
Afmar, terus-menerus menatap ke arah pintu kamar kedua orang tuanya, berharap mereka segera keluar, namun sepertinya itu tidak akan terjadi dalam waktu yang singkat.
"Afmar, kau kenapa?" tanya Alex.
"Tidak, aku tidak apa-apa." jawab Afmar dengan gugup.
"Hmm... lalu kenapa kau malah terus menatap pintu kedua orangtuamu?"
"Tidak apa-apa. Teman-teman ayo kita ke kamarku, kalian lupa kalo ada pr? ayo cepat kita kerjakan bersama, setelah itu barulah kita bisa tenang untuk bermain." ujar Afmar, dengan sedikit bumbu kebohongan.
Teman-temannya, hanya dapat meng'iyakan apa yang di katakan oleh Afmar, tanpa mengetahui apa maksud tujuan Afmar berkata seperti itu.
"Eumm baiklah." jawab teman-temannya secara bersamaan.
"Nenek, dan juga bibi Novita, Afmar izin ke kamar yah, karena Afmar dan teman-teman akan mengerjakan tugas bersama." ujar Afmar.
"Eumm, baiklah semangat." jawab Novita
"Ingat fokus mengerjakan jangan ketawa-ketawa." ujar nenek yang mengingatkan.
"Baiklah nek, dadah..." ujar Afmar, yang langsung berlari bersama teman-temannya ke arah kamarnya.
"Afmar, begitu sangat mirip dengan Arthur dulu." bisik Novita pada ibu Arthur.
"Hahaha... kau benar sekali Novita."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Afmar, sebenarnya apa yang kau rencanakan?" tanya Misha.
"Diam dulu, aku tidak akan mengatakan apapun sebelum kita sampai di kamar." jawab Afmar.
"Eh Misha, memangnya bu guru tadi ngasih pr yah? perasaan engga deh." ujar Alex.
Plak... !!!
Misha, tiba-tiba memukul kepala Alex cukup keras. "B0doh! diam dulu bisa ga si?"
"Aw! iyah-iyah, ga usah mukul juga kali ah, sakit tau!" seru Alex.
"Sudah, jangan banyak bicara lagi cepat masuk ke dalam kamar." ujar Afmar, yang sepertinya sangat tergesa-gesa.
Alex dan Misha elirik ke arah Afmar, secara bersamaan. "Baiklah."
Setelah mereka semua masuk ke dalam kamar, Afmar segera menutup pintu dan tanpa basa-basi lagi ia pun langsung mengatakan bahwa dirinya telah bersalah.
"Aku membawa kalian semua kemari, dengan alasan karena aku ingin kalian tau bahwa sebenarnya aku telah sangat bersalah pada bundaku, dan aku sangat menyesali dengan apa yang telah aku lakukan." ujar Afmar.
"Memangnya kau salah apa?" tanya Alex.
__ADS_1
"Aku tau... kamu, pasti merasa bersalah karena dirimu lebih memilih bibi Novita di bandingkan dengan tante Ilona kan?" ujar Misha.
"Emm... iyah Misha, benar." jawab Afmar, dengan nada suara yang sangat rendah.
"Lalu selanjutnya apa yang kamu rencanakan?" tanya Danis.
"A-aku tidak tahu, aku kehabisan ide, bagaimana ini? teman-teman aku mohon bantu aku..." ujar Afmar, dengan keadaan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Afmar, jangan menangis, kami ada disini untukmu." ujar Misha.
"Baiklah begini saja, lima belas menit dari sekarang kita harus segera kembali ke bawah." ujar Alex.
"Kenapa kita harus kembali ke bawah?" tanya Danis.
"Paman Arthur, dan tante Ilona, tidak akan selamanya di dalam kamar, lagian sebentar lagi waktunya makan malam, kita pun harus segera pulang." jawab Alex.
"Jika kalian pulang aku harus bagaimana?" tanya Afmar.
Puk...
Alex, menepuk pundak Afmar. "Sudahlah, jangan bersikap seolah kamu tidak berdaya seperti itu. Ikuti saja rencana ku, setelah lima belas menit dari sekarang kita turun ke bawah, setelah itu aku, Misha, dan Danis akan pulang, selanjutnya aku percaya kau dapat mengendalikannya sendiri."
"Coba saja dulu Afmar, karena Alex tidak selamanya b0doh." ujar Misha, dengan sedikit ejekan.
"Iyah Misha, benar." sambung Danis.
"Hey kalian berdua! kok malah jelek-jelekin aku?!" seru Alex.
"Hahaha... iya sudah-sudah, aku akan menjalankan rencana yang telah di rencanakan oleh Alex."
"Nah gitu dong ketawa jangan nangis." ujar mereka secara bersamaan
"Hahaha... kalian ini." ujar Afmar, dengan tersipu malu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di sisi lain tempat. Ilona, mulai kembali tenang karena Arthur, ia memberi Ilona motivasi untuk melawan semua rasa cemburunya, dan menggantinya dengan rasa kepercayaan.
"Sayang, kamu udah ga bad mood lagi kan?" tanya Arthur.
"Eumm... engga, sayang. Kenapa?" jawab Ilona, dengan bertanya balik.
"Aku punya sebuah rencana."
"Rencana apa?"
"Sebentar lagikan makan malam yah, gimana kalo kita makan malam di luar aja? ya... tujuannya biar kamu ngerasa nyaman aja si, kalo di rumah kan ada Novita." ujar Arthur.
Dengan tatapan bulat Ilona melihat Arthur dengan penuh cinta, setelah itu ia pun langsung memeluk sang suami tercintanya dengan erat. "Umm sayang, ayo!"
__ADS_1
"Uluh manja, umm..."
"Gapapa dong, kan suami sendiri." ujar Ilona.
"Yaudah... cepet siap-siap sana, jangan lupa pake perhiasan yang aku beli tadi ya."
"Ish, kenapa kamu nyuruh gitu? kamu bisakan gantiin baju aku?" gurau Ilona.
Arthur, langsung menunjukan senyuman liciknya. "Ouh... jadi istriku ini mau di gantiin bajunya?"
Ilona, segera berlari ke arah ruangan ganti baju. "Hahaha... ah... ga jadi udah! ga jadi hahaha."
"Ilona-Ilona, kamu ini terkadang kelihatan sangat dewasa dan keibuan, namun di sisi lain kamu juga masih membutuh perhatian dari orang lain. Maafkan aku Ilona, aku berjanji di kehamilan kamu selanjutnya aku akan sangat memanjakan mu." gumam Arthur.
15 meni kemudian.
"Ilona, sayang... kamu udah siapkan?" panggil Arthur.
"Iyah sayang aku udah siap, tada..." ujar Ilona, yang baru saja keluar dari ruangan ganti baju.
Seketika Arthur langsung terpanah oleh kecantikan yang di miliki oleh Ilona. "Nyonya, kelihatannya malam ini kau harus menghadiri ronde dinas di kamar ini."
Pipi Ilona, langsung tersipu malu. "Apaan sih kamu, ayo cepat kita keluar kamar."
Mereka berdua pun segera keluar dari kamar, untuk pergi makan malam di luar. Namun, baru saja satu langkah mereka berjalan keluar kamar, Novita langsung memanggil Arthur untuk segera ikut makan malam bersama.
"Arthur! ayo kita makan malam." seru Novita.
Arthur, menghiraukan Novita dan langsung memanggil Afmar. "Afmar, malam ini papah dan bunda akan makan malam di luar, kau mau ikut atau tidak?"
Dengan senyuman lebar Afmar, pun bergegas menjawab tawaran Arthur. "Ayo! kebetulan Afmar, ingin sekali jalan-jalan malam."
"Eumm kalo begitu, aku ikut ya?" saut Novita.
"Ngapain kamu ikut?! ada perlu apa?! ini acara keluarga kecilku, orang asing di larang untuk ikut campur." ujar Arthur, dengan tegas.
"Puft... keluarga kecil? baiklah, Afmar semoga kamu bahagia dan tidak tertekan karena papahmu lebih mencintai bundamu di banding__" tiba-tiba Afmar, menyela pembicaraan Novita.
"Bibi! aku mohon, jangan seperti itu pada bundaku, aku tau papah lebih mencintai bunda, karena selama sepuluh tahun ini bunda tidak memiliki kasih sayang dari papah." ujar Afmar, dengan lantang.
Setelah itu Afmar, melanjutkan ucapannya. "Di bandingkan dengan Afmar sekarang, yang di sayangi oleh bunda, nenek, kakek, tante Susan, teman-teman Afmar, dan juga bibi Novita, itu sudah cukup. Bibi Novita, Afmar mohon jangan tindas bunda."
Dengan rasa kesal, Novita hanya dapat menelan kembali seluruh ucapannya, dan berusaha untuk berfikir dengan jernih. Apapun caranya aku harus dapat memasuki keluarga Sheng demi kekayaan yang aku miliki!
Bersambung...............
"Oi! jangan lupa lanjutkan bacanya, di bab selanjutnya aku akan menambah ulahku." seru Novita.
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
__ADS_1
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam