Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 25 Akhirnya


__ADS_3

"Iyah papah, aku sudah tidak menangis lagi." ucap Afmar yang masih terus mengusap air matanya.


"Kau anak yang pintar Afmar, papah sangat bangga padamu." Arthur mengusap kepala Afmar.


Di sisi lain tempat yaitu di kantor perusahaan.


"Alex, sebaiknya kamu susul Afmar." seru Misha.


Tiba-tiba Adira masuk ke dalam ruangan. "Anak-anak! dimana Afmar? pastikan dia ada di sini terus yah, jangan sampai Afmar keluar."


"Et... paman Adira tenang saja, tadi Afmar ke lobby untuk mengambil camilan." jawab Alex.


"Tadi paman baru saja dari lobby, tapi paman tidak bertemu dengan Afmar."


"Eumm... Afmar, memang sudah cukup lama pergi sih." ujar Misha.


"Mati!" gumam Adira.


"Apa paman? kau mengatakan sesuatu?" tanya Misha.


"Tidak-tidak, ayo bantu paman cari Afmar." Adira lansung bergegas keluar dari ruangan.


"Eh paman!" Seru mereka bertiga.


Alex, Misha, dan Danispun bergegas menyusul Adira ke lobby.


"Pengumuman! disini ada yang liat tuan mida Afmar kemana tidak?" teriak Adira.


Sang administrasipun mengacungkan telunjuknya. "Aku tuan Adira."


"Tifani! kau melihatnya? sekarang dia ada dimana?" tanya Adira.


"Tadi sih ke rumah sakit, katanya mau nyusul tuan Arthur."


"Bahaya!" Adira meremas rambut kepalanya.


"Kakak Tifani kenapa tidak melarang Afmar untuk pergi?. Emm aku sudah tau jawabannya, dia pasti mengancam mu, aku betulkan?" ucap Misha.


"I... iyah sih."


Brak!


"Terus sekarang tuan muda Afmar ada di rumah sakit gitu?" Adira memukul meja yang berada tepat di hadapannya.


"Paman Adira santai aja kali, takut di potong gaji juga?" ujar Alex.


"Astaga! anak hacker ini terus bicara! sebaiknya kalian bertiga menyusul Afmar ke rumah sakit bersamaku, cepat!"


"Memangnya ada apa paman?" tanya Danis.


"Arsitek Ilona terjatuh dari tanggal, kalian pasti mengerti perasaannya, ayo pergi!" Adira menarik tangan Misha.


"Apa!" lagi-lagi mereka mengucapkannya bersamaan.


"Sudah tidak ada waktu lagi untuk terkejut, ayo! sebaiknya kita bergegas pergi ke rumah sakit!" Adira langsung menarik ketiga lengan mereka.


"Arghh... paman!" mereka meneriaki Adira bersama.


"Sudah, diam!" seru Adira.


Mereka semuapun langsung bergegas pergi ke rumah sakit.


Disisi lain tempat, kembali lagi ke rumah sakit.

__ADS_1


"Tuan Arthur?" dokter keluar dari ruangan rawat Ilona.


"Iyah dokter?" Arthur bergegas menghampiri sang dokter.


"Dokter! dokter! bundaku sudah bangun?" tanya Afmar.


"Hahaha... kalian tenang saja, nyonya Ilona sudah mulai sadarkan diri, namun sepertinya ia masih membutuhkan sedikit istirahat."


"Ada masalah besar tidak dok? seperti geger otak, lupa ingatan atau apapun?" tanya Arthur yang cemas.


"Tenang tuan Arthur, istrimu baik-baik saja. Pusing yang ia alami tadi kemungkinan karena benturan yang cukup keras saat terjatuh, namun kau tenang saja karena istrimu memiliki tulang tempurung kepala yang sangat kuat."


"Syukurlah, terimakasih dokter. Tapi dok, tadi saya lihat sendiri kalo kepala istri saya berdarah, kira-kira itu kenapa yah dok?" Arthur kembali lagi bertanya.


"Itu terjadi karena istri tuan terjatuh cukup keras mengenai bagian tajam dari tangga."


"Astaga, untung kamu kuat Ilona, aku bangga padamu." ucap Arthur.


"Terimakasih pak dokter, karena pak dokter telah menyelamatkan bunda Afmar." Afmar menunjukan wajah memelasnya.


"Kau ini sama seperti bundamu, selalu rendah hati. Baiklah tuan Arthur, saya tinggal dulu, jika ada suatu hal yang terjadi jangan sungkan untuk memanggil saya."


"Terimakasih." ucap Arthur dan Afmar bersama.


"Papah! bunda akan berapa lama lagi tidur?" tanya Afmar.


"Papah juga tidak tau Afmar, kau sabar dulu saja, bundamu pasti akan segera bangun, karena ia pasti tidak ingin kita menunggu lebih lama lagi."


"Iyah, Afmar pasti akan bersabar untuk bunda, alasanya karena Afmar begitu sangat mencintai bunda." mulai melangkah maju mendekat ke arah pintu ruangan Ilona.


Arthur sedikit tidak terima Afmar mengatakan ia sangat mencintai Ilona. "Hey! memangnya kau saja yang mencintai bunda? papah lebih dan lebih mencintainya."


Karena Arthur yang memulai, Afmar menjadi terpancing untuk melawan Arthur. "Ish... papah! kamu masih sempat-sempatnya ingin berdebat dengan ku? Afmar lebih, lebih dan lebih mencintai bunda!"


"Papah!" seru Afmar.


"Afmar!" Arthur kembali menyeru Afmar.


Sebenarnya Adira bersama teman-temannya Afmar telah sampai cukup lama di rumah sakit, namun mereka memutuskan untuk diam terlebih dahulu dengan alasan menyaksikan tontonan drama gratis antara Arthur dan Afmar.


"Pftt... ternyata tuan Arthur bisa cemburu juga yah." Bisik Adira.


"Namun, cemburunya paman Arthur tidaklah wajar, karena dia cemburu pada anaknya sendiri, hahaha..." jawab Alex dengan berbisik kembali.


"Tos... dulu dong bro." Adira menjulurkan tangan nya.


Prok...


"Ish... tadi paman Adira begitu kesal dengan Alex, sekarang malah tiba-tiba akur, gak ngerti lagi." ujar Misha.


"Sampai kapan kita akan menunggu mereka? aku mulai bosan." ujar Danis.


"Hahaha... baiklah, ayo kita panggil mereka." seru Adira.


"Afmar... paman Art..." ucap Alex yang memanggil.


Arthur dan Afmar yang mendengar Alex memanggil seketika mereka berdua membentak bersamaan atau menolak mentah-mentah panggilannya.


"Diam... !!!" seru Arthur dan Afmar bersamaan.


"Et..." Alex terkejut dan refleknya dia langsung melompat kebelakang.


"Hahaha... kau seperti katak saja, Alex." ujar Misha yang mengejek Alex.

__ADS_1


"Si Alex kena mental Misha, hahaha..." jawab Adira.


"Hahaha... kau benar sekali paman." sekarang giliran Misha yang mulai akrab dengan Adira.


"Paman! kenapa kau ikut mengejek ku?" tanya Alex.


Adira menjawab. "Karena apa yang di katakan Misha itu benar, hahaha..."


"Hahaha... wle." Misha menjulurkan lidahnya seraya mengejek Alex.


"Misha! jika bukan di rumah sakit aku tidak akan mentoleransi mu!" seru Alex yang kesal.


"Suster!" seru Arthur bersamaan dengan Afmar yang memanggil salah satu perawat di kamar Ilona.


"Ayo samperin!" Adira memberi perintah.


"Suster, apa istri saya sudah membaik?" tanya Arthur.


"Apa kita sudah bisa menemuinya?" Afmar pun ikut bertanya.


"Ouh kondisi pasien sudah mulai membaik, istri tuan Arthur sudah mulai dapat sedikit sadarkan diri, namun sepertinya ia masih membutuhkan waktu untuk dapat bertemu dengan kalian." jawab sang perawat.


"Yah... kenapa?" Afmar bertanya kembali.


"Karena, bundanya tuan muda Afmar masih mengalami trauma yang cukup mengganggu konsentrasinya untuk sekarang."


"Kira-kira berapa lama lagi?" rasa ingin tau Afmar masih tersimpan banyak.


"Eumm... tidak dapat di pastikan, tuan muda Afmar sabar dulu yah." ujar sang perawat yang menyemangati Afmar.


"Baiklah, terimakasih suster."


"Sama-sama, tuan Arthur... mari." sang perawat pun pergi meninggalkan mereka.


"Papah, kau jangan menangis." ujar Afmar.


"Siapa juga yang nangis?"


"Ya... Afmar hanya memperingati saja, maafkan Afmar tadi ya papah."


"Iyah tidak apa-apa, maafkan papah juga, sini papah peluk."


Umm...


"Diam... !!! Hahaha." Seruan ayah dan anak yang baru saja berbaikan.


🌻🌻🌻


...♥Bersambung..... lanjut baca Bab 26 yah! makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.♥...


Para pembaca boleh koreksi di kolom komentar


Jangan lupa buat like + vote setiap hari senin + favoritづ ̄ ³ ̄)づ


Tetap pantengin terus bab-bab selanjutnya yah.


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❀


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam



Waktunya iklan check💘 jangan lupa mampir.

__ADS_1



__ADS_2