. "Pergilah."
"Ayo bunda, kita makan di luar." ujar Afmar.
"Baiklah ayo." jawab Ilona, dengan rasa senang di dalam hatinya.
"Ayah... Ibu... aku, Afmar dan Ilona, pergi makan malam di luar dulu." ujar Arthur, yang meminta izin.
"Baiklah nak, berhati-hatilah di jalan yah." jawab ayah Arthur.
"Baik ayah." ujar Arthur, yang mulai melangkah keluar dari rumah.
"Kau bisa lihat sendirikan Miranda?" tanya Ayah Arthur.
"Apa? apa yang aku lihat?"
"Novita, itu masih mencintai Arthur dan berusaha untuk menghancurkan hubungannya." bisik ayah Arthur.
"Fuhh... itu hanya perasaan mu saja." jawab Ibu Arthur dengan menghembuskan nafasnya.
"Ayah... Ibu, ayo kita makan." ujar Novita.
"Iyah, maafkan kami hanya menyiapkan makanan yang seadanya." ujar Ibu Arthur.
"Makanan seadanya? ini semua makanan mewah, puftt... aku sudah cukup lama tidak makan makanan yang mewah seperti ini." ujar Novita, di dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain Afmar, yang baru saja masuk ke dalam mobil, tepatnya duduk di kursi belakang langsung di tegur oleh Arthur, karena sikap yang ia tunjukan pada Bundanya sewaktu ia pulang sekolah tadi.
"Afmar, apa yang telah kamu lakukan itu sangat keterlaluan." seru Arthur.
"Aku melakukan apa?" tanya Afmar yang kebingungan.
Ilona, langsung menggenggam tangan Arthur. "Sudahlah sayang, tidak apa-apa."
"Ilona, sikap Afmar padamu itu sangat keterlaluan, sebenarnya bundamu itu siapa? bunda Ilona atau bibi Novita? papah sangat kecewa dengan apa yang kamu lakukan ini, Afmar."
"Papah, akupun tidak bermaksud untuk menyakiti hati bunda, kau juga tau aku ini anak kecil yang baru saja berusia sembilan tahun, wajar saja jika aku melakukan kesalahan, karena kau juga tau bahwa anak kecil itu masih labil untuk memilih keputusan." jawab Afmar, dengan tegas.
"Kau itu sudah mahir di bidang bisnis, apapun perihal tentang bisnis kau sudah mengetahuinya. Dan kamu juga harus ingat kalau kamu itu adalah pewaris perusahaan Sheng, seorang pewaris dari perusahaan pebisnis di larang menjadi sosok seorang yang labil."
"Aku memang pewaris perusahaan, tapi papah juga harus tau umurku sekarang berapa!"
"Tetap saja papah tidak suka dengan apa yang kamu lakukan itu, kau lihat bundamu itu! dia baru kembali dari inggris dan kau malah menyakiti hatinya."
"Aku tau papah! Afmar, tau Afmar salah, papah tidak usah menegaskan nya kembali untuk semakin menyudutkan Afmar!" bentak Afmar, karena lelah terus menerus di sudutkan oleh Arthur.
__ADS_1
"Cukup!" seru Ilona.
"Kita akan makan malam bersama bukan? kenapa kalian malah berseteru seperti ini? kita adalah keluarga bukan?" tanya Ilona.
"Ilona, aku hanya ingin Afmar, menyadari kesalahannya." ujar Arthur.
"Arthur... anakmu itu sudah tau letak kesalahannya dimana, jadi sudah cukup jangan tambah lagi."
"Aku hanya ingin mengingatkan nya saja, sayang." bujuk Arthur.
"Yasudah, jangan sudutkan lagi Afmar. Dia itu adalah anakmu Arthur, seharusnya kamu tidak mendidiknya sekeras ini. Apa yang di katakan Afmar itu benar, kesalahan yang di buat olehnya seharusnya kamu dapat memakluminya. Arthur, sebenarnya apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Ilona.
"Aku hanya ingin membelamu, Ilona." jawab Arthur.
"Anakmu itu pasti akan ikut membela bundanya, jadi kau tidak usah repot-repot untuk membelaku di hadapan Afmar, cukup bela aku di hadapan Novita, ketika ia merendahkan aku."
"Eum... bolehkah Afmar, berbicara?" sela Afmar, yang meminta izim untuk memotong.
"Boleh Afmar." jawab Ilona.
"Pertama Afmar, mohon maaf pada bunda dan papah jika apa yang di lakukan oleh Afmar itu benar-benar salah, Afmar berjanji dan akan terus berusaha untuk tidak mengulanginya lagi, maaf."
"Iyah papah dan bunda, pasti akan memaafkan Afmar."
"Yang kedua, karena di umur delapan tahun Afmar sudah belajar tentang sikolog, Afmar memerhatikan ada sesuatu hal yang papah sembunyikan dari bunda, mungkin papah sudah menceritakannya, namun ada beberapa yang belum ia ceritakan pada bunda. Afmar, tidak tahu... yang tahu hanya papah, dan itulah yang membuat papah melampiaskan kekesalannya pada Afmar."
Melirik ke arah Arthur. "Arthur, apakah yang di katakan oleh Afmar itu benar?"
Seketika Ilona langsung menunduk sedih saat mendengar kebenaran yang Arthur katakan. "Sebenarnya ada berapa banyak hal yang aku lewatkan dari kalian? sebenarnya ada berapa banyak rahasia lagi yang kamu sembunyikan dariku? aku jadi ragu atas semua ini."
"Sayang, maafkan aku. Afmar, seharusnya kamu tidak mengatakan itu sekarang." ucap Arthur, yang menyalahkan Afmar.
"Afmar, hanya ingin papah tau apa yang di rasakan Afmar tadi ketika papah terus menerus menyudutkan Afmar, tidak enak kan?" jawab Afmar.
"Haduh... kalian ini, kenapa malah balas dendam?" ujar Ilona.
"Maaf." ujar Afmar dan Arthur, secara bersamaan.
"Bunda, semakin sadar bahwasanya bunda tidak pantas berada di rumah ini lagi, bibi Novita sepertinya sangat menyayangi Afmar, dan mungkin papah juga akan mencintainya. Apa yang di katakan oleh bibi Novita juga benar, kenapa bunda masih berani untuk kembali?" rasa sedih yang ada di dalam dirinya pun akhirnya memilih untuk kembali datang, yang membuat Ilona menilai dirinya itu sangat buruk.
"Sayang... kamu jangan pernah katakan hal yang seperti itu lagi yah?" ujar Arthur.
"Iyah bunda, Afmar hanya ingin bunda, dan tidak akan pernah tergantikan." sambung Afmar.
"Tapi, bunda ini sangat buruk bukan untuk kalian? kalo begini seharusnya bunda tetap berada di Inggris saja untuk mengurus pembangunan museum."
"Bunda... jangan seperti itu! Afmar, jadi sedih." seru Afmar.
"Sayang, please jangan pernah merasa bahwa dirimu itu buruk, dan jangan katakan bahwa kamu itu lebih baik di inggris, karena ucapan mu itu seolah menggambarkan bahwa kamu akan pergi meninggalkan kami lagi. Sungguh Ilona, kami sangat kesepian tanpamu." ujar Arthur, yang langsung menggenggam kedua tangan Ilona.
Afmar, tiba-tiba segera turun dari mobil dan bergegas pindah ke bangku depan untuk menemani bundanya.
__ADS_1
"Afmar, kamu mau kemana?!" tanya Ilona.
Klek...
Afmar, membuka pintu mobil depan. "Afmar, ingin duduk di dekat bunda dan papah, bunda tidak boleh pergi lagi dari kami! Afmar, tau ini salah Afmar jadi yasudah kalian boleh salahkan Afmar saja!"
Ilona, yang melihat ketulusan yang di tunjukan oleh Afmar pun akhirnya berhasil memeluhkan kembali hatinya. "Baiklah sayang, bunda tidak akan pergi kemana-mana kok, asal Afmar janji harus tetap bersama bunda, okay?"
"Okay." jawab Afmar, dengan tangis yang mulai tak bisa ia bendung lagi.
"Umm... yasudah sini naik, dan duduk di pangkuan bunda." ujar Ilona.
"Eumm... baiklah." jawab Afmar, yang langsung naik ke dalam mobil.
Setelah itu Arthur, pun langsung mengecup kening Ilona. "Muah... sayang, jangan sedih terus yah. Aku akan ceritakan semuanya nanti."
"Sepulang makan malam?" tanya Ilona.
"Iyah, sepulang makan malam." jawab Arthur.
"Apakah Afmar boleh ikut mendengarnya?" tanya Afmar.
"Tidak boleh!" ujar Arthur dan Ilona, secara bersamaan.
"Eumm... yasudah, tapi bunda sama papah ga boleh marahan yah?"
"Iyah sayang iyah." jawab Ilona.
"Yaudah cepet jalan, Afmar udah lapar nih!" seru Afmar.
"Ah bawel, ini juga mau jalan kok." ujar Arthur.
"Puftt... mesinnya aja baru di nyalain, huu!" ejek Afmar.
"Iyah-iyah, ini jalan nih."
"Hahahahaha..." seketika tawa langsung terpancar jelas di pipi Ilona dan Afmar, yang membuat hati Arthur merasa jauh lebih tenang.
Bersambung....................
"Hai teman-teman, jangan lupa terus pantengin up papa merindukannya yah, eps selanjutnya akan lebih menegangkan." ・ω-) ujar Ilona.
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
Author, mau kasih iklan rekomendasi novel bagus nih bisa langsung di cek yah.
__ADS_1