
"Ilona, aku sangat membencimu! mungkin untuk sekarang kamu adalah istrinya, dan kamu sangat beruntung Arthur masih mencintaimu. Namun Ilona, kamu jangan senang dulu!." Gumam Susan yang benar-benar di buat kepanasan oleh Ilona.
Susan, yang tak kuasa menahan amarah nya lagi pun memilih untuk pergi meninggalkan tempat dimana ia menunggu Arthur, tepatnya di kursi tunggu yang berada di depan pintu ruangan pribadinya Arthur.
Susan memutuskan untuk menunggu di ruangan pribadinya sendiri.
"Sista!" Susan memanggil asistenya dengan nada tinggi.
"Ya, ada apa bu? apakah ada masalah besar?" Tanya Sista yang terkejut.
Susan berjalan ke arah meja kerjanya. Bukan nya mendapatkan ketenangan setelah duduk melainkan ia mendapatkan emosinya yang semakin membesar, matanya memancarkan kemarahan, dan raut wajah yang menunjukkan kebencian. "Si brengsek itu!"
"Kamu sepertinya sangat marah, apa yang terjadi?" tanya Sista.
"Wanita ****** itu! benar-benar membuatku kesal, dia bisa-bisanya mendekati Afmar dengan semudah itu, padahal Afmar di kenal sebagai anak yang paling sensitif jika Arthur di dekati oleh wanita, namun kenapa Ilona dapat semudah itu mendapatkan nya?"
"Emm... tapi Ilona adalah ibu kandungnya kan? aku pernah membaca sebuah kiasan isinya itu adalah sosok seorang ibu, dan anak itu biasanya memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mungkin karena itu Afmar dapat lebih cepat menerimanya."
"Itu hanya kebetulan saja Sista! aku tidak akan membiarkan Ilona mendekati Afmar sekalipun ia itu adalah ibu kandungnya. Aku lebih pantas untuk menjadi ibunya, dan Ilona hanyalah wanita perantara untuk melahirkan Afmar saja. Arthur hanya bisa hidup dengan ku saja! tidak dengan Ilona." ucap Susan yang tetap mengukuhkan pendirian nya.
"Lalu, apa yang ibu ingin lakukan selanjutnya?"
"Sista sudah ku bilang jangan panggil ibu jika kita benar-benar hanya berdua, ingat kita adalah teman!. Aku belum memikirkan rencana apapun, bantu aku untuk memikirkan nya."
"Ini mungkin sangat bahaya, namun ini dapat menjadi sebuah skandal drama yang sangat bagus." ujar Sista dengan senyum liciknya.
"Apa itu? sebutkan sekarang! jangan buat aku menunggu, aku percaya rencanamu itu selalu bagus." Susan merasa terhibur dengan Sista yang memiliki sebuah rencana.
"Aku mempunyai sebuah rencana, namun hal ini mungkin akan membuatmu sedikit terluka. Rencananya adalah... jatuhkan dirimu sendiri ke tangga bersama Ilona..." tiba-tiba Susan menyela Sista berbicara.
"Kau gila!? kalau begitu bukan hanya Ilona yang mati, tetapi dengan ku juga!" seru Susan.
"Kau tenang saja Susan, aku punya caranya."
"Yasudah, sebutkan sekarang! aku akan melakukan."
"Baiklah, yang pertama kau harus berada tepat di belakang Ilona, buatlah seolah kakimu itu terkilir, setelah itu dorong Ilona sekuat tenaga dan jangan lupa jatuhkan juga dirimu untuk meyakinkan Arthur bahwa insiden yang telah terjadi adalah benar-benar kecelakaan bukanlah sebuah perencanaan, dengan begitu Ilona akan mendapatkan luka yang lebih parah di banding dirimu, karena kamu tepat di atas badan Ilona pada awalnya."
Prok... prok... prok...
"Good idea Sista." Susan bertepuk tangan untuk rencana yang di buat oleh Sista dengan waktu yang cukup singkat.
"Terimakasih, Susan." jawab Sista dengan senyuman liciknya lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu, sekarang aku akan kembali menunggu mereka beranjak dari ruangan pribadi Arthur, karena sebentar lagi adalah waktu untuk pergi ke proyek pembangunan." ujar Susan yang mulai tidak sabar.
Disisi lain ruangan, yaitu di dalam ruangan pribadi Arthur. Ilona sedang menemani anak dan teman-temannya bermain, Ilona adalah sosok wanita yang baik hati, lembut dan sangatlah ke ibuan, itulah yang membuat mereka semua nyaman ketika bersamanya.
Ilona menemani mereka bermain boneka, mobil, dan berbincang-bincang sebentar, namun sepertinya waktu telah menandakan kepergian Ilona ke kantor, ia harus pergi ke proyek pembangunan untuk bekerja.
"Nyonyo Sheng, ini sudah cukup lama kamu menemani mereka bermain." ucap Arthur yang mulai bosan.
"Iyah... iyah... sabar dong." jawab Ilona dengan santai.
"Sebaiknya kamu cepat Ilona, kalau tidak kita akan sangat terlambat." seru Arthur yang memperingatkan.
Ilona beranjak dari tempat duduknya dan mencubit pipi Arthur. "Tuan Sheng ini bawel sekali yah."
"Nyonya, kamu menantangku?" tanya Arthur.
"Menantang apa?" Ilona kembali bertanya kepada Arthur.
Arthur membisikan kata sesuatu, "Kau sudah mencubit pipiku di hadapan anak-anak, apa kau menantangku untuk mencium mu di depan anak-anak?"
"T... tidak! maksudnya bukan begitu, astaga Arthur!" seru Ilona dengan wajah yang mulai memerah.
"Hahaha, aku hanya bercanda Ilona, tenanglah."
"Emm... anak-anak, bunda pergi dulu kerja yah, kalian hati-hati di sini, ingat jangan keluar dari kantor!" Ilona memperingati Afmar dengan teman-teman nya.
"Hahaha... baiklah, bunda sama papah pergi dulu yah, dah." Ilona dan Arthur segera beranjak meninggalkan ruangan pribadinya.
Susan sangat senang melihat Arthur telah keluar dari ruangan pribadinya bersama Ilona, karena itu adalah sebuah tanda bahwa rencana yang ia buat akan segera terwujud.
"Susan!" panggil Arthur.
"Akhirnya dia memanggilku." gumam Susan.
Arthur bersama Ilona keluar dari ruangan, namun saat Arthur akan berbicara pada Susan handphonenya tiba-tiba berbunyi.
Dring... dring...
"Eum... sebentar aku angkat telfon dulu." Arthur pergi ke sisi lain tempat untuk berbicara di telfon.
Susan berbicara dalam hati: 'Sangat bagus Arthur, kau memberiku beberapa waktu untuk mengobrol sebentar dengan Ilona untuk mengalihkan fikirannya.'
"Ilona, apa kamu sudah sarapan?" Susan yang berusaha untuk basa basi.
__ADS_1
"Oh... kebetulan aku belum sarapan." jawab Ilona.
"Ouh, kebetulan sekali di mobilku ada beberapa macam lauk untuk sarapan, nanti kita sarapan bersama di proyek yah." Susan memberikan senyuman palsunya.
"Ah... Susan, kau memang tidak pernah berubah dari dulu."
"Ilona, jangan terlalu memujiku berlebihan seperti itu, aku jadi malu tau."
"Aku tidak berlebihan Susan, kau itu memang selalu memperlakukan ku dengan sangat baik."
"Yasudah... yasudah, terimakasih atas pujian nya."
"Sama-sama, Susan."
"Ilona, Susan, sebaiknya kita harus cepat pergi." seru Arthur.
Ilona berjalan terlebih dahulu di depan Susan. "Baiklah."
"Akhirnya, Ilona bersiap-siaplah!" gumam Susan.
Di saat mereka menuruni tangga bersama, Susan bergegas meluncurkan rencananya.
"Ini waktu yang tepat, kita hitung bersama, 1... 2... 3..." gumam Susan.
Susan mulai menjatuhkan badan nya ke depan. "Ah... !!!"
Ilona melirik ke belakang, namun sayang nya ia sudah tidak bisa menghidari tubuh Susan yang dengan cepat mulai menimpanya.
Saat Ilona melirik Susan ia berteriak, dan berusaha untuk memegang tangan Arthur, akan tetapi itu terjadi terlalu singkat "Susan!?... !!!"
Arthur berusaha untuk menggapai tangan Ilona, namun ia tidak berhasil untuk menggapainya, terpaksa ia hanya bisa melihat Ilona yang terseret oleh Susan sampai ke lantai 1.
"Ilona!!" Teriak Arthur dengan sangat keras.
ð»ð»ð»
...â¥Bersambung..... lanjut baca Bab 23 yah!, makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.â¥...
Jangan lupa buat vote + like yah!
Dan jangan lupa untuk memberi saran di kolom komentar yah! ã¥ï¿£ ³ ̄)ã¥
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yahâ€
__ADS_1
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam