
Afmar terus berjalan hingga sampai duluan di depan mobil bersama teman-temannya.
"Afmar, maksud mu itu apa? coba jelaskan!" ujar Misha yang kebingungan.
"Jika kita terlalu lama bersama bunda apakah tante Susan tidak akan curiga?" jawab Afmar.
"Hehehe... aku tidak memikirkan itu."
"Untung saja tadi aku melihat kedipan mata Afmar, jika tidak mungkin sandiwara ini akan hancur." ucap Alex.
"Sttt... paman Adira dan tante Susan datang." seru Danis dengan berbisik.
"Anak-anak, kenapa kalian masih di luar?" tanya Susan.
"Emm... kami menunggu kalian datang dulu, karena Afmar tidak membawa kunci serep mobil ini, nanti alarm mobilnya bunyi." jawab Afmar.
"Eumm... yasudah, Adira bukakan mobilnya." Susan memberikan perintah.
"Argh... ya tuhan, aku mohon berikan kesabaran untuk ku menghadapi wanita ular ini, aamiin." gumam Adira di dalam hatinya.
"Adira, bantu aku naik ke mobil." Susan memberikan perintahnya lagi.
"Baik." (Tidak ingin berbasa basi, sikat, padat dan jelas.)
Adira pun hendak membukakan pintu untuk Afmar bersama teman-temanya, namun mereka menolak dan memilih untuk membukanya sendiri.
"Paman, hanya membuka pintu mobil kami bisa sendiri, kau bantu saja tante Susan." ujar Afmar.
Adira berbicara di dalam hatinya. "Astaga! terimakasih anak-anak, kalian telah membantu ku untuk meringankan pekerjaan, huhuhu..."
"Kalian memang pengertian." puji Susan.
"Baiklah, sekertaris Susan mari saya bantu untuk naik ke mobil." ujar Adira.
"Emm... pelan-pelan yah."
Ketika Adira sedang membantu Susan untuk naik ke mobil tak sengaja pemandangan itu di lihat oleh Nadhira, yang membuatnya berprasangka buruk terhadap Adira.
"Adira, kau berbohong! kata mu tadi kau masih mencintaiku tetapi di luar kau malah menggandeng wanita lain." gumam Nadhira.
Adira pun bergegas memasukan kursi roda Susan ke dalam bagasi mobil, ketika ia melirik ke arah pintu rumah sakit disana terdapat Nadhira yang sedang menangis.
"Nadhira? kenapa kamu menangis?" Adira bertanya-tanya di dalam hatinya.
Namun, karena ia tidak memiliki banyak waktu untuk bertanya Adira pun memutuskan untuk segera kembali ke proyek pembangunan.
"Adira, kau melihat ke arah ku, namun kenapa kau tidak menghampiri ku?" gumam Nadhira.
Nadhira pun akhirnya hanya dapat melihat Adira yang pergi bersama wanita lain, namun itu hanya prasangkanya saja, Adira pasti akan menjelaskan nya nanti.
__ADS_1
Beralih kembali kepada Ilona.
Entah Rio mendapatkan informasi dari mana bahwa Ilona mengalami kecelakaan, namun Ilona tidak pernah memberikan nomor telefon rumahnya ke daftar nomor telefon yang ada di kantor.
Rio bersama Ibunya bergegas datang ke rumah sakit, sekitar 10 menit sesudah kepergian Afmar dari rumah sakit ia datang bersama Ibunya ke rumah sakit untuk memastikan kondisi Ilona itu baik-baik saja.
Sesampainya Rio di rumah sakit ia bergegas bertanya ke salah satu perawat yang ada disana, dan kebetulan ia bertanya kepada Nadhira, Nadhira pun langsung bergegas menunjukkan ruangan Ilona.
"Permisi..." ucap Rio dengan sopan.
"Iya tuan, apa ada yang saya bisa bantu?" tanya Nadhira.
"Saya mau keruangan yang beratas nama Ilona, apakah ada di rumah sakit ini?"
"Maksudnya ruangan nyonya Ilona Sheng?" tanya Nadhira.
"Iyah... dimana yah ruangan nya?"
"Ouh... mari-mari saya tunjukan." Nadhira bergegas berjalan menunjukan ruangan Ilona.
"Ibu... ayo." Ujar Rio.
"Baiklah."
Sesampainya mereka di depan ruangan rawat Ilona, karena Rio adalah pria yang sangat baik iapun memberikan sedikit uang tips kepada Nadhira.
"Disini ruangan nya tuan."
"Tuan, ini sudah jadi tugas saya, tidak apa-apa." Nadhira menolak uang pemberian Rio.
"Yah... kok di tolak sih, sebelumnya aku tidak pernah di tolak oleh siapapun, kau orang pertama yang menolak ku." Rio basa-basi agar uangnya di terima.
"Kamu tidak tau anak ku ini siapa?" tanya ibu Rio terhadap Nadhira, tujuannya sama agar menyudutkan Nadhira untuk menerima uang pemberian Rio.
"Eumm... memangnya tuan ini siapa?" tanya Nadhira yang gugup.
"Aku pewaris perusahaan Arsitektur pembangunan yang terkenal, dan rumah sakit ini jika kau ingin tau yang mendesain nya adalah ayah ku." Rio melipat tangannya seperti orang yang sedang menyombongkan diri.
"Aduh..." gumam Nadhira.
"Kau benar-benar ingin menolak ku? atau..." Nadhira tiba-tiba menyela Rio yang sedang berbicara, karena yang ada di dalam fikirannya adalah Rio akan mengacamnya untuk di pecat dari rumah sakit.
"Ah baik-baik, aku terima uang tipsnya." seru Nadhira.
"Hahaha... akhirnya ini, terimakasih yah." Rio pun meberikan amplop yang berisikan uang tersebut kepada Nadhira, ia pun bergegas masuk ke dalam ruangan Ilona.
"Astaga!~... uang tipsnya banyak sekali!" seru Nadhira.
Rio dan ibunya pun langsung menghampiri Ilona yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit, dan betapa terkejutnya Ilona saat melihat Rio dan ibunya berada di rumah sakit.
__ADS_1
"Ilona..." bisik Rio.
Ilona mengusik kedua matanya. "Iyah sus... Rio! kenapa kamu ada disini? ada Ibu juga!"
Ibu Rio langsung memeluk Ilona dengan sangat erat. "Gadis yang ceroboh! kenapa kamu malah bertanya seperti itu kepada ibumu!"
Memeluk balik. "I...ibu, aku tidak apa-apa."
"Jika tidak ada hal yang terjadi padamu mana mungkin kamu dapat masuk ke rumah sakit!" seru ibu Rio.
"Ibu jangan marah-marah gitu dong, Ilona jadi takut." Ilona tersenyum senang.
"Ish kamu nih, coba jawab ibu sekarang, kenapa kamu bisa jatuh dari tangga?"
"Emm... aku tidak jatuh sendiri, namun teman ku juga jatuh." jawab Ilona.
"Apa!? lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Ibu Rio sekali lagi.
"Dia baik-baik saja tenanglah, sebab aku jatuh dari tangga itu karena teman ku terjatuh lalu... badannya menimpaku dan menyeret badan Ilona juga sampai bawah, begitu."
"Dulu hal seperti ini pun hampir terjadi padamu, untung saja Rio ada disana dan dapat menyelamatkan mu beserta anakmu." Ibu Rio tak sengaja mengingatkan Ilona ke dalam kejadian itu lagi.
"Ibu!" seru Rio yang mengingatkan.
"Tidak apa-apa, Ibu memang benar, jika saja pada saat waktu itu kamu tidak ada di rumah, mungkin hari ini aku tidak akan memiliki seorang anak." Ilona menundukan kepalanya.
"Ma... maksud Ibu bukan seperti itu Ilona, maafkan Ibu telah menyinggung mu."
"Sudahlah Ibu, aku tidak apa-apa, Ibu mau buah-buahan? disini ada banyak." Ilona berusaha untuk tetap ceria tanpa memperlihatkan kesediahannya.
Rio berbicara di dalam hatinya. "Ilona, kau memang benar-benar wanita yang baik."
"Ilona, Ibu tidak mau buah-buahan ayo kita pulang ke rumah, bagaimana jika rawat jalan saja."
"Ibu, keadaan Ilona masih belum stabil, mohon pengertian nya, terpaksa untuk hari ini Ilona masih harus berada di rumah sakit, mungkin sampai besok."
"Emm... baiklah, yasudah kalo begitu izinkan Ibu untuk menyuapi mu sekarang!" seru Ibu Rio.
"Hahaha... baiklah-baiklah." Ilona tertawa melihat Ibu Rio yang begitu mencemaskan nya.
ð»ð»ð»
...â¥Bersambung........
...lanjut baca Bab 31 yah! makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.â¥...
Para pembaca boleh koreksi di kolom komentar
Jangan lupa buat like + vote setiap hari senin + favoritã¥ï¿£ ³ ̄)ã¥
__ADS_1
Tetap pantengin terus bab-bab selanjutnya yah.