Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 63 Rencanaku pasti berhasil


__ADS_3

Selepas Arthur dan Ilona pergi, Novita pun akhirnya memilih untuk bergegas berangkat ke caffe tulip untuk menemui teman nya.


"Ibu... Ayah... Novita, izin keluar dulu sebentar yah." ujar Novita, yang meminta izin.


"Kamu mau kemana nak?" tanya Ibu Arthur.


"Jangan mencoba untuk menghancurkan suasana keluarga kecil Arthur." ucap Ayah Arthur, dengan sinis.


"Hahaha... ayah, mana mungkin aku akan menghancurkan waktu mereka."


"Halah... tadi aja kamu maksa Ilona buat pindah tempat duduk."


"Sudah-sudah! kalau begitu jangan lama-lama yah sayang keluarnya." ujar Ibu Arthur, yang mengalihkan.


"Baik ibu, aku tinggal dulu, bye." ucap Novita, yang bergegas keluar dari rumah.


Novita, mengambil handphone nya untuk menelfon teman nya tersebut. "Ah... jangan sampai dia telat."


...Percakapan di telfon...


"Kau sudah dimana? jangan bilang baru saja bangun!"


^^^"Hey Novita, aku sudah menunggumu di sini sejak mereka baru saja buka."^^^


"Eumm... lima belas menit lagi aku akan segera sampai."


^^^"Jangan samakan aku dengan aku yang dulu, sayang."^^^


"Berhenti memanggilku dengan kata itu!"


^^^"Kenapa?"^^^


"Karena aku tidak akan pernah mencintaimu!"


Tut............


Novita, dengan kesalnya langsung menutup telfon, dan segera masuk ke dalam mobil dengan raut wajah marah.


"Wanita ini selalu membuatku tergoda, awas saja jika dia sudah sampai disini." ucap sang pria misterius.


15 menit kemudian


Sesampainya Novita di caffe, ia pun bergegas masuk ke dalam untuk menemui teman nya tersebut. Tujuan Novita datang menemuinya adalah untuk merencanakan sesuatu hal yang dapat menjerat Arthur untuk kembali memiliki perasaan cinta padanya.


"Hey... Novita, aku sangat merindukan wajah cantikmu itu loh!" ucapnya.


"Bima! sebaiknya kau hentikan pembicaraan mu itu!"


"Hahaha... sabar jangan emosi."


Bima, ia adalah sesosok laki-laki tampan yang memiliki bakat menghipnotis seseorang dengan hebat, dan kebetulan ia adalah teman sekampus Novita dahulu. Bima, satu-satunya orang yang selalu setia mencintai Novita, walau sering kali ia mendapatkan tolakan keras dari Novita.


Namun, di sisi lain bima pun sangat menyukai Novita ketika ia membutuhkan dirinya. Entah kebetulan atau bagaimana ternyata Bima juga adalah teman dekat Ilona, dahulu ketika ia di panti asuhan, akan tetapi mereka terpisah di karenakan Bima terlebih dahulu di adopsi oleh keluarga kaya.


"Sudahlah Bima, jangan mencoba untuk merayuku lagi." ujar Novita, yang mulai risih.


"Baiklah-baiklah, ayo katakan apa yang harus aku lakukan untukmu?" tanya Bima.


"Aku ingin kamu membantuku untuk mengembalikan perasaan Arthur dahulu kepadaku."


"Perasaan? perasaan cinta maksudmu?" ujar Bima, yang kembali bertanya.


"Iyah, karena kau juga tau aku sangat mencintainya sejak dahulu, namun sialnya perempuan itu tiba-tiba datang ke dalam kehidupan Arthur dan menghancurkan segala harapan ku." jawab Novita.


Bima, cukup terluka dengan kata-kata Novita, karena baginya cintanyalah yang paling tulus pada Novita. "Aku tidak mau."

__ADS_1


"Bima, ayolah bantu aku please, aku berjanji akan menerima cintamu ketika aku sudah menikahi Arthur, dan perusahaan ku kembali maju."


Dengan senyuman licik Bima, berbicara di dalam hatinya sambil terus memperhatikan Novita. "Hmm... jadi Novita, sebenarnya hanya membutuhkan uang."


"Bima... ayolah, please bantu aku." ujar Novita, yang memohon.


"Perusahaan mu kenapa?" tanya Bima.


"Perusahaan ku sedang mengalami krisis keuangan. Aku memiliki hutang di salah satu perusahaan yang ikut bekerja sama dengan perusahaan ku, dan ia memintaku untuk melunasinya dalam waktu satu tahun." jawab Novita.


"Berapa hutangmu? kenapa kau tidak memintaku saja untuk melunasinya?"


"Aku bukan hanya membutuhkan uang Bima, tapi aku juga ingin dicintai seseorang."


"Lalu menurutmu aku ini apa?!" tanya Bima, dengan nada tegas.


"Ka-kau..."


"Aku punya uang, wajahku pun tampan, begitupun jika kau membutuhkan cinta aku pasti akan memberikan nya, lalu kenapa kamu tidak pernah melihatku? oh... kau memang benar, Arthur itukan lebih tampan dari pada diriku, itukah yang kamu mau?!"


"Iyah! jika aku katakan Arthur lebih tampan dari pada dirimu memangnya kenapa?!" jawab Novita, dengan cara membentak.


Bima, kembali tersenyum dengan licik. "Owh... baiklah-baiklah, aku akan membantumu dengan cara menghipnotis Arthur."


"Nah gitu dong, nggak usah pake basa-basi segala."


"Tapi ada syaratnya."


"Apa?" tanya Novita.


"Kau harus menepati apa yang kamu katakan tadi." jawab Bima, dengan mendekatkan wajahnya ke sisi Novita.


Novita, yang merasa risih pun terpaksa meng'iyakan apa yang di minta oleh Bima. "Iyah-iyah... pertemuan kita cukup sampai disini, untuk rencana kedepannya akan aku kabari lagi nanti."


"Baiklah, sampai jumpa nanti dan berhati-hatilah di jalan." ujar Bima, yang melambaikan tangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain itu Novita, yang berada di kantor Arthur, begitu sangat sibuk karena membantu sang suami untuk membereskan semua pekerjaan selama satu minggu ke depan.


"Sayang, kamu bereskan saja berkas-berkas yang ada di ruangan ku, setelah itu bantu aku menyiapkan segala keperluan untuk presentasi para karyawan seminggu kedepan." ujar Arthur.


"Iyah sayang, kalo begitu kamu semangat yang meetting lima kali pertemuannya, hahaha... kamu sangat sibuk hari ini sayang." ujar Ilona, yang sedikit menghibur Arthur.


"Ah... senang rasanya di semangati oleh istri cantikku ini. Maaf yah sayang, kamu jadi ikut-ikutan ngurusin kantor."


"Umm... gapapa sayang, udah tugas istri dapat membantu suaminya."


Arthur, memberikan kecupan manis di pipi kanan Ilona. "Muah... yasudah, aku ke ruangan meetting dulu yah, kamu semangat yah sayang."


"Iyah bawel makasih, yaudah cepet sana-sana." Ilona, mendorong-dorong tubuh Arthur, untuk segera menuju ke ruangan meetting.


"Ish kamu nih ngusir-ngusir presdir kantor ini, yaudah ah bye-bye."


"Bye sayang, hahaha."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Singkatnya setelah semuanya selesai Ilona dan Arthur pun segera bergegas untuk menjemput Afmar di sekolahannya.


"Sayang, apakah semuanya sudah selesai di bereskan?" tanya Arthur, yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan pribadinya.


"Astaga sayang, aku kagetloh. Iyah sudah aku bereskan semua, dan akupun sudah menjelaskan semuanya pada Adira." jawab Novita.


"Iyah tuan, saya sudah mengerti dan memahami semuanya." saut Adira.

__ADS_1


"Gada yang nanya sama kamu, yaudah yu sayang kita jemput Afmar, ini udah mau telah lima menit." ujar Arthur.


"Astaga... tuan kau kejam sekali." gumam Adira.


"Hahaha... baiklah, Adira sampai jumpa minggu depan, kami mempercayakan semuanya padamu." ujar Ilona.


"Siap laksanakan."


Ilona dan Arthur pun bergegas menjemput Arthur. Setelah sampai di sekolah Afmar, dengan senangnya langsung berlari menuju ke dalam pelukan kedua orang tuanya.


"Papah! Bunda!" teriak Afmar, dari jauh yang langsung berlari menuju ke arah Ilona dan Arthur.


"Hahaha... lihatlah sayang, anakmu itu sangat lincah." ujar Ilona.


Ilona dan Arthur, dengan kompaknya langsung memeluk Afmar, dan hal itulah yang membuat Afmar sangat senang. "Umm... Afmar, sayang sekali sama papah dan bunda."


"Afmar, kata-katamu itu sangat romantis belajar dari siapa?" tanya Ilona.


"Ya papah dong." jawab Afmar dengan nada candaan.


"Masa sih... ngomong-ngomong surat izin udah belum di kasiin kewali kelas?" tanya Arthur.


"Udah dong pah."


"Ya bagus-bagus."


Teman-teman Afmar, yang melihat begitu merasa sedih, karena mereka akan berpisah selama satu minggu dengan Afmar.


"Dadah Afmar... sampai jumpa minggu depan." ujar Misha.


"Jangan lupa vidio call yah." ujar Alex.


"Kami pasti akan merindukanmu, jangan lupa oleh-olehnya." ujar Danis.


"Ish Danis, yang serius oleh-oleh mah pasti di bewain kali ah." bisik Alex.


"Hahaha iyah teman-teman, aku pasti vidio call, bawa oleh-oleh, trus balik lagi kesini kok." jawab Afmar.


"Iyah... cuman kita sedih aja, sedikit." ucap Misha.


"Anak-anak, jangan sedih dong, nanti kalian ikut lagi aja kalo Afmar liburan, tapi maaf untuk sekarang nggak bisa di ajak." ujar Ilona, yang menghangatkan suasana.


"Yey... !!! tante Ilona terbaik." ujar mereka secara bersamaan.


"Bunda, aku baik kan?" ujar Afmar, dengan sombong.


"Iyah memang baik... banget." ujar Misha.


"Yasudah sekarang Afmar pulang dulu yah mau siap-siap, nanti vidio call aja kalo udah di bandara." ujar Ilona, yang mengucapkan perpisahan dengan lembut.


"Baiklah, sampai jumpa nanti, dadah." ujar teman-teman Afmar, yang melambaikan tangan nya.


Afmar, pun segera naik ke dalam mobil dan juga melambaikan tangannya kepada teman-teman nya. "Dadah... aku pasti bawain oleh-oleh yang banyak, okey?!"


"Okey!"


Bersambung.........................


Jangan lupa Like + Suport + Vote + Komen


...(´∀`)♡...


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam

__ADS_1



__ADS_2