
"Kau seharusnya tau cara bertatakrama dengan baik, Susan." ujar Arthur.
"Tatakrama? aku sudah mencintaimu sejak lama Arthur! sebelum kau akhirnya menikahi Ilona, sekarang aku ingin merebutmu kembali."
"Itu sangat tidak baik Susan, karna aku sudah memiliki seorang istri dan seorang anak."
"Kau dapat menceraikan Ilona, dan aku akan menggantikan posisi Ilona sebagai Ibu sambung Afmar, selesai."
Arthur tersenyum. "Hmph... kau benar."
"Akhirnya kau setuju juga dengan ku." ujar Susan.
"Karna aku sepertinya memang harus setuju dengan mu, Susan." jawab Arthur.
Susan mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium Arthur. "Baiklah Arthur... kita mulai sekarang."
Namun, sayangnya ketika Susan telah merasa bahwa dirinya sudah menang akan tapi kenyataannya adalah semua itu hanyalah perasaannya saja, yang sebenarnya terjadi adalah dia sudah kalah sejak dari awal.
Adira datang, secara tiba-tiba ia langsung mendobrak pintu kamar hotel, dan seketika Susan yang terkejut pun bergegas untuk menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
"Dasar wanita ular... !!!" seru Adira.
"A~Adira... kenapa kau ada disini?" tanya Susan dengan cemas.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, sedang apa kau di sini berduaan dengan bosmu sendiri!? dan lebih parahnya kenapa kau malah dalam keadaan telanjang?"
"Aku tidak melakukan apapun." jawab Susan.
"Jelas-jelas kau berada tepat di atas tubuh tuan Arthur tadi, kau bisa mengelak apalagi?"
"Adira! aku tidak melakukan apa-apa percayalah." ujar Susan yang berusaha untuk meyakinkan Adira.
"Kau sudah tertangkap basah, Susan! coba jawab aku sekarang, jika kau tidak melakukan apa-apa lalu kenapa kau bisa telanjang? apa alasan dari itu?" tanya Adira.
"STOP... !!! sudah hentikan." seru seorang wanita yang berada di luar kamar.
Adira pun berbalik ke arah sumber suara. "Nyonya..."
"Ilona! ke~napa kau berada di sini?" tanya Susan.
"Susan, apakah kau bisa menjelaskan semua ini?"
Yaps benar, Ilona datang ke hotel secara tiba-tiba, dan penyebab kedatangan Ilona sendiri adalah Arthur, yang ternyata ini semua memanglah rencana yang sengaja di buat oleh Arthur.
12 jam yang lalu.
Arthur, pergi ke rumah sakit untuk memperpanjang masa rawat Ilona selama 1 hari. "Ilona, aku telah memperpanjang masa rawatmu selama 1 hari, dan aku mohon kau harus menjaga kesehatan mu."
"Iyah Arthur, kau tenang saja tidak perlu hawatir."
"Walaupun aku sudah memperpanjang masa rawatmu akan tetapi nanti malam Afmar akan menjemputmu untuk pulang."
__ADS_1
Ilona menepuk jidatnya. "Lalu kenapa kau harus memperpanjang masa rawatku kalau begitu? mahal loh."
"Kecil untukku... ups."
"Apa kau bilang? kecil? di luar sana masih banyak orang-orang yang membutuhkan uang, lalu kau bilang 1 juta permalam itu kecil?" ujar Ilona yang menceramahi Arthur.
Arthur mencubit pipi Ilona. "Hahaha... aku hanya bercanda, tenanglah Dokter dan Perawat disini suka bersedekah, uang ku tidak terbuang sia-sia bukan?"
"Ya tetap saja... padahalkan jika aku pulang sekarang Afmar pqsti dapat bermain dengan ku."
"Ayolah Ilona, jangan bersedih seperti itu, eumm... muach." Arthur mengecup kening Ilona.
"Arthur, jangan coba-coba untuk merayuku." ujar Ilona.
"Aku tidak merayumu, aku hanya mengecup kening istriku saja, apakah itu salah?" tanya Arthur.
"Eum... ya gak salah sih, cuman jangan tiba-tiba gitu dong."
"Kamu kaget yah?"
"Engga juga sih hahaha... wle." Ilona menjulurkan lidahnya.
"Oh... jadi kau malah ingin bergulat dengan ku yah? Arghh..." Arthur merawat Ilona bagaikan sedang merawat seorang bayi, bukan Arthur namanya jika ia tidak memanjakan Ilona.
"Hahaha... Arthur, hentikan!" Ilona tertawa sangat manis ketika ia di gelitik oleh Arthur.
"Senyuman mu begitu manis, Ilona. Sudah cukup lama aku tidak melihatnya." ujar Arthur.
Arthur menggegam tangan Ilona, lalu ia berkata. "Aku sangat mencintaimu Ilona. Ketika Afmar menjemputmu nanti aku mohon berdandanlah yang cantik, okay?"
Seketika wajah Ilona menjadi tersipu malu. "Eumm... baiklah, aku akan berdandan."
"Aku memintamu berdandan bukan berarti harus mengrias wajah."
"Lalu apa?"
Arthur berbisik di telinga Ilona. "Pakailah pakaian yang hot, hahaha... aku hanya bercanda."
"Arthur!" seru Ilona.
"Iyah sayang? kenapa?" tanya Arthur dengan nada suara yang begitu tulus.
"Arthur makin gak beres, aku harus segera mengusirnya, kenapa sih dia harus datang lalu membuat hatiku berdebar seperti ini? astaga... aku sudah tidak tahan lagi." ujar Ilona di dalam hatinya.
"Halo... istriku? kenapa kamu tiba-tiba melamun?"
"Arghh... Arthur! pergilah dari sini, cepat!" teriak Ilona dengan kepala yang terus menunduk.
Arthur langsung mengangkat dagu Ilona ke atas yang tujuannya agar Ilona dapat melihat ke arah matanya. "Jika kau mau mengusir seseorang maka lihatlah matanya bukan malah menunduk, aku tau sebenarnya kamu bukan ingin mengusirku akan tetapi karna kamu salah tingkah karna ku kamu ingin mengusirku, apakah aku benar?"
Wajah Ilona semakin memerah, dan hatinya semakin berdebar. "Sa... salah!"
__ADS_1
Arthur mendekatkan wajahnya. "Katakan yang benar! 1..."
"Iyah... iyah... hmph, jika kau masih ingin disini jangan pernah membuat hatiku berdebar."
"Umm... kau begitu menggemaskan jika sedang kesal, gemay sekali istriku ini..."
"Arthur... aku baru saja bilang loh."
Arthur mencubit hidung Ilona. "Iyah sayang... aku pergi dulu, kau baik-baik disini, aku menunggumu."
"Baiklah." jawab Ilona dengan wajah yang masih tersipu malu.
Kembali lagi ke dua belas jam setelah kejadian itu.
"Susan, sebaiknya kau cepat mengatakannya." ujar Adira.
"Tante... sebaiknya kau jujur saja." Afmar tiba-tiba muncul dari belakang Ilona.
"Afmar... kamu tau? dan kamu juga terlibat di dalamnya?" tanya Susan dengan raut wajah yang terkejut.
"Semuanya demi bunda, Afmar benci tante Susan! bayangkan saja semua kenangan dan pengorbanan yang telah tante Susan berikan, namun bisa-bisa tante Susan malah menghianati semua itu." ujar Afmar dengan air mata yang mulai bercucuran.
"Tante tidak ada maksud seperti itu, Afmar." ujar Susan yang sepertinya mulai menyesali perbuatannya.
"Susan, kau terlalu naif." ucap Arthur di dalam hatinya, karna ia masih dalam sandiwara pingsan.
"Sudahlah tante... aku tidak ingin berbicara lagi dengan mu."
"Afmar... maafkan tante. Adira, lalu kemana perginya Sista?"
Alex langsung menjawab. "Kami semua menunggu aba-aba paman Adira untuk menjemput tante Ilona, dan sebelum kami menjemput tante Ilona kami sengaja meletakan obat bius di dalam minumannya, tapi kau tenang saja teman satu komplotan mu itu masih hidup dan baik-baik saja."
"Apaan sih si Alex so pisikopat banget." gumam Misha.
"Alex, bicaralah dengan sopan padaku!" seru Susan.
"Puftt... okey, okey." jawab Alex.
"Sudah anak-anak hentikan semuanya. Susan, sekali lagi aku ingatkan bisakah kamu menjelaskan semua ini?" ujar Ilona sekali lagi.
...Bersambung...................
Jangan lupa untuk melanjutkan ke bab 46 yah! Tetap suport dengan cara Like, Favorit, dan Vote setiap hari senin.
Jika ada pemasukan ide silahkan tulis di kolom komentar. So jangan ketinggalan bab selanjutnya♡(∩o∩)♡
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1