
"Afmar! kenalkan kami dong." seru Alex.
"Hahaha... baiklah, semuanya perkenalkan ini bibi Novita, teman dekat papah saat kecil, sama dengan halnya Misha sekarang." ujar Afmar.
"Halo semuanya." sapa hangat Novita.
"Halo bi, namaku Alex." ujar Alex yang memperkenalkan diri terlebih dahulu.
"Namaku Misha dan dia Danis." ujar Misha.
"Halo, kalian semua sahabat Afmar yah?" tanya Novita.
"Iyah, kami sahabat dekat... dekat sekali." jawab Alex.
"Kalian di semua di jemput nggak? mau bareng sama bibi?"
Misha, dengan mata penuh dengan rasa curiga dan sedikit mencium aroma kelicikan di dalam kata-katanya, ia pun bergumam di dalam hatinya. "Gila apa ini tante-tante? ya bibi maksudnya, so baik banget pasti ada maunya."
"Ouh kebetulan sekali bibi, nanti Bunda Afmar akan menjemput." ujar Afmar.
"Bunda? maksudmu Ilona?" tanya Novita.
"Iyahlah masa orang lain si, kan bibi juga tau Afmar tidak akan pernah mengizinkan papah untuk menikah lagi." jawab Afmar.
"Hmm tapi kalau sama bibi maukan? hanya bercanda hahaha..."
"Hahaha... bibi, kau bisa saja."
...----------------...
Singkatnya Ilona, pun datang untuk menjemput Afmar di sekolahnya. Ia pun turun dari mobilnya untuk menyambut hangat anaknya, namun seketika matanya langsung terheran-heran saat melihat Afmar sedang berada di sisi wanita.
Akan tetapi Ilona, menghiraukannya dan menyangka bahwa dia adalah guru Afmar, maka Ilona pun langsung menghampiri Afmar.
"Afmar..." panggil Ilona dari jarak yang cukup jauh.
"Hey! itu Bundaku, sudah datang." ujar Afmar yang langsung berlari dengan senangnya ke arah Ilona.
Hap...
Ilona, pun langsung memeluk balik anaknya tersebut dengan hangat. "Bagaimana dengan harimu sayang?"
"Sangat baik! aku senang kembali ke sekolah, dan sekaligus senang karna Bunda dapat mengantar jemput Afmar." seru Afmar.
__ADS_1
"Wah... itu awal yang bagus. Terimakasih ibu guru sudah membimbing anak saya." ujar Ilona pada Novita.
Afmar, langsung melepaskan pelukannya, dan langsung mengenalkan Novita pada Ilona. "Bunda, apakah kau sungguh tidak tahu siapa dia? Bunda, perkenalkan dia itu Bibi Novita teman masa kecil Papah."
Seketika raut wajah Ilona menjadi berubah menjadi kecewa, karena selama ini Arthur, sama sekali belum pernah menceritakan sesuatu soal teman masa kecilnya itu. Dengan beratnya Ilona langsung mengangkat bibirnya ke atas untuk tersenyum.
"Hai... aku Istri Arthur, salam kenal Novita aku Ilona." ujar Ilona dengan menyodorkan tangannya untuk menjabat tangan Novita.
Novita, dengan raut wajah jengkel pun tidak ada pilihan lain selain menerima jabatan tangan Ilona. "Hai... juga Ilona, kamu sangat cantik."
"Kau juga cantik, Novita. Baiklah Afmar, ayo kita pulang." ujar Ilona.
"Bunda... ajak Bibi, ajak Bibi, please." ujar Afmar yang memohon.
Ilona, sedikit menghembuskan nafasnya. "Eumm ayo, ajaklah agar kita bersama-sama sampai ke rumah."
"Bibi Novi... yu ikut." ucap Afmar.
"Baiklah, tapi Bibi bawa mobil sendiri jadi Afmar, mau ikut siapa?" tanya Novita.
"Eumm... bund... boleh?" ujar Afmar, yang sedikit sungkan.
Ilona, sebenarnya mulai sedikit cemburu dengan apa yang di minta oleh Afmar, namun ia memilih untuk mengabulkan apa yang di inginkan oleh Afmar. "Boleh sayang."
"Yeay, terimakasih bunda, kalo begitu teman-teman kalian mau ke rumahku dulukan? mau ikut siapa?" tanya Afmar.
"Baiklah, kalo begitu ayo." ujar Novita.
Mereka pun masuk ke dalam mobil yang masing - masing dari mereka sudah putuskan sendiri untuk ikut bersama siapa. Terlihat di wajah Ilona bahwasanya ia sangat sedih dengan pilihan Afmar.
"Tante, kau kelihatannya sangat sedih apa yang sedang kau fikirkan? pasti gara-gara Afmar." ujar Misha.
Menoleh ke arah Misha. "Umm... Misha, kau bisa saja. Kamu bisa meramal dari mana?"
"Tante, kita ini sama-sama perempuan jadi pantas saja jika aku mengetahui perasaan tante. Jelas-jelas tante tadi berusaha untuk menyembunyikannya, tapi sayang sekali itu tidak berhasil untuk mengelabuiku." ujar Misha
"Eumm... tante, hanya sedikit merasa sedih saja, tapi gapapa kok."
"Tapi... kata Danis tante sedang berusaha untuk berbohong, sebaiknya tante jujur saja pada kami." ujar Danis.
"Hem... hem... jujur tante." sambung Misha.
"Ampun... baiklah, iyah tante merasa sedih sekali pada saat Afmar lebih memilih untuk ikut bersama Novita dari pada bersama tante."
__ADS_1
"Tante, jangan sedih yah kami berdua pasti akan berusaha untuk membantu tante."
Ilona, langsung mengusap kepala Danis dan Misha secara bersamaan. "Terimakasih."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Singkatnya mereka pun akhirnya sampai ke kediaman Sheng. Ayah dan Ibunya Arthur, begitu sangat merasa terkejut saat mereka mengetahui bahwasanya Novita mengunjungi rumah mereka. Ibu Arthur, begitu menyambut baik kedatangan Novita ke rumah.
Namun, berbeda dengan Ayahnya Arthur, karena ia tahu bahwasanya Novita dari dulu sangat menyukai Arthur, baginya Novita tidaklah pantas untuk mengunjungi teman laki-lakinya tanpa meminta izin apalagi dirinya masih memiliki perasaan lebih terhadap temannya.
"Novita?! wah... akhirnya setelah dua tahun, wajahmu tetap sama cantiknya." ujar Ibu Arthur.
"Ah Ibu kau bisa saja." jawab Novita dengan tersipu malu.
"Nenek! Kakek! aku pulang." teriak Afmar yang turun dari mobil Novita.
"Afmar! kenapa kau malah pulang bersama bibi Novita? padahalkan dirimu sendiri yang meminta bundamu untuk menjemput, lalu kenapa kamu malah ikut bersama bibi Novita? dan malah teman-temanmu lah yang menemani bunda di mobilnya." bentak Kakek kepada Afmar.
Afmar, langsung melirik ke arah Ilona dengan tatapan bersalah. "Maafkan aku bunda."
"Maaf saja tidak cukup Afmar. Apakah kamu tau Afmar, sikap ini mencerminkan salah satu dari sikap seseorang yang tidak menghargai usaha orang lain."
"Ayah... sudahlah tidak apa-apa. Afmar, masih kecil, jadi maklumi lah dia jika masih labil untuk memilih sesuatu." bela Ilona.
Menghembuskan nafas untuk menenangkan diri. "Baiklah ilona, Afmar cepat minta maaf pada bundamu."
Afmar langsung bergegas berlari ke arah bundanya untuk meminta maaf. "Bunda... aku mohon, maafkan aku."
Dengan perasaan tenang Ilona pun memeluk Afmar dengan erat, karena ia tau bahwasanya Afmar akan tetap memilihnya, dan hal ini adalah salah satu penenang hati baginya. "Tidak apa-apa sayang, yasudah ayo kita masuk."
"Ayo bunda." ucap Afmar sambil menggenggam tangan Ilona.
Pada akhirnya mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama. Afmar, merasa sedih karena ia baru saja melihat sisi kesedihan Ilona, kenapa ia tidak bisa memahaminya? baginya hal ini adalah kali pertanya ia tidak dapat mengetahui situasi hati seseorang.
Afmar, hanya dapat menyesali apa yang telah ia perbuat. Sungguh menurutnya ia sangat jahat pada bundanya, karena hari ini adalah hari kedua setelah kepulangan Ilona kembali dan ia baru merasakan hangatnya keluarga, namun Afmar malah menyakiti hatinya.
Namanya juga manusia, terkadang ucapan yang baginya biasa saja ternyata berbeda dengan apa yang orang lain rasakan.
Bersambung.................
Jangan lupa like, suport, vote, favorit, dan lain sebagainya.づ ̄ ³ ̄)づ
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
__ADS_1
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam