Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 24 Bunda!


__ADS_3

"Ayo sekertaris Susan, saya bantu turun." Sista menawarkan bantuan.


Dengan rasa percaya diri Susan menolak. "Tidak apa-apa Sista, aku bisa sendiri."


Susan mulai menurunkan kakinya dari Brankar Ambulance, baru saja Susan akan mencoba berdiri, namun secara tiba-tiba ia merasakan rasa sakit yang luar biasa di sebelah kaki kirinya.


"Argh... !!!" teriak Susan kesakitan.


"Susan!" Sista berbalik, bergegas menolong Susan yang terjatuh di sela sela kursi mobil ambulance.


"Sekertaris Susan!" teriak para karyawan yang terkejut.


"Gila! Sista, aku tidak menyangka bahwa kakiku akan terkilir, padahal aku sangat berharap bahwa yang terluka itu hanya Ilona!" bisik Susan di telinga Sista.


"Sabar, sekarang kau berdiri saja dulu, aku akan membantumu."


"Mari saya bantu juga Sista." ucap salah satu karyawan yang menawarkan bantuan.


"Baiklah, terimakasih." jawab Sista.


Susan berbicara di dalam hatinya. "Ilona! jika bukan karena ingin menyingkirkan mu akupun tidak akan pernah mau melakukan hal senekat ini."


"Dokter! dokter!" teriak Sista.


Arthur yang mendengar teriakan Sistapun langsung bergegas untuk menghampirinya. "Susan! apa kau baik-baik saja?"


"Arthur? iyah aku baik-baik saja, hanya ada sedikit masalah di bagian kaki kiriku, jadi kau tidak usah menghawatirkan ku, tenanglah ini hanya sedikit." jawab Susan.


"Susan, kau juga terluka! ayo cepat akan aku bantu dirimu untuk berjalan." Arthur langsung menggandeng tangan Susan.


"E-eh... sudahlah Arthur tidak usah, di sini juga ada Sista dan para karyawan yang akan siap untuk membantuku." Susan bersandiwara menolak tawaran Arthur.


"Susan! yasudah okay."


"Arghh... Arthur, kau sangat tidak peka sekali!" ucap Susan di dalam hatinya.


"Yasudah, kalo begitu Sista dan karyawan lainnya balik ke kantor sekarang juga! biarkan Susan jadi urusanku, jika kalian semua menolaknya saya akan menjamin bahwa bulan ini kalian bertiga tidak akan mendapatkan gaji!" ujar Arthur yang mengancam.


"Eh... tuan Arthur kok gitu?" tanya Sista.


"Sista, kau mau bulan ini tidak dapat gaji? yasudah sih lagian ini adalah sebuah pilihan."


"Emm... baik-baik, kami bertiga akan segera kembali ke kantor, mohon jaga baik-baik sekertaris Susan, kami semua pamit, permisi." ujar Sista yang langsung bergegas meninggalkan rumah sakit.


"Arthur, kau benar-benar membuatku semakin jatuh cinta." ujar Susan di dalam hatinya.


"Pelan-pelan saja jalannya." seru Arthur.


"Kau ini kenapa selalu baik kepadaku?" tanya Susan.


"Kau itu orang kepercayaan ku, tentu saja aku akan berbuat baik padamu, dan satu hal lagi."


"Apa?"


"Karena kamu selalu berbuat baik terutama pada Ilona, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk membalas semua kebaikan orang lain terhadap Ilona." jawab Arthur.


Hati Susan sedikit hancur ketika mendengar ucapan Arthur, namun apa boleh buat."Jika orang itu jahat, apa yang akan kau lakukan?"


"Emm... tentu saja aku akan membalasnya."


"Benarkah?"


"Ya, bahkan aku akan lebih kejam!"


"Yasudah, mau sampai kapan kau akan berbicara? ini sudah sampai ke ruangan nya, sampai jumpa."


"Hahaha baiklah. Dokter mohon penanganan terbaiknya." seru Arthur.


"Baiklah tuan, serahkan padaku." jawab sang dokter.


"Susan, semuanya akan baik, aku tinggal dulu yah." Arthur melambaikan tangan nya.


"hmm..." jawab Susan yang seketika menjadi murung.


Arthur sedikit mulai mencurigai suatu hal, karena anehnya dari kedua kecelakaan tersebut tidak memiliki jeda waktu satu haripun atau juga di sebut dengan berturut-turut. Arthur curigai bahwa semua ini bukanlah sebuah kecelakaan yang alamiah terjadi, melainkan hal yang memang sengaja sudah di rencanakan.


Arthur mencurigai adanya sangkut-paut dendam pribadi diantara para karyawannya. Arthur segera menelfon Adira untuk bergegas mencaritahu asal-usul dari kecelakaan tersebut.


Arthur segera menelfon Adira.


Tuut... tut...


...Percakapan Arthur di telefon...

__ADS_1


"Adira!"


^^^"Iyah tuan, apakah ada masalah?"^^^


"Ini masalah besar, aku ingin kamu menyelidiki kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi pada Ilona dan Afmar, ini semua begitu mencurigakan."


^^^"Baik tuan, sebenarnya sayapun memiliki firasat yang sama dengan tuan."^^^


"Baguslah, aku minta kamu untuk segera menyelidikinya."


^^^"Baik tuan, kecurigaan saya dalam hal ini adalah kecelakaan yang telah di rencanakan, jadi besar kemungkinan pasti akan sedikit sulit, namun saya pasti akan usahakan semaksimal mungkin."^^^


"Baiklah, aku mempercayai dirimu. Satu hal lagi aku minta padamu untuk tidak ada seorangpun yang membicarakan kecelakaan ini, Ilona memintaku untuk tidak memberitaukan Afmar."


^^^"Baik tuan."^^^


"Aku percayakan semuanya kepadamu."


Tut.....


Sayangnya sebelum Adira menyampaikan pesan Arthur, Afmar telah mengetahui segalanya.


25 menit yang lalu, sebelum Arthur menelfon Adira.


"Teman-teman, aku ke bawah dulu yah ambil lagi makanan." ujar Afmar.


"Afmar, kau ini selalu mempersulit diri, telfon saja offis boy untuk kemari membawa makanan lagi." ucap Alex yang tidak ingin repot.


"Ya memangnya Afmar itu kamu? yang salah mempergunakan jalabatan?" tanya Misha.


"Jangan berdebat!" seru Danis.


"Hahaha... terimakasih Danis, yasudah kalian tunggu saja di sini." Afmar segera keluar dari ruangan.


Di saat Afmar baru saja keluar dari ruangan hendak mengambil makanan di lobby tak sengaja ia mendengar suara para karyawan yang sedang membicarakan nama bundanya.


Karena Afmar adalah anak yang rasa ingin taunya sangat tinggi maka ia memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka. Namun betapa terkejutnya Afmar ketika ia mendengar bahwa bundanya terjatuh dari tangga.


"Eh... tadi kalian liatkan tuan Arthur gendong Arsitek Ilona?" ucap para karyawan yang sedang menggosip.


Afmar seketika langsung terpancing saat mendengar para karyawan menyebut nama bundanya. "Aduh, karyawan-karyawan papah di sini sukanya menggosip terus, bawa-bawa nama bunda lagi, emm... tapi aku dengerin aja kali yah, hihihi."


"Ehmm... soswit banget yah."


"Umm... gemes banget deh, tapi Tuan muda Afmar belum tentu menyetujuinya."


Afmar bergumam di balik dinding. "Ptfff... para karyawan papah ini sangat lucu sekali, aku pasti akan menyetujui mereka bersama lagi, bunda Ilona itukan bundaku."


"Tapi aku kasian aja sih sama Arsitek Ilona."


"Iyah... kau betul sekali, ada kemungkinan maksud dari tuan Arthur menggendong Arsitek Ilona tadi itu hanya sebatas rasa kemanusiaan saja."


Afmar seketika kebingungan dengan apa yang sedang mereka bicarakan. "Papah, gendong bunda di depan umum? emm ga mungkin."


"Aku melihat dengan jelas Arsitek Ilona terseret sampai ke bawah."


"Aku pastikan Arsitek Ilona pasti terluka lebih parah di banding dengan Sekertaris Susan."


"Kita lihat saja nanti."


"Bunda? terseret sampai bawah? Astaga bunda!" gumam Afmar yang mulai mengerti dengan maksud dari ucapan para karyawan.


Afmar yang mengetahui bahwa Ilona jatuh dari tangga bersama Susanpun langsung bergegas bertanya pada pihak administrasi di lobby.


"Kakak cantik!" teriak Afmar.


"Iyah Afmar, cemilan nya abis yah?" jawab sang administrasi dengan senyuman hangat.


"Dimana papah!?"


"Tuan Arthur?"


"Iyah papah, dimana dia sekarang?"


"Eumm... setau kakak papahmu tadi ke rumah sakit."


"Ada masalah apa sebenarnya? kenapa papah harus ke rumah sakit?" tanya Afmar yang mulai gelisah.


"Tadi ada sedikit kecelakaan, Sekertaris Susan di duga kehilangan keseimbangan pada saat menuruni tangga dan terjatuh."


"Ceritakan dengan jelas!" seru Afmar.


"Ternyata memang benar dengan apa yang karyawan lain katakan, sangat sulit untuk membohonginya. Afmar memang anak yang sangat genius! aku sangat salut padanya huhuhu." ucap sang administrasi di dalam hatinya.

__ADS_1


"Ya pada akhirnya Sekertaris Susan terjatuh dan menimpa Arsitek Ilona, tapi kamu tenang saja mereka berdua langsung di larikan ke rumah sakit. Sekertaris Susan sepertinya akan baik-baik saja kemungkinan hanya lecet-lecet saja, namun berbeda dengan Arsitek Ilona, lukanya pasti akan cukup parah, sebab dirinya terseret sampai ke lantai lobby oleh badan Sekertaris Susan."


Afmar berusaha untuk tenang dan menahan air matanya untuk jatuh. "Lalu papah kemana sekarang? di rumah sakit? rumah sakit mana?"


"Setau kakak rumah sakit yang sama dengan kemarin Afmar di rawat."


"Baiklah, Afmar akan menyusul papah ke rumah sakit."


"Afmar! biar kakak temani kesana." seru sang administrasi.


"Tidak perlu! atau Afmar akan minta papah potong gaji kakak cantik, sudah yah." Afmar langsung bergegas pergi meninggalkan kantor.


"Astaga... anak ini sukanya mengancam." gumam sang administrasi.


Saat Arthur baru saja selesai menelfon Adira, tidak di sangka Afmar telah sampai di rumah sakit.


"Kakak... Afmar boleh minta tolong?" ucap Afmar kepada salah satu perawat.


Sang perawat berlutut di hadapan Afmar. "Iyah, ada apa adik kecil?"


"Afmar lagi cari papah, ada papah?"


"Papah?"


"Eh... maksudnya tuan Arthur Sheng, apa ada disini?"


"Ouhh, kamu anaknya tuan Arthur yang kemarin di rawat yah?"


"Iyah... sekarang papah dimana? beritahu saja arah dimana tempat papah berada sekarang, Afmar tidak akan meminta kakak untuk mengantar."


"Papah kamu ada di ruang tunggu sebelah sana." tangan nya menunjuk ke sebelah lorong kiri.


"Baiklah terimakasih kakak cantik." Afmar bergegas berlari menuju ke ruang tunggu.


"Anak itu memang manis." gumam sang perawat.


Ketika Arthur hendak berdiri, dan telah melirik ke arah kiri betapa terkejutnya ia melihat Afmar yang tiba-tiba ada du rumah sakit.


"Afmar?" ucap Arthur yang terkejut melihat kehadiran Afmar yang secara tiba-tiba ada di rumah sakit.


"Papah! dimana bunda!" teriak Afmar begitu sangat kencang.


Arthur bergegas memeluk Afmar. "Tenanglah! kau ini sedang berada rumah sakit. Jangan sembarangan teriak gitu!"


"Dimana bunda!? huhuhu..."


"Bundamu sedang di rawat, tenanglah."


"Kenapa papah tidak memberitahu ku?" tanya Afmar dengan tangisan yang mulai tersedu-sedu.


"Papah baru saja menelfon paman Adira untuk tidak memberitahukan hal ini padamu, namun sepertinya papah terlambat."


"Kenapa papah tidak mau memberitahukan Afmar?"


"Bundamu sendiri yang memintanya." jawab Arthur dengan nada suara tegas.


"Ke... kenapa?"


"Karena ia pasti sudah tau jika kau akan seperti ini! Afmar, mau tau tidak cara cepat untuk membuat bunda cepat bangun?"


"Seperti apa caranya?" tanya Afmar.


"Jika Afmar menginginkan bunda cepat bangun caranya itu hanya satu yaitu jangan menangis, kau harus tunjukan pada bunda bahwa anaknya kuat, anaknya tidaklah sama dengan apa yang ia bayangkan."


"Begitukah? yasudah Afmar tidak akan menangis lagi, lihatlah bunda kau salah dalam hal menilai anakmu sendiri." Afmar mulai menghapus air matanya.


"Sudah berhentilah menangis!" ujar Arthur yang mendidik Afmar untuk belajar tegar dalam menghadapi situasi.


🌻🌻🌻


...♥Bersambung..... lanjut baca Bab 25 yah! makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.♥...


Para pembaca boleh koreksi di kolom komentar


Jangan lupa buat like + vote setiap hari senin + favoritづ ̄ ³ ̄)づ


Tetap pantengin terus bab-bab selanjutnya yah.


"Setia tunggu aku yah!" Seru Afmar kepada para pembaca.♡(∩o∩)♡


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam

__ADS_1



__ADS_2