Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 41 Papah kau sangat menyebalkan!


__ADS_3

Seketika Afmar membuka matanya lebar-lebar disertai dengan kerutan alis yang menandakan bahwa ia sangat tidak menyukai Arthur yang menggenggam tangan Susan. "Papah... !!! kau sepertinya memang benar-benar ingin aku bunuh!"


Misha bergegas untuk menenangkan Afmar. "Tenanglah Afmar, paman Arthur hanya sedang bersandiwara, kau tidak perlu emosi seperti ini."


"Afmar, kau jangan dengarkan Misha." ujar Alex.


"Kamu gimana sih Lex!? Afmar butuh di tenangin bukannya malah makin di provokasi." seru Misha.


"Sudahlah kalian tidak usah bertengkar karna ku, sekarang sudah waktunya kita mendengar keadaan paman Adira dan Danis." ujar Afmar.


"Baiklah." jawab Adira dan Misha bersamaan.


Disisi lain Susan sangatlah merasa senang karna hanya untuk beberapa langkah lagi semua rencana yang ia buat akan selesai di laksanakan, dan setelah semuanya terjadi Susan merencanakan bahwa ia akan berpura-pura ihklas atas dirinya yang telah di sentuh oleh Arthur.


Namun, setelah 1 bulan kemudian Susan akan berpura-pura hamil tujuannya agar Arthur memiliki simpati kepadanya lalu setelah itu ia akan menikahinya, dan di situlah awal mula Susan menjadi seorang Nyonya besar di keluarga Sheng.


Namun, sayangnya itu semua hanyalah imajinasi Susan saja.


"Arthur, apakah Afmar tidak akan marah?" tanya Susan.


"Marah kenapa?" Arthur bertanya balik.


"Karena tadi kamu memegang tangan ku." wajah Susan tiba-tiba berubah menjadi merah.


"Kau tenang saja, Afmar tidak akan pernah marah padamu."


"Ya semoga saja dia tidak marah padaku, aku jadi sangat menghawatirkannya."


Arthur memegang kembali tangan Susan. "Tenanglah, ada aku disini yang dapat membujuknya."


*Afmar memasang kamera di dalam mobil Arthur secara diam-diam, dan sekarang ia telah menyaksikan Arthur yang sedang berpegangan tangan dengan Susan.


"Dasar bapak gak punya adab... !!! awas aja kalo papah sampai tergoda sama si tante Susan, bukan hanya bunda saja yang akan meninggalkan mu tetapi aku, nenek dan kakek pun akan ikut pergi! dasar papah Pria Licik!"


"Sabar... paman hanya bersandiwara." ujar Misha.


"Mana handphone ku mana!?" seru Afmar.


"Kau mau apa?" tanya Misha sambil memberikan handphonenya kepada Afmar.


"Aku mau menelfon lelaki tanpa otak itu, dia sudah menenangkan ku tetapi dia malah melakukan kesalahan yang sama lagi, tidak bisa di biarkan!"


Drtt...


"Sebentar aku angkat dulu telfon." ujar Arthur.


"Dari siapa?" tanya Susan.


"Oh... Afmar, sebentar yah."


...Isi perbincangan di telfon...


"Heh... !!!" teriak Afmar.


^^^"Afmar, berbicaralah dengan sopan."^^^


"Bagaimana aku bisa sopan, jika kau saja tidak dapat memberi contoh dengan baik!"


^^^"Omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan?"^^^


"Papah! aku ulangi sekali lagi... lakukanlah tugasmu dengan sangat baik, jangan sampai kau termakan oleh rayuan tante Susan, jika kau sampai tergoda aku, Bunda, Nenek dan Kakek akan pergi meninggalkan mu!"


^^^"Kau melihatnya?" tanya Arthur.^^^

__ADS_1


"Iyah! aku sengaja menaruh kamera di mobil papah."


^^^Tiba-tiba nada suara bicara Arthur berubah menjadi lebih serius. "Sebenarnya kau ini siapa? berani-beraninya meragukan kejujuran dariku, hah!?"^^^


"Gak usah drama papah! aku tau kau berubah menjadi serius akan tetapi aku ini anakmu, jangan kau tanyakan lagi aku siapa!. Papah, Afmar hanya tidak ingin perasaan bunda hancur kembali untuk kedua kalinya, karena Afmar tau rasanya sakit hati itu sebesar apa." ujar Afmar dengan bijak.


^^^"Hmm baiklah, maafkan papah."^^^


"Yasudah, berhati-hatilah di jalan, jangan sampai kau ulangi lagi." Afmar langsung menutup telfonnya.


Tut.......


"Afmar... halo? papah belum beres berbicara!" ujar Arthur.


"Ada apa?" tanya Susan.


"Tidak apa-apa..." Arthur kembali menelfon balik Afmar.


Drtt...... drtt......


"Afmar, ada telfon balik dari paman Arthur." ujar Misha.


"Biarkan saja, aku sedang marah padanya. Bisa-bisanya di saat bunda sedang berada di rumah sakit ia malah menyempatkan diri untuk bermestraan dengan wanita lain." jawab Afmar.


"Itu hanya sandiwaranya, kau jangan menghancurkan rencana yang sudah papah mu buat." ujar Alex.


"Rencana apa? kau lihat saat dia pergi? ia memegang tangan tante Susan! dan parahnya ia malah mengulanginya lagi di dalam mobil, apakah itu yang di sebut dengan sebuah rencana!?" ujar Afmar yang membentak keras Alex.


"Iyah! itulah sebuah rencana, papahmu sudah sejauh ini untuk menyelidiki siapa dalang dari semuanya, dan kau yang tidak mengerti dengan rencananya, itu semua hanyalah sandiwara, Afmar!" seru Alex.


"Sebenarnya disini siapa anak dari pria licik itu? kau atau aku?"


"Kau adalah anaknya, namun kau juga yang tidak dapat memahami rencananya!"


"Misha..." ucap mereka secara bersamaan.


"Kenapa kalian malah berseteru! kenapa kalian tidak bekerja sama seperti awal rencana kita disini!" ujar Misha dengan suara yang mulai tersedu-sedu.


.


.


.


"Rencana kita disini awalnya adalah untuk mencari tante Ilona kan? kita bekerjasama dengan sangat baik, dan sekarang tante Ilona sudah di temukan akan tetapi bukan berarti kerjasama kita pun ikut berakhir hanya sampai disitu saja, masih banyak sekali kerjasama yang harus kita lakukan bersama!" ujar Misha dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.


"Emm... kau benar Misha." ucap Alex.


"Maafkan kami yang telah membuatmu menangis, Misha." ujar Afmar.


"Kenapa kalian bertengkar di hadapan ku!? hu~hu."


Afmar dan Alex pun memeluk Misha bersama. "Maafkan kami, sudah berhentilah menangis."


"Aku takut! aku takut jika kita akan berpisah karena sebuah pertengkaran kecil." ujar Misha.


"Emm... maaf, kami tidak bermaksud untuk menakut-nakutimu, ya kan Lex?"


"Iyah... Afmar benar, maafkan kami yah Misha."


"Heem... tapi kalian tidak boleh bertengkar keras seperti itu lagi." jawab Misha.


"Iyah, kami pasti akan mengusahakannya."

__ADS_1


Disisi lain Arthur sedikit cemas dengan Afmar yang marah padanya, ia takut Afmar akan berbicara yang tidak-tidak kepada Ilona, akan tetapi ia harus lebih fokus pada sandiwaranya dulu, urusan Afmar ia akan tangani nanti.


Akhirnya mereka pun sampai ke Caffe yang di tunjukan oleh Susan, ia sengaja memilih Caffe itu karena jarak dari hotel yang ia pesan itu cukup dekat.


"Akhirnya sampai." ujar Susan.


"Klien kita sudah sampai belum?" tanya Arthur.


"E~emm... belum Arthur, sebaiknya kita tunggu di dalam saja yah."


"Eumm baiklah."


Mereka berdua pun masuk ke dalam Caffe tersebut. Sesampainya mereka di dalam Caffe Susan pun langsung bergegas memesan minuman.


"Arthur, kau pilihlah dulu ruangan privat yang menurutmu cocok untuk kita rapat, nanti aku akan menyusulmu." ujar Susan.


"Memangnya kau mau kemana dulu?" tanya Arthur.


"Eumm... aku mau memesan dulu minuman, kau mau rasa apa?" jawab Susan.


"Seharusnya kau tidak usah repot repot begitu tinggal panggil pelayan dan tunggu, tapi yasudahlah jus mangga satu dan satu porsi sushi."


Dengan groginya Susan menjawab. "Hahaha... baiklah, kau tunggu saja yah."


"Aku tak ingin ruangan privat, jadi di ujung sana saja yah... yang dekat dengan kaca jendela."


"Baiklah, aku akan menyusulmu."


Susan pun bergegas memesan minuman dan setelah minumannya jadi ia pun langsung memasukan obat perangsang ke dalam minuman Arthur tersebut.


Susan berjalan menuju meja yang Arthur duduki dengan membawa 2 gelas minuman. "Arthur, tunggu sebentar aku akan membayarnya dulu."


"Baiklah, sushi yang aku pesan belum jadi yah?" tanya Arthur.


"Iyah nanti pelayan akan membawakannya kesini, aku hanya ingin membawakan minuman untukmu."


"Ouh... terimakasih, Susan."


"Sama-sama, Arthur." Susan berbalik badan dan segera kembali ke kasir untuk membayar makanan dan minuman yang ia beli.


Namun, sayangnya Arthur tidak sebodoh itu... di saat Susan pergi untuk membayar pesanan, Arthur langsung bergegas mengganti minuman yang Susan berikan padanya dengan minuman lain. Yaps benar... Adira ikut bersamanya dan ia duduk tepat di belakang kursi yang Arthur duduki.


"Adira." ujar Arthur.


"Tuan..." Adira segera menukar gelas minuman yang sudah beri obat perangsang oleh Susan dengan gelas minuman jus biasa.


Setelah Susan kembali Arthur bergegas melanjutkan sandiwaranya, ia langsung menghabiskan seluruh jus mangga itu di hadapan Susan dan ironinya Susan benar-benar menyangka bahwa itu adalah minuman yang sudah ia beri obat tadi, dan sungguh raut wajah Susan seketika berubah menjadi sangat senang.


"Wah... wah... wah... sang raja hutan pun akhirnya dapat aku kelabui dengan sangat mudah." gumam Susan di dalam hatinya.


...Bersambung...................


Cerita ini mempunyai alur cerita panjang, jadi sabar yah untuk menunggu semuanya terungkap, terimakasih dan tetap suport Author yah!✔️


Jangan lupa untuk melanjutkan ke bab 42 yah!


Tetap suport dengan cara Like, Favorit, dan Vote setiap hari senin.


Jika ada pemasukan ide silahkan tulis di kolom komentar. So jangan ketinggalan bab selanjutnya♡(∩o∩)♡


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam

__ADS_1



__ADS_2