Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 47 Ilona kembalilah padaku


__ADS_3

Mengandung konten dewasa🔞


Susan, yang melihat keharmonisan keluarga mereka pun merasa iri, namun ia pun merasa sangat sedih karena cinta yang ia miliki untuk Arthur adalah kehancuran bagi kebahagiaan nya, dan sekarang ia telah kehilangan kebahagiaan nya itu, yaitu Afmar.


Susan, baru saja menyadari segala kesalahannya, ternyata benar yang di katakan oleh Afmar bahwasanya Susan telah menyia-nyiakan pengorbanannya demi sebuah penghianatannya.


Cinta tidak harus selalu memiliki, karna cinta akan terus mengalir dan suatu saat nanti ia akan menciptakan cinta yang baru. Jangan pernah berharap lebih pada seseorang yang tidak pernah mencintaimu!


"Hiks... maafkan tante, sebenarnya tante tidak bermaksud untuk menyakiti Afmar. Sekarang aku harus bagaimana? kenapa aku bisa-bisanya memiliki fikiran sekotor itu? kenapa?" gumam Susan di dalam kamar mandi.


Setelah Susan selesai memakai pakaiannya, ia pun segera keluar dari kamar mandi. Rasa takut kini sudah mulai merayap hingga ke dadanya, di tambah dengan hatinya yang begitu resah dan hawatir.


"Tante Susan..." ujar Afmar.


Dengan murungnya Susan menjawab. "Ada apa Afmar? kenapa kamu masih ingin bertanya padaku? kamu ingat aku ini hanyalah seorang penghianat."


"Mungkin kau memanglah seorang penghianat, namun bukan berarti Afmar tidak akan memberi kesempatan untuk Tante." ujar Afmar dengan senyuman tulus di pipinya.


Seketika senyuman di pipi Susan pun mekar, alangkah bunga yang baru saja mekar. "Afmar, apakah kamu bersungguh-sungguh?"


Arthur tiba-tiba menyela. "Susan, kami semua sudah memaafkan mu, akan tetapi kau harus dapat menerima hukumannya."


Susan melirik ke arah Arthur. "A~Arthur... aku sanggup untuk di penjara berapa tahun pun, asalkan kalian memaafkan ku, aku mohon percayalah padaku."


"Susan, kami mempercayaimu sekali lagi." ujar Ilona.


"Hiks... Ilona, maafkan aku, mungkin dulu memang aku telah mencintai Arthur lebih dulu, namun cinta sejatinya adalah kamu Ilona. Aku mohon maafkan aku, sungguh Ilona aku sangat menyesalinya, kau dapat mengambil seluruh hartaku ataupun yang lainnya, asalkan ketika aku keluar dari penjara kita dapat berteman kembali seperti dahulu."


"Susan, mendekatlah." ujar Ilona yang hendak memeluknya agar ia dapat lebih tenang.


"Ba... baiklah." Susan pun mendekat dan berlutut di hadapan Ilona.


Ilona dengan sergap langsung memeluknya dan ikut berlutut di lantai bersama Susan. "Susan... tenanglah, kami tidak akan sekejam itu padamu, kami tau bahwa sebenernya kau itu sangat baik."


Susan merasa tidak menyangka bahwa Ilona akan memeluknya setelah semua yang telah ia lakukan padanya. "Hua... Ilona, kenapa kau masih baik kepadaku? padahal aku telah menghianati kamu."


"Diam bodoh! kau mungkin bisa menghianatiku, namun akupun tidak akan pernah menghianatimu ketika kau meminta maaf padaku, dan serius untuk mengubah diri."


"Ilona... aku berjanji padamu, aku pasti akan berubah." ujar Susan yang tersenyum tulus di dalam pelukan Ilona.


"Aku akan memegang janjimu itu." jawab Ilona.


"Tante..." panggil Afmar.


Ilona melepaskan pelukannya dari Susan. "Susan, kamu di panggil oleh Afmar."


"Iyah Afmar? kenapa? apakah Afmar akan tetap membenci tante?" tanya Susan.


"Pftt... tante tenanglah, jangan anggap omongan Afmar yang tadi itu serius, Afmar sudah memaafkan tante seperti bunda, dan Afmar pun akan menunggu tante berubah." jawab Afmar.


"Umm... apakah tante masih boleh memelukmu untuk terakhir kalinya sebelum tante pergi ke penjara?" Susan membuka kedua tangannya.


Afmar langsung menghinggap ke pelukan Susan. "Tentu saja boleh."


"Arthur, lihatlah anakmu begitu mirip dengan ku soal memaafkan kesalahan orang lain, aku menang!" bisik Ilona pada Arthur.


Arthur tersenyum, lalu ia langsung mencium kening Ilona. "Muah... kau selalu menang, sayang."

__ADS_1


"Arthur... !!! kenapa kau malah menciumku!?" dan seketika suasana yang awalnya sedang sedih berubah menjadi hangat ketika mereka semua melihat Arthur yang mencium kening Ilona.


"Cie... cie..." seru mereka bersamaan.


"Papah! kau kenapa malah mencium bunda sih?" seru Afmar yang berbeda dengan yang lain.


"Kenapa? ada yang salah?" tanya Arthur.


"Stop... cup, cup, cup. Kesayangannya bunda jangan cemburu gitu dong, sini peluk bunda." ujar Ilona.


"Bunda... pria kejam itu mencium keningmu!" Afmar langsung berbalik haluan ke arah Ilona dengan membuka tangannya lebar-lebar.


"Umm... sayang-sayang, sini bunda cium juga kening Afmar, muah..." Ilona mencium kening Afmar agar ia bisa lebih tenang dan tidak rewel lagi.


Namun, yang di lakukan oleh Ilona malah memancing kecemburuan Arthur. "Ilona! kenapa kau malah mencium tuan muda?"


"Wle-wle... kau tidak akan pernah bisa menyaingiku!" ejek Afmar.


"Hmm... drama keluarga Sheng sepertinya akan di mulai lagi." bisik Adira.


"Sepertinya." jawab Alex.


"Pftt... sampai kapan kalian akan bertengkar?" ujar Susan yang menahan tawanya.


"Akupun tidak tau Susan, jika kau tau mereka itu memang selalu seperti tom and jerry, tapi terkadang mereka pun bisa begitu kompak." ujar Ilona yang menjawah pertanyaan Susan.


"Kau beruntung, tapi tanpa kalian sadari polisi sudah datang, tuh..." Susan menunjuk ke arah para polisi yang sudah bersiap di depan pintu hotel.


"Maafkan aku Susan, ini hanya 1 tahun."


Susan kembali memeluk Ilona. "Aku tau, ini pantas di terima oleh ku, sampai jumpa tahun depan. Sekarang aku akan menyerahkan diriku pada polisi, dadah."


Mereka berdua pun menghampiri para polisi tersebut. Susan begitu suka rela menerima hukumannya tanpa ada sedih sedikitpun.


"Nyonya... jadi siapa yang mau di tangkap? karna saya melihat tidak ada kejahatan disini." tanya salah satu polisi.


"Tangkap aku sekarang, akulah pelakunya." ujar Susan.


"Nyonya? apakah benar?" polisi tersebut bertanya kembali.


"Sudah... sudah, ayo kita berangkat ke kantor polisi. Ilona, semuanya sampai jumpa." Susan melambaikan tangannya.


"Sampai jumpa tahun depan Susan..." seru mereka semua bersamaan.


Mata Susan kembali bercucuran ai mata. "Hiks... kalian semua harus menungguku yah... dadah."


Singkatnya Susan pun akhirnya di bawa oleh para polisi ke kantor polisi untuk penyelidikan selanjutnya.


"Arthur... apakah kita dapat berbicara hanya berdua?" tanya Ilona.


"Tentu saja, kau pasti mau membicarakan hal untuk meringankan hukuman Susan kan?" ujar Arthur.


"Bunda, jangan di ringankan lagi dong... 1 tahun itu kan udah lebih dari cukup loh." saut Afmar.


"Apasih anak bawang jangan ikut campur!" seru Arthur.


"Argh... teman-teman, ikut aku sekarang! Papah, kau ini dasar pria kejam! tapi yasudahlah aku akan diam, hmph..." Afmar langsung pergi keluar bersama dengan teman-temannya.

__ADS_1


"Adira! sebaiknya kamu ikuti mereka yah." seru Ilona.


"Baik nyonya." Adira bergegas menyusul Afmar.


"Nyonya Sheng, sepertinya sekarang kau lebih pintar juga yah." ujar Arthur.


Ilona tiba-tiba berdiri dan mulai melangkah maju ke arah pintu untuk menutupnya, tapi tidak di sangka setelah ia menutupnya Ilona malah langsung menguncinya.


"Arthur, ada hal yang mau aku bicarakan padamu... hanya berdua." ujar Ilona.


"Pftt... kenapa pintunya harus di kunci?" tanya Arthur yang berusaha menahan tawanya.


"Agar mereka tidak dapat masuk lagi." Ilona berlahan berjalan ke hadapan Arthur.


"Baiklah, apa yang ingin kau katakan?"


Ilona langsung duduk di sebelah Arthur dengan anggun. "Sebelum itu cium aku dulu!"


Seketika Arthur menjadi tercengang karna ia sangat tidak menyangka bahwa Ilona akan memintanya untuk menciumnya. "Kau ini sedang bercanda yah?"


Ilona, tiba-tiba langsung merayap ke atas tubuh Arthur, setelah itu dengan berlahan ia mulai menciumi leher Arthur, dan berbisik di telinganya bahwa, "Arthur... aku setuju untuk kembali padamu sekarang."


Bruk.....


Arthur langsung membalikan posisinya menjadi berada di atas Ilona. "Ucapkan sekali lagi."


"Aku mencintaimu Arthur, kembalilah padaku." ujar Ilona.


Arthur, meletakan tangannya di pipi Ilona, dengan berlahan tangannya mulai turun kebawah, dan sedikit demi sedikit ia melepaskan baju Ilona. Setelah sekiranya cukup ia pun membalas Ilona dengan mencium lehernya. "Baiklah... aku akan membawamu kembali ke dalam pelukan ku, sekarang juga."


"Huft... ah... Arthur."


"Diam... kau yang memulainya duluan."


"Ya siapa juga yang mau mengehentikan mu, kemarilah cium aku." ujar Ilona yang menantang.


Arthur yang sudah menunggu momen ini pun langsung menancap gasnya. "Muach... muach... begitu?"


Ilona menarik dasi Arthur. "Kenapa kau menghentikannya? kemarilah... muach..."


"Nyonya Sheng... kau lebih bergairah sekarang."


"Wajar saja karna sudah 10 tahun."


"Baiklah sayang... mari kita mulai."


Arthur dan Ilona pun menghabiskan malamnya dengan indah.


10 tahun berpisah bukan berarti cinta yang dimiliki oleh mereka berdua itu akan surut begitu saja, akan tetapi cinta mereka berdua adalah cinta abadi yang selalu tumbuh setiap harinya.


Bersambung...................


Ikuti terus cerita "Papa merindukannya."


'Likenya jangan lupa!' seru Afmar.


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤

__ADS_1


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam



__ADS_2