Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 61 Apa perlu kita bersandiwara?


__ADS_3

Pembaca : Author! kok lama banget sih up nya! udah lama nih nunggunya, kangen sama Afmar!


Author : Gomen-gomen... maafkan, sekarang up nih beneran.(・з・)


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bunda... bunda... tapi nanti Afmar, juga mau kasih nama adik Afmar, bolehkan?" ucap Afmar, dengan rasa gembira.


"No! papah sama bunda juga mau kasih nama." jawab Arthur.


"Iyah... campuran aja gitu, nama depan, nama tengah, sama nama belakang, papah mau pilih yang mana?" tanya Afmar.


"Papah mau ambil nama tengah."


"Kalo bunda?"


"Afmar, mau kasih nama depan apa nama belakang?" ujar Ilona yang bertanya balik.


"Eumm... Afmar, sih pengen nya nama depan." jawab Afmar dengan jujur.


"Baiklah bunda nama belakang." ujar Ilona, yang sudah memutuskan.


Dengan mata yang berbinar-binar Afmar, pun kembali memeluk Ilona, dengan erat. "Afmar, sayang bunda!"


"Hey! papah juga sayang sama bunda." seru Arthur.


"Hahaha... bunda juga sayang sama papah, sama Afmar." jawab Ilona, dengan senyuman manis yang terpancar di pipinya.


...----------------...


Singkatnya setelah mereka selesai makan malam, mereka pun memutuskan untuk langsung kembali ke rumah, tanpa harus membeli makanan apapun lagi.


"Huh... papah, lihat perut Afmar." ujar Afmar, yang memperlihatkan perut buncitnya pada Arthur.


"Hahaha... jadi ini yang hamil itu Afmar atau bunda?" ujar Arthur, yang tertawa saat melihat perut anaknya.


"Afmar, laki- laki papah... ini isinya ada spageti, jus mangga, bola-bola udang, cumi bakar, daging sapi bakar, trus tadi Afmar pesan lagi spageti sama bola-bola udang." ucap Afmar, dengan gemasnya yang mengucapkan semua yang tadi ia makan di lestoran.


"Sekarang kenyang?" tanya Ilona.


"Ahh... kenyang banget bun."


"Yaudah yu kita masuk ke rumah, di luar udaranya mulai dingin."


"Kamu kedinginan sayang?" tanya Arthur.


"Hemm... sepertinya." jawab Ilona.


Arthur, yang mendengar Ilona kedinginan pun akhirnya memilih untuk menggendong nya hingga ke dalam rumah, tujuannya agar ia dapat mengurangi rasa dingin di dalam tubuh Ilona dengan pelukannya.


"Yasudah aku gendong, kamu peluk yah." ujar Afmar yang langsung menggendong Ilona di pangkuannya.


"Ahh... astaga, kalian tidak bisa apa berhenti bermestraan di hadapan anak kalian sendiri?" ujar Afmar yang mengeluh.


"Tidak! sangat tidak bisa." jawab Arthur.

__ADS_1


"Ish ngeselin banget sih papah!"


"Nanti bunda, gendong deh Afmar kalo udah di dalem rumah." ujar Ilona, yang mencoba untuk membujuk.


"Yey... !!! baiklah ayo kita masuk." seru Afmar, yang seketika langsung terburu-buru masuk ke dalam rumah.


Namun, ketika Afmar membuka pintu rumah ternyata di hadapannya sudah berdiri Novita yang sepertinya sudah menunggu Arthur pulang.


Dengan tatapan terkejut melihat Arthur menggendong Ilona di hadapannya, ia tetap harus mengondisikan sikapnya. "Hai Arthur, Afmar, eumm... dan juga Ilona, bagaimana dengan makan malamnya?."


"Kebetulan sekali bibi Novita di sini, papah pasti akan langsung melepaskan anak panah beracunnya." ujar Afmar, di dalam hatinya.


Arthur, pun segeran menurunkan Ilona dari pangkuannya. "Sampai sini saja yah sayang."


Ilona, yang sudah mengerti rencana Arthur pun hanya mengangguk dan mencoba berdiri dengan tegak. "Baik sayang, terimakasih."


Novita, mulai mendekat ke arah Arthur, setelah ia menurunkan Ilona dari pangkuannya. "Biar aku bantu untuk melepaskan jas mu, Arthur."


Walau ini hanyalah sebuah sandiriwara, akan tetapi Afmar, tetap tidak ingin bundanya terlalu menghayati adegan nya. Ia pun memutuskan untuk segera menarik tangan Ilona dan berjalan menuju ke arah kamar. "Ahh... ayo bunda, Afmar ingin segera mendengarkan bunda bercerita di kamar."


"Hahaha... baiklah sayang." ujar Ilona, ia pun mulai menghiraukan keberadaan Novita yang berada di samping Arthur.


"Arthur, apakah makan malam di luar enak?" tanya Novita.


"Aku tidak peduli dengan rasa makanan yang ada di lestoran, karena bagiku kebersamaan dari keluarga kecil itu jauh lebih nikmat rasanya." jawab Arthur, dengan angkuh.


Novita, menarik dasi Arthur ke arah wajahnya. "Keras kepala! aku tau kau itu masih mencintaiku, Arthur!"


Seketika Arthur, langsung mengalihkan pandangan nya. "Berfikirlah dewasa Novita, aku sudah memiliki seorang istri dan seorang anak, sebagai laki-laki yang bertanggung jawab, aku harus terus membahagiakan mereka."


Melepaskan genggaman tangannya dari dasi Arthur dengan kasar. "Hahaha... terserah kamu deh, lihat saja apa yang akan aku lakukan demi mendapatkan hatimu kembali, Arthur."


"Sombong sekali yah, lihat saja nanti Arthur, aku pasti akan merebutmu kembali tangan ku."


"Ya-ya-ya, ngomong-ngomong, makasih yah udah lepasin jasnya, sekiranya ada sisa uang yang terselip disitu ambil saja." ujar Arthur.


Seketika raut wajah Novita berubah menjadi sangat terkejut, dan demi menutupinya ia pun langsung berusaha untuk membantah. "U-untuk apa aku mengambil uang mu?! maaf ya Arthur, aku tidak serendah itu."


"Oh ya? bukan kah kamu sedang membutuhkan uang?" tanya Arthur.


Seketika hatinya langsung tak tenang mendengar Arthur yang mengatakan hal itu, ia pun hanya dapat terdiam dan berbicara di dalam hatinya. "Apakah Arthur... sudah mengetahuinya?! jika ia sudah mengetahuinya, bagaimana ini?"


"Hahaha... aku hanya bergurau, Novita. Baiklah sampai jumpa besok." dengan sedikit senyuman Arthur pun langsung berbalik arah dan meninggalkan Novita.


Dengan leganya Novita pun dapat bernafas lega. "Baiklah, sampai jumpa."


"Ternyata ia tidak mengetahui rencana yang telah aku buat. Syukurlah kalo begitu, sekarang aku harus segera menelfonnya." ujar Novita, di dalam hatinya.


...Pembicaraan di dalam telfon...


"Halo..."


^^^"Halo Novita... apa kabar? sudah lama kau tidak menelfon ku, apakah kau tidak merasa rindu?"^^^


"Jangan banyak bicara! kau sedang tidak nerada di luar negerikan?"

__ADS_1


^^^"Wow! Novita... apakah kamu ingin menemuiku?"^^^


"Ya... temui aku besok di caffe tulip."


^^^"Baiklah ratuku..."^^^


Tut..............


"Wanita ini, memang selalu menggodaku dengan cara apapun. Novita, aku akan segera menemui besok, muach." ujar sang lelaki misterius yang di telfon oleh Novita tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain tempat, yaitu di kediaman Sheng lebih tepatnya di kamar Arthur dan Ilona.


"Sayang..." ujar Arthur, yang baru saja membuka pintu.


Ilona, melirik ke arah Arthur. "Apa sayang?"


"Apakah kau cemburu?" tanya Arthur.


"Emm... hanya sedikit, namun aku harus tetap profesional di depan nya." jawab Ilona.


"Ahh... papah! dasar kau pria jahat! jangan bertanya seperti itu pada bunda tau! kalo mau papah suport dong." seru Afmar.


"Anak bawang jangan ikut campur!" seru kembali Arthur.


"Papah!"


"Apa hah?!"


"Cukup-cukup! siapa yang mau di cium bunda?" tanya Ilona.


"Aku... !!!" Teriak Arthur dan Afmar secara bersaman.


"Yasudah sini... papah di sebelah kanan bunda, dan Afmar di sebelah kiri bunda."


Mereka berdua seketika langsung menjadi penurut, jika soal ciuman dari Ilona. "Baik."


Setelah mereka duduk di sebelah kanan dan kiri Ilona, ia pun langsung memeluk anak dan suaminya secara bersamaan, sekaligus dengan mencium pipi Arthur untuk yang pertama dan Afmar untuk yang kedua.


"Ahh sayang/bunda, pilihlah satu diantara kami!" ucap Arthur dan Afmar yang mengeluh.


"Hahaha... biar adilkan?" jawab Ilona, yang tertawa geli.


Bersambung.............................


Jangan lupa Like+Share+Komen+Vote(´∀`)♡


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam



Waktunya Iklan:

__ADS_1


...Jangan lupa mampir juga ke karya novel di bawah ini...



__ADS_2