Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 50 Keluarga sempurna


__ADS_3

"Arthur! cepat bawa Ibu ke dalam rumah." seru Ayah Arthur.


Arthur, segera menggendong Ibunya ke dalam rumah. "Baik Ayah."


"Ya ampun Nenek, kenapa dia malah pingsan saat melihat Bunda?" ujar Afmar yang menepuk jidatnya dengan tangan.


"Karena, Nenekmu cukup terkejut dengan kedatangan Bundamu yang begitu mendadak."


"Kakek, dia benar-benar ibu kandung Afmarkan?" tanya Afmar yang sedikit bergurau.


"Tentu saja dia ibu kandung mu." jawab ayah Arthur.


"Ayah, aku izin masuk ke dalam dulu, aku takut Ibu kenapa-napa." ujar Ilona sambil mencium tangan Ayah mertuanya itu.


"Tunggu! biarkan saja, dia hanya terkejut, tetaplah di sini ada banyak hal yang ingin Ayah tanyakan."


Ilona, seketika mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah, namun ia tidak dapat membohongi hatinya, bahwa sebenarnya ia begitu merasa sangat cemas terhadap ibu mertuanya. "Baiklah, Ayah."


"Kakek... kakek... apakah Bundaku cantik?" tanya Afmar sekali lagi.


"Sangat cantik." jawabnya.


"Afmar..." bisik Ilona.


Afmar, melirik ke arah Ilona dengan tatapan yang menggemaskan. "Apa Bunda?--- Kakek... kakek... apakah kakek sangat menyayangi Bunda?"


"Bukan hanya menyayangi nya, akan tetapi ia juga adalah menantu kesayangan di rumah ini."


"Ayah, kau bisa saja." ujar Ilona yang tersipu malu.


"Afmar... !!!" teriak Arthur dari dalam.


"Apaan sih papah! ganggu aja deh." saut Afmar.


"Kau sudah tidak menyayangi nenek mu?! cepat panggil kan dokter lain untuk datang kemari, cepat!" ujar Arthur yang kembali berteriak.


"Papah, kau ini menggangguku saja! tapi yasudah lah Bunda, Kakek, Afmar izin masuk dulu." ujar Afmar yang langsung berlari ke dalam rumah.


"Hati-hati! jangan lari, Afmar." seru Ilona.


"Ilona, kau sama sekali tidak berubah semenjak sepuluh tahun yang lalu, Ayah harap kamu dapat memaafkan Arthur atas kesalah fahaman ini." ucap Ayah Arthur.


"Ayah, tenanglah aku sudah memaafkan Arthur. Maafkan aku juga ya Ayah, karena aku malah memilih untuk pergi dari kalian semua." ujar Ilona yang menyesal.


"Yang terpenting sekarang adalah kebersamaan, jangan pernah pergi lagi dari pelukan kami yah, Ilona."


Air mata Ilona mulai jatuh karna ke pipinya, ia sudah tidak kuasa menahan tangisnya lagi. "Ayah, maafkan aku... selama ini aku belum bisa jadi Ibu yang baik untuk Afmar, begitu pun menjadi menantu yang baik, Ilona belum dapat mewujudkannya."


Sang Ayah mertua pun langsung memeluk Ilona dengan sangat erat. "Sayang, kau sudah jauh lebih baik karna ingin kembali lagi ke rumah ini. Kita bangun lagi semuanya dari awal, okay?"


"Hua... baiklah, Ayah." ujar Ilona dengan air mata yang berlinang di pipinya.


Arthur, yang melihat dari dalam merasa terharu dengan kembalinya Ilona yang menciptakan ketenangan dan kebahagiaan yang sempurna di dalam keluarganya.

__ADS_1


Namun, Afmar yang melihat Arthur terus menerus menatap ke arah Kakeknya yang sedang memeluk Bundanya malah salah mengartikan tatapan nya tersebut. Afmar, malah mengartikan bahwa Arthur sedang merasa cemburu dengan melihat Kakeknya.


"Kakek! jangan peluk terus Bunda nanti papah cemburu loh! asal Kakek tau, Afmar seringkali berdebat dengan papah soal pelukan, ataupun ciuman bunda." teriak Afmar.


Seketika Arthur yang sedang berusaha memberikan pertolongan pertama pada Ibunya langsung teralihkan oleh ucapan Afmar. "Afmar! tidak Ayah! cucumu ini hanya bicara omong kosong! aku sama sekali tidak merasa cemburu dengan mu, percayalah."


"Puftt... Ayah, asal kau tau mereka berdua itu suka memperebutkan Ilona seperti barang." bisik Ilona.


"Ilona, lihatlah mereka begitu terlihat lebih bahagia jika bersamamu." jawab Ayah Arthur.


"Mereka adalah nyawaku ayah. Yasudah, lihatlah istrimu Ayah, apakah kau tidak merasa kasihan padanya?"


"Astaga! Ayah, hampir melupakannya, kamu duluan masuk saja gih."


"Ayah, mau kemana?" tanya Ilona.


"Ayah mau Menelfon dokter pribadinya dulu." jawab Ayah Arthur.


"Baiklah."


Akhirnya setelah menunggu sepuluh menit sang Dokter pun datang ke rumah keluarga Sheng, namun sebelum sang Dokter memeriksa Ibu Arthur, ia terlanjur sudah kembali sadarkan diri.


"Dokter, tolong cek tekanan darahnya." ujar Ayah Arthur.


"Baiklah." namun sebelum sang Dokter menyentuhnya, Ibu Arthur seketika langsung membuka matanya.


Berlahan Ibu Arthur mulai membuka kembali matanya, dan sadar. "Arthur, apakah aku sedang bermimpi? aneh sekali... bisa-bisanya aku bermimpi bahwa Ilona telah kembali pulang bersamamu."


"Ibu, itu bukan mimpi." jawab Ilona.


Ilona, memeluk balik. "Maafkan aku Ibu, sebaiknya kita mengobrol sambil cek kesehatan Ibu, okay?"


Melepaskan pelukan. "Umm sayang, baiklah ayo dokter cepat periksa tekanan darah, gula darah, dan lain-lainnya."


"Astaga Ibu! apakah kau masih selalu malas untuk makan obat?" tanya Ilona.


"Habisnya kan kamu tidak ada di samping Ibu ataupun menelfon Ibu untuk membujuk." jawab Ibu Arthur.


"Umm baiklah, kalo begitu aku akan memperbaiki semuanya." ujar Ilona dengan senyuman manis yang terlukis di pipinya


Tak terasa hari mulai gelap, Ibu Arthur terus saja mengajak ngobrol Ilona tanpa henti, Afmar pun lelah menunggu hingga dirinya ketiduran di atas sofa.


Namun, berbeda dengan Arthur yang terus-menerus memperhatikan dari jarak jauh dengan tatapan cemburunya. Arthur, merasa cemburu karena Ibunya sudah begitu terlalu lama bersama Ilona di banding dengan dirinya.


Akan tetapi, Ibu sedikitpun tidak merasa bahwa dirinya bersalah pada Arthur, karena menurutnya ini semua adalah hal wajar yang biasanya di lakukan oleh seorang menantu dan mertuanya.


"Ilona..." bisik Arthur.


Ilona, melambaikan tangannya ke bawah yang berarti tunggu sebentar lagi.


"Astaga, padahal aku pun ingin melepas rinduku... awas saja Ilona, kamu akan mendapatkan hukuman dariku." gumam Arthur.


Dua puluh meni kemudian.

__ADS_1


Arthur, kembali memanggil Ilona dengan bisikan. "Sayang..."


Sama halnya dengan Ilona yang kembali melambaikan tangannya ke bawah.


"Agrhh...!!! aku sudah tidak dapat menunggu lagi!" ujar Arthur, yang bergegas turun dari lantai dua ke lantai satu.


Arthur, berjalan menuruni tangga dengan cepat, tidak lupa ia pun mengelintingkan lengan bajunya, dan seketika setelah ia sampai di hadapan Ilona...


"Hey! apa yang sedang kau lakukan di hadapan Ilona? menghalangi kami sedang berbicara saja." seru Ibu Arthur.


Dan ternyata maksud dari kedatangan Arthur ke lantai satu adalah untuk membawa kabur Ilona dari hadapan Ibunya dengan cara menggendongnya sampai ke dalam kamar.


Arthur, langsung mengangkat Ilona ke atas pangkuannya. "Ibu, akupun ingin melepaskan rinduku kepada Ilona, Ibu sudah seharian bersamanya. Lanjutkan saja perbincangan kalian itu besok!"


"Arthur..." bisik Ilona.


"Sudahlah, Ibu pun pasti mengerti maksudku kan?" tanya Arthur dengan tatapan tajam.


Ibu Arthur, seketika tertawa geli. "Hahaha... anakku, ternyata sedang merasa cemburu dengan Ibunya sendiri, yasudah kita lanjutkan besok saja yah."


"Dari tadi dong bilang gitunya." ujar Arthur.


Ibu Arthur, langsung berbalik haluan untuk pergi meninggalkan mereka berduaan. "Yaudah Ibu pergi dulu deh, babai."


"I... ibu, aku belum siap__" Arthur, seketika langsung menyambar bibir Ilona dengan ciuman manis.


Ibu Arthur, sedikit menoleh kebelakang akan tetapi langsung kembali memalingkan wajahnya ke depan. "Ups... Ibu, tidak lihat apa-apa kok."


"Sayang..." bisik Arthur di telinga Ilona.


"Arthur, berikanlah keringanan untuk malam ini, okay?"


"Eumm... biar aku fikir-fikir dulu hingga kita masuk ke dalam kamar, okay?" ujar Arthur dengan senyuman licik.


"Apa salahku?" tanya Ilona.


"Kau harus di hukum sayang! karena kamu lebih memilih Ibu di banding dengan diriku, maka hukuman mu adalah..." tangan Arthur mulai meraba ke bagian bawah Ilona.


"Ah... Arthur, jangan disini!" seru Ilona.


Bersambung............


Jangan lupa baca ke bab selanjutnya yah!


Nantikan terus up selanjutnya.


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam



Iklan...

__ADS_1


Jangan lupa nih mampir ke rekomendasi novel bagus.



__ADS_2