
"Galak sekali!" seru Adira bersama teman-teman Afmar.
"Hahaha... Adira, sepertinya kita terlambat untuk merahasiakan ini." ujar Arthur.
"Iyah tuan, tuan muda Afmar memang di takdirkan lahir kedunia ini tanpa ada seorang pun yang dapat membohonginya." jawab Adira.
"Tentu saja, karena ibuku adalah bunda." jawab Afmar dengan berlagak sombong.
"Emm... tapi, setau papah bundamu itu sangat polos, terlalu baik, dan gampang di kelabui oleh orang lain. Tidak ada sedikitpun sikapnya yang menurun padamu Afmar." ujar Arthur.
"Lebih tepatnya, kemiripan sikap maupun wajah tuan muda Afmar itu lebih mirip 80% dengan tuan Arthur dan sisanya 20% barulah mirip dengan nyonya Ilona." ujar Adira.
"Walau hanya 20% tetap saja darah bunda mengalir di tubuhku, wle..." ejek Afmar.
"Seharusnya kau bangga bisa mirip dengan papah." seru Arthur.
"Pftt... papah, jika saja Afmar dapat memilih, Afmar akan pastikan untuk memilih bunda."
"Kenapa?" tanya Arthur.
"Papah, dengar Afmar yah! alasannya adalah tidak ada seorangpun di dunia ini yang mau mirip dengan pria licik seperti papah! hahaha wle... wle..." Afmar mengejek Arthur dengan menjulurkan lidahnya.
"Hey! kau baru saja meminta maaf, mau cari masalah lagi?"
"Tadikan papah yang cari masalah, sekarang giliran Afmar, wle." Afmar kembali menjulurkan lidahnya untuk mengejek Arthur.
Suasana seketika berubah saat dokter kembali ke dalam ruangan Ilona.
"Dokter! ada apa?" tanya Afmar.
"Nanti akan paman dokter jelaskan okay?" ujar sang dokter yang terlihat terburu-buru.
"Baiklah." Afmar menundukan kepalanya.
Arthur dengan spontan langsung memeluk Afmar. "Sudahlah Afmar, kau masih ingatkan dengan apa yang tadi papah katakan? jangan menangis! okay?"
Arti dari tundukan kepala Afmar itu menandakan bahwa suasana hatinya sedang tidak bagus, contohnya seperti sedang merasa hawatir, cemas, gugup, ataupun sedih.
"Iyah papah, aku mengerti." jawab Afmar.
"Sebaiknya kalian bawa Afmar ke taman rumah sakit, paman mohon kalian hibur Afmar yah, karena bibi kalian pasti tidak ingin jika Afmar bersedih." ujar Arthur.
"Iyah paman, kami akan membawa Afmar ke taman belakang dan menghiburnya." jawab Danis.
"Ayo Afmar, sudah jangan sedih terus, kau tenang saja." ujar Misha.
"Bagaimana aku bisa tenang? bundaku sedang sakit!" bentak Afmar dengan nada suara tinggi.
"Afmar! jaga tatakramamu! Misha adalah seorang perempuan berbuat baiklah!" seru Arthur.
Arthur melirik ke arah Arthur dengan tatapan sedih. "Emm... ya papah, maafkan aku Misha karena telah berbicara kasar padamu."
"Tidak apa-apa Afmar, aku mengerti keadaan mu sekarang." jawab Misha dengan lemah lembut.
"Ayo Afmar, kita bersenang-senang di taman, bibi Ilona pasti akan segera membaik, percayalah." ujar Alex yang berusaha untuk menenangkan Afmar.
"Papah, aku dan teman-teman pergi ke taman belakang rumah sakit dulu."
"Berhati-hatilah, kendalikan emosimu!" seru Afmar.
__ADS_1
"Iyah papah, aku akan berusaha untuk mengendalikan emosiku." jawab Afmar.
"Baiklah."
Afmar bersama teman-temannya pun pergi ke taman belakang rumah sakit.
"Afmar, bersabarlah." ujar Misha.
"Bibi Ilona pasti akan segera membaik dalam hitungan jam dari sekarang." ujar Alex yang berusaha terus menenangkan Afmar.
"Iyah teman-teman, terimakasih selalu ada untuk ku." jawab Afmar.
"Ouh iyah, Afmar kamu suka coklatkan?" tanya Danis.
"Iyah, itu makanan kesukaan ku, memangnya kenapa?" ucap Afmar yang bertanya balik.
"Okay tunggu sebentar." Danis tiba-tiba meninggalkan teman-temannya begitu saja, tanpa memberitahu atau menjelaskan sesuatu.
"Eh... Danis! kau mau kemana?" teriak Alex. Namun Danis menghiraukan panggilannya.
"Sudah biarkan saja dia jago beladirikan? kau tidak usah repot untuk menghawatirkan nya seperti itu." ucap Misha.
"Ah... kau benar juga." jawab Alex.
Ternyata Danis pergi meninggalkan teman-temannya itu bertujuan untuk membawakan Afmar coklat.
Coklat adalah makanan yang manis, besar kemungkinan coklat dapat membuat mood seseorang kembali lagi seperti semula.
Tak lama kemudian Danis datang membawa 5 coklat, dan untuk pertama kalinya raut wajah Danis tidak memperlihatkan keseriusan, Danis seketika mengubah sikapnya menjadi diri seseorang yang sangat ceria, tujuannya untuk menghibur hati Afmar yang sedang duka.
"Woi... teman-teman! lihatlah aku bawa apa." teriak Danis pada teman-temannya.
"I... itu Danis?" Tanya Misha yang kebingungan dengan sikap barunya.
"Pfttt... hahaha, Danis! kau membawa apa?" Seru Afmar yang seketika tertawa melihat Danis yang tiba-tiba berusaha untuk menjadi seorang yang ceria.
"Aku bawa coklat nih... aku bagi-bagi yah, satu untuk ku, satu untuk Misha, Satu untuk Alex, dan dua untuk Afmar." Danis membagikan coklat yang ia bawa.
"Lah kok Afmar dua sih?" tanya Alex.
"Terus kau juga mau dua? beli aja sendiri di luar!" ujar Danis.
"Et... pak, sabar pak, jangan tiba-tiba berubah jadi galak lagi dong..." ujar Alex yang mengalihkan pembicaraan.
Afmar tertawa terbahak-bahak melihat sikap Danis yang seketika berubah kembali saat Alex menggodanya. "Hahaha... kau seharusnya bersyukur, Alex."
Di saat Afmar tersenyum kembali teman-temannya sengaja bernyanyi untuk Afmar.
🎶🎶🎶
Senyuman mu...
Yang indah bagaikan candu, yang ingin ku trus lihat walau dari jauh...
🎶🎶🎶
Afmar tersipu malu saat teman-temannya bernyanyi untuk dirinya. "Apaan sih kalian ini, hahaha."
"Tuhkan... tuhkan... penerus perusahaan Sheng kalo senyum emang beda yah teman-teman." ucap Misha yang kembali menggoda Afmar.
__ADS_1
"Kelak ketika kita dewasa pasti Afmar akan menjadi daya tarik parah wanita, namun tetap saja aku akan lebih terkenal di bandingkan dengan Afmar." ujar Alex yang percaya diri.
"Enyalah..." bisik Danis.
"Tadi kau bilang apa Danis! ngomong di depan sini." seru Alex.
"Apaan?" sorot mata Danis serius.
"Eng... ampun suhu." Alex menyatukan kedua tangan nya seolah memuja Danis.
"Gak usah gitu juga kali, aku bukan dewa."
"Ptfff hahaha... kalian ini kenapa sih?" Afmar tak henti-hentinya tertawa karena melihat tingkah konyol teman-temannya.
Afmar sangatlah beruntung karena ia memiliki seorang teman seperti mereka, yang selalu mengerti keadaan, mendukung satu sama lain, dan pendengar yang sangat baik untuk Afmar.
1 jam kemudian
Ilona telah kembali sadarkan diri, namun ia masih tidak mau untuk bertemu dengan siapa-siapa. Semua itu di sebabkan oleh trauma yang masih tersimpan di dalam dirinya.
Arthur memanggil Afmar untuk kembali menunggu di ruangan tunggu pasien, karena cepat atau lambat Ilona pasti ingin bertemu dengan nya.
"Afmar!" Arthur memanggil nama Afmar dari kejauhan.
Afmar melirik ke arah Arthur. "Ya papah? ada apa?"
"Sebaiknya kamu kembali menunggu di ruang tunggu, karena bundamu telah kembali sadarkan diri." teriak Arthur.
Afmar tersenyum lebar. "Baiklah, aku akan menyusul."
Tak lama Arthur kembali ke ruang tunggu, Afmar menyusulnya ke dalam bersama teman-temannya.
"Papah, bagaimana dengan keadaan bunda sekarang?" tanya Afmar.
"Bundamu sudah kembali membaik, namun keadaan mentalnya masih terguncang yang membuatnya tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa, tapi kau tunggu dulu saja disini."
"Emm... bunda, jangan lama-lama sakitnya." Afmar melirik ke arah pintu ruangan rawat Ilona.
"Kita tunggu sama-sama yah Afmar." tangan Alex penepuk pundak Afmar.
"Iyah, aku akan bersabar." Afmar memberikan senyuman tipis.
Setelah 20 menit menunggu tiba-tiba Ilona berteriak sangat kencang memanggil nama Afmar.
"Afmar... !!!" Teriak Ilona sangat kencang sampai-sampai suaranya terdengar keluar ruangan.
"Papah! suara bunda!" seru Afmar.
🌻🌻🌻
...♥Bersambung..... lanjut baca Bab 27 yah! makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.♥...
Para pembaca boleh koreksi di kolom komentar
Jangan lupa buat like + vote setiap hari senin + favoritづ ̄ ³ ̄)づ
Tetap pantengin terus bab-bab selanjutnya yah.
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
__ADS_1
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam