
Setelah Arthur pergi awalnya Ilona ingin segera langsung pulang, namun Ilona merasa tidak enak hanya menjadikan rumah teman nya itu sebagai pelariannya terhadap Arthur.
Maka Ilona memutuskan untuk mampir sebentar, Ilona segera menelfon teman nya tersebut untuk memberitahukan bahwa ia ada di depan rumahnya.
Teman Ilona tersebut bernama Sindi, Sindi adalah salah satu teman Ilona di inggris, mereka berdua bertemu disalah satu bandara yang ada di Inggris. Pada saat itu Ilona sedang menjual bunga di salah satu bandara dan kebetulan Sindi baru saja turun dari pesawat. Pada saat Ilona menawarkan bunga kepada Sindi, tanpa ada basa basi Sindipun langsung membeli bunga tersebut dari Ilona, namun Sindi terkejut melihat Ilona yang ternyata sedang dalam keadaan mengandung.
Sindi menyangka bahwa Ilona adalah orang yang kurang mampu, maka ia membeli semua bunga yang Ilona jual sekaligus mengantarnya pulang ke rumah, namun ketika mereka sampai, Sindi di buat keheranan oleh Ilona mengetahui bahwa rumah yang Ilona tinggalinya adalah rumah yang sangat megah dan sangat besar, namun Sindi langsung berfikiran bahwa Ilona bekerja di rumah tersebut.
Pada saat Sindi memasuki rumah, Ilona di sambut oleh pria tampan yang ternyata itu adalah pemilik dari rumah megah ini. Sindi semakin bingung dengan apa yang ia lihat, namun setelah Ilona menjelaskan ia baru mengerti maksudnya.
Ternyata selama ini Ilona menjual bunga di bandara itu secara diam-diam, keluarga Rio sama sekali tidak mengetahuinya, Ilona selalu beralasan untuk mengikuti yoga ibu hamil, dan tidak mau di antar, ia selalu ingin berangkat sendiri, dan di hari itulah awal mula pertemanan mereka tumbuh.
"Ilona!" teriak Sindi memanggil nama Ilona dari dalam gerbang rumah.
"Hai Sindi, sudah lama kita tidak bertemu, kebetulan aku lewat sini jadi aku mampir dulu." jawab Ilona.
"Iyah-iyah baiklah, aku sangat merindukanmu, ayo masuk!" Sindi menarik tangan Ilona dengan bersemangat.
Sampainya mereka di dalam rumah, Sindi langsung menyuguhkan Ilona dengan makanan kesukaan mereka berdua yaitu, kue brownies.
"Wah... banyak banget, di tambah rasa-rasanya juga lengkap, kamu stok banyak di rumah?" tanya Ilona terkagum-kagum.
"Iyah dong! aku stok di rumah itu buat ngemil, kalo aja kamu sering main kesini, pasti kita makan bareng."
"Hahaha... kau ini selalu saja bertingkah seperti anak-anak, namun ketika kamu serius akupun takut padamu." ucap Ilona yang memberikan candaan.
"Ah... tidak juga, ayo ceritakan kenapa kamu bisa tiba-tiba di depan rumahku?"
Ilona berfikir sebentar, bertanya-tanya dalam dirinya, sebaiknya ia bercerita atau tidak, namun Ilona memutuskan untuk menceritakannya, karena Sindi dapat di percaya olehnya.
"Ceritanya sangat panjang sekali."
"Ayolah, jangan hawatir apa itu rahasiamu? atau apa?, aku berjanji akan menjaganya dengan baik, kamu percayakan Ilona?" tanya Sindi.
__ADS_1
"Iyah-iyah aku pasti percaya padamu. Sekarang aku mendapatkan pekerjaan mendesain bangunan lagi, dan ini cukup besar untuk ku, karena aku mendesain sekaligus mengatur pembangunan museum."
"Wah... bagus, sekali! kalau seperti ini kamu akan segera sukses Ilona."
"Aku tau, hanya saja pemilik dari proyek pembangunan ini adalah suamiku sendiri..."
Sindi tersedak ketika ia mendengar bahwasanya Ilona mendesain bangunan milik Arthur. "Uhuk... uhuk... apa kamu serius?"
"Eh... minum dulu, tenanglah aku belum menceritakan semuanya."
"Sudah, aku tidak apa-apa lanjutkan."
Ilona akhirnya melanjutkan ceritanya, ia bercerita bahwasanya dirinya saja tidak mengetahui bahwa ternyata proyek itu adalah milik Arthur. Saat dirinya sempat berbicara dengan Arthur pun ia sama sekali tidak menyadarinya, malah yang pertama kali sadar itu adalah Arthur sendiri.
Hal yang paling mengejutkan lagi adalah ia bertemu dengan anak laki-lakinya di kantor, itu sangat kebetulan sekali, dalam waktu yang bersamaan ia langsung bertemu dengan 2 orang yang ia tinggalkan.
"Apa!? kamu bertemu dengan anakmu?" Sindi sangat terkejut dengan apa yang di ceritakan oleh Ilona.
"Iyah! dan aku juga baru tau namanya."
"Hahaha... namanya adalah Afmar, kau sangat benar Sindi, anakku itu memang sangat mirip dengan Arthur, kamu juga harus tau bahwa putraku itu sangat pintar dan cerdik, kapan-kapan akan aku ajak Afmar kesini yah."
"Ide yang baguss! yasudah sebelum kamu melanjutkan ceritamu ayo kita makan dulu."
"Ayo!"
Ilona belum menceritakan kepada Sindi bahwa maksud dari kedatangannya ke rumah itu awalnya seperti apa, ia mengaku-ngakui rumah Sindi sebagai rumahnya hanya untuk bisa lepas dari Arthur, dan bermaksud untuk menghindar dari sebuah kekacauan yang akan datang, Ilona melakukan semua ini demi kebaikan Rio, karena ia tidak mau Arthur salah faham terhadap Rio nantinya.
Arthur adalah pria yang sangat pecemburu. Ilona tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi apabila Arthur mengetahui ini semua dengan cepat, ia akan menunggu hingga waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya.
"Wah... Sindi, brownies ini sangat enak, kamu beli dimana? nanti antar aku yah!"
"Pasti! yasudah sekarang kamu lanjutkan lagi ceritnya, nanti kamu boleh bawa brownies ini ke rumah, semuanya juga boleh." Sindi memperlakukan Ilona dengan sangat baik.
__ADS_1
"Ah... tidak-tidak jangan semua, 1 kotak saja." Ilona merendah di hadapan Sindi.
"Kau ini tetap saja seperti dahulu, yasudah bawa 3 kotak yah?" Sindi memaksa Ilona untuk membawa 3 box brownies.
"Kau ini selalu memaksa ku."
"Hahaha... yasudah-yasudah, kamu lanjutkan ceritamu."
"Baiklah nyonya. kedatangan aku kesini awalnya hanya untuk mengaku-ngakui rumah mu saja, ini aku lakukan demi Rio, jika tadi aku pulang ke rumah Rio aku takut Arthur akan salah faham dengan nya."
"Emm... aku mengerti, lalu karena kamu takut ketaun sama sisi tv rumahku jadi kamu memutuskan untuk mampir dulu, begitukah? hahaha." ujar Sindi yang menggoda Ilona.
"Kau ini, aku kesini karena tidak enak hanya menjadikan rumahmu sebagai pelarianku saja begitu, bukan karena takut ketahuan." jawab Ilona yang berterus terang.
"Iyah bu... sensi amat sih, terus... terus... apalagi." ujar Sindi seraya membujuk Ilona untuk kembali bercerita.
"Ketika aku turun dari mobil Afmar menarik tanganku, maksudnya adalah agar aku ikut bersama mereka, namun aku menolaknya."
Sindi sedikit kecewa dengan Ilona, karena ia telah menolak ajakan anaknya, namun ia mengerti dengan perasaan Ilona sekarang. "Ilona, kamu mau sampai kapan menjauh dari keluargamu sendiri?. Aku sangat berharap kamu segera kembali kepada suami dan anakmu, dan akupun sangat mendukungmu untuk kembali."
"Aku akan tetap menjalankan apa yang telah aku sepakati sejak awal!." Ilona berbicara tegas kepada Sindi.
🌻🌻🌻
...♥Bersambung..... lanjut baca Bab 18 yah!, makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.♥...
...づ ̄ ³ ̄)づ...
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1
Jangan lupa mampir juga ke rekomendasi novel, di bawah ini.💘