
"Papah... bunda, kalian dimana? kenapa belum datang juga." gumam Afmar yang mengeluh.
"Sabarlah Afmar, mungkin mereka sedang dalam perjalanan." ujar Adira yang berusaha menenangkan Afmar.
Dengan raut wajah kesal, Afmar sudah memutuskan untuk tidak lagi mengharapkan mereka datang, Afmar berfikir mereka pasti sedang sibuk memikirkan proyek di banding dengan anaknya sendiri.
"Sudahlah lupakan saja! aku kesal dengan mereka berdua." ujar Afmar yang langsung mengambil kopernya.
"Afmar, kau mau kemana!?" seru Alex.
"Kalian tidak usah menunggu mereka lagi! ayo cepat naik ke pesawat." saut Afmar yang kesal.
"Afmar! apakah kamu benar-benar akan meninggalkan kami?"
Afmar, seketika langsung berhenti saat ia mendengar suara Arthur. Ingin rasanya menoleh, namun ia tetap menegakkan pendiriannya. "Diam papah! aku sangat membencimu."
"Menolehlah ke belakang, kalo tidak kau akan menyesal!" teriak Arthur.
Afmar pun menoleh sedikit ke belakang, namun ketika ia melihat Ilona yang membawa koper ia pun langsung membalikan seluruh badannya. "Bunda!"
"Hai sayang, kami berdua akan ikut bersamamu." ujar Ilona dengan memasang senyuman manis pada Afmar.
"Ta~tapi, bagaimana dengan proyek?" tanya Afmar.
"Eum... itu sudah di tangani oleh kakek angkatmu." jawab Ilona.
Air mata Afmar seketika mulai bercucuran, karena ia tidak menyangka bahwa bundanya akan ikut bersamanya untuk pulang. "Hiks... hua... bunda! aku sangat menyayangimu."
Ilona, langsung berlari menuju Afmar untuk memeluknya. "Sudahlah anak pintar... jangan menangis lagi, bunda disini."
Arthur pun ikut menghampiri Ilona yang sedang memeluk Afmar. "Papah pun ada disini. Afmar, awas saja jika kau berani memiliki niat lagi untuk meninggalkan kami, itukan pesawat pribadi ku kenapa kau malah mau meninggalkan pemiliknya?"
"Hua~ terimakasih papah, bunda. Afmar, sangat senang." ujar Afmar dengan tangisanya yang mulai membesar.
Ilona, mengusap kepala Afmar dan memintanya untuk lebih tenang. "Cup... cup... cup... anak bunda jangan nangis lagi dong, mau dengar kabar baik tidak?"
Afmar, mengusap air matanya dengan lengan bajunya. "Apa?"
"Percuma kau memberitaunya, dia pasti sudah tau." ujar Arthur yang tiba-tiba menyela.
"Papah! diamlah biarkan bunda yang memberitauku!" seru Afmar.
"Hahaha... sudah-sudah. jadi begini, bunda sudah memutuskan untuk kembali kepada papah, dan mulai sekarang bunda akan selalu menjadi seorang ibu seutuhnya untuk Afmar." ujar Ilona.
"Bunda! apakah kau serius?" teriak Afmar.
Ilona, mencubit hidung Afmar. "Bunda, sangat serius sayang."
__ADS_1
Dengan raut wajah senang Afmar pun kembali memeluk Ilona dengan sangat erat. "Yey... akhirnya Afmar, dapat membawa kembali bunda pulang ke rumah."
Namun, tiba-tiba Arthur, memperagakan bahasa isyarat pada Afmar yang artinya, ucapkan pada bundamu bahwa kau ingin secepatnya memiliki seorang adik, Afmar yang melihatnya langsung tersenyum dan tanpa ada basa-basi lagi ia pun bergegas mengatakannya pada Ilona.
"Oh ya bunda satu lagi, karena Afmar adalah seorang anak laki-laki jadi Afmar butuh seseorang untuk di lindungi."
"Afmar, mau melindungi bunda?" tanya Ilona.
"Ish... bunda gak peka banget sih, Afmar itu butuh seorang adik untuk Afmar lindungi, okay?"
Puftt...
"Kenapa bunda malah tertawa?. Bunda, pasti akan mengabulkannya bukan?" ujar Afmar dengan polosnya.
Karena tersipu malu Ilona, akhirnya memutuskan untuk meng'iyakan saja dulu apa yang di inginkan oleh anaknya tersebut, dan Ilona pun tidak pernah menyangka bahwasanya Arthurlah yang telah menghasut Afmar.
"Iyah-iyah... bunda akan mengabulkannya, namun tunggu dulu sampai satu tahun yah." jawab Ilona.
"Kok satu tahun sih bun?"
"Karena, adik Afmar itu butuh waktu untuk tumbuh, dan ketika adik Afmar telah tumbuh dengan sempurna ia pun pasti akan segera di lahirkan ke dunia. Nah ketika Adik Afmar telah lahir ke dunia disitulah Afmar dapat mulai menjaganya, jadi sebagai calon kakak yang baik Afmar, harus dapat menunggunya yah."
Afmar pun tersenyum bahagia mendengar Ilona yang akan segera mengabulkan permintaannya. "Terimakasih bunda!"
"Sama-sama sayang." jawab Ilona.
Singkatnya mereka telah sampai di kediaman Arthur, mereka menghabiskan waktu sekitar empat jam untuk akhirnya bisa sampai ke negaranya.
Ilona, begitu merasa ketakutan di saat ia tau bahwa Ibu dan Ayah Arthur, telah menunggu mereka di depan pintu rumah. Namun, tidak ada diantara mereka yang tau bahwasanya Arthur dan Afmar telah membawa kembali menantu kesayangan mereka.
Karena Ilona merasa ketakutan dan gugup dengan refleknya ia pun langsung menggenggam tangan Arthur. "Sayang... aku takut."
Arthur, menyenderkan kepalanya ke atas bahu Ilona. "Kenapa kau harus takut? disini ada aku dan anakmu, tenanglah."
"Bunda... tenanglah, kakek dan nenek tidak mungkin membully mu." ujar Afmar yang juga berusaha untuk menenangkan Ilona.
"Tuan muda, sebaiknya kamu turun duluan biarkan papah saja yang menenangkan bundamu, sapa kakek dan nenek mu dengan hangat." ujar Arthur.
"Hmph... untuk terakhir kalinya aku mengalah padamu papah, ingat itu!" ujar Afmar yang berlahan mulai membuka pintu mobil.
Afmar pun, yang sudah turun dari mobil segera langsung berlari menuju ke dalam pelukan nenek dan kakeknya. "Nenek! Kakek! Afmar sangat merindukan kalian!"
"Puftt... lihatlah anakmu itu, Arthur." ujar Ilona yang tiba-tiba menahan tawanya.
Arthur, yang melihat keindahan senyuman Ilona tidak dapat menahan tangannya untuk tidak mencubit pipinya. "Umm... gumus banget sih istri tuan Arthur."
"Aw... sakit..." ujar Ilona dengan wajah memelasnya.
__ADS_1
"Utututu... sakit yah? umm maaf." ujar Arthur yang tidak dapat menahan diri untuk memanjakan Ilona.
"Sudah-sudah cepat keluar dari mobil, dan bukakan pintunya untuk ku, okay?"
"Kamu sudah benar-benar berani?" tanya Arthur.
"Suamiku... apakah kamu sedang meremehkan ku?"
"Maksud ku bukan seperti itu, istriku sayang."
"Sudah cepat! asalkan ada kau di sampingku, aku pasti akan baik-baik saja, okey?"
"Nyonya... kau pintar menggoda." ujar Arthur yang bergegas membuka pintu untuk keluar.
"Arthur! kau ini." gumam Ilona.
Kedua orang tua Arthur sangat senang ketika mereka melihat Arthur keluar dari mobil, namun mereka pun malah di buat bingung olehnya yang tiba-tiba memutari mobil untuk membukakan pintu mobil sebelah kiri.
"Arthur!" teriak ibunya.
"Eh kok malah muter?" tanya ayah Arthur.
"Astaga, anak ini benar-benar membuatku pusing." jawab ibu Arthur.
"Kakek dan Nenek, tenang saja dan lihatlah apa kejutan yang kami bawa untuk kalian." ujar Afmar.
"Kejutan-kejutan--" Ilona, mulai keluar dari mobil dan hal itulah yang membuat ibu Arthur seketika menghentikan bicaranya. Karena ia ingin memperhatikan dan juga memastikan apakah benar wanita yang di bukakan pintu oleh Arthur itu adalah Ilona.
Bruk.....
Ibu Arthur, tiba-tiba terjatuh ke lantai ketika menyadari bahwa itu adalah benar-benar Ilona, karena saking tidak menyangkanya bahwa Arthur dan Afmar akan secepat ini membawa Ilona kembali pulang. "Afmar, jelaskan ini pada nenek."
"Nenek!/Ibu!/Istriku!" teriak mereka secara bersamaan.
Mata Ibu Arthur mulai kehilangan kesadarannya karena terjatuh cukup keras ke lantai. "Ilona... apakah... benar Ilona?"
Bersambung..........
Lanjutkan ke bab 50 yah!
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
Ouhh ya jangan lupa nih mampir ke rekomendasi novel bagus.
__ADS_1