Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 14 Ini adalah salahku


__ADS_3

"Ilona!" seru Arthur.


Ilona melirik ke arah Arthur dengan air mata yang sudah tidak bisa ia bendung lagi. "A... arthur, tadi ada benda yang jatuh dari lantai 2. Awalnya itu mau mengenaiku tetapi Afmar malah mendorongku dan menggantikan posisiku disana. Huaa... Arthur ayo kita bawa Afmar ke rumah sakit."


"Astaga... yasudah ayo, sini biar aku saja yang menggendongnya." ujar Arthur yang langsung menggantikan Ilona menggendong Afmar.


"A... ayo." Ilona terus menangis sambil berjalan menuju ke mobil.


"Kalian semua coba lihat keadaan di kerangka lantai 2 museum sekarang!, dan lihat apa penyebab dari jatuhnya wadah semen itu." Seru Arthur dengan nada tinggi.


"Baik tuan!." jawab serentak para karyawan pembangunan.


"Ayo cepat Arthur cepat. Afmar, bertahanlah papah, dan bunda akan segera membawamu ke rumah sakit, sabar yah sayang." Ilona terus mengusap kepala Afmar dengan rambutnya.


"Kamu gendong dulu Afmar, aku mau bukakan dulu pintu mobilnya." ujar Arthur yang memberikan Afmar ke tangan Ilona.


"Baiklah, umm anak bunda sebentar yah sayang sebentar."


"Ayo Ilona cepat!"


Ilona bergegas masuk ke dalam mobil, dan terus berusaha membersihkan sisa-sisa semen yang terdapat di wajah Afmar. "Arthur... bagaimana ini, aku sangat takut, dia masih kecil Arthur!, bagaimana kalo Afmar hilang ingatan?"


"Ilona, tenanglah! kamu jangan asal berbicara seperti itu, Afmar akan baik-baik saja, dia anak laki-laki yang kuat sama seperti papahnya." sambil menyetir mobil Arthur menegur Ilona agar tidak berbicara sembarangan lagi.


"Arthur, seharusnya aku yang tertimpa benda itu bukan Afmar!. Arthur, aku minta padamu untuk dapat menjaga Afmar dengan sangat baik. Sebelum Afmar pulang dari Inggris aku akan berbicara pada ayah, dan ibu agar menjaganya disana."


"Iyah Ilona, namun kamu juga seharusnya dapat menjaga Afmar dengan baik. Tenanglah Ilona!, anakmu ini berhati mulia, dia ingin menyelamatkan bundanya sendiri dari sebuah kecelakaan. Afmar tau bahwasanya seorang laki-laki itu lebih kuat di banding dengan seorang perempuan, maka oleh sebab itu ia memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri."


Ilona berfikir mungkin ada benarnya juga dengan apa yang di katakan oleh Arthur. "Baiklah, terimakasih Afmar telah menyelamatkan bunda. Terimakasih Arthur, kamu sudah menenangkan ku.


Sesampainya mereka di rumah sakit, Afmar segera di tangani oleh dokter terbaik yang ada di rumah sakit tersebut.


"Dokter, saya mohon tangani anak saya sekarang!" seru Arthur saat memasuki rumah sakit.


Perawat rumah sakit bergegas membawa Afmar ke dalam ruangan untuk pemeriksaan lebih lanjut.


"Tuan, apa saya boleh tau sebab dari kecelakaan yang di alami oleh anak tuan?" tanya seorang dokter yang akan menangani Afmar.


Tiba-tiba Ilona menjawab pertanyaan Dokter tersebut. "Dokter!, inti dari kejadiannya adalah ia tertimpa benda yang masih berisikan semen dari lantai 2. Seharusnya aku yang ada di posisinya tetapi Afmar malah mendorongku, dan akhirnya benda itu malah jadi mengenai kepalanya."

__ADS_1


"Baiklah, tuan dan nyonya boleh menunggu dulu di ruang tunggu, kami akan menangani anak tuan dan nyonya dengan sepropesional mungkin." ujar dokter yang menangani Afmar.


"Baiklah, kami percayakan semuanya." Arthur menarik tangan Ilona ke ruang tunggu pasien, sekaligus untuk menenangkan dirinya.


Ilona memiliki kebiasaan yang cukup unik yaitu ketika dirinya merasa hawatir atau merasa cemas ia akan menggengam tangan siapa saja yang berada di sisinya, dan tidak akan pernah ia melepaskan sebelum dirinya kembali tenang,


pada situasi saat ini Ilona sedang mengalami kehawatiran yang cukup sangat besar. Tanpa Ilona sadari ia sedang menggenggam tangan Arthur dengan sangat erat. Arthur yang mengetahui kebiasaan Ilona tersebut hanya bisa terdiam. Arthur sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ilona.


"Tenanglah Ilona, aku ada disini." Arthur menatap mata Ilona dalam-dalam.


Ilona bersandar di pundak Arthur tanpa ia sadari sama sekali. "Arthur, bagaimana ini? aku sangat takut... takut suatu hal akan terjadi pada Afmar, kau taukan aku sangat menyayanginya?"


Arthur mengusap kepala Ilona. "Sudahlah kamu tenang saja, semua dokter di sini sangat berkualitas. Aku tau kamu sangat menyayangi Afmar akupun sama sepertimu Ilona, sangat menyayangi Afmar karena aku juga orang tuanya."


"Aku tau, karena kamu yang sudah merawatnya selama ini sedangkan aku hanya menyusuinya selama 3 bulan. Arthur!, apa aku ibu yang baik untuk Afmar?"


"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Arthur.


"Karena aku merasa sangat kejam padanya, aku telah meninggalkan nya, namun Afmar masih saja membelaku, dan sama sekali tidak memiliki rasa benci padaku."


"Kamu mau tau kenapa?"


"Karena, aku yang menanamkan cinta di dalam hatinya untukmu, aku tidak pernah menjelekan namamu di hadapan nya, dan aku selalu menceritakan kisah terbaikmu padanya."


"Begitukah?"


"Iyah Ilona, percayalah padaku kamu itu adalah ibu yang sangat baik bagi Afmar."


1 Jam kemudian.


Setelah 1 jam berlalu, dokter yang menangani Afmar pun datang untuk memanggil orang tua dari Afmar yaitu Ilona dan Arthur. "Permisi tuan, nyonya. Syukur anak kalian sudah sadarkan diri, sekarang kalian boleh melihatnya ke dalam ruangan."


Ilona langsung memeluk dokter tersebut dengan erat dan mengucapkan terimakasih padanya. "Dokter, terimakasih anda telah menyelamatkan anak saya."


"Sama-sama nyonya, ini sudah menjadi tugas kami semua sebagai seorang dokter. Anak dari tuan dan nyonya sangatlah kuat, tidak ada sedikitpun luka yang serius padanya, namun mungkin ia masih membutuhkan sedikit istirahat yang cukup."


"Kamu dengar Ilona? anakmu itu sangat kuat sama seperti papahnya." ujar Arthur yang membetulkan perkataannya sendiri.


"Iyah, kamu sangat benar Arthur." Ilona memberikan senyuman nya kepada Arthur.

__ADS_1


"Baiklah tuan, biar saya antar kalian ke depan ruangan Afmar." Dokter itupun mengantarkan Ilona beserta Arthur ke depan ruangan Afmar.


Setelah mereka berada di depan ruangan rawat Afmar, tiba-tiba suasana hati Ilona berubah, Ilona menjadi takut bertemu dengan Afmar, namun ia mengingat perkataan Arthur yaitu jangan panik.


Ilona kembali menggengam tangan Arthur dengan erat. "Ayo, kita masuk ke dalam Arthur."


Arthur tersenyum, karena lagi-lagi Ilona merasa cemas. "Baiklah, buka pintunya."


Ilona dengan tenang membuka pintu ruangan Afmar, namun baru saja Ilona membuka sedikit dari pintunya Afmar langsung mengetahui bahwa itu adalah Bundanya.


"Bunda!" teriak Afmar dengan sangat keras.


Ilona yang mendengar suara Afmar langsung berlari menuju tempat tidurnya. "Afmar... jawab bunda kenapa kamu malah mendorong bunda?"


"Karena Afmar ga mau bunda kenapa-napa, nanti Afmar sedih kalo bunda kenapa-napa." jawab Afmar dengan raut wajah memelas.


"Emang nya Afmar fikir bunda ga akan sedih apa kalo Afmar sakit?" tiba-tiba Ilona langsung memeluk Afmar dengan tangisnya.


"Papah... lihatlah bunda, dia malah menangis saat anaknya terbangun. Oh apa mungkin bunda mau Afmar tidur aja gitu yah?" ujar Afmar yang sedikit memberikan gurauan kepada Ilona.


"Afmar! oh jadi gini yah. Emm papah sepertinya Afmar mau bundanya pergi aja yah?" ucap Ilona yang membalas gurauan Afmar.


Afmar seketika langsung memeluk Ilona dengan sangat erat. "Ah... bunda kan Afmar cuman bercanda."


Mereka pun tertawa bersama-sama dengan rasa senang dan bahagia di dalam hatinya, mereka semua baru merasakan kehangantan sebuah keluarga yang lengkap.


🌻🌻🌻


...♥Bersambung..... lanjut baca Bab 15 yah!, makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.♥...


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam



Waktunya iklan check💘


__ADS_1


__ADS_2