
"Sial... kenapa rencana ku menjadi berantakan seperti ini? pokoknya aku harus bertemu lagi dengan Bima." ucap Novita di dalam hatinya.
Di sisi lain tempat.
Ilona dan Arthur, sedang mengecek kembali perlengkapan barang-barang yang akan mereka bawa untuk berlibur, dan ternyata para bibi-bibi di rumah mengerjakannya dengan sangat rapi juga teliti, tidak ada satupun barang yang terlupakan oleh mereka.
"Terimakasih semuanya sudah membantuku." ujar Ilona.
"Nyonya, jangan berterimakasih, karena ini sudah menjadi tugas utama kami yaitu melayani tuan rumah." jawab salah satu pekerja di rumah.
"Umm... aku pasti akan membawakan banyak oleh-oleh untuk kalian semua, eum... itung-itung itu sebagai hadiah, oke?"
Para pekerja dengan kompaknya mengatakan. "Ti-tidak usah nyonya."
Arthur, tiba-tiba ikut berbicara. "Ini adalah sebuah perintah dari istriku, maka kalian di wajibkan untuk menerimanya. Tidak ada lagi sebuah penolakan!"
Dengan wajah canggung semua pekerja menjawab Arthur dengan kompak. "Baik tuan."
Tak lama kemudian datanglah Afmar, dengan membawa udang goreng ke hadapan orang tuanya. "Bunda... Papah... lihatlah Afmar, bawa apa."
"Umm... baunya harum sekali, apa ini?" tanya Ilona.
Afmar, memperlihatkan isi dari piring yang ia bawa. "Udang, tapi jangan salah ini sangat spesial loh! karena Afmar juga ikut menggorengnya."
"Wah... bunda, boleh coba?"
"Boleh-boleh!" ujar Afmar dengan antusias.
"Papah, juga mau coba deh." ujar Arthur, yang ikut mencicipi udang tersebut.
"Yummy... umm, enak banget." ujar Ilona.
"Benarkah?! hahaha... nanti Afmar buatkan lagi yah." ujar Afmar, dengan senang hati.
"Iyah nanti saja, sekarang sudah waktunya kita berangkat." ujar Arthur.
"O ya? Afmar, sampe lupa hahaha..."
"Yaudah yu pamit dulu ke nenek sama kakek."
"Gendong!" ujar Afmar, dengan menunjukan wajah memelasnya.
Arthur, yang melihatnya hanya dapat terdiam dan menuruti apa yang di inginkan oleh Afmar. "Oke-oke."
"Papah, kita pokoknya harus akur yah, nggak boleh berantem."
__ADS_1
"Ya siapa juga yang mau berantem terus sama kamu." jawab Arthur.
Afmar, melirik ke arah Ilona. "Eum... bunda, mau kok berantem sama Afmar."
"Loh kok ke bunda sih?" tanya Ilona.
"Hahaha... pecanda bunda, jangan marah." ujar Afmar, dengan senyuman manis di pipinya.
"Sudah-sudah kita harus cepat berangkat, paman Adira sudah menunggu di mobil untuk mengantar kita." ucap Arthur.
"Kakek... !!! Nenek... !!! sini dong, Afmar mau berangkat nih." teriak Afmar.
Arthur dan Ilona, secara bersamaan menepuk jidatnya di karenakan anaknya yang malah memanggil nenek, kakeknya, bukan nya menghampiri mereka untuk berpamitan.
"Oh... kalian udah mau berangkat, yasudah cepat sana." saut ibu Arthur.
"Iyah sana-sana, udah berangkat mah berangkat aja kali ah, jangan ganggu." sambung ayah Arthur dari dalam dapur.
Ilona, yang mengerti dengan apa yang mereka katakan pun bergegas memberikan kode kepada Arthur dengan cara mengedipkan sebelah matanya kepada Arthur.
"Sayang... udah ayo." ujar Ilona, yang selesai memberikan kode.
"Ouh... iyah aku mengerti. Baiklah ibu, ayah, kami pergi dulu, kalian sudah tua jangan terlalu berlama - lama yah." ucap Arthur.
"Sembarangan!" seru ayah Arthur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka pun akhirnya segera berangkat menuju ke bandara. Di karenakan mereka akan menaiki pesawat pribadinya Arthur untuk berlibur, maka tidak ada batasan jam untuk berangkat. Untuk bisa sampai ke tujuan mereka harus menempuh 3 jam perjalanan dulu.
Singkatnya, keluarga kecil Arthur pun sudah berada di dalam pesawat, dan sekarang mereka sedang dalam perjalanan untuk sampai ke tujuan.
"Yey! pantai, kita mau ke pantai. Sudah lama sekali Afmar tidak pernah pergi ke pantai lagi." seru Afmar, yang sangat berantusias untuk pergi ke pantai.
"Umm... syukurlah jika Afmar senang dengan liburan ini, bunda jadi ikut senang juga loh!" jawab Ilona.
"Papah, jadinya memilih untuk mencheck-in penginapan yang dekat dengan pantai, lebih tepatnya langsung mengarah ke arah pantai." ujar Arthur.
Dengan raut wajah yang terkejut sekaligus senang, Afmar dengan sergapnya langsung memeluk Arthur dengan erat. "Terimakasih papah! Afmar, senang sekali."
"Astaga! iyah sama-sama sayang. Lain kali Afmar, gak boleh tiba-tiba meluk keras-keras kaya tadi ke bunda yah?" Arthur, sangat takut jika nantinya Afmar malah tiba-tiba memeluk Ilona seperti itu jikalau ia sudah hamil kembali.
"Loh kenapa?" tanya Afmar.
Ilona, bergegas menjawab pertanyaan Afmar, sebelum Arthur yang menjawabnya. "Kalo semisal bunda udah ada berita hamil, Afmar nggak boleh peluk keras-keras, karena adiknya Afmar kan ada di perut bunda. Dia masih kecil, kalo di peluk keras-keras sama Afmar, kasian adiknya nggak bisa nafas dong nantinya."
__ADS_1
Arthur, melihat ke arah Ilona dan tersenyum. "Nah betul kata bunda."
"Umm... baiklah-baiklah, mulai dari sekarang Afmar tidak akan pernah peluk bunda keras-keras lagi, kasian nanti adik bayi di dalam perut bunda." ucap Afmar.
"Anaknya bunda sama papah mengertian banget sih, sini peluk bareng-bareng." ujar Ilona, yang langsung memeluk Afmar.
Memang keluarga yang sempurna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah 3 jam di perjalanan singkatnya lagi mereka pun akhirnya sampai di tujuan. Afmar, begitu sangat senang dengan kedatangan mereka ke pantai sebagai liburan keluarga,
Selepas turun dari pesawat mereka langsung berangkat ke penginapan. Afmar, bersama pengasuh nya segera masuk ke dalam kamar penginapan nya masing-masing untuk membereskan barang-barang mereka, begitupun dengan Ilona dan Arthur.
"Yeay! Papah, kau memang yang terbaik dalam memilih penginapan, pemandangan nya begitu luar biasa indah!" seru Afmar.
"Pasti dong, papah nya Afmar kan memang suka menilai yang terbaik dari segalanya. Yasudah, sekarang Afmar masuk gih ke kamar. Oh iyah bi, nanti bantuin Afmar beresin baju-bajunya juga yah." ujar Ilona.
"Baik Nyonya." jawab pengasuh Afmar.
"Sayang, kamu suka kan sama pemandangan nya?" tanya Arthur.
Ilona, langsung memeluk Arthur dengan kebahagiaan yang terasa di dalam setiap detak jantungnya sekarang. "Terimakasih sayang, ini jauh lebih indah dari apa yang aku bayangan sebelumnya."
Arthur, pun langsung memeluk balik istrinya itu. "Berbahagialah sayang, karena aku ingin melihat senyuman manis mu itu terus menerus hingga kita tua bersama."
"Kamu pasti akan melihatnya terus, sayang." jawab Ilona, dengan suara yang halus.
Sepertinya mereka sudah akan memulai malam-malam yang indah untuk mendapatkan Baby Two.
Arthur dan Ilona, pun bergegas masuk ke dalam kamar untuk membereskan koper, namun tiba-tiba Arthur memeluknya dari belakang, dan menggendongnya ke atas kasur, ia berkata lebih baik kalau Ilona membereskannya besok saja. Ilona, hanya dapat tersenyum sekaligus menyerahkan dirinya pada Arthur malam ini.
"Lakukan lah apa yang kamu akan lakukan malam ini." Ujar Ilona, yang terlentang pasrah.
"Umm... baiklah sayang, sikap pasrah mu itu membuatku semakin n4fsu."
Bersambung.........
Jangan lupa buat like, vote, komen yah🤩
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1