
Di kediaman Sheng.
Ibu dan Ayah Arthur, sedang bersantai meminum kopi di tamana, namun anehnya mereka terus melihat para pekerja rumah yang sepertinya sedang sibuk mempersiapkan sesuatu.
Ayah Arthur, yang merasa sedikit heran pun langsung memanggil salah satu pekerja untuk mendatanginya. "Luci! kemarilah."
Melirik. "Ya tuan, ada apa?"
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, sebenarnya apa yang sedang kalian persiapkan?" tanya Ayah Arthur.
"Apakah tuan dan nyonya besar tidak tahu bahwasanya tuan Arthur akan berlibur?"
Dengan raut wajah yang terkejut seketika Ibu Arthur, langsung menyemburkan kopi yang ada di mulutnya. "Apa?! kok Arthur nggak bilang-bilang sih mau liburan?"
"Eumm... kami juga tidak tau nyonya, karena semua ini secara tiba-tiba."
"Tiba-tiba? maksudmu ini bagaimana?" tanya Ibu Arthur.
"Maksud saya begini nyonya, tadi pagi nyonya Ilona tiba-tiba memerintahkan pada kami untuk mempersiapkan segala keperluannya termasuk dengan tuan Arthur, dan tuan muda Afmar." jawab Luci.
"Astaga... ternyata mereka bertiga sudah sekongkol dari awal."
"Nyonya jangan panik dulu, mungkin saja nantinya mereka akan memberikan rumah ini kabar baik."
"Maksudmu dengan kabar baik?"
"Ya mungkin saja mereka akan membuat sebuah kejutan besar di rumah ini, bisa jadi mereka sudah merencanakan semua ini untuk memberikan nyonya dan tuan cucu kedua."
Seketika mata Ibu Arthur berbinar-binar. "Ah... kau benar Luci, seharusnya aku tidak marah seperti ini. Astaga-astaga Alfred! bagaimana ini?! jika kita memiliki seorang cucu lagi... ahh, itulah hal yang aku tunggu-tunggu selama ini."
"Miranda, cobalah untuk tenang sebentar, kau sangka aku tidak merasa senang?" tanya Ayah Arthur.
"Ya habisnya wajahmu itu datar sekali."
"Miranda, sebenarnya kau itu sudah hidup bersamaku berapa tahun? wajahku memang seperti ini, jangan berlagak seperti anak muda deh."
"Alfred, ya maksudku itu kau seharusnya sangat berantusias atas kabar ini."
"Kabar hamilnya aja belum ada, kalo Ilona sudah hamil barulah aku akan merasa sangat senang. Namun, entah akan memakan waktu berapa lama lagi untuk Ilona dapat hamil kembali dalam jangka waktu yang cukup singkat."
"Ya aku juga tau, jarak Ilona saat mengandung Afmar itu kira-kira sekitar tiga bulan dari hari pernikahan, namun bisa saja sekarang Ilona dapat hamil dengan cepat."
Ayah Arthur, hanya dapat tersenyum lega, dan terlihat jelas di matanya ada sebuah harapan besar yang ada pada dirinya terhadap Ilona. "Ya... kita tunggu saja nanti."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Tak lama dari itu Arthur, Ilona, Afmar, dan Novita pun akhirnya kembali datang ke rumah dengan jarak waktu yang cukup berdekatan.
"Wah... ada rame-rame apa nih?" tanya Novita, yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Dengan sombongnya Ayah Arthur, mengatakan. "Keluarga kecil Arthur, akan berlibur ke pantai selama seminggu."
Seketika raut wajah Novita, berubah begitu saja. Yang awalnya ia sangat senang dapat datang kembali ke rumah, namun semuanya kembali pudar begitu saja setelah ia mulai melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ouh... baguslah, apakah Arthur bermaksud untuk berbulan madu kembali?" tanya Novita.
Dengan senangnya Ibu Arthur pun mengatakan. "Ah... kau itu memang sangat peka Novita, mungkin Arthur bermaksud untuk membuat sebuah kejutan untuk kita."
Hati Novita, seketika hancur mendengar apa yang di katakan oleh Ibu Arthur, padanya. "Hahaha... baguslah kalo begitu, Afmar akan dapat pesaing baru jika adiknya kelak seorang laki-laki."
"Perusahaan Sheng itu besar dan sangat berpengaruh, Afmar pasti akan mendapatkan bagian yang lebih besar di banding dengan adiknya kelak." ujar ayah Arthur.
"Ayah, bukan seperti itu konsepnya..." Novita, yang baru saja ingin menjelaskan seketika langsung di sela oleh ayah Arthur.
"Kau sebaiknya diam saja! jangan ikut campur dengan masalah keluargaku, ini adalah keluargaku maka aku berhak sepenuhnya untuk memutuskan."
Novita, hanya dapat terdiam dan kembali berfikir. "Jika seperti ini rencanaku akan hancur begitu saja! Ilona, aku tidak mengizinkan mu untuk hamil! pokoknya aku harus mengikuti mereka berlibur."
Tak lama dari itu Arthur pun datang bersama anak dan istrinya dengan aura kegembiraan. "Kami pulang..."
"Umm cucu kesayangan nenek sudah pulang, apakah kamu merindukan nenek sayang?" ujar ibu Arthur.
"Tentu saja!" ujar Afmar, yang langsung memeluk erat neneknya.
"Afmar, jangan keras-keras peluk neneknya." ucap Ilona, yang mengingatkan.
"Ups... maaf nenek."
"Tidak apa-apa sayangku. Kamu pasti laparkan?" tanya nenek.
"Emm... eumm..." Afmar, menganggukan kepalanya.
"Baiklah nenek akan siapkan, akan tetapi tunggu dulu sebentar, karena nenek ingin berbicara sebentar dengan papah nya Afmar."
"Baiklah nenek, Afmar ganti baju dulu yah." ujar Afmar, yang langsung bergegas pergi untuk mengganti bajunya.
"Arthur, kenapa kamu tidak memberitahu ibu soal ini?" tanya Ibu Arthur.
"Ini semua kejutan untuk ibu dan ayah, memangnya kalian tidak ingin dapat cucu lagi?" jawab Arthur.
"Tentu saja kami mau!" seru ibu Arthur.
__ADS_1
"Halah... cuman ngelakuin hubungan s*x aja harus keluar, di rumah aja bisakan?" ujar Novita, yang tiba-tiba ikut menjawab.
"Novita, kamu tidak boleh seperti itu. Tentu saja berbeda jika di rumah suasana nya akan tetap sama dengan hubungan yang selanjutnya, namun ketika bertujuan untuk memiliki seorang anak, tentu saja suasana nya harus jauh lebih berbeda." ujar Ibu Arthur.
"Tetap saja ibu, apakah ibu tidak ingat Ilona itu membutuhkan waktu yang lama untuk hamil, buang-buang uang saja."
Ilona, hanya dapat merenungkan apa yang di katakan oleh Novita. "Eumm... Arthur, apa yang di katakan oleh Novita itu benar, apakah sebaiknya kita batalkan saja?"
"Jangan bertindak lemah seperti itu, kau itu adalah nyonya di rumah ini sedangkan Novita? dia hanya sebatas tamu yang berkunjung." ujar Arthur, yang berusaha membangkitkan kembali semangat yang ada di dalam diri Ilona.
"Eumm... iyah, kamu benar."
Arthur, mengusap kepala Ilona dengan halus. "Jangan mudah terpengaruhi dengan apa yang di katakan oleh orang sayang."
"Iyah sayang, maaf."
"Ayah, Ibu, Novita, dan untuk seluruh nya, aku harap diantara kalian tidak ada seorang pun yang berniat untuk mengganggu kami saat berlibur, ataupun mengikuti kami hingga sampai tujuan. Jika terdapat penghianatan diantara kalian, jaminan nya adalah kalian tidak akan pernah menemukan kami lagi selama sepuluh tahun." ujar Arthur, yang berterus terang.
"Hahaha... lagian kami sih nggak akan pernah ngikutin kalian. Berdua bersama ibumu di rumah sebesar ini mengingatkan ayah ketika masih muda dahulu." jawab Ayah Arthur, dengan bangga.
"Huu... katanya tadi jangan seolah seperti anak muda, tapi sendirinya." sindir Ibu arthur.
Ayah Arthur, langsung menggengam tangan istrinya dengan erat. "Sudah-sudah jangan di bahas lagi, ayo kita ke dapur Afmar udah nunggu loh!"
Dengan raut wajah yang malu Ibu Arthur, hanya dapat tertawa. "Hahaha... baiklah, Arthur persiapkan lah semuanya dengan baik."
Tidak tinggal disitu saja, Arthur pun segera menggendong Ilona di hadapan Novita, dan pergi begitu saja meninggalkan nya sendiri tanpa berkata apapun.
Heup.....
"Ayo sayang." ujar Arthur, yang menggendong Ilona di pangkuannya.
Novita hanya dapat terdiam dan membungkam diri, karena apa yang harus dia lakukannya sekarang? semuanya seketika hancur. Namun bukan Novita namanya jika tidak pernah mencari cara lain.
Bersambung.....................
Suport terus novel papa merindukannya yah!
...(。’▽’。)♡...
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1