
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Arthur, apakah kamu belum puas?" tanya Ilona.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah puas, sayang." ujar Arthur.
"Beri aku waktu untuk beristirahat dulu sayang."
"Tidak mau, aku masih ingin."
"Sayang..."
"Apa?" tanya Arthur lagi.
"Kau mau aku sakit? stop dulu sayang, nanti kita lanjut lagi, sekarang sini peluk aja dulu." ujar Ilona yang membujuk.
"Umm baiklah, aku mengalah untuk mu hari ini, tapi tidak dengan ronde selanjutnya, kau harus meminta ampun padaku."
Mengusap kepala. "Iyah sayangku, cayang-cayang."
"Aku mencintaimu, Ilona." ujar Arthur sambil memeluk Ilona.
"Aku juga sangat mencintaimu, Arthur."
"Kau itu hanya milik ku ingat!" seru Arthur.
"Puftt... iyah-iyah aku tau..." ujar Ilona yang sedikit tertawa kecil.
Namun, di saat-saat waktu yang indah itu Adira, tiba-tiba datang dan langsung mengetuk pintu ruangan pribadi Arthur.
Tuk... tuk... tuk... Tuan!
"Adira tuh..." bisik Ilona.
"Ada apa kau mengetuk pintu, Adira?!" tanya Arthur.
Adira pun berbicara dengan nada tinggi di balik pintu ruangan pribadi Arthur. "Tuan! apakah kau lupa hari ini ada pertemuan meeting?"
"Undur saja waktunya, satu jam lagi." ujar Arthur dengan terus memeluk Ilona.
"Tapi, meeting ini sangat penting, Tuan."
"Aku tidak peduli! sekarang yang paling utama adalah aku yang sedang bersenang-senang bersama istri tercintaku."
"Tu-tuan! apakah kau sedang berhubungan di kantor? bagaimana jika cairan lavamu itu mengenai bajumu?" teriak Adira.
"Emang kenapa? mau kena, mau nggak, aku tetap bosmu kan? apa susahnya tinggal ganti aja, disini ada baju cadangan kan? kenapa kamu harus repot gini, Adira."
"Bukankah kau sekalau merepotkan aku, Tuan?! aku hanya tidak ingin baju mu kotor, apakah aku salah?"
"Jelas kau itu salah! berani-beraninya memerintah bos."
"Tuan... kau bisa lanjutkan nanti malah saja okay? sekarang kita pergi meeting dulu." bujuk Adira.
"Ahh... banyak omong kamu, Jomblo!" seru Arthur.
Ilona, langsung mencubit hidung Arthur, cukup keras. "Sayang! ga boleh gitu."
__ADS_1
"A.. aw, sakit-sakit iya maaf-maaf."
"Tuan... kau jahat sekali, aku hanya ingin kau ikut berunding di dalam meeting ini." ujar Adira dengan nada suara yang memohon.
"Yasudah! kau bisa diam dulu tidak?! aku akan merundingkan nya dulu dengan Nyonya." seru Arthur.
Arthur, meneluk Ilona dengan cukup erat, setelah itu ia langsung memperlihatkan sisi manja nya pada Ilona. "Sayang... aku boleh meeting dulu gak? kamu jangan kemana-mana sebelum aku mengizinkan nya. Kau tenang saja Afmar pulang masih lama, kalo soal rumah kau dapat mulai kembali aktifitasnya besok, aku berjanji."
Dengan senyuman tulus Ilona berkata. "Baiklah sayang, aku akan menunggumu disini, tapi aku boleh kan beres-beres berkas?"
Mengusap kepala Ilona. "Boleh sayang, yasudah aku ganti baju dulu terus meeting ya sayang?"
"Baiklah, semangat!" seru Ilona.
Adira, yang sedikit menguping pun langsung kembali memanggil Arthur. "Tuan... apakah, Nyonya sudah memberikan izinnya?"
"Heh kau pasti mengupingnya kan?!" bentak Arthur.
"Et... tidak-tidak, emm... mungkin hanya sedikit." ujar Adira.
Dan seketika pintu ruangan pribadi Arthur pun terbuka. "Baiklah, aku cepat kita ke ruangan meeting. Sayang, aku pergi meeting dulu kau baik-baik disini."
Dengan raut wajah yang terkejut Adira pun langsung dengan spontan mengatakan. "Tuan! kau mengagetkan saja!"
"Jantungmu copot pasti akan lebih bagus." ujar Arthur.
"Tuan-- kau, sangat kejam padaku."
"Nggak ada basa-basi lagi! cepat jalan ke ruangan meeting!" seru Arthur.
"Semangat sayang!" Teriak Ilina dari dalam.
"Hmm... yaudah, tadi katanya ngajak sekarang malah romantis-romantisan lagi, gimana sih?" ujar Adira.
Arthur, langsung kembali mengubah wajahnya menjadi sosok seorang pria yang memiliki sikap yang seratus persen sangat mirip dengan seorang pembunuh bayaran. "Yasudah ayo!"
"Astaga! aku salah bicara!" gumam Adira.
Ilona, yang melihat kelakuan suaminya di dalam pun hanya dapat tertawa kecil, karena dirinya tau bahwasanya Arthur, sangat terpaksa untuk mengikuti meeting tersebut.
"Puftt... arthur, kau kelihatannya sangat tertekan, semangat suamiku kamu pasti bisa." gumam Ilona.
Sekarang yang harus Ilona, lakukan adalah untuk membereskan berkas-berkas yang menurutnya masih berantakan di kantor pribadinya Arthur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali lagi pada Afmar, yang sedang berada di sekolahan nya, ia mulai kembali beraktifitas seperti semula bersama teman-temannya. Namun sayang nya, ada satu anak murid lain yang selalu merasa iri pada kemampuan Afmar.
Setiap harinya ia selalu mengirimkan surat-surat ancaman pada Afmar, namun Afmar hanya terdiam dan berusaha untuk menghiraukan isi dari surat itu, akan tapi berbeda dengan isi surat kali ini.
Nama dari murid itu adalah Lifia, dia adalah siswi perempuan di sekolah yang terkenal karena memiliki paras yang sangat cantik, dan di umurnya yang masih cukup belia, ia sudah menjadi model majalah buku pakaian anak-anak yang cukup terkenal.
"Afmar, apakah kamu tau Lifia?" bisik Alex.
"Aku tau, dia masih sering mengirimiku surat dengan sebuah kata-kata yang mengancam." jawab Afmar.
"Kok dia gitu sih? jangan-jangan dia suka sama kamu Mar." ujar Misha.
__ADS_1
"Ah tidak mungkin, dia hanya ingin mengancam ku karena ia iri dengan kemampuan yang aku punya." ujar Afmar dengan nada suara yang malas.
"Dia masih suka menyimpan suratnya di bukumu?" tanya Danis.
"Iyah... namun tumben sekali hari ini dia tidak memberikan aku surat, padahal kalo kalian tau si Liafia, itu pas kita liburan ke Inggris aja dia masih kirimin surat ke rumah, tapi baguslah jika dia sudah berhenti." jawab Afmar.
"Wah... !!! dia kayanya emang punya dendam pribadi deh, ngga ngerti lagi." seru Misha.
"Ya terserah dialah mau punya dendam atau apa aku ga peduli, emang pada dasarnya dia benci aja mungkin sama aku." ujar Afmar.
"Tapi aku ingin kamu peduli!" seru seseorang di balik pintu keluar.
"Lifia?" ucap Afmar.
"Hey! kau ada keperluan apa datang ke kelas kami?!" seru Misha.
"Iyah... kelas mu kan kelas 4-5 bagian b." sambung Alex.
"Memangnya jika aku berkunjung salah yah?" tanya Liafia dengan nada suara sombong.
"Jangan so cantik deh kamu." ujar Misha.
"Sorry yah, aku emang cantik dan disini urusan ku bukan dengan kalian akan tetapi dengan Afmar."
"Urusan Afmar, berarti urusan kami juga." ujar Danis.
"Cukup!" seru Afmar.
Seketika mereka langsung melirik ke arah Afmar. "Baiklah."
"Lifia, cepat katakan apa yang ingin kamu inginkan." ujar Afmar.
"Sederhana saja Afmar, aku ingin pindah ke dalam kelas ini, akan tetapi syaratnya adalah diantara kalian semua harus ada yang menggantikan aku di kelas 4-5 bagian b."
"Ogah banget! ngapain cuba kamu pengen pindah ke kelas ini?" seru Alex.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan aku akan kabulkan." ujar Afmar. Ia pun langsung bergegas berdiri dan beranjak dari tepat duduknya, setelah itu ia pun langsung maju kehadapan seluruh teman-temannya di kelas, untuk mengumumkan sesuatu.
"Dengar aku semuanya! di kelas ini siapa yang sukarela ingin pindah ke kelas sebelah untuk menggantikan Liafia, aku berjanji kepada siapa saja yang sanggup, aku akan memberinya sejumblah uang, namun hal ini bukanlah sebuah suapan ataupun paksaan, jika tidak ada yang mau... yasudah."
"Afmar!" ujar murid yang duduk di bangku paling belakang.
"A-aku, bersedia pindah ke kelas sebelah." ujar murid wanita itu.
"Baiklah. Lifia, segera uruskan perpindahan kelasmu ke guru, sekarang!" ujar Afmar.
Dengan senyuman licik Lifia kelihatannya sangat bahagia. "Hmm... baiklah, terimakasih."
Bersambung.....................
Jangan lupa untuk like! favorite! share! vote and share!♡(∩o∩)♡
Dengan tatapan sinis Alex menatap Author. "Dih author maksa banget sih."
"Promosi-promosi, xixixi..." jawab Author.
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
__ADS_1
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam