Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 60 Makan malam


__ADS_3

Akhirnya setelah sekian lama baru bisa update lagi, Maaf- maaf nih para pembaca, Author ada sedikit problem sama Handphone jadi gak up-up, sekarang mari kita GAS! update kembali. (>∀<)ノ♡


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya mereka di lestoran. Afmar, yang sudah tidak sabarpun langsung bergegas turun dari mobil, dan seolah tergesa-gesa ia pun langsung berlari dengan cepat untuk masuk ke dalam lestoran.


"Akhirnya kita sampai." ujar Ilona.


"Bunda! bunda! ayo buka pintunya Afmar, mau turun." seru Afmar.


"Pelan-pelan Afmar, sabar dikit bisa ga si?" ujar Arthur.


"Biarkan saja dia mungkin sangat berantusias." ucap Ilona, sambil membukakan pintu mobil untuk Afmar.


Afmar, dengan cepatnya langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam lestoran. "Afmar, duluan! dadah!"


"Hey! pelan-pelan! jangan lari-lari, astaga anak itu." keluh Arthur.


"Umm... tidak apa-apa sayang, anak kita mungkin sangat senang dapat keluar makan malam bersama kedua orangtua yang lengkap." ujar Ilona, yang menenangkan Arthur.


"Hem... ya kamu benar sayang. Yasudah, ayo ratuku izinkan rajamu ini menggandeng tangan mu." Arthur, mengulurkan tangannya.


Ilona, menunduk lalu menerima aluran tangan Arthur dengan anggunnya. "Mari tuan Arthur."


Disisi lain, Afmar yang sudah masuk duluan ke dalam lestoran pun bergegas memesan meja yang paling istimewa untuk mereka makan nanti.


Tuk... tuk...


Afmar, mengetuk meja kasir yang cukup tinggi di depannya. "Kakak pelayan, aku ingin memesan meja paling istimewa disini mohon tunjukan padaku, dan antarkan aku kesana."


"Hey... dimana orangtua mu adik kecil?" tanya sang pegawai kasir.


"Mereka masih di parkiran, aku ingin membuat sebuah kejutan untuk mereka, nanti juga mereka pasti akan menanyakan keberadaan ku kok, jadi ayo kakak bawa aku ke meja palimg istimewa." ujar Afmar.


"Umm... baiklah, biar kakak antar yah."


"Terimakasih." ucap Afmar dengan raut wajah menggemaskannya.


......................


Tak lama dari itu Sang pegawai kasir pun akhirnya kembali, dan kebetulan Arthur pun masuk ke dalam lestoran bersama dengan Ilona.


"Permisi." ucap Ilona, dengan ramah.


"Iya nyonya? apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya sang kasir.


"Apakah tadi ada seorang anak kecil masuk kesini? usianya 10 tahun, apakah anda melihatnya?"


"Ouh nyonya dan tuan, pasti orang tuanya yah? mari saya antar." ujar sang kasir yang langsung berjalan di depan Ilona dan Arthur, untuk menunjukan jalan.


"Terimakasih." ujar Ilona, yang mulai mengikutinya dari belakang.


Afmar, yang melihat bunda dan papahnya dari jauh pun langsung segera menghampirinya. "Bunda... Papah... Afmar, disini."


"Hey sayang..." ujar Ilona.


"Afmar! lain kali jangan di ulangi lagi!" seru Arthur.

__ADS_1


"Tuan... Nyonya, kalo begitu saya tinggal dulu yah." ucap sang pelayan kasir.


"Terimakasih, sudah mau mengantar kami." ujar Ilona.


"Sama sama Nyonya." jawabnya yang langsung meninggalkan tempat.


Afmar, menarik kedua tangan orangtuanya untuk segera duduk di bangku yang sudah ia pilih. "Ayo bunda... papah... kita duduk."


"Pelan-pelan sayang." ujar Ilona.


Mereka pun akhirnya duduk bersama di satu meja yang sama dan spesial.


"Papah... Afmar, bolehkan makan banyak malam ini? please." ujar Afmar dengan wajah memelasnya.


Ilona, langsung menyela jawaban Arthur sebelum ia berbicara sedikit pun. "Boleh sayangku, boleh."


"Ahh terimakasih bunda. Pelayan! buku menunya tolong." teriak Afmar, yang meminta buku pesanan.


"Ilona, kamu terlalu memanjakannya." bisik Arthur.


"Hanya sesekali sayang." jawab Ilona.


"Ya... apa boleh buat."


......................


Singkatnya setelah beberapa saat menunggu pesanan datang, akhirnya makanan yang mereka pesan pun sampai di meja makan.


"Yummy... akhirnya Afmar, bisa makan banyak-banyak setelah sekian lama." seru Afmar.


"Jangan lupa berdo'a dulu yah sayang." ujar Ilona.


"Iyah sayang... tapi, kalo nyobain sedikit aja bolehkan?" tanya Ilona, dengan penuh harapan.


"Eumm... tapi aku yang suapi, okay?"


Dengan senangnya Ilona, menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Iyah baiklah-baiklah."


"Papah, hari ini kau sedang menjadi pria baik yah?" ujar Afmar.


"Papah kan memang pria baik."


"Tidak-tidak... biasanya kau itu kejam papah." ujar Afmar, dengan kondisi mulut yang penuh dengan makanan.


"Sudah-sudah, makan dulu aja jangan banyak ngomong." seru Arthur.


"Tuh kan bund, baru aja di puji baik malah udah balik lagi ke sikap dulunya." bisik Afmar.


"Hey! papah, masih mendengarnya."


"Siapa yang mengizinkan papah untuk mendengarnya? tidak adakan? wle..." ujar Afmar, yang mengejek Arthur.


Arthur, hanya membalasnya dengan tatapan tajam tanpa berbicara sedikit pun lagi.


"Sudah ayo kita makan, jangan debat terus bunda cape dengernya." ujar Ilona.


"Papah yang duluan." jawab Afmar.

__ADS_1


"Ah... sudah lupakan hal itu. Bagaimana kalo kita membuat rencana untuk berlibur ke pantai?" ujar Arthur, dengan ide cemerlangnya.


"Ide bagus sayang, tapi bagaimana dengan Afmar? apakah dia juga tidak akan ikut?" tanya Ilona.


"Afmar pasti ikut kok sayang, aku melakukan ini demi untuk melindungimu dari kelicikan Novita, aku takut jika kamu terluka karnanya, cukup sampai Susan saja yang menyakitimu."


"Iyah bunda, Afmar juga udah tau kok materi-materi yang akan di bahas satu minggu kedepan, jadi bunda ngga usah hawatir kalo Afmar bakal ketinggalan pelajaran, selain sekolah Afmar pun ikut les, jadi taulah sedikit-sedikit."


"Umm... baiklah, terimakasih kepada kedua pria tersayangku, sungguh aku sangat mencintai kalian semua." ujar Ilona.


"Ouh tentu saja bunda! karena bunda di wajibkan untuk menyayangi kita! yakan pah?" seru Afmar.


"Betul kata anakmu itu." sambung Arthur.


"Ouh ya bunda..."


"Apa sayang?" tanya Ilona.


"Adik Afmar? bagaimana?" dengan polosnya Afmar bertanya soal hal itu dengan flatnya.


"Puftt... Ilona? bagaimana? di tanyain anaknya tuh." ujar Arthur, yang berusaha untuk menahan tawanya.


"Afmar, sayang... bunda udah pernah bilangkan? kalo adik Afmar itu lahirnya butuh proses, jadi ngga bisa langsung ada." jawab Ilona, dengan bijaksana.


"Kalo begitu kapan perkiraan adik Afmar lahir?" ucap Afmar, yang kembali bertanya.


"Bayi membutuhkan tahap pertumbuhan selama sembilan bulan sayang, dan untuk tahan pembuahan sekitar satu sampai dua bulan lamanya, jadi kalo di totalkan jadi sebelas bulan."


"Yah... tahun depan dong lahirnya, padahal Afmar pengen cepet-cepet gendong adik Afmar, bunda." ujar Afmar, dengan rasa kecewa.


"Sabar yah sayang. Emm... Afmar, taukan kalo tempatnya bayi berkembang itu dimana?" tanya Ilona.


"Di perut bunda." jawab Afmar.


"Nah betul, semakin besar bayinya semakin besar juga perut bunda. Afmar, pasti senengkan kalo perut bunda makin besar? tandanya adik Afmar sehat di dalam perut, terus Afmar bisa usap-usap perut bunda, dan jangan lupa nyanyiin juga."


"Emangnya bayi bisa denger? kan di dalem perut bunda, pasti rasanya kaya di ruangan anti tembus suarakan?"


"Bisa dong, karna tuhan ciptakan keistimewaan itu, jadi Afmar maukan nunggu?"


Dengan rasa senang Afmar pun kembali tersenyum saat mendengar seluruh penjelasan yang di jelaskan oleh Ilona. "Eumm baiklah, afmar pasti akan setia menunggu bayi tumbuh dan lahir."


"Umm sini peluk dulu bundanya." ujar Ilona, yang membuka kedua tangannya lebar-lebar.


Afmar, pun segera memeluk bundanya dengan sangat erat. "Terimakasih bunda."


"Sama-sama sayang."


Arthur, menatap ke arah mata Ilona dalam-dalam, seperti menandakan bahwa malam ini mereka perlu menambah lagi agar adik yang di mimpi-mimpikan oleh Afmar segera tumbuh.


Ilona, yang melihatnya hanya dapat tersenyum dan menganggukan kepalanya yang menandakan kesanggupan nya untuk malam ini.


Bersambung.....................


Lanjutkan ke bab selanjutnya yah!♡(∩o∩)♡


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤

__ADS_1


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam



__ADS_2