
"Paman! ayo kita pulang." ujar Afmar.
"Tapi Afmar, Nyonya dan Tuan?" tanya Adira.
"Biarkan saja mereka berduaan disana, aku tau mereka berdua pasti akan melepas rindu mereka. Jadi sudahlah tinggalkan saja mereka disini." ujar Afmar yang mengerti keadaan.
"Ma~maksudmu? apakah ini sebuah pertanda?"
"Bukan pertanda lagi, tapi memang benar." jawab Afmar.
"Jadi... Tuan dan Nyonya..."
Alex langsung menarik tangan Adira untuk segera masuk ke dalam mobil. "Paman, ayolah yang benar saja kau ini sudah lebih dewasa dari pada kami tetapi kau malah tidak mengerti soal hubungan diantara suami istri."
"Ouw astaga... aku sangat tidak menyangka akan secepat ini." mata Adira berbinar-binar mengetahui berita ini.
Singkatnya keesokan harinya, Arthur dan Ilona pun mengawali pagi yang baru setelah sepuluh tahun berpisah.
Arthur terbangun dari tidurnya, dan untuk pertama kalinya lagi ia baru saja melihat istrinya yang masih terlelap tidur. Arthur menyangga kepalanya dengan tangannya sambil terus melihat Ilona. "Sayang... kau begitu cantik."
Ilona, membuka matanya berlahan. "Pagi sayang."
Arthur, mengecup kening Ilona. "Pagi juga istriku."
Ilona, langsung kembali memeluk Arthur dengan tatapan manjanya. "Arthur... aku sangat merindukan mu."
"Bukan kamu saja yang merasa rindu, namun akupun begitu sangat merindukanmu, Ilona." dengan tatapan tulus Arthur terus menatap Ilona dalam-dalam.
Ilona semakin erat memeluk Arthur. "Aku mencintaimu Arthur, terimakasih sudah mau menungguku."
"Istriku, kau ini sedang merayuku? ataukah... kamu mau menambah ronde semalam?" ujar Arthur yang juga ikut memeluk Ilona.
"Astaga... apakah kamu masih belum puas telah membuatku tak berdaya?"
"Eumm... itukan pembalasan ku karna kamu sudah berani merayuku duluan."
"Ih... memangnya aku tidak boleh merayumu?"
Arthur tiba-tiba mencium Ilona. "Muach... tidak boleh, karna aku harus lebih besar cintanya di banding kamu."
"Umm... kenapa?"
"Agar kita bisa cepat mempunyai anak lagi."
Ilona, melepaskan pelukannya dari Arthur karna malu. "Ih... kamu ini baru saja kembali sudah mau tambah anak aja! sudahlah aku mau mandi. Awas jangan menatapku!"
__ADS_1
Arthur Mengejar Ilona yang segera akan masuk ke dalam kamar mandi. "Ah sayang... barengan mandinya."
"Ih... ih... kenapa sih jadi tiba-tiba manja gitu, malu tuh sama perut kotak-kotak."
Arthur langsung menggendong Ilona. "Ayo cepat ah, jangan banyak bicara."
Di sisi lain tempat, Afmar dan teman-temanya sedang bersiap untuk pulang ke negaranya kembali.
"Afmar, apakah paman Arthur dan tante Ilona akan ikut pulang?" tanya Misha.
"Aku pun sudah menanyakannya di chat, namun belum ada diantara mereka yang menjawab." jawab Afmar.
"Yasudahlah lihat saja nanti, mereka pasti akan mengantar kita ke bandarakan?" ujar Alex.
"Iyah pasti mereka datang." ujar Danis.
Kembali lagi ke sisi Ilona dan Arthur. Singkatnya mereka pun sudah bersiap-siap untuk mengantar Afmar dan teman-temannya ke bandara, namun tiba-tiba Ilona menceritakan semua kejadian yang ia alami selama 10 tahun kebelakang.
Ilona, juga menceritakan bahwasanya ia kemari bersama teman masa kecilnya yaitu Rio. Dan untuk pertama kalinya Arthur tidak merasa cemburu dengan laki-laki yang sudah berani membawa Ilona pergi, akan tetapi ia malah akan sangat berterimakasih pada Rio.
"Ilona, apakah kamu bisa membawaku ke rumahmu dulu? sebelum pesawat Afmar berangkat."
"Bisa, tapi Arthur ada satu permintaan dariku." ujar Ilona.
Ilona secara tiba-tiba meminta Arthur untuk membawanya pulang ke rumah mereka. "Bawalah aku pulang bersama anakmu ke rumah kita."
Arthur tersenyum. "Baiklah, tapi bagaimana dengan pembangunan?"
"Serahkan saja pada Rio dan pak Xhi."
Arthur mengecup kening Ilona. "Muah... Istriku, mari kita ke rumah orang tua angkatmu."
"Iyah sayang."
Mereka pun bergegas pergi ke rumah Rio untuk menemui keluarga besarnya, dan untuk mengucapkan terimakasih karna mereka sudah mau merawat Ilona dengan baik selama 10 tahun ini.
Sesampainya mereka di rumah Rio, Ibu Rio begitu sangat tidak menyangka bahwasanya Ilona telah menemukan kembali cintanya, hanya saja tinggal Rio yang harus ia carikan jodoh. Dan harapannya pada Ilona sekarang hanyalah tinggal kenangan, ia pun memilih untuk menganggap Ilona sebagai anak kandungnya sendiri.
"Ibu, Ayah, aku mohon biarkan aku pergi bersama suamiku." ujar Ilona.
"Hiks... rasanya ibu ingin marah pada Arthur, akan tetapi setelah melihat ketulusannya padamu ibu dapat memahaminya sekarang." ujar Ibu Rio dengan berlinang air mata.
"Ilona, kami pasti akan sangat merindukan mu. Jagalah ikatan pernikahan kalian dengan baik, jangan sampai hal yang sama terjadi untuk kedua kalinya." ujar Rio.
"Untuk masalah pembangunan, serahkan saja proyek itu pada kami, kamu percayakan Arthur?" tanya pak Xhi.
__ADS_1
"Kami sangat mempercayai anda tuan, terimakasih." jawab Arthur.
"Yasudah... sebaiknya kalian cepat berangkat dan bangunlah bangunan baru di rumah kalian, hiks." saut Ibu Rio.
"Ibu... jangan menangis." ujar Ilona yang langsung memeluknya.
"Iyah... ibu tidak akan menangis, selalu kabari ibu disini yah nak."
"Iyah ibu aku pasti akan selalu mengabarimu." ujar Ilona dengan keadaan mata yang berkaca-kaca.
Setelah ucapan perpisahan terucap di bibir mereka semua, Ilona dan Arthur pun bergegas pergi dari rumah Rio menuju ke bandara.
Namun, setelah kepergian Ilona, Rio tiba-tiba merasa bahwa dirinya akan kesepian karna sudah tidak ada lagi orang yang dapat ia ganggu. Akan tetapi tak lama dari itu Sindi datang ke rumah untuk mengunjungi pak Xhi, dan di sinilah awal mula kedekatan Rio dengan Sindi di mulai.
"Permisi..." ujar Sindi.
"Iyah... Sindi? sedang apa kau disini?" tanya Rio.
"Hey! sambutlah tamu dengan baik, aku disini untuk menemui pak Xhi karna aku memiliki sebuah amanah dari Ilona yang harus aku kerjakan." jawab Sindi.
"Pak Xhi, sedang sibuk jadi maaf kapan-kapan saja."
"Rio... biarkan Sindi masuk ke dalam." saut ayah Rio.
"Puftt... wle, sudahlah aku masuk yah babay." ujar Sindi yang masuk ke dalam rumah dengan melewati Rio begitu saja.
"Hmph... perempuan keras kepala." ujar Rio yang merasa Sindi sedikit mirip dengan Ilona.
Awal baru sudah di tulis dalam cerita kehidupan Arthur dan Ilona, cinta mereka sudah kembali menyatu. Cinta yang di miliki oleh Arthur kepada Ilona begitu deras, sederas air hujan yang turun dari langit.
Afmar pun sudah menemukan sesosok seorang Ibu yang telah ia nantikan sejak dahulu, kebahagiaan mereka sekarang sudah utuh, namun entah apa yang akan terjadi selanjutnya dan itulah yang dinamakan takdir.
Sabar adalah kunci dari segalanya, termasuk cinta. Saling mempercayai satu sama lain adalah jalan terbaik bagi para pasangan, namun bukan berarti kepercayaan yang di berikan oleh masing-masing pasangan itu harus di injak-injak, karena sebuah penghianatan itu bukan cinta melainkan kehinaan yang di dapat.
Bersambung..........
Jangan lupa nantikan bab selanjutnya. Stay jangan kemana-mana♡(∩o∩)♡
Jangan lupa share.
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1