Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 11 Kembalilah!


__ADS_3

"Akupun merasakan nya Arthur." bisik Ilona.


"Maka kembalilah jika kamu masih menginginkan perasaan bahagia ini." ucap Arthur yang seolah menuntut.


Ilona tiba-tiba melepaskan pelukannya dari Afmar dan menghindar dari pelukan Arthur.


"Bunda... kenapa bunda lepaskan pelukannya, Afmar masih mau di peluk bunda." ujar Afmar yang kembali memeluk Ilona.


Mengusap kepala Afmar, "Afmar dengarkan bunda, beritahu kepada papahmu untuk tidak menuntut bunda untuk segera kembali bersamanya."


"Bunda, tidak mau kembali kepada Afmar, dan papah?" tanya Afmar sambil terus memeluk Ilona.


"Tidak, hanya saja bunda butuh waktu untuk mengobati luka hati." jawab Ilona dengan halus.


Afmar beranjak dari pelukan Ilona, "Bunda!, apa bunda pernah disakiti oleh papah?, beritahu aku!"


"Tidak apa-apa sayang."


Afmar mendekat ke sebelah Arthur. "Papah, jelaskan padaku! apa benar papah pernah menyakiti hatinya bunda?"


"Ya papah pernah melakukannya, sehingga bundamu pergi meninggalkan papah selama 10 tahun." jawab Arthur yang jujur.


"Arthur!" bentak Ilona.


"Kenapa?, biarkan saja Afmar tau Ilona, dia anak yang sangat pintar, dan ia pun sudah terbiasa mendengar kabar buruk di telinganya, tenanglah dia pasti faham, betul Afmar?" jawab Arthur dengan raut wajah santainya.


"Iyah bunda, jangan hawatir, tenang aja Afmar tidak akan menangis, janji." ucap Afmar yang meyakinkan Ilona.


"Baiklah, biarkan bunda saja yang bercerita, minta izinlah kepada papahmu."


"Papah... izinkan." ujar Afmar yang merengek.


"Iyah papah izinkan."


Ilona mulai menceritakan kejadian yang telah terjadi pada awal 10 tahun yang lalu.


"10 tahun yang lalu pada saat bunda masih mengandungmu selama 2 minggu kehamilan. Di perusahaan papah sedang mengalami musibah yang cukup besar, itu semua membuat papahmu sangat marah, tidak ada yang dapat menenangkan papah selain bunda pada saat itu, akhirnya bunda memutuskan untuk berangkat ke kantor papah."


"Bunda, Afmar izin bertanya, kenapa bunda lebih memilih untuk merahasiakan kehamilan bunda?" tanya Afmar yang menyela cerita Ilona.


"Di hari yang sama bunda juga baru tes kehamilan, dan hasilnya positif, pada saat itu Afmar masih kecil sekali di perut bunda, awalnya sih bunda mau buat kejutan untuk papah saat pulang dari kantor, namun keadaan yang memaksa bunda untuk pergi ke kantor papah." ujar Ilona yang menjelaskan semua kronologisnya kepada Afmar.


"Ouh... jadi begitu yah?. Andai waktu itu karyawanku tidak ada yang menelefon mu." ucap Arthur dengan raut wajah sedih.


"Tidak apa-apa Arthur, biarkan itu semua berlalu." ujar Ilona dengan penuh senyuman.


"Bunda... lanjutkan." rengek Afmar.


"Umm... sayang, iyah ini bunda lanjutkan. Setelah sampai di kantor bunda pun bergegas masuk ke dalam ruangan papah, pada awalnya memang tampak baik-baik aja, namun tiba-tiba semuanya berubah pada saat bunda berbicara panjang lebar kepada papah. Bunda tidak tau bahwa ternyata perkataan yang bunda katakan itu membuat papahmu sangat marah, yang pada akhirnya papah mengatakan sebuah kalimat kepada bunda yaitu 'Ilona pergi dari kantorku!, dan jangan pernah kamu tunjukan lagi wajahmu itu hadapanku'. Seingat bunda si begitu, yang pada akhirnya bunda pergi meninggalkan papah dan pergi ke Inggris."


"Papah jahat!, maafkan papah yah bunda." ujar Afmar yang memeluk erat Ilona.


"Setelah 1 bulan di Inggris bunda dan papah kembali bertemu di bandara, namun bunda berlari menjauh dari papah. Singkatnya 1 tahun kemudian bunda melahirkan kamu ke dunia, setelah 3 bulan menyusui bunda kembali ke rumah papah untuk memberikanmu, yang tujuan nya untuk memberitahukan kepada papahmu bahwa sebenarnya ia sudah memiliki seorang anak. Setelah itu bunda memutuskan untuk kembali lagi ke Inggris dan menetap di sini hingga sekarang." ujar Ilona yang berlinang air mata.


"Bunda, jangan menangis." ujar Afmar.


Di waktu yang bersamaan Arthur beserta Afmar menghapus air mata Ilona di sisi yang berbeda, Afmar di sebelah kanan dan Arthur di sebelah kiri. Seketika Ilona terdiam dan langsung memeluk mereka berdua.


"Umm... terimakasih, kalian memang penyemangat dalam diri bunda... Hua..." ujar Ilona yang terus menerus menangis di dalam pelukan suami dan anaknya.


Arthur sangat merindukan sikap Ilona yang seperti ini yaitu manja, penyayang, lembut, dan penuh kasih sayang. Arthur memiliki rencana untuk membuat Ilona berlahan-lahan mencintainya kembali selayaknya dahulu kala saat mereka masih bersama.


Namun berbeda dengan Ilona yang sebenarnya ia tidak ingin memperlihatkan kasih sayang nya terhadap Arthur, Ilona hanya ingin fokus untuk sukses terlebih dahulu agar ketika mereka kembali tidak akan ada masalah yang ia tidak bisa tangani seperti 10 tahun yang lalu.


Ilona akan tetap bekerja kera untuk menyembunyikan rasa sayangnya kepada Arthur, namun berbeda dengan Arthur yang sangat ingin memperlihatkan nya.

__ADS_1


Ilona melepaskan pelukanya, "Baiklah sudah cukup berpelukannya. Anak kesayangan bunda, Afmar mau nunggu dimana? mau dalam atau di luar?. Bunda sama papah mau rundingin dulu desain museum soalnya, kalo semisal Afmar mau disini jangan ganggu dulu yah sayang, Afmar bisakan?"


"Tenang aja bunda!, Afmar kan sering banget ikut rapat di kantor papah, jadi jangan hawatirkan Afmar bosan yah bunda." seru Afmar.


"Yasudah baiklah, Arthur apa disini ada mainan? untuk teman main Afmar gitu?" tanya Ilona.


"Pasti ada dong bunda, karena Afmar selalu bilang sama papah, dimana pun Afmar berada mainan tetap harus ada." jawab afmar yang sudah bersemangat.


"Iyah kamu tenang saja Ilona, dia selalu memiliki banyak mainan, yasudah biarkan saja Afmar bermain kita fokus saja untuk membicarakan proyek ini." ujar Arthur.


"Baiklah tuan Arthur." ujar Ilona yang sedikit membuat perasaan Arthur terbang.


"Hmm... sepertinya kamu sengaja membuat perasaan ku ini terbang karenamu, nyonya Sheng." ujar Arthur yang diam-diam mendekat ke hadapan Ilona.


"Diam Arthur!" seru Ilona.


"Apakah kamu takut Afmar melihatnya?. Afmar ambilah semua mainan yang di simpan di lobby dan bantulah kakak-kakak di lobby untuk membawakan nya kamari." Ujar Arthur yang memberi Afmar perintah.


"Baiklah papah, bunda aku tinggal dulu ke lobby yah, bunda jangan pergi!" jawab Afmar.


"Iyah Afmar bunda tidak akan pergi."


Afmar pun pergi ke lobby untuk mengambil mainannya. Namun disisi lain Arthur memanfaatkan situasi ini untuk meminta sesuatu kepada Ilona, yaitu sebuah ciuman.


Arthur mendekat ke hadapan Ilona, lalu berkata. "Sayang... sebelum kamu pergi, aku mohon berikan ciuman padaku."


"Tidak!, aku tidak mau." ujar Ilona yang mengelak.


"Kenapa?, aku hanya memintanya di pipiku saja, ayolah aku ini suamimu." ucap Arthur yang membujuk Ilona.


"Benar yah! awas saja kalo kamu minta yang lebih, kalau kamu minta lebih aku akan meninggalkanmu." seru Ilona yang memberikan ancaman.


"Iyah sayang, aku tidak akan memaksamu, nih..." Arthur menyodorkan pipinya kepada Ilona.


"Muach... udah sana!" ujar Ilona yang memerah wajahnya.


"Afmar cepat naiknya." ujar Ilona yang salah tingkah.


"Iyah kamu sangat cepat." ucap Arthur yang mengulangi perkataan Ilona.


Afmar belum di beritahu oleh Arthur atapun Ilona tentang hubungan mereka yang harus di rahasiakan, Afmar hampir saja memanggil Ilona dengan sebutan bunda akan tetapi Arthur dengan cepatnya menutup mulut Afmar.


"Iyah dong bun..." tiba-tiba Arthur menutup mulut Afmar dan memberi isyarat.


Karena Afmar adalah anak yang sangat pintar jadi ia langsung faham dengan apa yang sedang di isyaratkan oleh Arthur. Afmarpun bergegas mengalihkan pembicaraan.


"Ah... yasudahlah lanjutkan saja rapat kalian, Afmar mau main sendirian disini sekaligus untuk memantau kalian berdua, papah hanya milik bunda." ujar Afmar yang mengalihkan pembicaraan.


"Emm... maaf Ilona atas sikap anak saya yang tidak sopan, ia sedikit sensitif dengan wanita yang ada di dekatku." ucap Arthur yang melanjutkan sandiwara yang di buat Afmar.


"Iyah pak direktur tidak apa-apa." jawab Ilona.


"Iyah benar bu, Afmar memang selalu sensitif dengan semua wanita yang mendekati pak direktur. Pendirian nya adalah hanya bundanya saja yang dapat bersama pak direktur." ujar salah satu karyawan.


"Iyah saya sangat faham sekali dengan perasaannya." jawab Ilona.


"Kami permisi pak/bu." pamit para karyawan.


...Setelah para karyawan pergi Ilona memanggil Afmar dengan rasa senang atas kepintarannya....


"Afmar, sini sayang." teriak Ilona yang memanggil nama Afmar.


"Ya bunda, kenapa?" tanya Afmar.


Ilona memeluk Afmar dengan erat, "Anak bunda pintar sekali, maaf yah sayang untuk sementara waktu hubungan kita di privasi dulu, kamu tidak apa-apakan?"

__ADS_1


Afmar memeluk balik Ilona dengan senyuman di pipinya, "Tidak apa-apa bunda, asalkan bunda selalu ada untuk Afmar."


"Iyah... bunda pasti selalu ada buat Afmar, namun untuk sekarang bunda mau pulang dulu yah, besok kita bertemu lagi, bunda tidak mau karyawan papah disini ada yang curiga dengan bunda, okey."


"Iyah Afmar, papah juga takut ada yang curiga dengan bundamu." ujar Arthur yang mendukung Ilona untuk pulang terlebih dahulu.


"Yah... padahalkan Afmar masih kangen, tapi tidak apa-apa besok Afmar ikut lagi ke kantor bareng papah, okey." jawab Afmar.


"Anak bunda memang pengertian umm, yasudah sekarang bunda pulang dulu yah, muach." Ilona mencium kening Afmar agar dia merelakan dirinya untuk pulang.


"Umm... papah lihat aku di cium bunda wle..." seru Afmar yang menyombongkan diri pada Arthur.


Arthur tidak mau kalah dengan anaknya sendiri yang akhirnya ia pun meminta Ilona untuk menciumnya 1x lagi. "Ilona, cium aku! lihatlah anakmu ini sombong sekali."


"Arthur... jangan seperti anak kecil." ucap Ilona dengan wajah yang mulai memerah.


"Bunda jangan berikan!" seru Afmar.


"Ayolah Ilona jangan dengarkan Afmar, aku juga mau."


"Papah! bunda itu miliku!" seru Afmar dengan nada suara yang cukup tinggi.


"Papah yang sudah menikahinya, lalu bundamu melahirkanmu bukan berarti dia jadi milikmu, tetap saja 80% bunda adalah milik papah." ujar Arthur yang tidak mau kalah dengan Afmar.


"Papah, kau sangat kejam padaku!, aku hanya ingin bunda tapi yasudah, nanti kita buat jadwal di hotel siapa yang dapat bunda hari senin, selasa dan seterusnya!"


"Okey, karena kamu hanya 20% dari kepemilikan bunda maka kamu hanya dapat 2 hari, dan papah 5 hari, karena kepemilikan papah lebih besar."


"Bunda... lihat papah, hua..." rengek Afmar kepada Ilona.


"Arthur! mengalah dia anakmu." seru Ilona.


"Sayang... tapi aku suamimu." Arthur mendekat dan memeluk Ilona.


"Agrhh... papah ga boleh sentuh bunda!" teriak Afmar dengan tangisan yang mulai membesar.


Ilona sangat pusing dengan kelakuan anak dan suaminya, ia pun berbicara dengan nada yang sedikit tinggi kepada mereka, agar mereka tenang dan tidak merebutkannya lagi.


"Okey diam! biar bunda putuskan, 2 ciuman untuk Afmar dan 1 ciuman untuk papah setuju?"


Afmar mulai mereda tangisnya karena ia menyangka bundanya lebih memilihnya di banding dengan papanya, padahal antara mereka berdua itu sama saja, 2 ciuman hanya saja Arthur lebih dahulu.


Arthur sebenarnya tau bahwasanya Ilona itu lupa telah menciumnya sebelum Afmar datang, tetapi ia tetap memilih untuk diam dan terus berpura-pura.


"Yang pertama untuk Afmar, muach..." ucap Ilona sambil mencium pipi Afmar.


"Terimakasih bunda." ujar Afmar yang senang.


Ilona melirik ke arah Arthur, dan seperti biasa jantungnya berdebar dengan sangat cepat. "Dan yang kedua untuk papah, muach..."


"Terimakasih sayang, besok jangan lupa pergi ke kantor tepat waktu." ujar Arthur.


"Iyah... iyah... aku tau. Yasudah bunda pulang dulu yah Afmar, sampai jumpa besok." ujar Ilona yang keluar dari ruangan.


🌻🌻🌻


...♥Bersambung..... lanjut baca Bab 12 yah, makin kepo nih. Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.♥...


づ ̄ ³ ̄)づ


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❀


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam


__ADS_1



__ADS_2