Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 23 Kecelakaan


__ADS_3

Arthur bergegas menuruni tangga, hatinya mulai cemas, ingin rasanya marah akan tetapi untuk apa dia harus marah? siapa yang harus ia marahi? ini adalah sebuah kecelakaan.


Arthur tidak tahu bahwa ini semua sudah di rencanakan oleh Susan. Firasatnya memang benar, namun kepercayaan Arthur lebih besar terhadap Susan.


"Penjaga! hubungi ambulance sekarang!" seru Arthur.


"Baik tuan." jawab salah satu penjaga kantor.


Seketika para karyawan kantor berkerumun di lobby.


"Kalian semua mau saya pecat!? kalian buta apa? bantu angkat ke kursi!" Seketika wajah Arthur menjadi sangat marah ketika melihat para karyawannya hanya terdiam tanpa ada rasa ingin membantu.


Seketika seluruh karyawan ketakutan melihat Arthur yang sangat marah. "B... baik, tuan."


"Maafkan kami, tuan." ucap salah satu pemimpin para karyawan.


"Cepat! jika ambulancenya sudah datang kalian semua harus cepat membawa sekertaris Susan ke dalam ambulance." ujar Arthur tegas.


"Baik tuan, sebenarnya apa yang telah terjadi tuan? kenapa sekertaris Susan dan arsitektur Ilona terjatuh?" tanya salah satu karyawan.


Arthur menggendong Ilona di tangannya, sambil terus menjawab pertanyaan sang karyawan. "Tadi Susan tak sengaja menabrak Ilona saat turun tangga, kemungkinan Susan kehilangan keseimbangannya, dan menimpa Ilona."


"Astaga. Yasudah tuan mari saya bantu untuk menggendong arsitek Ilona."


"Tidak perlu!" bentak Arthur.


Sang karyawan sangatlah terkejut melihat Arthur yang jelas-jelan menolaknya dengan mentah-mentah. "Tu... tuan? emm, baiklah, maafkan saya tuan."


Arthur baru teringat bahwa di kantor ini Ilona adalah orang asing bukanlah istrinya. "Maaf, maksudku tidak sepertu itu, kau bantu saja memegang kakinya. Ce... cepat! ini sangat berat."


Tanpa ada kecurigaan sedikitpun akhirnya sang karyawan ikut menggendong Ilona, dan tak lama kemudian ambulance datang ke kantor, dengan segera mereka berdua di larikan ke rumah.


Namun, sayangnya pihak rumah sakit hanya diminta untuk membawa satu ambulance, sedangkan satu mobil ambulance hanya dapat menampung satu pasien, Arthur sedikit marah karena jika ia tau lebih awal bahwa penjaganya hanya meminta satu ambulance mungkin sudah dari 20 menit yang lalu ia ke rumah sakit.


"Astaga, penjaga! apa kau tidak tahu bahwa disini ada dua orang!? yasudah cepat bawa Susan ke ambulance!." Seru Arthur.


"Bagaimana dengan arsitek Ilona?"


"Ilona, biar aku yang tangani yang terpenting sekarang Susan harus segera di larikan ke rumah sakit." Arthur yang sangat kesal tidak mau semakin mengulur waktu, ia langsung menggendong Ilona dan bergegas ke rumah sakit.


Saat di dalam perjalanan Arthur baru menyadari bahwa kepala Ilona itu berdarah, mungkin karena benturan yang cukup keras, dan mungkin saja itu di sebabkan posisi Ilona yang berada di bawah badan Susan.


"Ilona, bertahanlah, sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit, kepala kamu sakit banget yah sayang? sebentar lagi yah." Gumam Arthur.


Disisi lain tempat, di dalam ambulance terdapat Susan yang mulai sadar dari pingsannya, ia tak percaya bahwa rencananya berhasil. Susan lebih memilih untuk melanjutkan sandiwaranya.


"Apa kamu dengar tadi tuan Arthur berkata apa?" tanya salah satu karyawan kepada Sista.


"Memangnya tuan Arthur berkata apa?" Sista bertanya balik.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka bahwa tuan Arthur akan lebih mementingkan sekertaris Susan di bandingkan dengan arsitek Ilona."


"Memangnya tuan Arthur berbicara apa? sampai-sampai kamu berani menyimpulkan?" tanya Sista kebingungan.


"Aduh Sista, semua karyawan kantor tau bahwa tadi tuan Arthur mengatakan sebaiknya sekertaris Susan segera di larikan ke rumah sakit, karena sekarang yang terpenting itu adalah sekertaris Susan."


Susan yang sebenarnya sudah terbangun dari pingsanya sangatlah terkejut mendengar topik pembicaraan yang di bicarakan oleh Sista bersama karyawan kantor.


Di karena tingkat kepercayaan diri Susan yang sangat tinggi, membuatnya menyimpulkan bahwa Arthur lebih mementingkan dirinya di banding dengan Ilona istrinya sendiri.


"Binggo! Ilona... Ilona, sudah ku duga Arthur akan lebih mementingkan ku di banding dirimu, dan seingatku tadi sebelum pingsan, aku sudah mendorongmu dengan sangat--- kencang." ujar Susan di dalam hatinya.


"Kamu serius dengan ucapanmu?" tanya Sista.


"Sista, jika kamu tidak mempercayaiku tanyakan saja pada karyawan yang lain."


"Iyah, iyah aku mempercayaimu."


Susan merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk dia bangun, sekaligus memperlihatkan wajah memelasnya terhadap karyawan tersebut.


Susan membuka matanya, "Sis... sista."


Sista melirik ke arah Susan. "Sekertaris Susan! kau sudah bangun."


"Dimana Ilona?" tanya Susan yang ingin mencari muka.


"Sekertaris Susan sebaiknya anda tenang dulu." ujar Sista.


"Tidak bisa! ini semuanya terjadi karena ku." Susan mulai meneteskan air mata buayanya.


"Nyonya... eh maksudku, sekertaris Susan jangan hawatirkan Arsitek Ilona, semua ini hanyalah sebuah kecelakaan." ujar salah satu dari karyawan kantor yang menyemangati Susan.


Susan berbicara di dalam hatinya. "Nyonya? hmm... sepertinya para karyawan pun sudah mendukungku untuk menjadi istrinya Arthur."


"Huhuhu... apakah Ilona akan baik-baik saja? aku sangat takut Ilona kenapa-napa, semua ini terjadi karena kelalaian ku." Susan memang wanita ular yang pandai menyamar!


"Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa pada arsitek Ilona." Sista memeluk Susan yang bertujuan untuk meyakinkan para karyawan yang berapa di dalam ambulance.


"Kau ini memang wanita yang sangat baik sekertaris Susan!"


"Tidak hanya baik saja, sekertaris Susan juga memiliki kepribadian yang sangat dewasa."


"Hmm... rupanya para tikus kecil sudah masuk ke dalam jebakan ular yah?" ucap Susan di dalam hatinya.


"Kalian ini sukanya berlebihan." jawab Susan.


"Kami tidak berlebihan itu memang kenyataannya."


"Baiklah-baiklah, Terimakasih."

__ADS_1


"Sama-sama sekertaris Susan."


Kembali lagi ke sisi lain keadaan.


Di dalam mobil Arthur, Ilona sempat terbangun, namun ia hanya dapat mengatakan empat patah kata saja.


"Ar---thur." Ilona berbisik lemas.


"Kamu bangun sayang? sebentar lagi kita sampai rumah sakit, kamu pasti kuat sayang, sabar yah sebentar lagi kita sampai, kamu harus bertahan!" ujar Arthur yang tak menyangka bahwa Ilona masih dalam keadaan sadarkan diri.


Ilona menggelengkan kepalanya, yang menandakan dirinyai sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Sebenarnya Ilona masih dalam keadaan sadar sewaktu di kantor, namun ia memilih untuk tidak banyak bicara karena itu sangatlah menguras tenaganya.


Untuk seperempat jalan lagi Ilona tidak dapat untuk bertahan lagi, kepalanya mulai sangat sakit, dan masih mengeluarkan darah.


"Ja-ngan be-ritahu Af-mar!" Ilona lagi-lagi berbisik lemas.


Arthur melirik ke arah Ilona. "Ilona!... Ilona!... bangun! kamu masih bisa bertahan, ini kita udah sampai sebentar yah sayang sabar, kamu kuat, kamu kuat!"


Arthur segera menggendong Ilona ke dalam rumah sakit. Di duga penyebab dari pendarahan yang berada di kepala Ilona adalah saat terjatuh dirinya terlalu keras membentur ke lantai, dan ketika terjatuh kepala Ilona duluan sampai ke lantai di banding dengan badan ataupun kakinya.


"Dokter!" teriak Arthur.


"Tuan Arthur!? nyonya Ilona kenapa?. Perawat!segera bawa pasien ke ruangan ICU." jawab sang dokter.


"Dokter! saya mohon sekarang juga obati istri saya."


"Iyah tuan, tapi tuan tenang dulu, saya mau bertanya apa yang telah terjadi?" tanya sang dokter.


"Istri saya jatuh dari tangga dokter, kepalanya berdarah, saya mohon segera periksa sekarang dokter, ia sempat sadarkan diri tetapi entah apa yang membuatnya kembali pingsan." wajah Arthur semakin terlihat sangat cemas.


"Baiklah, kalau begitu tuan boleh tunggu sebentar, saya akan segera kembali lagi nanti." sang dokter bergegas meninggalkan Arthur sendirian.


Tak lama kemudian ambulance yang dinaiki oleh Susan pun datang, Susan menduga bahwa dirinya baik-baik saja, dan sama sekali tidak terluka, namun sayangnya dugaan nya salah.


Sesampainya Susan di rumah sakit, ia berusaha untuk berdiri sendiri akan tetapi tak di sangka-sangka kaki kirinya terkilir yang membuatnya tidak dapat berjalan untuk beberapa hari. Sungguh Susan tidak pernah menyangka bahwa dirinya juga akan ikut cedera.


🌻🌻🌻


...♥Bersambung..... lanjut baca Bab 24 yah! makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.♥...


Para pembaca boleh koreksi di kolom komentar


Jangan lupa buat like + vote setiap hari senin + favoritづ ̄ ³ ̄)づ


Tetap pantengin terus bab-bab selanjutnya yah.


"Setia tunggu aku yah!" Seru Afmar kepada para pembaca.♡(∩o∩)♡


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤

__ADS_1


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam



__ADS_2