Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 32 Kejahatan Susan


__ADS_3

"Paman, apakah kamu sedang menyembunyikan sesuatu?" tanya Afmar.


"Engga..." jawab Adira.


"Emm... okay, kalo begitu paman wajib membantu kami."


"Eumm... apa yang harus paman lakukan untuk kalian?" Adira sedikit bernafas dengan lega.


"Okey, jadi... Afmar mau bikin sebuah kejutan." ucap Afmar.


"Oh ternyata hanya sebuah kejutan, untuk siapa?" akhirnya Adira pun bernafas dengan lega karena dugaan nya terhadap Afmar itu salah.


"Ya siapa lagi kalo bukan Arsitek Ilona." jawab Afmar dengan sangat lantang.


Teman-temannya merasa aneh dengan jawaban yang di berikan oleh Afmar, karena Afmar menyebut nama Ilona dengan sebutan Arsitek Ilona dan bukanlah Bunda.


Ternyata sebab dari Afmar tidak menyebut nama Ilona dengan panggilan Bunda adalah Susan, ya betul Susan diam-diam memperhatikan mereka dari jauh.


"Sial, wanita ****** itu mau di buatkan sebuah kejutan!" gumam Susan.


"Stt... paman." bisik Afmar.


"Kenapa?" tanya Adira kebingungan.


"Coba paman liat ke arah jam tujuh, kok ada tante Susan disini sih?" ucap Afmar yang masih berbisik-bisik.


"Eumm... sepertinya para Klien papahmu ingin menghirup udara segar di taman ini." jawab Adira,


"Jadi itu alasan mu untuk tidak memanggil bibi Ilona dengan panggilan bunda?" tanya Misha.


"Heem... jika semua rahasia ini bocor, bisa-bisa bunda akan meninggalkan aku lagi." jawab Afmar.


"Hah!? why?" tanya Alex.


"Ini adalah sebuah perjanjian yang telah di sepakati oleh ku, papah dan juga bunda." jawab Afmar.


"Yasudah, kita kembali ke topik awal, yaitu mempersiapkan sebuah kejutan, hmm... kira-kira apa saja ya yang kita butuhkan?" Adira membesarkan suaranya kembali.


"Yang pasti harus ada balon, jangan terlalu banyak." ujar Afmar.


"Kue browniesnya jangan lupa." seru Misha.


"Kau benar sekali Misha, Arsitek Ilona kan memang sangat menyukai kue brownies." Afmar menjawab seruan Misha.


"Lalu... apalagi yah?"


"Aha! bagaimana jika kita beri ia kado." seru Alex.


"Nice... ternyata kamu pintar juga yah, Alex hahaha." Adira mengibarkan bendera pertempuranya bersama Alex.


Prak...


Alex memukul meja taman yang ada di depannya. "Paman! kenapa kau selalu mengejek ku seperti itu! kau ini punya masalah apa dengan ku?! selalu saja membuat ku kesal."


"Santai Alex... hahaha, kamu gak bisa kalem sedikit apa?." seru Adira.


Afmar dan yang lainnya pun ikut tertawa melihat tingkah laku Alex dan perdebatan yang di buat oleh Adira.

__ADS_1


Disisi lain Susan yang melihat mereka semua tertawa dengan riang pun merasa kesal. "Kenapa sih? kenapa Ilona selalu di sukai oleh banyak orang? tapi yasudahlah sebaiknya aku segera kembali kepada Arthur."


"Sekertaris Susan!" teriak Sista yang memanggil-manggil nama Susan.


"Aku disini, kau kemana saja?! aku lelah mencarimu." jawab Susan.


Sista melirik ke arah sumber suara Susan. "Hehehe... maafkan aku, barusan aku sedang makan siang."


"Apakah hanya ada makan saja di fikiran mu itu? Arthur memanggilmu tadi oleh sebab itu aku mencarimu." ujar Susan yang sedikit membentak Sista.


"Hahaha... di karenakan aku telah bertemu dengan Tuan Arthur, maka ia pun memerintahkan aku untuk mencarimu." jawab Sista.


"Hahaha... apakah dia menghawatirkan ku? Sista, apa rencana mu selanjutnya?"


"Emm... belum aku pikirkan."


"Yasudahlah, lupakan saja dulu soal itu, sekarang aku hanya ingin fokus pada penyembuhan, karena aku tidak mungkin menjalankan sebuah rencana dengan satu bagian tubuh yang tidak dapat di gunakan seperti ini."


"Hmm... namun, sepertinya aku memiliki remcanarencana yang bagus sekarang." Sista tersenyum licik ke arah Susan.


"Susan?! Sista?!" teriak Arthur yang secara tiba-tiba memanggil nama mereka berdua.


"Sttt... itu suara Arthur, ayo cepat bantu aku mendorong kursi rodaku!"


"Susan, sebaiknya kamu menjawab panggilan dari tuan Arthur."


Susan pun langsung menyaut panggilan Arthur. "Arthur! aku disini bersama Sista."


"Nice Susan, soal rencana kau tenang saja, nanti kita fikirkan lagi bersama." bisik Sista.


"Baiklah, Sista mulailah berekting kembali." seru Susan.


Karena tempat mereka berdiri sekarang tidaklah jauh dari taman, Susan pun menjawab pertanyaan Arthur. "Aku hanya menghawatirkan Afmar."


"Kau tenang saja di sana ada Adira, sekarang kamu harus fokus untuk bekerja, jika kamu merasa lelah sebaiknya kamu pulang saja dan beristirahat." ujar Arthur.


"Emm... baiklah, kami akan segera menyusul mu." jawab Susan.


"Tuan Arthur, kenapa? kok tiba-tiba jadi sensian gitu." bisik Sista.


"Aku tidak tau, tapi yasudahlah cepat susul dia." seru Susan.


Sesampainya mereka di tempat para Klien berkumpul, Susan pun bergegas menyapa mereka semua.


"Halo semuanya, tuan dan nyonya." Susan menundukan kepalanya sebagai tanda penghormatan.


"Sekertaris Susan! kenapa kamu memakai kursi roda?" tanya salah satu Klien.


"Ah... ada sedikit tragedi yang membuat ku harus menggunakan kursi roda ini." jawab Susan.


"Kau kuat untuk bekerja?"


"Nyonya, jangan hawatir ini hanya terkilir, pekerjaan ku itu hanya menulis dan mengatur semua pengeluaran bukan untuk membangun museum."


"Hahaha... kau ini memang tidak pernah berubah. Aku dengar-dengar pendesain museum ini adalah anak didik langsung dari pendesain terkenal itukan?"


"Kau benar sekali, pak Xhi menerjunkan langsung anak didiknya untuk mendesain museum ini, namanya adalah Ilona."

__ADS_1


"Wow... namanya bagus sekali."


"Pasti dia wanita yang sangat cantik, aku tidak sabar untuk bertemu dengan nya." jawab salah satu Klien lainnya.


Susan hanya dapat tersenyum saat mendengar para Klien memuji nama Ilona di depannya, Susan pun bergumam di dalam hatinya. "Ibu-ibu, ini membuatku sangat kesal, mereka belum pernah melihat Ilona, namun sudah memujinya seperti itu."


"Arthur, sepertinya kami sudah mengambil keputusan untuk bekerja sama dengan mu. Karena sudah tidak di ragukan lagi, dari bentuk kualitas pekerja, lalu museum ini sangatlah beruntung mendapatkan pendesain yang di didik langsung oleh pak Xhi."


"Apakah secepat ini kalian menyetujuinya?" tanya Arthur.


"Iyah, kami semua telah menyepakatinya. Arthur, sepertinya perundingan kita sudah selesai sampai disini, kami izin untuk kembali ke kantor masing-masing, karena masih banyak hal yang harus kami persiapkan untuk pembangunan museum ini."


Arthur pun menjabat tangan dari salah satu Kliennya. "Terimakasih nyonya, karena nyonya sudah mau ikut serta dalam bangunan ini."


"Sama-sama Arthur, yaudah kalo begitu sampai jumpa." mereka semua pun mulai meninggalkan tempat pembangunan.


"Kerja bagus, Susan." ujar Arthur dengan senyuman tipis di pipinya.


"Sebenarnya ada apa dengan mu, Arthur?" tanya Susan.


"Maksudmu?" Arthur bertanya balik.


"Sikapmu tiba-tiba sangat aneh."


"Emm... tidak apa-apa, mungkin aku hanya kecapean, yasudah aku pergi dulu ke tenda untuk beristirahat sebentar, kau di temani Sista dulu saja yah." Arthur pun meninggalkan Susan bersama Sista.


"Baiklah." jawab Susan.


"Ternyata dia hanya kelelahan yah?" tanya Sista.


"Sista, sepertinya aku memiliki ide yang bagus." ucap Susan dengan senyuman liciknya.


"Ide apa?" Sista kembali bertanya.


"Pastikan dulu bahwa Arthur sudah pergi." jawab Susan.


"Aman-aman, tuan Arthur sudah cukup jauh, ayo beritahu aku sekarang!" ujar Sista yang tidak sabar ingin mendengar rencana yang di buat oleh Susan.


"Aku akan menggoda Arthur, dengan cara apapun." bisik Susan.


"Apa?!" Alih-alih setelah mendengar ucapan Susan tadi, pupil mata Sista menjadi mekar, alisnya naik, dan bibirnya bergetar yang menandakan bahwa ia sangat terkejut dengan rencana yang Susan buat.


🌻🌻🌻


...♥Bersambung........


...lanjut baca Bab 33 yah! makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.♥...


Para pembaca boleh koreksi di kolom komentar


Jangan lupa buat like + vote setiap hari senin + favoritづ ̄ ³ ̄)づ


Tetap pantengin terus bab-bab selanjutnya yah.


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❀


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam

__ADS_1



__ADS_2