
Ilona, segera berbaring di kamar dan beristirahat karena sekarang kepalanya mulai terasa pusing. Arthur, pun mau tidak mau harus tetap menjaga Ilona, di karenakan Ilona, yang menolak pergi ke dokter.
"Sayang, apakah kamu yakin tidak mau pergi ke dokter?" tanya Arthur.
"Iyah bunda, di temenin Afmar kok jadi bunda jangan takut kalo nantinya di suntik." sambung Afmar, dengan gaya lucunya.
"Hahaha... kalian ini, bunda gapapa kok, tenanglah." jawab Ilona.
"Jadi mau ke dokter ga?" tanya Arthur, sekali lagi untuk meyakinkan.
"Sayang, sudah berapa kali kamu bertanya? aku akan tetap bilang tidak." jawab Ilona.
"Afmar, lihatlah sikap bunda mu ini, sangat miripkan dengan sikapmu?"
"Eum... gapapa dong. Afmar, kan anak bunda."
"Ah... terserah aja deh, pusing papah."
namun tiba-tiba pelayan datang dan membawakan kue yang tadi Ilona, pesan. Ilona, sebenarnya lupa untuk memberitahu waktunya pada pelayan tersebut untuk mengantarnya.
Tuk... tuk...
"Siapa?" tanya Afmar.
"Pesanan kue datang, tercantum nama pemesan adalah nyonya Ilona Sheng."
"Astaga! gawat! gawat! seharusnya datangnya malem! astaga Ilona, kamu saja lupa memberitahu pelayan nya." ujar Ilona, di dalam hatinya.
Seketika Ilona, langsung berdiri dan melupakan rasa pusing nya. "Eum... pesanan bunda, biar bunda yang ambil."
__ADS_1
"Nyonya Ilona?" tanya sang pelayan.
"Iyah benar." jawab Ilona.
"Kuenya saya antar sekarang saja ya nyonya, karna nyonya tidak memberitahu kapan di kirimnya."
"Ah... iyah gapapa, salah saya sendiri, seharusnya malam."
Menundukan kepala. "Maafkan saya nyonya! tapi semoga kuenya bagus dan nyonya suka."
"Iyah tidak apa-apa, terimakasih." ujar Ilona.
"Kue! kue! yey kue!" seru Afmar.
"Kamu yah gak kenyang kenyang apa makan terus?" tanya Arthur.
"Oh tentu tidak, perut ini masih cukup ruang." jawab Afmar.
"Baik papah!"
Ketika Afmar, hendak mengambil semua barang yang di perintahkan oleh Arthur di dapur ia dengan tidak sengaja menjatuhkan kotak perhiasan Ilona, yang berisikan tespek di dalamnya. Sehingga terpek tersebut terjatuh, dan Arthur yang melihatnya pun dengan segera langsung mengambilnya.
Prak... !!!
Seketika Ilona, langsung berbalik badan dan melihat kotak perhiasan nya jatuh dan terbuka. "Astaga! Afmar, kamu hati-hati."
"Sebentar ini apa?" ujar Arthur, yang hendak meraih tespek.
Ilona, yang panik berusaha untuk mengambilnya, namun tegana Arthur, lebih besar dari pada Ilona. "Bukan apa apa! cepat kembalikan!"
__ADS_1
"Diam Ilona..." dan Betapa terkejutnya ia ketika melihat tespek yang memiliki garis dua di dalamnya, Arthur sempat terdiam, namun seketika ia langsung memeluk Ilona dengan sangat erat.
...
"Ilona! apakah ini benar? kenapa kamu malah mau menyembunyikan nya lagi dariku? aku malah takut kejadian dahulu terulang, sayang apakah ini sungguhan?" tanya Arthur, yang langsung memeluk Ilona, dengan erat.
Dengan gugup Ilona, menjawab. "Iyah sayang, maafkan aku. Awalnya aku akan membuat sebuah kejutan untukmu, dan Afmar, lalu sebenarnya kue ini bertulisan 'Im pregnant' sekali lagi aku meminta maaf padamu."
Afmar, yang tidak tahu apa-apa hanya dapat terdiam. "Sebenarnya ada apa ini? kenapa kalian berdua tiba-tiba berpelukan dan menangis?"
Ilona, dan Arthur, pun tersenyum lalu mengatakan. "Afmar, apakah kamu tau? hal yang di inginkan oleh Afmar selama ini telah terwujud."
"Hah? keinginan apa papah?" tanya Afmar sekali lagi.
Arthur, langsung memegang perut Ilona, dan seketika Afmar mengerti maksud dari itu. Afmar, langsung tercengang saat mengetahui kode yang di berikan oleh papahnya itu, ia sangat tidak percaya akan secepat ini sampai-sampai ia menangis mengetahui bundanya sudah positif hamil.
"Hah?! bu-bunda hamil? a-ada bayi nya? hua..." ujar Afmar, yang bertanya pada Arthur dengan air mata yang sudah tak sanggup lagi ia bendung.
"Iyah sayang bunda lagi ngandung adiknya Afmar." jawab Ilona.
Dan di situlah Arthur mengetahui sebab Ilona, merasa mual.
Bersambung.............
Jangan lupa Like + Komen + Vote + Share❤
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1