
"Kau kenapa ada disini Arthur!?, apa kamu sudah menyabotasenya?" tanya Ilona yang kaget akan kehadiran Arthur di hadapan nya.
"Aku disini untuk bertemu dengan pendesain museumku, lalu apa yang kamu lakukan disini? apa kamu adalah pendesain yang di maksud oleh Adira?" ujar Arthur yang bertanya balik kepada Ilona dengan raut wajah senang.
"Aku mau membatalkan kontraknya sekarang!" ujar Ilona yang memalingkan wajahnya.
"Tidak bisa! kamu sudah menandatangani seluruh persyaratan. Namun apabila kamu tetap mau membatalkan kontrak begitu saja, apa kamu siap untuk membayar?"
"Arthur aku ini istrimu!" teriak Ilona dengan spontan.
Arthur terkejut mendengar Ilona berkata bahwa ia itu adalah Istrinya. "Kalau kamu itu adalah istriku, kenapa kamu tidak mau menuruti perintah dari suami mu?"
"Maksudku." ucap Ilona yang gugup.
"Ilona! apa kamu sungguh marah padaku?"
"Apa yang kamu bicarakan Arthur!" seru Ilona yang tiba-tiba merasa bersalah.
"Kenapa kamu pergi dariku?, kenapa kamu harus pergi dalam keadaan mengandung?, kenapa kamu tidak pernah kembali untuk menjenguk anakmu sendiri?, kenapa Ilona?" ujar Arthur yang terus bertanya tanpa henti.
"Cukup Arthur! kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa kamu tidak mau melihat wajahku lagi kan? aku kabulkan." Ilona sangat muak dengan semua pertanyaan-pertanyaan Arthur yang seolah menyalahkan atas kepergian nya.
"Aku mencintaimu Ilona, sangat sangat mencintaimu, maafkan aku... maaf atas sikapku 10 tahun yang lalu. Apa kamu tau? aku selalu merasa kesepian semenjak kamu pergi dari kehidupan ku, mencarimu kemana-mana tetapi tidak pernah membuahkan hasil, kau ini kenapa Ilona?" ujar Arthur yang menangis saat mengatakan seluruh isi hatinya pada Ilona.
"Aku juga sangat mencintaimu Arthur. Di saat aku mengandung sering kali terbayang olehku kehadiranmu yang selalu ada disisiku, namun itu semua adalah sebuah mimpi indah yang tidak akan pernah terwujud." jawab Ilona yang mulai mendekat ke hadapan Arthur.
"Lalu kenapa kau tidak pernah kembali kepadaku?"
"Karna aku masih takut untuk berhadapan denganmu. Yasudah aku akan tetap mengerjakan proyek museum ini, namun dengan 1 syarat."
"Apa syaratnya?" tanya Arthur yang merasa senang akan keputusan Ilona.
"Tidak ada seorangpun yang boleh mengetahui tentang hubungan asli kita! sampai nanti akhirnya aku sanggup untuk kembali kepadamu."
"Baiklah aku menyanggupinya. Sekarang kita adalah patner bisnis jadi mari nyonya kita bicarakan tentang desain museum yang akan anda buat." ucap Arthur.
"Baiklah tuan mari kita bicarakan." jawab Ilona.
🌻🌻🌻
30 menit yang lalu
Di hotel tempat Afmar berada.
"Teman-teman, hari ini aku akan mengikuti papah ke kantor, aku percaya disana ada suatu yang dapat membantu kita menemukan bunda." seru Afmar kepada teman-temannya.
"Apa kau benar mau melakukan nya Afmar?" tanya Danis.
"Aku bersungguh-sungguh!"
"Jadi seperti apa rencanamu itu?" tanya Alex.
"10 menit lagi papah berangakat, butuh waktu 10 menit untuk sampai ke kantor, aku akan berangkat saat papah sudah sampai, aku percaya papah ada di ruangan rapat bukan di ruangan pribadinya. Aku akan berbohong kepada para pegawai bahwasanya aku akan menunggu papah di ruangan pribadinya." ujar Afmar yang menjelaskan keseluruhan rencananya kepada teman-teman.
"Apa kau tidak akan ketahuan oleh tante Susan?" tanya Misha.
"Misha, kau ini seperti tidak tau Afmar saja. Tante Susan itu sangat bodoh, apa kau ingat sudah berapa kali tante Susan berhasil kita bodohi?" ujar Alex yang menjawab pertanyaan Misha dengan nada suara tinggi.
__ADS_1
"Biasa aja dong ngomongnya ga usah ngegas gitu!" ujar Misha yang kesal.
"Sudah teman-teman percayakan semuanya padaku, kalian hanya perlu menjalankan rencana awal, okey."
"Iyah maaf Afmar. Papahmu sudah berangkat sebaiknya kamu bersiap-siap." Seru Alex yang mengingatkan Afmar.
"Baiklah, doakan aku yah."
20 menit kemudian Afmar keluar dari kamar hotel, dan benar saja ia di jaga oleh Susan beserta pengawalnya. namun dengan segera terlintas di fikiran Afmar 1 ide yaitu.
"Tante Susan!" teriak Afmar.
"Ada apa Afmar kok teriak-teriak gitu?"
"Aku kesal sama teman-teman, sekarang aku mau keluar hotel untuk menenangkan diri."
"Tapi, papah bilang kamu harus tetap di hotel."
"Tante Susan memang sama saja seperti teman-teman Afmar, selalu papah-papah dan papah, aku benci tante Susan." ujar Afmar yang mulai menjauh dari Susan.
Susan panik dengan apa yang Afmar katakan padanya. Susan lebih takut untuk di benci Afmar di banding dengan keilangan Afmar, yang pada akhirnya Susan memberikan izin. "Baiklah sayang tante Susan izinkan, tapi sebentar yah jangan lama-lama, atau Afmar mau di temenin tante?."
"Serius? terimakasih tante. Tante memang paling ngerti Afmar, tapi Afmar pengen sendirian dulu, tante ngertikan perasaan Afmar?" ujar Afmar sambil memeluk Susan.
"Eumm yasudah hati-hati, jangan jauh-jauh yah sayang."
"Baik tante, dadah tante." ujar Afmar yang seketika langsung berlari menjauh.
Sesampainya Afmar di lobby ia bergegas untuk keluar hotel karena ia sudah memesan taksi dari 30 menit yang lalu.
"Pak maaf menunggu lama, jalanya sesuai dengan map yang sudah saya kirim yah pak." ucap Afmar kepada supir taxsi.
"Adek ini mau ke kantor perusahaan?" tanya supir taxsi.
"Iyah pak mau susul papah saya." jawab Afmar.
"Oalah, adek ga boleh kabur-kaburan seperti ini nanti mamanya nyariin loh."
"Bunda tidak akan mencariku pak tenang saja, pemilik dari perusahaan yang sedang di tuju itu adalah papahku."
"Apa! berarti saya sedang berbicara dengan anak CEO?" tanya supir taxsi yang terkejut saat mengetahui bahwa Afmar adalah anak dari CEO.
"Iyah pak."
"Wah hebat, sebentar lagi kita sampai ketujuan."
"Iyah pak terimakasih, karena bapak sangat baik padaku, bapak mau di bayar berapa?"
"Ah tidak usah bayar, itung-itung penglaris."
"Bapak ga boleh gitu, bapak aku udah transfer 500k buat bapak." ujar Afmar sambil tersenyum.
"Adek ini sangat baik, terimakasih."
"Sama-sama pak."
Beberapa saat kemudian Afmar sampai ke kantor Arthur.
__ADS_1
Afmar turun dari mobil taxsi, "Terimakasih pak."
"Sama-sama dek." jawab bapak supir taxsi.
Akhinya Afmar sampai ke kantor Papahnya, sekarang waktunya untuk menjalankan rencana.
Afmar masuk ke dalam kantor, namun sialnya ada 2 karyawan yang mengenali Afmar.
"Afmar? apa kamu Afmar?" tanya salah satu karyawan.
"Eh kakak-kakak cantik, Afmar mau nunggu papah di ruangan pribadinya." ujar Afmar dengan bersikap manis.
"Mau kakak antar ke atas engga? kamu lucu banget."
"Ah makasih tapi Afmar bisa sendiri kok, jadi kakak-kakak ini fokus bekerja saja, nanti Afmar kasih tau papah deh buat nambahin gajinya kakak-kakak." bujuk Afmar kepada kedua karyawan papahnya itu.
"Uu... terimakasih Afmar, yasudah hati-hati yah."
"Baik kak." ujar Afmar tersenyum dan kembali berjalan menuju ruangan papahnya.
Bergumam, "Untungnya aku mewarisi wajah polos bunda jadinya mudah bagiku untuk menipu mereka."
Sesampainya Afmar di depan ruangan Arthur ia bergegas membuka pintu dengan berlahan, Afmar tidak menyadari bahwa papahnya sedang ada di dalam, ia mengendap-endap masuk ke dalam ruangan Arthur.
Arthur yang melihat anaknya sedang mengendap-endap merasa aneh, dan keheranan, kenapa Afmar ada di kantornya. Namun kesempatan baginya untuk mempertemukan Afmar dengan Ilona.
Afmar membuka pintu ruangan Arthur dengan sangat berlahan sambil terus bergumam, "Hahaha... aku berhasil masuk ke dalam ruangan papah, sekarang aku harus menemukan barang buktinya."
Arthur yang sudah melihat gerak-gerik mencurigakan dari Afmar pun akhinya memilih untuk memanggilnya.
"Afmar!" Seru Arthur yang memanggil.
Ilona seketika menjawab, "Afmar? benda apa itu?"
Afmar sangat terkejut sampai-sampai badan nya bergetar saat namanya di panggil oleh Arthur. Ia tidak menyangka bahwa ternyata tebakanya itu salah, Arthur sedang berada di dalam ruangan pribadinya bukan di dalam ruangan rapat.
"Aduh... gimana nih, pasti di marahin papah." Gumam Afmar yang ketakutan.
Arthur memanggil Afmar sekali lagi. "Afmar, kemarilah!."
Afmar berbalik, "Emm... ya papah."
Jantung Ilona seketika berdetak kencang saat mendengar suara seorang anak laki-laki yang memanggil Arthur dengan sebutan papah.
"Papah?" sebut Ilona dalam hati.
"Papah!, apa yang sedang kau lakukan bersama seorang wanita?, siapa wanita itu!?" seru Afmar yang membentak Arthur dibalik sofa yang Ilona duduki.
🌻🌻🌻
...♥Bersambung..... lanjutkan ke Bab 10. Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.♥...
づ ̄ ³ ̄)づ
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1