
15 menit kemudian.
Afmar, memilih untuk bermain terlebih dahulu bersama teman-temannya, di bandingkan dengan ia harus menunggu lama Adira yang sedang berfikir.
"Paman! sudah 15 menit." seru Afmar.
"Hmm... ya, sebentar lagi." jawab Adira.
"Jika paman masih lama Afmar mau main dulu sama teman-teman."
"Baiklah, nanti paman panggil lagi."
"Okey."
Afmar pun pergi meninggalkan Adira sendiri di bangku taman.
"Afmar!" teriak Misha.
"Apa?" saut Afmar.
"Kenapa kau lama sekali? kami sudah menunggu sangat lama tau." Ujar Misha yang mengeluh.
"Hahaha... maafkan aku, tadi aku sedikit berbincang dengan paman Adira." jawab Afmar.
"Kalian membicarakan apa sih? kok sampe lama gitu?" tanya Adira.
"Ya... pembicaraan yang biasa saja, seperti membahas tentang sekolah, nilai, dan lain-lain."
"Tapi, tadi aku lihat kamu menangis." ucap Alex.
"Hahaha... iyah, kami pun membicarakan bunda tadi, jadi aku sedikit tersentuh dan akhirnya pun menangis."
"Hmm... kau ini, bibi Ilona sudah tidak apa-apa, besok pun ia boleh pulang kan?" ujar Misha yang memberi semangat.
Afmar berbicara di dalam hatinya. "Yes... ternyata mereka percaya dengan apa yang aku katakan."
"Hello... Afmar, apakah kau mendengarkan aku?" tanya Misha.
"Iyah... iyah, aku kendengarnya kok." jawab Afmar.
"Kau ini sangat aneh Afmar, bertingkah seperti orang yang kebingungan." ujar Alex.
"Apanya yang aneh?" tanya Afmar.
"Kau sangat aneh sekali, karna kamu malah mendekatkan diri kepada paman bodoh itu, di bandingkan dengan teman-teman mu sendiri." Alex cemburu dengan waktu yang Afmar berikan pada Adira.
"Aku tidak bermaksud seperti itu Alex, aku mohon jangan marah pada ku." Afmar memohon di hadapan Alex.
"Coba ceritakan semuanya padaku, kenapa kamu bisa menangis tadi? apakah benar hanya karna tante Ilona?" seru Alex.
"Alex, benar kita semua adalah teman, jadi intinya kita jangan pernah berniat untuk menutupi masalah dari satu sama lain, kita semua harus saling terbuka." ujar Misha.
"Ayo Afmar, ceritakan lah pada kami tentang apa saja yang tadi kamu bicarakan bersama paman Adira."
Afmar, hanya bisa terdiam saat teman-temannya mengatakan semua hal tersebut, maka Afmar terpaksa harus memberitahukan mereka semuanya. "Emm... baiklah, kalau begitu mari kita temui paman Adira."
"Kenapa harus nyamperin paman aneh itu, Afmar?" tanya Alex.
"Karena, hanya dialah yang dapat menjelaskan semuanya dengan sangat detail." jawab Afmar.
"Emm... baiklah." Alex hanya bisa pasrah.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, ayo!" Misha menarik lengan baju Afmar.
"Ah... Misha, kau ini terlalu bersemangat." seru Afmar.
"Tidak ada salahnya jika aku bersemangat, Afmar."
"Ya masalah nya tuh tangan aku sampe di tarik-tarik kaya gini."
"Hahaha... tidak apa-apa, teman-teman! ayolah berjalan dengan cepat, kalian semua sangat lambat menyerupai cara berjalan nya siput." seru Misha kepada teman-temannya yang lain.
"Hey Misha! kau ini bisa sabar tidak sih?" teriak Alex.
"Bodo amat! Alex, lihatlah kesini... wle." Misha mengulurkan lidahnya tanda untuk mengejek Alex.
Alex yang mendengar teriakan Misha pun merasa kesal dan memutuskan untuk berlari mengejar Misha. "MISHA! awas kau! akan aku tangkap sekarang juga!"
"Ahaha... tangkap aku~tangkap aku, wle!" Misha pun ikut berlari untuk menghindari Alex.
"Hey kalian berdua jangan main kejar-kejaran sekarang! kalian berdua taukan kalo tujuan kita mau nyamperin paman Adira?" teriak Danis.
"Hahaha... sudah biarkan saja mereka bersenang senang dulu." ujar Afmar.
"Ah... yasudahlah, pusing aku ngantur mereka berdua." jawab Danis.
"Aku sangat senang ketika melihat Alex dan Misha yang selalu saja bertengkar akan tetapi mereka selalu dapat kembali berbaikan lagi." gumam Afmar.
"Di dalam hidup ini memanglah terdapat dua hal dalam hidup yaitu manisnya kehidupan dan juga pahitnya kehidupan, kita harus bisa menghadapi kedua duanya, jika tidak kita tidak akan pernah bisa hidup." Danis menjawab gumaman Afmar.
"Kok gak bisa hidup?" tanya Afmar.
"Ya karna manisnya kehidupan dan juga pahitnya itu sudah di atur oleh tuhan, tugas kita adalah untuk menghadapinya, jika kita hanya ingin satu hal saja dari kedua hal itu mana mungkin bisa, perumpamaan nya begini seorang pelawak sekalipun tidak dapat di jamin untuk tidak menangis."
"Manusia tidak bisa selamanya tertawa dan tersenyum kelak akan ada waktunya ia marah, sedih, ataupun kecewa, juga bisa sebaliknya."
Afmar bertepuk tangan, karena Danis ia jadi faham arti dati kehidupan yang sebenarnya. "Kau sangat hebat!"
"Etto... hebat dari mananya?" tanya Danis yang tersipu malu, sebab ia di puji oleh Afmar.
"Kau dapat menjelaskan padaku dengan sangat baik tentang arti dari kehidupan ini." jawab Afmar.
"Kau sangat berlebihan sekali, Afmar."
Afmar menepuk pundak Danis. "Tidak usah merendah seperti itu, kau adalah teman ku."
"Hahaha... baiklah."
Tak lama dari itu Alex dan Misha pun datang menghampiri mereka dengan suara nafas yang terengah-engah.
"Huh cape sekali." ujar Misha yang mengeluh.
"Ini semua juga karena kau Misha!" seru Alex.
"Ish jangan di bahas lagi, kan kita sudah sepakat untuk memaafkan satu sama lain."
"Iyah-iyah, maafkan aku."
"Ya baiklah." Misha tersenyum tulus pada Alex.
"Kalian sudah selesaikan kejar-kejarannya?" tanya Danis.
"Udah dong." jawab mereka berdua dengan bersamaan.
__ADS_1
"Yasudah ayo, kalian bertiga ingin tahu semuanya kan?" tanya Afmar.
"Iyah dong!" dengan kompaknya ketiga teman Afmar itu menjawabnya secara bersamaan.
Mereka berempat pun bergegas menghampiri Adira yang ada di bangku taman yang terletak di depan taman.
"Paman!" teriak Afmar.
Berbalik badan. "Eh... Afmar? kenapa kalian semua malah kesini?"
"Paman, maafkan aku." ucap Afmar.
Adira kebingungan dengan ucapan maafnya Afmar. "Hah? kenapa?"
"Karena Afmar ketauan menyembunyikan sesuatu dari semua teman-teman Afmar, jadi Afmar bawa saja semua teman-teman Afmar kesini untuk mendengarkan penjelasan langsung dari paman Adira, siapa tau mereka dapat membantu kita."
Adira menepuk jidatnya. "Aduh Afmar-Afmar, tapi yasudahlah paman akan mengatakannya."
"Hehehe..."
Singkatnya Adira pun menceritakan semua kecurigaan nya terhadap Susan, dan inti dari pembicaraan nya dan Afmar tadi itu adalah untuk merencanakan sesuatu yang berhubungan dengan memata-matai Susan.
"Tante Susan udah gila apa gimana sih!?" seru Alex.
"Aku tidak pernah menyangka semua ini adalah ulah tante Susan." ujar Misha.
"Hemm... akupun sama dengan mu, Misha." ujar Danis.
"Paman!" seru Afmar dengan nada tinggi.
"Kenapa?" tanya Adira.
"Bagaimana jika kita memata-matai tante Susan dengan meminta bantuan dari teman-temannya Afmar?" tiba-tiba terlintas di fikiran Afmar begitu saja.
"Emm... baiklah, namun kalian semua benar-benar bisa melakukannya?" tanya Adira yang sedikit meragukan.
"Heh paman! kau meragukan kami semua?" Alex menyeru Adira.
"Maksud ku bukan seperti itu, Alex." jawab Adira.
"Paman, percayalah pada kami." ujar Misha dengan menunjukkan raut wajah memelasnya.
"Arghh... baiklah-baiklah, mohon kerja samanya." Adira pasrah dengan seluruh anak kecil genius ini.
"Yey... !!!" seru mereka semua.
Namun, Adira berfikir ada baiknya juga Afmar memberitaukan hal ini kepada teman-temannya, karena dengan adanya mereka di dalam rencana ini sangatlah membantu ketika nanti menjalankan rencana.
...Bersambung...................
Jangan lupa untuk melanjutkan ke bab 36 yah! SPESIAL.
Tetap suport dengan cara Like, Favorit, dan Vote setiap hari senin.
Jika ada pemasukan ide silahkan tulis di kolom komentar. So jangan ketinggalan bab selanjutnya♡(∩o∩)♡
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1