
"Ilona, kamu harus makan banyak!" seru Rio.
"Apaan si Rio! Ibu yang suapin tapi kamu yang sewot." jawab Ilona.
"Ya... biar cepet sembuh."
"Ya tapikan gak usah berlebihan juga kali, makan secukupnya bukan makan yang banyak, wle... udah salah nyolot lagi!" Ilona menjulurkan lidahnya untuk mengejek Rio.
"Aku bener kok, kamu aja yang sewot! huu..." Rio mengejek kembali Ilona.
"Stop! kalian berdua masih saja seperti anak kecil, Ibu cape denger kalian berantem terus. Rio! kamu liatkan Ilona lagi sakit?" tanya Ibu dengan tegas.
"Iyah Ibu, maafkan aku." ujar Rio yang merasa bersalah.
"Bagus. Ilona! kamu juga, lagi sakit malah nanggepin candaan nya Rio, udah tau Rio keras kepala gak mau ngalah sama kamu."
"Iyah Ibu, maafkan aku juga." jawab Ilona.
Ibu Rio menghela nafasnya "Ibu maafkan."
Ilona memeluk Ibu Rio secara tiba-tiba. "Umm... Ibu jangan sedih gitu dong, Ilona jadi ikut sedih."
Rio menyusul Ilona untuk memeluk Ibunya. "Benar kata Ilona, nanti darah Ibu naik lagi loh kalo marah-marah."
"Ya abisnya kalian berdua bikin Ibu kesel sih."
"Umm maaf." ucap Rio bersamaan dengan Ilona.
"Kalian berdua selalu seperti ini, melakukan kesalahan lalu meminta maaf, namun tidak lama dari itu kalian pasti akan mengulangi nya lagi." Ibu Rio mengusapkan tangannya ke kepala Ilona dan Rio secara bersamaan.
"Hehehe... maafkan kami berdua Ibu." Rio dan Ilona tersenyum bersama.
Ketika Ibunya Rio melihat Ilona bersama Rio tersenyum bersamaan rasanya pusing, seperti ada hal yang terlupakan, namun itu apa?
"Ah... kepala Ibu." Ibu memegangi kepalanya karena kesakitan.
"Ibu! nahkan baru aja di bilangin, pasti darah Ibu naik lagi." ujar Rio.
"Rio, sebaiknya kita pulang sekarang." bisik Ibu.
"Kenapa?" tanya Rio.
"Ibu, butuh obat dan istirahat sepertinya."
"Apakah Ibu sangat menghawatirkan ku hingga sampai seperti ini?" Ilona menggengam tangannya sendiri karena ketakutan.
"Ilona, jangan hawatirkan Ibu. Ibu pulang dulu yah sayang, kamu baik-baik disini."
"Ilona, aku dan Ibu pulang dulu." Rio mulai memapah Ibunya untuk berjalan.
"Hmm... Ibu, maafkan aku yang seperti anak kecil ini." ujar Ilona dengan menundukan pandangan nya.
Seketika nyeri yang ada di kepala Ibunya Rio kambuh kembali saat melihat Ilona yang bersikap seperti itu. "Argh... sakit! Rio, kepala Ibu sakit."
"Ilona, aku pulang!" seru Rio yang langsung menggendong Ibunya.
"Rio, tunggu! bawa Ibu ke dokter dulu." Ilona kembali menyeru Rio.
"Baiklah, sampai jumpa." Rio segera keluar dari ruangan Ilona dengan menggendong Ibunya.
"Ibu, sebenarnya kau ini kenapa? rasanya diantara kita bertiga ada suatu hubungan spesial, namun itu semua tidaklah mungkin." gumam Ilona.
Di sisi lain tempat, yaitu di proyek pembangunan museum.
__ADS_1
Mereka semua telah sampai di tempat proyek pembangunan museum, segera Afmar turun dari mobil dan langsung menuju ke taman belakang bersama teman-temannya.
"Paman! kami pergi ke taman dulu, nanti kau menyusul yah!" Seru Afmar.
"Dah paman Adira!" Ujar Alex.
"Emm... iyah, nanti paman menyusul kalian ke taman." jawab Adira.
"Adira, kamu sebaiknya cepat membantu ku turun dari mobil, jangan lupa kursi rodanya."
"Wanita ini sangat merepotkan!" ucap Adira di dalam hatinya.
"Adira! kau dengar aku tidak?" seru Susan yang merasa perintahnya tidak di dengar.
"Ah... maafkan saya, Sekertaris Susan." jawab Adira yang terkejut.
"Yasudah, cepat!"
"Baik, mohon tunggu sebentar." Adira segera berlari ke arah bagasi mobil untuk menurunkan kursi roda Susan.
"Adira, kau seharusnya bisa lebih gesit dari ini, aku sangat tidak faham kenapa Arthur malah memilih mu." ujar Susan.
Adira berbicara di dalam hatinya. "Wanita ular ini hanya bisa menilai dari tingkat kebodohan ku saja, dia tidak tau bahwa aku sangat pintar."
"Adira! lama sekali, kau harus belajar mengahargai waktuku!" seru Susan.
Adira segera menutup bagasi mobil dan bergegas menghampiri Susan. "Maaf, saya sedang kurang sehat."
"Kalo kurang sehat bisakan izin?"
"Ta~pi saya masih kuat, oleh sebab itu saya memilih untuk bekerja."
"Alasan! tugasmu sekarang adalah membantuku untuk dorong kursi roda ini sampai ke tenda pembangunan."
"Kamu ngomong apa tadi?" tanya Susan yang curiga.
"Hahaha... tidak, kau salah dengar, yasudah saya mohon izin untuk mendorong kursi rodanya."
"Iyah silahkan."
"Hua~ anak-anak, aku sangat tertekan! paman membutuhkan bantuan kalian..." gumam Adira di dalam hatinya.
Pesona Arthur di bawah panasnya terik matahari memanglah hal yang sangat menakjubkan, terlihat di dalam dirinya bahwa ia adalah seorang pria yang berwibawa dan memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat baik.
Selain memiliki paras yang tampan, Arthur pun memiliki bentuk tubuh yang sangat fleksibel, hm... pantas saja Arthur sangat populer, terutama bagi para kaum hawa.
"Astaga! tubuh Arthur lebih menarik ketika ia membuka jas kantornya!" gumam Susan.
Arthur melirik ke arah Susan. "Susan! kenapa kau ada di sini?"
"Yaelah... tuan Arthur ini kenapa sih? kenapa masih percaya-percaya aja sama si Susan ini." ucap Adira di dalam hatinya.
"Kakiku hanya sedikit terkilir Arthur, aku ingin membantumu menghadapi para klien kita." jawab Susan dengan senyuman ramah di pipinya.
Lagi-lagi Adira jengkel dengan sikap yang di tunjukan oleh Susan pada Arthur, Adira bergumam di dalam hatinya. "Kalo cuman terkilir yaudah gak usah pake drama kursi roda segala!"
"Inget jangan maksain!"
"Hahaha... astaga Arthur, aku benar-benar sudah baik-baik saja."
"Baiklah-baiklah. Adira, sekarang kamu sebaiknya jaga anak-anak, mereka pasti ada di taman belakang kan?" tanya Arthur.
"Iyah tuan." jawab Adira.
__ADS_1
"Baiklah, Susan biarkan aku mendorong kursi rodamu." Arthur meminta izin.
"Baiklah." jawab Susan.
"Awas aja Susan! aku bersumpah bukan Adira namanya kalo lemah buat lindungin Nyonya Ilona. Sampai kapan pun kamu gak akan pernah bisa rebut posisi nyonya Ilona, Susan!" gumam Adira.
Adira pun bergegas pergi ke taman untuk menemui Afmar dan teman-temannya.
"Itu paman Adira!" seru Misha.
"Ah... paman, akhirnya kau kesini juga." ujar Afmar.
"Semua ini gara-gara si Susan!" Adira tak sengaja mengatakan hal itu pada anak-anak karena kesal.
"Hah!?" ucap mereka semua secara bersamaan.
"Paman! kau berani sekali berbicara seperti itu, hahaha." ujar Misha.
"Paman, kau punya dendam pribadi apa? hahaha..." Alex meledek Adira secara terang-terangan.
"Hahaha... sebenarnya ada hal apa? kelihatannya kau sangat kesal." ujar Afmar.
Adira menepuk jidatnya. "Astaga, anak-anak kalian jangan bilang siapa-siapa! paman tadi keceplosan."
"Sepertinya jika paman mau kita tutup mulut, sebaiknya paman beri kita sesuatu." ujar Alex yang mengacam.
"Ah... sudah-sudah, itu tidak penting, kami akan menjaga rahasia mu, tapi paman wajib menceritakannya pada kami nanti." ujar Afmar.
"Syukurlah... Afmar, memang pengertian." jawab Adira.
"Kau harus bersyukur paman, jika bukan Afmar yang memberikan perintah aku tidak akan mendengarnya." ucap Alex
"Pfttt... kau kejam sekali Alex." Adira menahan tawanya seperti mengejek balik Alex.
"Paman! kau mengejek ku?" seru Alex.
"Sudah berhenti berbicara Alex!" bentak Misha.
"To the point, Afmar." seru Danis.
"Paman, aku punya satu rencana yang sangat bagus." ujar Afmar.
Adira seketika menjadi terkejut saat mendengar Afmar membicarakan soal rencana, ia menyangka bahwa Afmar telah mengetahui apa yang sedang ia rencanakan. "Ren~rencana?"
"Iyah... kenapa tiba-tiba raut wajah paman berubah? seperti ketakutan." Afmar asal berbicara, namun serasa mencekam bagi Adira.
Adira bergumam di dalam hatinya. "Ya tuhan, apakah Afmar dan tuan Arthur sebenarnya sudah mengetahui apa yang sedang aku rencanakan?"
ð»ð»ð»
...â¥Bersambung........
...lanjut baca Bab 32 yah! makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.â¥...
Para pembaca boleh koreksi di kolom komentar
Jangan lupa buat like + vote setiap hari senin + favoritã¥ï¿£ ³ ̄)ã¥
Tetap pantengin terus bab-bab selanjutnya yah.
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yahâ€
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1