
Tidak berselang lama setelah Ilona berteriak, seorang Suster keluar dari ruangan rawat Ilona dan langsung memanggil nama Afmar untuk segera masuk ke dalam menemui Ilona.
"Afmar? tuan muda Afmar!?" teriak sang Suster yang memanggil nama Afmar.
Afmar bergegas menghampirinya. "Kenapa? apakah ada suatu hal yang terjadi?"
"Tuan muda, mari masuk ke dalam, nyonya Ilona memanggil namamu." ujar sang Suster.
"Lalu bagaimana dengan saya?" tanya Arthur.
"Mohon maaf tuan Arthur, sebaiknya anda menunggu dulu di luar, karena nyonya hanya meminta ku untuk memanggilkan tuan muda saja."
"Papah... kau jangan bersedih, bunda akan segera memanggilmu, akan tetapi nanti... aku turut berduka untukmu papah... wle." ujar Afmar dengan drama gurauan nya.
Afmarpun masuk ke dalam ruangan Ilona, namun seketika wajah Arthur berubah menjadi datar.
Adira bersama teman-temannya Afmar tertawa melihat Arthur yang di nistakan oleh anaknya sendiri. "Ptfff... Hahahaha... hahahaha..."
Melirik dengan lirikan mata seorang sikopat. "Diam... !!! kalian ingin ku bunuh?"
"Et... paman, serem amat..." bisik Alex.
"Kita salah masuk kandang anak-anak..." jawab Adira yang juga berbisik.
"Pa... man... apa kita harus kabur?" tanya Misha.
"Jika kita kabur, pasti kita akan di kejar!" ucap Danis.
"Hey!" ucap Arthur yang memanggil.
Semuanya menghadap ke hadapan Arthur. "Siap..."
"Kalian sedang membicarakan apa? sudah duduklah."
"Huh... nyawa kita aman, anak-anak." gumam Adira.
Disisi lain ruangan, yaitu di dalam ruangan rawat Ilona.
"Permisi nyonya, ini saya sudah panggilkan tuan muda Afmar." ucap sang Suster.
"Terimakasih, apa boleh kami berbicara berdua?"
Sang suster berbicara di dalam hatinya. "Ini nyonya besar kok pake izin segala sih... padahal biasanya para orang kaya langsung main usir aja, emang bener-bener perempuan yang baik, astaga."
"Suster... kenapa bengong? itu di tanya bunda."
"Eh... iyah nyonya maaf, saya permisi." iapun bergegas pergi karna malu.
"Hahaha... suster yang tadi lucu yah bunda." Afmar tertawa melihat kelakuan sang sister yang begitu aneh.
"Iyah... papah, memberitahumu soal bunda yah?" tanya Ilona.
"Engga kok, malah awalnya papah mau mencegah." jawab Afmar.
"Kamu mendengar gosip para karyawan?" Ilona bertanya lagi.
"Hehehe... habisnya mereka manggil-manggil nama bunda sih, Afmarkan jadi kepo."
"Ish kamu nih." Ilona mengusap kepala Afmar.
"Ih bunda, jangan banyak gera dulu, nanti sakit lagi kepalanya."
"Engga kok sayang. Afmar, kenapa hati bunda masih belum tenang yah?"
__ADS_1
"Bunda masih takut? masih trauma?" tanya Afmar.
"Hmm... sepertinya begitu, terus bunda harus bagaimana lagi?" wajah Ilona terlihat kebingungan.
"Emm... kalau begitu, dahulu jika bunda sedang merasa cemas ataupun yang lainnya, bagaimana caranya bunda untuk mengendalikannya, atau merasa jauh lebih tenang?" tanya Afmar.
Ilona mengingat sesuatu, dan tiba-tiba pipinya mulai berubah menjadi sedikit memerah. "Papahmu..."
"Hah! papah? memangnya pria kejam itu dapat menenangkan bunda?" ujar Afmar yang terkejut.
"Hmm... jika itu benar, memangnya kenapa?"
"Ya tidak ada masalah, hanya saja Afmar terkejut."
"Loh? kok kaget si?" tanya Ilona.
Afmar berbicara di dalam hatinya. "Bunda, tidak tau saja jika papah itu tidak pernah menenangkan ku adanya malah dia hanya bisa mengancam."
"Tidak apa-apa sih. Yasudah, sekarang bunda mau di panggilkan papah?"
"Heem..." jawab Ilona dengan wajah imutnya.
"Astaga... bundaku ini sangat manja dan juga imut, pantas saja papah mencintainya." gumam Afmar.
"Afmar, kamu bergumam apa?" tanya Ilona.
"Ah... tidak bunda, yasudah Afmar panggil dulu papah yah." Afmar seketika menjadi salah tingkah.
Afmar pun bergegas pergi keluar ruangan Ilona untuk memanggil Arthur. Ia berpura-pura memasang wajah sedih saat keluar.
"Papah..." ujar Afmar.
Bergegas berdiri. "Kenapa? ada apa dengan bunda? apa harus papah panggil dokter?"
"Kenapa?" tanya Arthur.
"Bunda, memanggilmu untuk ke dalam, aku sangat sedih."
Arthur kesal dengan sandiwara yang Afmar berikan padanya, akhirnya iapun memutuskan untuk menyentil kening Afmar sebagai hukuman. "Kau! jangan membuatku kesal!"
"Aw... papah! sakit tau." ujar Afmar yang mengeluh.
"Siapa yang ajarkan kamu untuk berekting seperti itu?" tanya Arthur tegas.
"Siapa lagi jika bukan kau!"
Arthur mengingat sesuatu, "Oh iya... yasudah, ayo kita masuk."
"Astaga... kau ini sangat aneh!" ucap Afmar.
"Aku ini papahmu! turuti saja." Arthur bergegas masuk ke dalam ruangn.
"Aku sedikit bingung dengan hubungan ayah dan anak yang satu ini." ucap Adira.
"Akupun." teman-teman Afmar serentak menjawab dengan raut wajah yang sama kebingungannya.
Arthur bersama Afmar pun bergegas masuk ke dalam ruangan rawat Ilona.
"Bunda... kami datang." ucap Afmar yang mendekat ke ranjang Ilona.
Ilona menatap mata suami dan anaknya dalam-dalam, ia langsung menggegam tangan Arthur dan Afmar bersamaan. "Tetaplah disini, tetaplah disini."
"Tenanglah Ilona!" ucap Arthur.
__ADS_1
"Aku takut Arthur... aku takut, pegang tangan ku! pegang tangan ku!" Kedatangan Arthur ke dalam ruangan membuat Ilona sedikit syok lagi, karena pada saat kejadian itu Arthur tidak berhasil menggenggam tangannya.
"Bunda! bunda! lihat Afmar!" Serunya.
Ilona melirik ke arah Afmar.
"Bunda, tenanglah disini ada Afmar dan papah, bunda jangan hawatir, kami disini." ucap Afmar dengan air mata yang mulai bercucuran.
"Afmar..." gumam Ilona.
"Lihatlah, anakmu menangis karena perbuatan mu. Apa yang di katakan Afmar benar, sekarang kami disini akan selalu melindungimu, sebaiknya kamu tenang." Arthur memeluk Ilona dengan satu tangan.
"Pa-pah... jangan salahkan bunda, hua~" ujar Afmar.
"Afmar... maafkan, bunda." bisik Ilona.
Afmar naik ke atas ranjang Ilona. "Bunda... bunda gak salah kok."
"Umm... iyah, Afmar jangan nangis lagi yah, yaudah gini deh papah sama Afmar mau gak peluk bunda?" tanya Ilona dengan senyuman tipis.
"Mau dong!" seru mereka.
"Umm... peyuk sini peyuk..." Ilona melepaskan genggamannya dan membuka lebar-lebar tangannya untuk memeluk suami dan anaknya.
Afmar bergegas memeluk Ilona. "Hua... bunda, Afmar sayang bunda."
"Adudu... iyah-iyah, bunda juga sayang Afmar, tapi pelan-pelan dong peluknya." ujar Ilona.
Arthurpun ikut memeluk Ilona dengan berlahan di sampingnya. "Seperti ini Afmar, hati-hati memeluknya sebab keadaan bundamu masih sensitif."
"Iyah papah, ini juga pelan kok." tetapi kelihatannya Afmar memeluk Ilona sangat erat.
"Hahaha... sudah tidak apa-apa, yang sakitkan kepala sama kaki bukan badan." jawab Ilona.
"Kamu ini ngeyel Ilona."
Ilona menatap mata Arthur. "Wle... tidak apa-apa, Arthur aku mohon bantulah aku untuk menenangkan diri."
"Iyah sayang, aku pasti akan membantumu untuk bangun dari rasa ketakutanmu itu." jawab Arthur.
"Ish... jangan sayang-sayangan di depan Afmar!" seru Afmar.
"Kenapa? kau sirik?" tanya Arthur.
"Ya tentu saja! dia bundaku!" memeluk dengan erat.
"Hahaha... tolong, aku di perebutkan oleh dua orang pangeran." ucap Ilona yang terhibur dengan tingkah laku suami dan anaknya.
ð»ð»ð»
...â¥Bersambung..... lanjut baca Bab 28 yah! makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.â¥...
Para pembaca boleh koreksi di kolom komentar
Jangan lupa buat like + vote setiap hari senin + favoritã¥ï¿£ ³ ̄)ã¥
Tetap pantengin terus bab-bab selanjutnya yah.
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yahâ€
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1