
Di karenakan Ilona adalah sosok wanita yang murah hati, tanpa berfikir panjang lagi iapun langsung memaafkan Susan.
"Susan, kenapa kamu harus meminta maaf?" tanya Ilona.
"Karena kecerobohan ku yang membuatmu harus berada disini." jawab Susan dengan wajah memelasnya.
Ilona menganggap bahwa Susan tulus kepadanya, ia tidak pernah menilai seseorang dengan pandangan yang buruk. "Susan, kenapa kau harus menyalahkan dirimu sendiri? sedangkan dirimu juga ikut terluka, tenanglah aku sudah tidak apa-apa."
"Tapi, kau jauh lebih terluka, maafkan aku Ilona."
"Sudahlah Susan, mau sampai kapan kau terus meminta maaf? emm... bagaimana jika kita makan kue?" Ilona berusaha untuk menghibur suasana, namun seharusnya ia tidak perlu melakukannya.
"Emm... Ilona, kau sangatlah baik." ujar Susan dengan senyuman liciknya.
"Arsitek Ilona, biar aku siapkan kuenya, mohon tunggu sebentar." ucap Adira.
"Eh... baiklah, terimakasih Adira." jawab Ilona.
Adira bergegas mengambil piring-piring kecil untuk menyajikan kue di dapur rumah sakit.
"Astaga... apa hanya aku saja yang sudah menyadari ini? bagaimana dengan tuan Arthur? nyonya Ilona itu memanglah terlalu polos dan mudah untuk di kelabui." gumam Adira.
Sesampainya Adira di dapur, ia bergegas memotong kue dan menaruhnya di piring-piring kecil, ketika Adira sedang memotong kue tiba-tiba salah satu perawat di rumah sakit tersebut masuk ke dalam dapur.
Tak disangka bahwa ternyata perawat yang masuk ke dalam dapur tersebut ialah mantan pacarnya sendiri yang bernama Nadhira.
"Aku tidak begitu pintar dalam hal memotong kue, ini sangatlah tidak rapi." padahal potongannya sangat rapi.
Seorang perawat tiba-tiba masuk ke dalam dapur. "Eh... permisi tuan saya ikut masuk juga."
"Iyah silahkan saja, maafkan aku karena tidak meminta izin dulu." ucap Adira.
"Tidak apa-apa, tuan sedang memotong kue? biar saya bantu." ucap sang perawat yang menawarkan pertolongan.
"Ah... sepertinya kamu terlambat, karena aku sudah selesai memotongnya, yasudah bagaimana jika kamu membantuku untuk membawanya saja, oke?"
"Eh... baiklah."
Adira melirik ke arah sang perawat untuk memintanya membawakan nampan, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah sang perawat.
"Nad~dhira?" ucap Adira.
"Hah?! kamu Adira?" tanya Nadhira.
Seketika pipinya berubah menjadi kemerah-merahan, karena gugup "Iyah... kau bekerja di rumah sakit?"
"Hem, aku sudah bekerja dua tahun disini." jawab Nadhira.
"Emm... sudah cukup lama juga."
"Iyah, sini aku bantu membawanya." Nadhira mengambil satu nampan yang berada di sisi Adira.
"Nad, kita sudah cukup lama tidak bertemu, tiga tahun aku mencarimu ternyata kau ada disini, dan bekerja disini, tidak di sangka."
"Kenapa kamu masih mencari ku? aku sudah pernah bilang, jangan berharap lagi!"
"Aku tau, tapi cinta tidak dapat untuk kamu salahkan."
"Cukup Adira, jangan berharap lagi kepadaku!"
__ADS_1
"Sebaiknya kita cepat mengantarkan kue ini." Adira melangkahkan kakinya keluar dari dapur.
"Emm... baiklah."
Sesampainya mereka di ruangan Ilona, sikap yang di tunjukan oleh Adira begitu berbeda, ia menjadi lebih diam dan murung.
"Kuenya sudah datang." ucap Adira.
"Ah... paman, kau lama sekali!" seru Alex.
"Hehehe... maafkan aku. Alex, bantulah kakak perawat ini untuk membagikan kuenya, paman mau keluar dulu sebentar."
"Kemana?" tanya Alex.
"Di taman belakang rumah sakit." jawab Adira.
"Emm... baiklah, jangan jauh-jauh ingat!"
"Memangnya aku ini anak kecil, sudah sana bagikan kuenya."
Adira pun pergi meninggalkan ruangan rawat Ilona, melewati Nadhira begitu saja dengan raut wajah yang di penuhi oleh kekecewaan.
"Adira, apakah kamu marah dengan ku?" gumam Nadhira di dalam hatinya.
"Kak... kakak, mau bagiin kuenya gak?" tanya Alex.
"Ah... iyah, iyah maaf."
Di taman Adira hanya berdiam diri dan melamun, berfikir bagaimana caranya agar dia dapat bersama kembali dengan Nadhira.
Namun, isi fikirannya bukan hanya soal Nadhira saja, akan tetapi dengn perihal masalah Ilona juga, ia harus secepatnya mendapatkan bukti-bukti untuk memberatkan Susan.
"Terimakasih kakak perawat." ucap Afmar.
"Iyah sama-sama, ini sudah jadi tugas saya." jawab Nadhira.
"Potongannya sangat rapi, apa kakak perawat yang memotong?" tanya Misha.
"Oh bukan, Adira yang memotong..." Nadhira lupa bahwa ia tidak boleh menyebutkan namanya di depan mereka.
"Kakak perawat kenal dengan paman Adira?" tanya Danis.
Nadhira baru menyadari perkataannya tadi. "Eh... maksudku tuan Adira, siapa juga yang tidak akan mengenal tuan Adira, dia sangatlah populer."
"Aku mencium aroma kebohongan disini." bisik Afmar pada Alex.
"Hem... aku juga." jawab Alex.
Di karenakan Nadhira takut salah mengucap lagi, ia pun memutuskan untuk bergegas pergi. "Nyonya, saya permisi dulu, jika ada suatu hal yang terjadi panggil saja saya, perawat nomor 3 Nadhira."
"Baiklah, terimakasih yah." jawab Ilona.
"Sama-sama nyonya." Nadhira bergegas pergi dari ruangan.
"Namanya tadi siapa?" tanya Alex.
"Nadhira." jawab Afmar.
"Emm... baiklah, akan aku beri tanda."
__ADS_1
"Ngapain?" tanya Misha.
"Untuk bahan ancaman paman Adira, hahaha..." jawab Alex.
"Hadeuh, kau sebenarnya kenapa?" tanya Misha sekali lagi.
"Tidak-tidak."
Tidak lama dari itu akhirnya Adira pun kembali.
"Lama sekali." ujar Alex.
"Kau rindu dengan ku?" tanya Adira dengan sedikit candaan.
"Ilona, sebaiknya aku segera kembali ke tempat pembangunan." Susan tiba-tiba menyela pembicaraan.
Adira berkata di dalam hatinya. "Wanita ular ini pasti menunggu ku, bilang aja kali ah mau numpang."
"Kok mendadak? bagaimana dengan keadaan mu sekarang? jangan terlalu memaksakan diri." jawab Ilona.
"Kau tenang saja, aku hanya terluka di kaki."
"Baiklah, tapi kau harus berjanji padaku untuk berhati-hati."
"Baiklah aku berjanji, kamu sangat bawel Ilona, kalau begitu bagaimana jika anak-anak pun ikut bersamaku untuk pulang?" tanya Susan.
Adira melirik ke arah Susan, lalu bergumam kembali di dalam hatinya. "Astaga! benarkan, sudah ku duga akan seperti ini."
Karena Afmar tidak ingin mengundang kecurigaan ia pun bergegas mengatakan 'iyah' sebelum teman-temannya mengatakan yang lain.
"Ah... iyah-iyah, kami akan pulang bersamamu." ujar Afmar yang tergesa-gesa.
"Afmar?" tanya Alex.
Afmar mengedipkan matanya. "Ayo... paman Adira, ayo kita pulang."
"Ouh... okay, Arsitek Ilona kami pulang dulu, dadah." Alex mendorong teman-temannya yang lain untuk segera keluar.
"Dadah... berhati-hatilah di jalan, Adira tolong bantu Susan untuk mendorong kursi rodanya, jaga dia baik-baik." ucap Ilona.
"Siap laksanakan nyonya, kami pulang dulu." jawab Adira.
Susan yang sudah mendengar beberapa kali Ilona di panggil dengan sebutan nyonya pun akhirnya terbakar, Susan berkata di dalam hatinya. "Wanita ******! kau tidak pantas untuk di panggil nyonya!"
ð»ð»ð»
...â¥Bersambung........
...lanjut baca Bab 30 yah! makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.â¥...
Para pembaca boleh koreksi di kolom komentar
Jangan lupa buat like + vote setiap hari senin + favoritã¥ï¿£ ³ ̄)ã¥
Tetap pantengin terus bab-bab selanjutnya yah.
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yahâ€
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1