Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 43 Akhirnya


__ADS_3

"Aku bisa sendiri Susan." ujar Arthur.


"Tidak... kau tidak bisa berjalan sendiri, biar aku bantu."


"Kenapa kamu begitu baik padaku Susan?"


"Karna aku mencintaimu, melebihi cinta yang Ilona miliki padamu. Selama 10 tahun ini aku selalu berada di sampingmu, membantumu dan aku pun mencintaimu karna itu."


"APA! wanita ular itu malah menyatakan cintanya!?" seru Adira.


"Paman! stt... nanti kedengeran." ujar Danis.


"Susan, kau tadi bilang apa? aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas." ujar Arthur dengan sandiwaranya.


"Tidak, yasudah ayo kita ke mobil."


"Emm... baiklah, terimakasih sudah mau membantuku."


"Tidak apa-apa, kau tidak perlu sungkan padaku."


"Sekali lagi terimakasih."


"Sama-sama Arthur."


"Sebenarnya kau itu baik Susan, namun sayang logika yang kamu miliki hanya sekedar selembar kertas, yang sangat rentan jika terkena air." ujar Arthur di dalam hatinya.


"Arthur, apakah kamu baik-baik saja? apakah masih panas?"


"Eum... iyah Susan, aku semakin panas."


"Sebentar lagi kita sampai parkiran, tolong bertahan sebentar lagi."


"Iyah Susan, kau tenanglah aku hanya sedikit kecapean."


Sesampainya mereka di parkiran Susan yang takut di curigai banyak orang pun bergegas membawa Arthur ke dalam mobil, itu semua ia lakukan karna menganggap Arthur benar-benar sedang dalam pengaruh obat.


Ketika mereka berdua akan naik ke dalam mobil, Arthur dengan secara tiba-tiba memaksa ingin menyetir, namun karena Susan tidak mempercayai Arthur dapat menyetir dengan baik ia pun memutuskan untuk membuat Arthur duduk di kursi belakang.


"Sampai." ujar Susan.


"Susan, bisakah kamu bukakan pintu mobil untuk ku?" tanya Arthur.


Susan pun membukakan pintu belakang untuk Arthur. "Ayo Arthur, naik."


"Kenapa kamu malah membukakan pintu penumpang? aku akan menyetir di depan."


"Kau sedang sakit, biarkan aku saja yang menyetir, kau istirahat saja di belakang."


"Tidak mau, aku tidak apa-apa biarkan aku saja yang menyetir, aku masih kuat kok." Arthur tetap membantah Susan dengan nada suara yang mendayu-dayu.


"Jangan berbohong dariku! sudah cepat masuk ke dalam."


"Aku tidak mau!" bentak Arthur.


Susan pun bergegas membujuk Arthur untuk mau masuk ke dalam mobil. "Arthur, kenapa kamu membentak ku? aku hanya takut kamu kenapa-napa."


Arthur memasang wajah merasa bersalah. "Ma~maafkan aku, Susan."


"Tidak apa-apa, tetapi aku ingin kamu duduk di kursi belakang."


"Kau benar-benar takut aku terluka?"

__ADS_1


"Iyah, aku sangat takut Arthur, biar aku saja yang menyetir okey?"


"Eumm baiklah."


Susan pun membantu Arthur untuk naik ke mobil. "Aku bantu kamu naik okey, pelan-pelan saja."


Ketika Arthur sudah ada di dalam mobil, ia pun langsung menarik tangan Susan cukup keras sehingga tubuh Susan terjatuh di atas tubuhnya. "Susan..."


Bruk....


Susan terjatuh ke atas tubuh Arthur, dengan wajah panik Susan pun langsung melepaskan pegangan tangan Arthur. "Arthur, lepaskan!"


"Emm... maafkan aku." ujar Arthur dengan raut wajah murung.


"Tidak apa-apa, kau baik-baik disitu, okey?"


"Okey Susan."


Susan pun bergegas masuk ke dalam mobil untuk menyetir. Di dalam perjalanan tiba-tiba hati Susan merasa sangat senang walau ia sebenarnya sedikit grogi.


"Obatnya seolah membuat Arthur seperti seseorang yang sedang mabuk, tapi kenapa dia begitu agresif padaku? kemungkinan karna sudah 10 tahun lamanya ia tidak berhubungan." gumam Susan.


"Susan, kau sudah masuk ke dalam jebakan ku, kamu itu terlalu naif. Susan, berfikirlah jika aku memang bejad setiap malam mungkin aku akan tidur bersama dengan seorang wanita pelacur. Cintaku kepada Ilona tidak akan pernah pudar sedikitpun." ujar Arthur di dalam hatinya.


"Arthur, apakah kau baik-baik saja?" tanya Susan.


"Eum... aku baik-baik saja Susan, kau tenanglah." jawab Arthur.


Di sisi lain Adira dan Danis langsung bergegas mengambil jalan pintas untuk dapat lebih dulu sampai ke hotel yang Susan tuju.


"Paman, kita mau kemana? kok malah duluin mobil paman Arthur?" tanya Danis.


"Kita akan ke hotel." jawab Adira.


"Danis... bukan hotel tempat kita menginap, akan tetapi hotel yang sudah Susan pesan untuk malam ini."


"Hah! lalu kau tau dari mana informasi tempat hotelnya!?" seru Danis yang terkejut.


Adira mengambil handphonenya. "Nih.. coba kau lihat ke chat whatsapp tuan Arthur."


"Wah... hebat sekali, paman Arthur sempat-sempatnya bisa mengambil kartu hotel itu di saat tante Susan terjatuh di atas tubuhnya tadi, aku benarkan?"


"Hmm... kau pasti membaca chatku yang berada di bawah foto kartu hotel itukan?"


...**Isi chat whatsapp...


Arthur: (Mengirim sebuah foto kartu hotel).


^^^^^^Adira: Wah tuan! kau sangat pintar mengambil kartu hotel itu dari sakunya di saat Susan terjatuh di atas badanmu tadi:3**^^^^^^


"Hehehe... tapikan itu benar." ujar Danis.


"Terserah kamu sajalah, rencana selanjutnya adalah kita akan menyamar di hotel, kau siap?"


"Pasti siap, paman!" jawab Danis dengan penuh semangat.


Kembali lagi ke sisi Arthur dan Susan.


Susan pun memutuskan untuk menelfon Sista karena ia ingin memberinya sebuah kabar baik.


Memanggil.... Berdering....

__ADS_1


...Percakapan di dalam telfon...


"Halo Sista."


^^^"Ada apa sekertaris Susan?"^^^


"Kamu dimana?"


^^^"Saya masih berada di tempat pembangunan bersama dengan anak-anak."^^^


"Pantas saja kamu menjadi sangat formal, kenapa kalian tidak pulang? aku masih dalam perjalanan ke hotel."


^^^"Eumm, sepertinya anak-anak ingin menunggu sampai tuan Arthur datang."^^^


"Sial... lalu bagaimana? Arthur akan bersamaku semalaman."


^^^"Saya akan membujuknya."^^^


Arthur tetap terus memperhatikan Susan dengan seksama, ia memang tidak tau dengan topik yang sedang mereka bicarakan, namun ia tau Susan sedang menelfon Sista.


Arthur pun memiliki ide untuk mengganggu Susan, yaitu dengan cara berbicara. "Susan! kau sedang menerima telfon dari siapa? tolong besarkan AC nya aku sangat merasa kepanasan disini."


Sista yang mendengarnya begitu terkejut sehingga ia hampir keceplosan berbicara selamat kepada Susan.


^^^"Susan! maksudku... Sekertaris Susan, selamat atas keberhasilannya."^^^


"Hahaha... kau hampir saja keceplosan Sista. Oh yah Sista, sebenarnya kau membeli obat yang seperti apa sih? obat itu hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk bereaksi."


^^^"Tentu saja saya harus membeli barang yang memiliki kualitas sangat tinggi untuk Sekertaris Susan, agar semuanya lancar hahaha..."^^^


"Sudah, jangan terlalu banyak bicara, karena jika kau terlalu banyak berbicara Afmar akan segera bertanya setelah telfon ini di tutup, dan kau pun tau Afmar itu sangat cerdik."


^^^"Iyah saya tau... baiklah semoga lancar, saya izin mematikan telfonnya, nikmati malam ini Sekertaris, Susan."^^^


"Hahaha... baiklah, terimakasih."


^^^"Sama-sama, sekertaris Susan."^^^


Tut..........


"Sista... Sista... kau bisa saja membuatku malu." gumam Susan.


"Susan, tolong besarkan AC nya!" seru Arthur.


"Ah... iyah baiklah, maafkan aku yang telah mencampakan mu tadi."


"Susan jahat! tapi aku sudah memaafkan mu." lagi-lagi Arthur berbicara dengan suara yang mendayu-dayu


Susan tersenyum licik lalu bergumam. "Heuhh... kau akan menjadi milikku malam ini, Arthur!"


...Bersambung...................


Jangan lupa untuk melanjutkan ke bab 44 yah!


Tetap suport dengan cara Like, Favorit, dan Vote setiap hari senin.


Jika ada pemasukan ide silahkan tulis di kolom komentar. So jangan ketinggalan bab selanjutnya♡(∩o∩)♡


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam

__ADS_1



__ADS_2