
Arthur, pun langsung bergegas menggendong Ilona ke kamar, namun sepertinya pemandangan itu tidak di sukai oleh Novita. Walaupun Novita, sepertinya sangat keberatan dengan apa yang ia saksikan, akan tetapi dirinya kembali tenang karena, Afmar dan Ibu Arthur berada di pihaknya.
Sayangnya hal yang sebenarnya terjadi adalah Afmar, pun sepertinya mulai menghawatirkan keadaan bundanya dengan kedatangan Novita yang begitu mendadak.
"Novita, maafkan sikap Arthur yang sangat tidak sopan tadi." ujar Ibu Arthur.
Dengan secara tiba-tiba Ayah Arthur, menyela. "Tidak sopan dari mananya?! apa yang di lakukan oleh Arthur, sudah benar kok, yang salah itu Novita."
"Kamu ga boleh ngomong gitu dong sama Novita, gimana pun Novita kan tetap akan menjadi teman Arthur walau dia sudah menikah, apakah kamu lupa Novita lah yang ikut membantu kita untuk merawat Afmar."
"Iyah, tapi Ayah tau kalo sebenarnya Novita itu cintakan sama Arthur? makanya dia rela bantuin kita buat rawat Afmar. Sudahlah lanjutkan saja Ayah tidak mau ikut campur dalam pembicaraan kalian." ujar Ayah Arthur, yang seketika langsung berbalik badan untuk kembali ke dapur.
"Novita, sekali lagi Ibu minta maaf yah." bisik Ibu Arthur.
"Iyah bu, semua ini tidak ada masalahnya bagiku." jawab Novita.
"Kau itu memang anak yang baik, Novita." puji Ibu Arthur.
"Terimakasih Ibu." ucap Novita dengan senyuman piciknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar.
Ilona, masih dalan keadaan menangis di atas pangkuan Arthur, kasih sayang Arthur terhadap Ilona seketika terpancar jelas lewat perhatiannya.
Cintanya begitu besar kepada Ilona, dan cintanya akan terus mengalir deras di dalam kehidupan Ilona. Ilona, adalah wanita yang selalu melengkapi kekurangan dari pasangan, begitupun sebaliknya, mereka berdua adalah contoh pasangan yang serasi.
Ilona, selalu sabar, dan terus mempercayai Arthur walau terkadang di kecewakan. Arthur, sebagai laki-laki yang baik dan mengerti perasaan wanitapun akhirnya sibuk untuk terus berusaha menjadi jauh lebih baik lagi.
Di dalam sebuah hubungan tidak di perkenankan untuk menyalahkan satu pihak. Jika sudah menjadi pasangan terimalah segala kekurangannya, dan lengkapilah kekurangan itu, jika membuat kesalahan jangan pernah saling menyalahkan akan tetapi saling memperbaiki satu sama lain.
Introspeksi diri, jika kalian salah minta maaflah, jangan pernah canggung atau gengsi untuk meminta maaf, karena saling memaafkan adalah kunci kebahagiaan dalam sebuah hubungan.
"Adira, apakah semuanya sudah kau bawakan ke dalam kamar?" tanya Arthur.
"Sudah tuan." jawab Adira.
"Baiklah terimakasih, kau boleh keluar sekarang."
"Baik tuan, saya izin keluar." ujar Adira yang mulai meninggalkan kamar.
"Baiklah." jawab Arthur.
"Sa-sayang..." ucap Ilona, dengan suara yang masih tersedu-sedu.
__ADS_1
"Apa sayangku? akhirnya kamu mengangkat wajahmu itu dari bahuku."
"Kenapa kamu membawakan aku semua ini?" tanya Ilona, yang merasa heran sekaligus senang.
"Apakah kamu suka dengan warnanya? selain bunga, coklat dan kue, akupun punya satu hadiah lagi untukmu."
Ilona, kembali memeluk Arthur dengan erat. "Sayang... terimakasih atas semua hadiah ini, aku sangat suka."
"Cium dulu dong kalo suka." ujar Arthur, dengan menyodorkan pipinya.
Ilona, tersenyum dan segera mencium pipi Arthur. "Mmm... muah... udah yah."
"Umm sayang, yaudah nih buka kado satu lagi." Arthur, memberikan kotak perhiasan yang tadi ia beli kepada Ilona.
"Apanih..." ujar Ilona, yang semakin kepo.
"Buka aja dulu nanti juga tau, kebiasaan..."
"Iyah maaf-maaf, maaffin yah..."
Mencubit hidung secara berlahan. "Um... iyah bawel, udah cepet buka aja dulu. Gitu dong senyum jadikan ga jelek."
"Aku kan ga jelek, aku cantik tau!"
"Ihh kamu mah gitu! Astaga... !!! Arthur." seru Ilona yang terkejut.
"Hahaha suka gak?" tanya Arthur, yang ingin tau pendapat Ilona tentang perhiasan yang ia pilih.
"Bagus banget! agrh... makasih, maaffin jadi repotin." peluk Ilona dengan erat.
"Sama-sama sayang, kamu ga repotin kok. Yaudah kalo begitu apakah kamu sudah siap untuk mendengar cerita tentang aku dan Novita? maafkan aku karna belum sempat untuk menceritakannya padamu."
"Em... baiklah aku siap." jawab Ilona.
"Oke, jadi Novita itu adalah teman masa kecilku dari semenjak duduk di bangku sekolah dasar, kami memang selalu bersama sampai akhirnya kami lulus sekolah menengah akhir__" tiba-tiba Ilona, menyela pembicaraan Arthur.
"Aku tidak butuh informasi itu, aku hanya butuh informasi seperti apa hubungan kalian dahulu."
"Yaudah okey sayang, hubungan kami awalnya baik-baik saja, namun semuanya seketika berubah ketika Novita menyatakan cintanya padaku, jujur memang akupun dulu sempat menyukai Novita, akan tetapi itu hanya masa lalu."
"Apakah kamu masih mencintainya sampai sekarang? apakah dia cinta pertamamu?" tanya Ilona, yang tergesa-gesa.
"Ya mungkin bisa di sebut dia cinta pertamaku, dulu aku menyukainya karna dia sosok wanita yang menurutku bagus untuk menjelaskan sesuatu, kami pun sempat membuat sebuah komitmen__" lagi-lagi Ilona, kembali menyela.
"Ko-komitmen? berarti kalian sudah serius?" tanya Ilona, dengan hati yang penuh dengan rasa cemburu.
__ADS_1
"Sayang, tenanglah... aku hanya mencintaimu seorang, bagiku dia hanyalah masa lalu yang harus di lupakan."
Air mata yang sudah tidak dapat Ilona bendung lagi pun akhirnya menetes ke atas pipinya. "Kau bisa katakan itu sekarang, tapi jika dia terus disini aku takut kau akan jatuh cinta kembali padanya! entah selama aku pergi hubungan kalian seperti apa? aku tidak tahu, tapi Afmar begitu sangat menyayangi nya dan itu yang membuatku begitu merasa cemburu."
Arthur, memeluk Ilona dengan erat. "Sayang, aku hanya milikmu seorang percayalah, dan Afmar itu adalah anak kitakan? dia juga milik kita."
"Aku merasa bahwa dia lebih cantik dari pada diriku Arthur, pantas saja kau menyukainya."
"Sayang, percayalah aku itu hanya milikmu."
"Novita lebih cantik dari pada diriku, dia sepertinya begitu mengerti dirimu di banding aku, dia pun kelihatannya sangat tidak menyukaiku yang berada di sampingmu, aku melihatnya dari sikap yang ia tunjukan padaku."
"Ilona, berhentilah berbicara untuk membandingkan dirimu dan diri Novita!"
"Arthur! apakah aku salah untuk merasa cemburu?! siapa yang salah? kenapa kau baru menceritakannya? tapi yasudahlah aku sudah memaafkan mu." bentak Ilona.
"Sayang, jika kamu sudah memaafkan diriku mungkin kamu tidak akan bertindak seperti ini." ujar Arthur.
"Aku bertindak seperti ini karna hanya dirimu yang kembali padaku, sedangkan Afmar? Afmar, masih ada di sampingnya! Ibu mana yang kuat melihat anaknya lebih dekat bersama teman wanita ayahnya?!" seru Ilona.
Arthur, kembali memeluk Ilona dengan erat. "Sayang... sayang, tenangkan dirimu okay? aku pasti akan membawanya malam ini untuk tidur bersama kita, okay?"
"Kau harus berjanji Arthur." ujar Ilona.
"Aku berjanji." jawab Arthur.
Ilona, pun memeluk balik Arthur dengan rasa percaya dan tenang. "Baiklah."
Afmar, sebenarnya sudah mulai resah dengan kedatanagan Novita ke dalam rumahnya, yang ia sangka akan baik-baik saja ternyata realitanya malah sebaliknya. Afmar pun sebenarnya melihat kesedihan di mata Ilona, namun Afmar hanya dapat terdiam untuk sementara waktu.
Mungkin kedepannya Afmar, akan lebih dapat mengendalikan perasaan yang ada di dalam hatinya, dan dapat kembali memilih diantara salah satunya.
Bersambung..................
Lanjutkan ke bab selanjutnya! semakin tegang duh...
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
Author, mau kasih rekomendasi novel bagus nih, jangan lupa mampir yah, dan jangan lupa share...
__ADS_1