
Susan dan Sista sama sekali tidak menyadari bahwasanya mereka sedang di selidiki oleh Adira, yang tujuan nya untuk mengetahui segala kebenaran tentangnya.
Adira terus memantau Susan dari kejauhan, ia terus mengamati gerak-gerik Susan yang mulai mencurigakan, di tambah sekarang ia menebak bahwasanya Sista pun ikut terlibat dalam permasalahan ini.
Namun, Adira tidak ingin mengambil banyak resiko sebelum ia menemukan buktinya, karena ia tidak dapat menuntut Susan dengan pendapatnya sendiri jika itu terjadi hal yang di takutkan adalah mengadilan akan menjadikan kasus ini ke dalam sebuah tuduhan palsu.
"Wanita ular, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan disana bersama Sista?" tanya Adira di dalam hatinya.
Adira terus menerus memperhatikan gerak gerik Susan dari jauh, namun ketika ia sedang asik memperhatikan, Afmar tiba-tiba datang dan mengejutkan nya.
"Dor...!!!" teriak Afmar yang berusaha untuk mengejutkan Adira.
"Astaga!?" Afmar! ... kamu mau buat paman jantungan?" seru Adira.
"Ya lagian paman lagi ngapain sih? kaya lagi mata-matain seseorang aja."
Adira berusaha untuk membohonginya, namun apa boleh buat karena Afmar sangatlah sama dengan Arthur, sangat pintar dan cerdik, ia pun mengetahui ciri-ciri dari seseorang yang sedang berbohong.
"Engga kok, paman lagi diem-diem aja, liat-liat pemandangan aja gitu, kalo kita foto-foto kayanya bagus deh." ujar Adira yang berusaha untuk menutupi kebohongan.
"Paman sedang tidak berbohong kan?" tanya Afmar.
"Bohong? kenapa paman harus berbohong?"
"Ya kemungkinan ada suatu hal yang paman ingin sembunyikan dari Afmar, teman-teman, dan mungkin saja paman juga ingin menyembunyikan ini dari papah?" ujar Afmar yang tiba-tiba seperti mengancam.
"Afmar, kamu sedang membicarakan apasi? rahasia apa?"
Adira tidak sadar bahwa kata rahasia itu adalah petunjuk terbesar bagi Afmar untuk fix menebak. "Nah kan, padahal Afmar gak bilang rahasia, tapi paman seolah merasa Afmar menantakan soal rahasia."
Adira berbicara di dalam hatinya. "Astaga ya tuhan, cobaan apalagi ini? Afmar memanglah bukan tandingan ku!"
"Halo... paman? kok bengong sih?" Afmar melambaikan tangan nya di depan wajah Adira.
"Enggak, paman hanya sedang berfikir, bukankah menyembunyikan sesuatu itu juga sebuah rahasia?" sepertinya lagi-lagi Adira salah dalam hal menjawab perkataan Afmar.
"Memang benar, namun jika tidak ada rahasia apapun paman tidak akan membuat banyak alasan, ya... boleh di bilang seperti ini, paman selalu mencari-cari celah alasan untuk menutupinya."
"Ya tuhan! kenapa aku tidak bisa berbohong jika di hadapan tuan muda Afmar, kenapa... kenapa?!" teriak Adira.
"Hahaha... sudah Afmar duga, paman pasti menyembunyikan rahasia, coba jelaskan pada Afmar apa rahasia yang paman simpan?"
"Emm... itu..." Adira berbicara gugup.
"Ayolah paman."
__ADS_1
Setelah seperti ini apa boleh buat, terpaksa Adira pun membertahukan nya soal rencana yang ia buat untuk memata-matai Susan.
"Afmar, kau harus berjanji untuk tidak memberitahukan nya pada papahmu, okey?" ujar Adira.
"Iyah baiklah, aku akan menjaga rahasianya, namun paman harus memberitahunya kepada ku. Pokoknya sekarang! paman tidak di perkenankan untuk mengundur-ngundur cerita."
"Kok gitu sih?" tanya Adira.
"Kok malah nanya? apa susahnya buat cerita coba, ya tinggal cerita aja gitu."
"Hmm... oke deh, paman tadi sedang memata-matai Sekertaris Susan."
"Lah kok? apa maksud dari paman yang memata-matai tante Susan? "
"Paman, punya rencana untuk mengetahui penyebab dan dalang di balik dua kecelakaan kemarin, karena Afmar sadar tidak bahwa kejadian itu dua hari berturut-turut." pembicaraan Adira seketika berubah menjadi serius.
"Ya, maksud Afmar tuh kenapa harus tante Susan yang paman curigai?" tanya Afmar.
"Karena dari kejadian itu Susan sama-sama menjadi lemah, maksud paman begini, ketika kamu tertimpa barang di pembangunan ternyata di lantai dua ada Susan yang pingsan, dan satu lagi ketika Nyonya Ilona dan ia terjatuh dari tangga, Afmar pasti tau kalo Susan sebenarnya paling malas menggunakan tangga."
"Emm... soal itu paman memang benar, namun apa yang membuat paman begitu yakin?" Afmar bertanya kembali.
"Pertama kelemahan Susan adalah kamu, paman hanya baru menebak saja bahwa Susan awalnya ingin menimpakan wadah semen itu ke kepala Nyonya Ilona, namun kamu datang dan menggantikan nya, kemungkinan ia pingsan, karena ia melihat bahwasanya wadah semen yang ia jatuhkan itu salah sasaran dan itupun malah mengenai mu, oleh sebab itu ia pingsan."
"Afmar, masih memiliki banyak kepercayaan pada tante Susan yah?" tanya Adira sambil mengelus-ngelus kepalanya.
"Iyah, karena tante Susanlah yang selama ini ikut merawatku dan menggantikan peran bunda untuk ku, ya walaupun dia suka mabuk tetapi tetap saja Afmar memiliki hutang budi padanya, karena ia sudah susah payah untuk merawat Afmar."
"Mabuk?" tanya Adira kebingungan.
"Iyah mabuk, tante Susan suka mabuk." jawab Afmar.
"Afmar, tau dari mana?" Adira bertanya sekali lagi.
"Afmar, melihatnya dengan mata kepala Afmar sendiri." Afmar menjawab kembali pertanyaan Adira.
"Emm... paman, baru tau bahwa ternyata Susan adalah seorang pemabuk, berapa kali Afmar melihatnya?"
"Hanya dua kali sih, sewaktu Afmar masih TK dan ketika kita baru satu hari di Inggris."
"Astaga ya tuhan! ketika ia masih di Taman Kanak-Kanak saja ia masih mengingat kejadiannya?! dan anehnya dia sudah tau soal seseorang yang sedang mabuk? Waw!" gumam Adira.
"Ish paman, memangnya aku tidak dapat mendengar apa yang tadi paman katakan?"
Melirik ke arah Afmar dengan raut wajah menyeramkan. "Tapi memang benarkan?!"
__ADS_1
"Eh... paman, kau jangan mencoba untuk menakut-nakuti ku yah!"
"Paman tidak bermaksud untuk menakut-nakuti mu. Kembali ke topik pembicaraan kita yang utama, okey?"
"Iyah, satu pertanyaan lagi."
"Apa?" tanya Adira.
"Lalu apa lagi yang membuat paman sangat yakin dengan tuduhan paman kepada tante Susan?"
"Sebab, paman tau bahwa tante Susan sudah lama menyukai Papah mu, kemungkinan tante Susan melakukan itu semua untuk menggeser posisi Bunda mu."
"Apa... !!!" Mata Afmar berubah menjadi sangat merah seraya menahan tangisnya.
"Afmar! kau, menangis?" tanya Adira.
"Pa~paman! kau tidak sedang membohongiku kan?" bibir Afmar bergetar saat ia berbicara.
Adira langsung memeluk Afmar dengan erat. "Afmar, tenanglah."
"Bagaimana aku bisa tenang paman! jika kamu tau caranya katakanlah padaku!. Sejak Afmar kecil, Afmar selalu menceritakan semuanya kepada tante Susan, termasuk dengan keinginan ku yang tidak mau memiliki seorang ibu lagi selain Bunda." seru Afmar.
"Sudah tenanglah Afmar, jika kamu seperti ini teman-teman mu pasti akan curiga." ujar Adira.
"Paman! bekerja samalah dengan ku untuk menyelidiki tante Susan!" seru Afmar.
Tanpa fikir panjang lagi Adira pun langsung menyetujuinya, karena ia mengetahui kelebihan yang di miliki oleh Afmar. "Emm... baiklah, paman akan bekerja sama dengan mu, sudah jangan menangis lagi!"
ð»ð»ð»
...â¥Bersambung........
...lanjut baca Bab 34 yah! makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.â¥...
Para pembaca boleh koreksi di kolom komentar
Jangan lupa buat like + vote setiap hari senin + favoritã¥ï¿£ ³ ̄)ã¥
Tetap pantengin terus bab-bab selanjutnya yah.
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yahâ€
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1