
"Danis, bersiap-siaplah untuk bersandiwara." ujar Adira yang telah sampai duluan di hotel.
"Baik paman." jawab Danis.
Mereka berdua bergegas masuk ke dalam hotel dan membayar meneger hotel untuk meminjamkan mereka seragam kantor, dan tak lama dari itu Susan pun datang bersama dengan Arthur.
"Danis, bersiaplah mereka sudah datang." bisik Adira.
"Baik paman."
"Kau tetaplah disini, dan tunggulah aba-aba dari ku, jangan sampai lengah!"
"Iyah paman, aku tau." jawab Danis dengan wajah datar.
"Ya baguslah..."
Susan pun akhirnya masuk ke dalam hotel. "Permisi... pelayan, apakah kalian dapat membantuku?"
"Iyah... apakah ada hal yang dapat saya bantu, Nyonya?" tanya Adira dengan penampilan yang berbeda.
"Suamiku sedang mabuk, aku mohon bantu aku untuk memapahnya sampai kamar." jawab Susan.
"Puftt... suami? mimpi kamu ternyata indah juga yah, Susan." ujar Adira di dalam hatinya.
.
.
.
"Baik Nyonya, mari saya bantu." ucap Adira.
Adira pun bergegas ke parkiran untuk membantu Susan memapah Arthur.
"Susan... kenapa kamu lama sekali?" ujar Arthur.
"Maaf sayang, tadi aku minta bantuan dulu pelayan untuk membantuku memapahmu." jawab Susan.
"Ah... terimakasih pelayan." ujar Arthur.
"Iyah tuan... sama-sama, mari saya bantu." Adira pun mulai memapah Arthur ke dalam hotel.
Sesampainya mereka di kamar hotel, Arthur yang masih dalam keadaan di papah oleh Adira pun sengaja meletakan handphonenya di depan meja yang berada tepat mengarah ke arah kasur yang tujuannya adalah untuk merekam segala hal kejadian yang nantinya akan dilakukan oleh Susan.
Grek....
Arthur langsung meletakkan handphonenya di atas meja, lalu ia berbisik. "Pelayan... bantu aku."
"Emm... ya, tuan." Adira bergegas membenarkan handphone yang di letakan oleh Arthur.
"Pelayan... terimakasih sudah membantuku untuk memapah nya sampai ke dalam kamar." ujar Susan.
"Ya sama-sama Nyonya, ini sudah menjadi tugasku."
"Susan... aku ingin tidur!" seru Arthur.
"Ah... baiklah, pelayan mohon bantuannya untuk menidurkan suamiku ke atas kasur, karena aku masih harus membereskan sesuatu." ujar Susan yang langsung masuk ke dalam kamar mandi
"Baiklah..."
"Aku bisa sendiri!" seru Arthur.
"Astaga tuan! kau sangat mengejutkan ku, bagaimana kalau Susan mendengarnya."
"Tidak akan, sudah sebaiknya kamu cepat pergi dari sini."
"Hmm... baiklah, semoga berhasil jangan sampai masuk yah tuan, ups..." ujar Adira yang meledek Arthur.
__ADS_1
Arthur melempar bantal ke arah Adira. "Cepat pergi dari sini!"
"Hahaha... baik-baik."
.
.
.
"Nyonya... tugasku sudah selesai, saya izin keluar." ujar Adira.
"Baiklah terimakasih, tips mu akan aku transfer." jawab Susan di dalam.kamar mandi.
"Baik Nyonya, terimakasih." Adira pun segera menutup pintu dan kembali ke lobby.
Setelah Susan tau bahwa pelayan sudah keluar, ia pun segera keluar dari kamar mandi untuk menelfon Sista.
Drtt..... memanggil..... berdering......
...Isi pembicaraan di telefon...
"Sista.... aku berhasil membawa Arthur ke hotel."
^^^"Wow... kau berhasil, lalu apa lagi yang kau tunggu?"^^^
"Aku merasa grogi, apa yang harus aku lakukan?"
^^^"Cobalah untuk tenang Susan, jangan panik."^^^
"Eumm baiklah, do'akan aku yah Sista."
^^^"Baiklah."^^^
Tut......................
"Susan... kau memiliki tubuh yang bagus." jawab Arthur dengan raut wajah yamg sebenarnya merasa jiji.
.
.
.
"Di bandingkan dengan tubuhmu, tubuh Ilona itu lebih menggodaku." ujar Arthur di dalam hatinya.
"Benarkah?"
"Iyah, sebenarnya apa yang sedang kita lakukan di kamar hotel ini?"
"Eumm... di sini kita akan bercinta."
"Tapi aku tidak mencintaimu, wanita yang aku cintai adalah Ilona seorang." ujar Arthur.
'Ilona lagi! kau terus mengatakan bahwa kau lebih mencintainya, sebenarnya apa kekurangan ku?"
"Kekurangan mu adalah kau bukanlah Ilona."
"Ini waktu kita berdua! jangan bawa nama wanita ****** itu kesini!"
"Kenapa? tapi Ilona bukanlah seorang ****** Susan, dia itu wanita yang baik hati, penuh cinta dan kasih sayang. Semua itu mengalir di dalam nya, sungguh aku sangat mencintainya."
"Mau sampai kapan kau akan trus membicarakan Ilona?" tanya Susan dengan raut wajah geram.
"Aku tak akan pernah bosan untuk membicarakannya, dan aku suka jika ada seseorang yang mau mendengarkan seluruh ocehan ku secara terus-menerus untuk memuji kelebihan istriku."
"Dia istrimu, namun dia meninggalkan mu."
__ADS_1
"Tetapi dia sangat mencintaiku juga."
"Belum tentu dia tidak berhianat padamu selama 10 tahun ini."
"Dia selalu menjaga hatinya untukku seorang." ujar Arthur dengan penuh percaya diri.
"Puftt... kau hanya terus memikirkan Ilona, kenapa kau tidak memikirkan ku saja?" Susan mulai kembali menggoda Arthur.
"Susan, kau sangat cantik tetapi sayangnya aku tidak mencintaimu." ujar Arthur yang ternyata cukup anti dengan rayuan.
'Bagaimana jika aku saja yang akan membuatmu jatuh cinta?"
"Caranya?" tanya Arthur.
"Mari kita bersenang-senang malam ini." ujar Susan, ia tersenyum dan itupun di sertai dengan senyuman jahat di pipinya.
"Susan, apa hal yang akan kita lakukan malam ini?" tanya Arthur yang tujuannya untuk mengulur waktu.
"Eumm... bagaimana jika kita bersenang-senang melewati malam dengan saling menyentuh badan?"
"Maksudmu bagaimana? Susan... tubuh ku terasa panas, kau jangan terlalu dekat dengan ku."
"Biarkan saja panas itu menyatu dengan tubuh mu, karna sebentar lagi akan ada kehangatan untukmu."
"Aku tidak ingin kehangatan! aku hanya ingin tubuhku dingin, kau faham!?" bentak Arthur.
Susan sedikit terkejut dengan bentakan Arthur, namun sepertinya itu malah membuatnya semakin bergairah. "Arthur... yasudah, kau tinggal melepaskan bajumu."
"Ide bagus." Arthur pun mulai membuka bajunya secara berlahan.
Tiba-tiba Susan ikut membantu Arthur untuk membuka bajunya." Biar aku bantu, sepertinya kau sangat kesulitan."
Setelah baju Arthur telah terlepas dari badannya sekarang giliran Susan yang membuka seluruh pakaiannya hanya untuk menggoda Arthur, sebenarnya Arthur merasa sangat jiji karna harus melihat Susan membuka seluruh pakaiannya di hadapannya sendiri.
"Apa yang sedang kau lakukan Susan?" tanya Arthur.
"Membuka pakaian ku, kenapa? kau merasa tergoda?" ujar Susan.
"Tidak, tetapi kenapa kau harus membukanya?"
"Arthur... apakah kau masih tidak mengerti?"
"Apakah kamu mau menyetubuhi ku, Susan?"
"Tentu saja." jawab Susan dengan penuh percaya diri.
"Bagaimana dengan Ilona? dia istriku, dia pasti akan sangat marah jika aku bermalam dengan mu."
Susan merasa sangat kesal karena Arthur berulang kali terus mengatakan Ilona, Ilona dan Ilona. "Ilona!? kenapa kau masih membicarakan si wanita ****** itu?"
"Dia istriku!" bentak Arthur.
Seluruh pakaian Susan sudah terlepas, sekarang sudah waktunya ia menggoda Arthur. Susan yang merasa sudah tidak sabar pun secara tiba-tiba naik ke atas tubuh Arthur. "Sayang... sudahlah, jangan terus menerus memikirkan Ilona si wanita ****** itu lagi, karna ada aku disini."
"Wanita ini gila apa!?" seru Arthur di dalam hatinya.
"Mari kita bersenang-senang malam ini, Arthur..." bisik Susan tepat di telinga Arthur.
...Bersambung...................
Jangan lupa untuk melanjutkan ke bab 45 yah! Tetap suport dengan cara Like, Favorit, dan Vote setiap hari senin.
Jika ada pemasukan ide silahkan tulis di kolom komentar. So jangan ketinggalan bab selanjutnya♡(∩o∩)♡
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1