
Pro dan kontra pasti akan di dapatkan saat membaca novel ini, jadi Author mohon kerja samanya.✔️
Setelah Arthur merasa bahwa dirinya telah memiliki segala bukti di tangannya, pada akhirnya ia pun memutuskan untuk memberitaukan semua ini kepada Adira tujuannya adalah untuk memberhentikan penyelidikan yang Adira lakukan atas perintahnya.
"Aku harap semua bukti ini akan menjadi pemberat ketika nanti di pengadilan, sekarang sebaiknya aku menelfon Adira untuk datang kesini." gumam Arthur.
Drtt... Drtt...
"Sebentar, tuan Arthur menelfon." ucap Adira kepada Afmar dan teman-temanya.
......Pembicaraan di telfon......
"Halo, Adira."
^^^"Iyah tuan, ada apa? apakah ada hal yang harus saya bantu?"^^^
"Iyah, saya minta kamu cepat datang ke tenda istirahat saya, sekarang."
^^^"Baik tuan, saya akan segera kesana."^^^
"Saya tunggu."
Tut.......
"Anak-anak, paman tinggal dulu sebentar yah." ujar Adira yang langsung beranjak dari bangku taman.
"Kemana?" tanya Afmar.
"Tuan Arthur, tiba-tiba menelfon paman dan memberi perintah untuk segera datang ke tenda istirahatnya." jawab Adira.
"Emm... kira-kira ada apa yah?" tanya Misha.
"Entah, namun ketika paman tau, paman akan segera memberitau kalian."
"Okey deh, paman suruh supir papah jemput kita kesini, karna kita sudah cukup lelah berada di sini." ujar Afmar.
"Iyah benar, kami ingin pulang ke hotel." saut Alex yang membenarkan perkataan Afmar.
Adira langsung menghubungi supir pribadi Arthur untuk menjemput anak-anak. "Baiklah, kalian tunggu saja dulu disini."
"Terimakasih paman." ujar mereka bersamaan.
"Sama-sama, paman pergi dulu, dah..." Adira melambaikan tangannya.
"Dadah..."
Sesampainya Adira di tenda Arthur, ia langsung di perintahkan untuk masuk ke dalam. "Permisi, Tuan Arthur..."
"Masuk!" seru Arthur.
Adira pun bergegas masuk ke dalam tenda istirahat Arthur. "Tuan, ada apa?"
"Kau harus menghentikan penyelidikan mu." ujar Arthur.
Adira yang mendengarnya cukup terkejut dengan apa yang di katakan oleh Arthur. "Ta~tapi tuan, saya hampir menyelesaikan nya."
"Sebelum kau selesai saya lebih dahulu selesai penyelidikan nya." jawab Arthur dengan raut wajah santai.
__ADS_1
Adira merasa kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh Arthur. "Maksudnya bagaimana tuan?"
"Sebenarnya sebelum aku memerintah mu untuk menyelidiki kasus ini, aku telah dahulu menyelidikinya."
"Lalu? apakah tuan sudah mengetahui siapa pelaku di balik ini semua?" tanya Adira dengan antusias.
"Pelakunya adalah, Susan." bisik Arthur.
"Apa!?" seru Adira dengan nada suara yang cukup tinggi.
"Stt... aku tau ini sangat mengejutkan."
"Tapi tuan, akupun sama dengan mu."
"Maksudmu?" tanya Arthur.
"Saya dan Afmar pun sedang menyelediki Susan, hanya saja ada kemungkinan kami lebih lambat untuk menyadarinya di banding dengan tuan."
"Hmm... jadi kau juga sudah mengetahui segalanya."
"Tidak semuanya tuan, hanya saja kami telah membuat sebuah rencana untuk besok. Tuan, apakah anda memiliki sebuah bukti?" tanya Adira.
Arthur tersenyum lalu mengatakan. "Adira, sejak kapan saya menuduh orang tanpa ada bukti?"
Adira berbicara di dalam hatinya. "Wow... aku sangat salut pada tuan Arthur, ternyata dia memang lah sosok laki-laki yang diam-diam menghanyutkan."
"Yasudah, tanpa basa basi lagi, aku akan menunjukan seluruh bukti yang aku miliki kepadamu, tetapi pastikan dulu disini aman." Arthur langsung mengeluarkan laptopnya dari tas.
Adira langsung beranjak dari tempat duduknya dan bergegas mengecek keadaan di luar tenda. "Saya rasa semuanya aman, Tuan."
"Baiklah, cepat kemari dan lihatlah bukti yang aku punya."
Adira merasa syok saat mendengar rencana Susan yang terakhir, yaitu rencana untuk menjebak Arthur. "Tuan... !!! apakah rencana yang ia katakan itu akan terjadi besok?"
"Iyah, oleh sebab itu kita akan tambah rencanamu itu."
"Maksud tuan seperti apa?" tanya Adira.
"Yasudah begini saja, ayo katakan padaku apa saja rencana yang akan kamu buat untuk besok?"
"Jadi tuan, rencananya seperti ini, saya dan Danis akan menyelidiki gerak gerik yang mencurigakan dari Sista, sekaligus mengikuti Sista kemana pun ia pergi."
Arthur tiba-tiba menyela Adira berbicara. "Hmm... sisanya tugas Afmar dan teman-temanya yang lain itu adalah untuk memantau gerak-gerik Susan, begitu?"
"Tuan Arthur!" seru Adira dengan senyuman di pipinya.
"Oh... maafkan aku jika salah menabak."
"Bukan! bukan! kau benar sekali tuan, aku sangat salut kepadamu, bisa-bisanya tuan menyelidiki semua ini sendirian." ujar Adira.
"Hahaha... kau sangat berlebihan, Adira." Arthur tertawa karena merasa sedikit terhibur oleh Adira.
"Baiklah tuan, saya telah selesai menceritakan semua rencana yang saya buat, sekarang giliran tuan yang membuat rencana tambahan untuk besok."
"Terimakasih, Adira." tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba Arthur mengatakan terimakasih kepada Adira.
"Eh... tuan, ada apa? kenapa tuan secara tiba-tiba mengatakan terimakasih kepadaku?" tanya Adira yang kebingungan.
__ADS_1
"Memangnya ada larangan untuk mengucapkan terimakasih?" Arthur bertanya balik kepada Adira.
"Ti~tidak ada, tuan."
Arthur menepuk punggung Adira. "Santai aja kali, jangan terlalu formal, kita teman bukan?"
Adira berbicara di dalam hatinya. "Etto... kenapa tuan Arthur secara tiba-tiba berubah sikapnya sebanyak 90°."
"Hahaha... iyah tuan, kita adalah teman." jawab Adira.
"Baiklah Adira, aku yakin rencana yang di buat oleh Susan itu pasti akan di lakukan mulai dari sore hari, karna kau tau rencana menjijikkan seperti itu biasanya di lakukan pada malam hari."
"Iyah, kau benar tuan. Kau tenang saja aku dan Danis akan memantau Sista selama siang hari hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk memulai rencananya."
"Di sini pun aku usahakan untuk ikut memantau Susan, akan tetapi jika aku tidak dapat lebih lama untuk memantau Susan masih ada anak-anak yang dapat aku andalkan."
"Tuan Arthur, kau memiliki seorang putra yang sama pintarnya sepertimu, kau sangatlah beruntung." Adira memuji kepintaran Afmar yang di turunkan oleh Arthur.
"Iyah, kau memang benar, dia sama sepertiku, sampai-sampai ia pun sama liciknya dengan ku."
"Contohnya?" tanya Adira.
"Dia selalu mencuri-curi pandangan kepada Ilona, padahalkan dia itu adalah ibunya, tidak sepantasnya dia selalu mencuri-curi pandangan seperti itu!"
"Ternyata... tuan Arthur memang benar-benar pecemburu, anaknya sekalipun ia curigai, apalagi orang lain, ada kemungkinan ia akan mati di tangan tuan Arthur." gumam Adira di dalam hatinya.
"Apa ada yang salah dengan ucapan ku?" tanya Arthur.
"Ah... tidak-tidak." jawab Adira dengan raut wajah yang sedikit panik.
"Kau berbohong! wajahmu mengatakan hal yang lain. Tapi yasudah lupakan saja, aku mau bertanya padamu, apakah anak-anak sudah pulang ke hotel?"
"Emm... iyah tuan, tenang saja mereka sudah di antar pulang oleh supir pribadimu."
"Baiklah Adira, sekarang aku tugaskan kamu untuk menyusul mereka ke hotel, dan ceritakan semua hal yang kau tau dariku. Satu lagi, aku akan kirim semua audio rekaman suara Susan ke handphonemu."
"Apakah tuan menyuruhku untuk memperdengarkan audio itu kepada anak-anak? tapi tuan itu ada hal 18+ nya." ujar Adira yang sedikit parno.
"Tidak apa-apa, kau jangan takut, otak mereka tidak akan rusak."
"Emm... baiklah, karena ini adalah perintah mu, pasti akan aku laksanakan."
"Baiklah, sekarang kau segera susul mereka ke hotel."
"Laksanakan tuan! saya permisi."
...Bersambung...................
Cerita ini mempunyai alur cerita panjang, jadi sabar yah untuk menunggu semuanya terungkap, terimakasih dan tetap suport Author yah!✔️
Jangan lupa untuk melanjutkan ke bab 38 yah!
Tetap suport dengan cara Like, Favorit, dan Vote setiap hari senin.
Jika ada pemasukan ide silahkan tulis di kolom komentar. So jangan ketinggalan bab selanjutnya♡(∩o∩)♡
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
__ADS_1
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam